
"Mah..." Seru Hans ketika telah sampai di rumah orang tuanya.
"Iya Hans."
"Hey sayang..." Tia menghampiri Hans kemudian merangkul lengannya.
"Apaan sih." Hans segera melepaskan lengannya. "Ngapain kamu disini?" Lanjut Hans.
"Aku kangen sama kamu Hans." Imbuh Tia dengan manja.
"Tia nemenin mama, Hans." Jawab Dina.
"Kamu lebih baik pulang deh." Usir Hans.
"Tuh kan tante, Hans jadi gitu sama aku." Rengek Tia kepada Dina.
"Hans, yang sopan dong. Mama nggak ajarin kamu buat nggak sopan sama orang lain kan." Ujar Dina.
"Tante, sebaiknya Hans disuruh mandi dulu. Trus kita bisa makan bareng setelah Hans mandi." Kata Niken, setelah selesai membuat es kelapa.
"Ohh itu ide yang bagus. Kayaknya mandi air hangat lebih bagus deh, Hans. Uhmmm siapa yang mau menyiapkan air hangat untuk Hans ya?" Tutur Dina sambil mengetuk dagunya dengan telunjuk.
"Aku tante." Kata Tia dengan sigap. Lalu ia pergi ke kamar mandi yang ada didalam kamar Hans. 5 menit kemudian Tia keluar.
"Udah Hans." Tukas Tia. Hans mengedipkan mata kanannya ke arah Niken.
"Aku mandi dulu ya." Tukas Hans.
"Ehhh nih anak, nakal ya." Dina menepuk pundak anaknya.
Tiba-tiba terdengar teriakan Hans dari kamar mandi, "Awwwwww." spontan Dina, Niken dan Tia berlari menuju kamar mandi.
"Kenapa Hans?" Tanya Dina.
"Ehhh Tia, kau mau membuat kulitku melepuh? Ini bukan air hangat. Ini air panas tahu." Imbuh Hans dengan kasar mencercau Tia. Niken dan Dina mencelupkan telunjuknya ke bathub.
"Aduhhh, kamu ini gimana sih Tia." Ketus Dina.
"Udah, nggak usah ribut. Air panasnya tinggal dibuang sebagian." Niken membuang sebagian air panas, kemudian menyalakan kran air dingin. Tidak begitu lama, air panas tadi terasa hangat dikulit. "Udah. Tinggal mandi deh." Lanjut Niken.
"Terbaik." Puji Hans.
"Haya pulang. Mah... Kak..." Seru Haya. Dina, Niken dan Tia meninggalkan Hans dikamar mandi. "Niken, kamu bisa tata makanan di meja? Sebentar lagi kita makan." Kata Dina. Niken menganggukan kepala lalu menghidangkan makanan dengan rapi. Sementara Dina mengobrol dengan Tia.
"Tante, kayaknya Niken lebih cocok jadi pembantu deh." Bisik Tia disertai tawa.
"Ohya, memangnya kamu dan Niken bermusuhan karena apa sih?" Tanya Dina penasaran.
"Uhmmm, karena... Karena dulu Niken merebut pacar saya tante." Jawab Tia berbohong.
"Emang sejahat itu Niken terhadapmu?" Selidik Dina.
__ADS_1
"Iya tante." katanya. Dina terus menyelidiki Tia, meskipun ia sudah tahu kalau Tia berbohong padanya. Penilaian Dina terhadap Tia berubah seketika, apalagi ketika Tia menjelek-jelekan Niken. Dina semakin yakin dengan pilihan Hans, bahwa Niken lebih baik daripada Tia. Mungkin itu salah satu alasan mengapa Hans putus dengan Tia.
"Hari ini mama punya 2 asisten sekaligus lho. Jadi pekerjaan mama terasa ringan." Ujar Dina membuka topik pembicaraan, saat acara makan malam dimulai.
"Ohya?" Seru Harun. Dina mengangguk.
"Jadi ini masakan siapa, mah?" Tanya Harun.
"Ini masakan calon istri aku, pah. Cobain deh." Kata Hans sambil menyendok opor. Tia membusungkan dadanya, merasa yakin kalau Hans akan memilihnya.
"Wahhh uhmmm enak." Puji Harun.
"Itu masakan Niken pah." Imbuh Dina.
"Ehh enggak koq om, tadi Niken cuma menambahkan sedikit bumbu doang. Selebihnya tante Dina yang masak." Balas Niken.
"Kak Niken itu kalau masak, semua rempah-rempahan pasti dimasukan ke dalam makanan. Makanya enak." Haya menambahkan.
"Kamu tahu dari mana Haya?" Tanya Harun.
"Kak Hans kan suka nyuruh kak Niken masak pah. Makanya Haya tahu." Jawab Haya.
"Hans suka nyuruh kamu masak?" Kata Dina.
"Sekali-sekali tante."
