One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Empat puluh


__ADS_3

Hans menggenggam tangan Niken dengan erat. Ia tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri. "Maafkan aku. Maafkan aku, Niken." Katanya. Tangan Niken bergerak, pelan-pelan dia membuka matanya.


"Hans...?" Lirih Niken berat dan pelan sekali.


"Iya sayang." Balas Hans kemudian memandang Niken. "Maafkan aku, harusnya malam tadi aku menemanimu. Maafkan aku."


Niken memejamkan matanya, lalu mengangguk. "Bisakah, kau menghubungi Miss Tanu?" Pinta Niken. Hans mengangguk menyetujui permintaan Niken.


"Istirahat ya." Tukas Hans. Niken mengangguk, bulir air mata jatuh ke pipinya. "Ssst, jangan menangis. Aku akan menemanimu disini."


Niken merentangkan kedua tangannya, ia ingin sekali dipeluk. "Peluk aku..." Pintanya. Hans menghembuskan nafasnya. Ia berbaring di ranjang sempit itu, lalu memeluknya.


"Hanya dengan begini aku merasa tenang." Tukasnya pelan.


"Ssst jangan dulu banyak bicara." Balas Hans, lalu ia mencium kening Niken dengan lembut.


"Kalau kau begini terus, aku cemas. Apa sebaiknya kita segera menikah?" Bisik Hans. Niken mengembangkan senyumnya.


"Kau mau menikahiku?" Tanya Niken tak percaya sambil membulatkan matanya.


"Tentu saja. Aku ini calon suamimu. Jadi harus siap siaga menjagamu 24 jam." Jawab Hans, lalu ia mencium kening Niken lagi.


"Terimakasih sudah menjagaku." Balas Niken.


"Okey, pelukannya sudah selesai." Hans akan beranjak. Tapi Niken menolak.


"Emmmmm..." Niken menggelengkan kepala.


"Nanti Tanu datang."


"Aku tidak peduli. Siapa suruh semalam tidak ke rumah." Imbuh Niken manja.


"Iya, aku minta maaf ya. Hey ini rumah sakit. Nanti gimana kalau dokter marah aku tidur dengan pasien." Tukas Hans.


"Nggak mau. Aku kedinginan. Jadi butuh kehangatan." Gumam Niken.


"Nanti kalau udah sembuh. Mau peluk aku seharian kan bisa." Ujar Hans. Tubuh Hans sangat hangat, jadi ia tidak ingin melepaskannya. Tiba-tiba pintu ruang rawat dibuka oleh Tanu. Tanu terkejut bukan main, ia melotot. Hans bergegas beranjak.


"Ini rumah sakit Hans. Harus jaga sikap." Usil Tanu. Hans berdeham.


"Siapa? Aku?" Hans menunjuk dirinya sendiri. Tanu melotot lalu berkacak pinggang.


"Siapa lagi? Kau ini dasar." Tanu menjewer telinga Hans.


"Tanu... Aduuuuh.. Sakit tahu." Niken tersenyum melihatnya.

__ADS_1


"Rasain. Makanya jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan." Ujar Tanu.


"Aku yang minta miss Tanu." Balas Niken. Tanu mengangkat kedua alisnya tak percaya.


"Hans, kau bisa keluar dulu sebentar." Kata Tanu.


"Kenapa aku harus keluar?"


"Hans..."


"Okey baiklah. Jaga calon istriku ya. Ingat Tanu. Dia ini calon istriku." Tukas Hans.


"Iya Hansraj Sambara." Sebelum Hans keluar, ia buru-buru mengecup pipi Niken. Dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Dasar Hans..." Tanu tak percaya apa yang sudah dilihatnya.


"Are you okay?" Tanya Tanu.


"No... I'm not good." Jawab Niken pelan.


"Okay. I will check you." Balas Tanu. Didalam pemeriksaan kondisi psikis Niken. Tanu menemukan sebuah titik dimana Niken harus melakukan tetapi healing. Yaitu kedamaian untuk dirinya sendiri. Dan kondisi kedamaian itu tidak bisa dilakukan oleh sebelah pihak. Harus ada mentor dan seseorang yang bisa ia percaya. Setelah apa yang diceritakan oleh Niken sendiri. Tanu yakin bahwa inilah terapi yang sesungguhnya. Terapi yang bisa disembuhkan oleh diri sendiri itu adalah hal yang luar biasa.


Tanu keluar dari ruangan. Lalu menemui Hans. "Tanu, gimana dengan keadaan Niken?" Tanya Hans.


"You sure?" Tanya Hans.


"Come on." Tanu mengajak Hans kembali menemui Niken.


"Whats wrong?" Tanya Niken tiba-tiba.


"Look, Niken. You know theraphy healing? Sebuah terapi yang sangat indah. Terapi yang akan membuatmu jauh lebih baik lagi dari sebelumya. I know, is very hard for you. But, trust me, you will be your new self. And Hans akan membantumu." Balas Tanu. Niken menghela nafas pelan.