"Enak sekali kamu Hans nyuruh Niken masak. Kamu tuh ya. Memangnya Niken pembantu apa. Nanti kalau Hans nyuruh lagi, jangan mau." Tutur Dina menoleh ke arah Niken.
"Ehhh tante, nggak apa-apa koq. Lagi pula aku suka masak." Balasnya.
"Ohya?" Dina menoleh lagi ke arah Niken.
"Haya berlebihan tante. Nggak gitu juga." Niken jadi gugup.
"Nggak mah, Haya nggak berlebihan. Beneran koq. Enak-enak masakan buatan Niken." Tambah Hans.
"Ohhh gitu."
"Jadi kapan-kapan kita harus makan ditempat Niken ya, mah." Imbuh Harun.
"Emmm boleh om. Tapi nanti ya." Balas Niken.
"Mah, kacangnya mana?" Tanya Haya.
"Ohh iya. Tia bisa bawakan kacangnya." Dina meminta Tia mengambil kacang di lemari kitchen set. Tia inisiatif sendiri untuk menaruh kacang di atas piring Haya, Harun dan Hans. Niken menatap Tia dengan tajam.
Tanpa disadari Hans menyuap makanannya yang sudah diisi kacang. "Hans...?" Seru Niken. Haya, Dina dan Harun menoleh kearah Niken. Niken bergegas menghampiri Hans, "muntahkan." Hans hampir tersedak, lalu memuntahkan makanannya. Niken menuangkan air mineral dengan sedikit air garam untuk diminum.
"Kamu tahu nggak kalau Hans alergi kacang? Kalau mau cari perhatian tanya dulu sama orangnya." Bentak Niken kepada Tia. Hans terbatuk-batuk, lalu minum segelas air yang sudah Niken siapkan.
"Niken ini obat alergi Hans." Dina menyodorkan obat alergi punya Hans.
__ADS_1
"Minum dulu obatnya." Kata Niken. Hans mengangguk. Tia terbengong ketika semua orang menatapnya.
"Makasih ya." Niken menganggukkan kepala. Dina tersentuh dengan perhatian Niken terhadap anaknya. Setelah makan malam selesai, Niken juga membantu Dina merapikan meja dan mencuci piring.
"Udah nggak apa-apa Niken. Biar tante saja."
"Niken nggak enak tante. Nggak apa-apa, aku bantu." Balas Niken. "Tante tahu nggak? Dulu nenek aku pernah bilang, yang utama dari pertama adalah dapur. Kalau dapur bersih dan rapi, maka keluarga itu akan selalu terjaga kesehatan dan keselamatannya." Lanjut Niken.
"Ohya?" Niken mengangguk. "Kamu dekat dengan nenek?" Tanya Dina.
"Aku dibesarkan oleh nenek dan kakek. Kedua orangtuaku selalu sibuk, tante. Semenjak kakek dan nenek meninggal, aku selalu belajar mandiri. Berkat didikannya, aku jadi seperti ini." Jelas Niken. Dina semakin menyukai kepribadian Niken.
"Oh iya, tante baru ingat, besok ada arisan bulanan disini. Niken bisa bantuin tante masak?" Kata Dina.
"Jam berapa tante?" Tanya Niken.
"Acaranya sih jam 2. Gimana?"
"Ummm, tante mau masak apa?"
"Apa ya kira-kira? Yang agak aneh gitu."
"Besok aku ada kelas tante. Mungkin aku kesininya agak siangan ya." Katanya.
"Ohhh gitu. Nggak bisa ya." Dina agak kecewa ketika Niken menjawab seperti itu.
"Bukan nggak bisa tante. Tapi agak telat. Soalnya..."
"Soalnya Niken mau tidur dulu sama om-om." Ketus Tia. Niken menarik nafas.
"Tia..." Seru Dina.
"Nggak apa-apa tante, biarkan saja. Dia sedang membicarakan dirinya sendiri." Balas Niken. Tiba-tiba Tia menjambak rambut Niken.
"Jangan bicara omong kosong." Kata Tia.
"Tia... Kamu kenapa sih?" Niken telah selesai mencuci piring.
"Ada yang salah dengan perkataanku?" Tanya Niken. Tia menampar pipi Niken dengan kesal.
"Benar Kezia bilang, kamu tuh perempuan yang harus dimusnahkan dari dunia ini." Tuturnya. Dina melerai Tia yang bertindak kasar.
"Tidak ada kekerasan didalam rumah tante." Kata Dina.
"Ccch, kamu dan Kezia itu sama." Balas Niken. Tia melayangkan lagi tangan kanannya tepat mendarat di pipi kiri Niken.
"Tia. Kalau kamu tidak suka Niken ada disini. Silahkan pulang." Tukas Dina.
"Ada apa mah?" Hans menghampiri mereka.
"Hans... Niken tuh." Tuduh Tia.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Hans. Dina hampir membuka suara. Niken memberi isyarat untuk tidak mengatakan apa-apa kepada Hans.
"Jangan tante. Kamu tanya aza sama dia." Jawab Niken.