"Is this the end of my therapy?" Tanya Niken.


"Yeah. Of course. Love, peace, and forgiveness are the last therapies that will return you to a better life. Aku yakin you can do it with your love Hans." Balas Tanu.


"Tanu, you know, I think dengan membencinya seumur hidupku. Akan membuat semuanya lebih mudah. Mudah untuk membuatku sembuh dari traumatik ini. Mudah untuk membeberkan semua rahasia ayah kepada orang lain. Aku sudah melakukan banyak kesalahan miss Tanu. Jujur, aku menyayangi ayahku. Saat dia meninggal, aku tidak mengerti dengan perasaanku. Its like a nightmare. Aku tidak percaya dia akan mati secepat itu. Aku hanya ingin dia terus menderita. Tapi..." Niken menghentikan kalimatnya, ia menangis dihadapan Tanu.


"Ssst tenanglah. Pelan-pelan saja." Tanu menenangkan.


"Tapi ternyata aku salah. Aku kehilangan sosok ayah yang dulu pernah aku kagumi. Sebelumnya aku pikir lebih baik dia mati. Tapi setelah kematiannya, perasaanku jauh lebih buruk..." Niken menangis sejadi-jadinya. Tanu memeluknya menenangkan.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah melakukan banyak kesalahan. What should I do miss Tanu...?"


"Its fine. Itu bukan kesalahanmu. Menangislah sampai kau merasa tenang." Balas Tanu.

__ADS_1


Hans merangkul pundak Niken. Menenangkannya.


"You can do it. Trust me. Niken, saat kau percaya kepada dirimu sendiri, cobalah untuk percaya kepada Hans. Aku yakin, dia bisa membantumu lebih banyak. Because I know, you love each other." Jawab Tanu.


Hans dan Niken saling berpandangan.


"Yes, I'm fall in love to Hans. I know, aku tidak membohongi diriku sendiri." Balas Niken. 


"So, you can help me Hans. Please take care your girlfriend." Kata Tanu. Hans mengangguk dengan yakin.


"I will." Balas Hans. "So, you have rest now, okay." Niken menyentuh punggung tangan Hans.


"Okey." Kata Niken.


"Kalau gitu, aku antar Tanu dulu ya." Kata Hans. Niken mengangguk.


***


"Aku sangat mengkhawatirkannya." Imbuh Hans. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya pelan-pelan. "Harusnya tadi malam, aku menemaninya. Setelah ayahnya meninggal, aku rasa dia sangat tertekan." Lanjut Hans.


"Yah, kau benar. Dia sangat tertekan, sangat depresi. Tapi, I know, dia punya kamu. Kamu yang udah banyak banget bantu dia. She is happier, she is values herself more. And you know Hans, dia sangat mencintaimu." Jelas Tanu.


"Wow dari mana kau tahu, Tanu?"


"Aku kan punya mata batin." Jawab Tanu.


"Really?"


"No no no, Just kidding okay. Aku melihat cara dia memandangmu. Ekspresinya yang sangat bahagia. Apalagi jika sedang membicarakan dirimu. Dia sangat terkagum-kagum, and you know Hans, aku belum pernah melihat Niken sebahagia itu. So, cintailah dia seperti dia mencintaimu." Balas Tanu.


"Alright. Kisah aku dan Niken sebenarnya udah lama. You know-lah."


"Yaaa aku tahu. Niken pernah cerita. Dan aku juga pernah dengar versi darimu juga. Tapi sekarang, bukan waktuku mencampuri urusan kalian berdua. So, I wanna you take care your girlfriend. Okay?"


"Of course." Balas Hans. "I will together with hers."v


"Ohya Hans, aku akan memberikan jadwal terapi untuk diterapkan sehari-hari oleh Niken, sehingga kau dapat memantau setiap perkembangannya. Dan jangan lupa untuk memberikan laporan kepadaku juga. Ingat ini, jika Niken merasakan ketakutan ataupun merasa rendah You have to strengthen it." Jelas Tanu.


Hans menganggukkan kepala, "baiklah. Semoga aku bisa membantumu."


"Baiklah kalau begitu aku pulang ya." Imbuh Tanu pamit. "Ohya, aku akan mengirim file tentang kondisi psikis Niken lewat email. Tolong jaga dia." Lanjut Tanu.


Hans mengantar Tanu ke depan. Setelah itu ia kembali ke kamar inap, memandang wajah Niken yang sedang tertidur pulas. Wajah cantik alami, terpancar indah dari diri Niken. Itu yang membuat Hans jatuh hati kepada perempuan itu.


Aku akan menjagamu, hingga akhir sisa hidupku. Aku mencintaimu, Niken. Sangat.

__ADS_1


__ADS_2