
"Niken...?" Niken menoleh mencari sumber suara. Ia hafal suara kecil nan mungil itu. Ia menahan nafas sebentar. Mengedipkan kedua matanya berkali-kali. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seperti mimpi. Namun anak kecil itu tersenyum dengan lebar. Manis sekali. Jihan duduk disamping Niken.
"Jihan...?" Balas Niken. Jihan mengangguk pelan, lalu menunjuk ayah Niken yang sedang duduk ditepi danau. Bersama beberapa orang yang tidak Niken kenal. Saat itu Jihan mengenakan gaun putih. Rambut terurai panjang dan wajah Jihan sangat cantik.
"Niken." Seru Jihan. Niken menghembuskan nafasnya pelan-pelan, ia lalu menundukkan kepalanya, "Jihan bahagia sekali karena Niken mau nikah, kan?" Ujar Jihan.
"Bagaimana kau tahu?" Tanya Niken.
"Jihan selalu tahu, Niken." Jawabnya.
"Tapi sesuatu telah terjadi pada Hans, Jihan. Aku tidak tahu dimana dia berada." Balas Niken.
"Niken, berjanjilah tidak akan meninggalkan Hans dan selalu setia kepadanya. Menurut aku dia pria yang baik." Tukas Jihan. Niken menundukkan kepalanya. Menatap tangan kecil yang lembut itu. Niken tak percaya akan menggenggam tangan mungil milik Jihan. Sesekali ia menghembuskan nafasnya. Seperti mimpi namun terasa nyata. Begitu batin Niken. Lalu Jihan melepaskan genggamannya, berlari dengan senyum yang indah itu. Dia menggapaikan tangannya dan pergi menjauh.
"Jihan mau kemana? Aku ikut denganmu." Katanya.
"Niken masih punya tugas, kan. Niken nggak boleh ikut Jihan. Dadah Niken..." Jihan pun berlalu meninggalkannya. Kabut putih nan tebal menyelimuti seluruh pandangan Niken. Sesekali ia mengucek kedua matanya. Niken berusaha untuk membuka matanya. Namun kabut tebal menutupi pandangannya. Niken menutup kedua matanya dengan. Niken merasakan sebuah tangan besar menarik tubuhnya. Ia terasa tersentak dan sesak. Ia tiba di sebuah lorong tanpa pemandangan. Semua serba putih. Sahutan suara Ria terdengar jelas, begitupun dengan suara Nadine yang amat cemas.
"Ibu... Ibu... Kak... Kak Nadine...?" Seru Niken. Namun tidak ada yang mampu mendengar seruannya. Sebuah suara melengking membuat telinganya sakit. Niken menutup kedua telinganya. Lalu memejamkan matanya.
"Dokter... Dokter... Nadine cepat panggil dokter." Suara Ria sangat jelas ditelinga Niken. Lalu seorang dokter muda datang untuk memeriksa kondisi fisiknya.
"Bagaimana dengan anak saya, dok?" Tanya Ria khawatir. Dokter meletakkan stetoskop ke dada Niken. Memeriksa semua kondisi si pasien.
"Maaf bu, bisa keluar sebentar." Kata si suster. Ria dan Nadine keluar kamar inap. Setengah jam kemudian dokter keluar.
"Bagaimana dok?" Tanya Ria dengan khawatir.
"Alhamdulillah pasien tidak mengalami hal yang sangat serius. Tapi kita harus memperhatikan kondisi psikisnya. Ada kemungkinan Niken mengalami amnesia jangka pendek. Artinya ia akan lupa dengan kejadian yang baru saja terjadi." Jelas dokter. Ria menghembuskan nafasnya dengan khawatir atas apa yang terjadi kepada anaknya.
"Bbbu..." Lirih Niken. Nadine memanggil Ria untuk masuk ke dalam.
"Iya sayang...?" Balas Ria.
__ADS_1
"Hans. Hans dimana?" Lirih Niken. Nadine dan Ria saling bertatapan.
"Kenapa aku ada disini?" Tanyanya. Ia merasakan sakit yang sangat hebat dikepalanya. Ia memejamkan mata, lalu mencoba mengingat apa yang sudah terjadi.
"Uhmmm kau mengalami kecelakaan Niken. Tiga hari kau koma." Ujar Nadine. Ria menoleh ke arah putri sulungnya. Niken memegang kepalanya, terasa sangat berat.
"Hans dimana?" Tanya Niken lagi.
"Untuk apa kau bertanya kondisi si Hans itu? Karena dia kan, kau jadi seperti ini." Imbuh Nadine. Ria melotot.
"Ibu nggak tahu Niken." Balas Ria.
Niken mencoba mengingat kecelakaan yang menimpa dirinya dengan Hans. Tapi kepalanya sangat sakit ketika ia mencoba mengingat kembali.
Niken menjalani perawatan intensif, "Selamat siang." Seru seseorang saat membuka pintu.
"Siang." Balas Niken dan Ria.
"Hallo perkenalkan nama saya Sahila. Saya psikolog yang akan membantu ibu Niken." Ujarnya.
"Iya. Tapi maaf sekali, psikolog rumah sakit disini adalah saya." Katanya.
"Ohhh baiklah." Kata Niken akhirnya.
Niken melewati masa pemulihan selama 4 hari di rumah sakit. Niken tidak berusaha mengingat peristiwa kecelakaan itu. Yang Niken ingat saat itu, ia akan pulang bersama Hans. Niken mengetuk pintu apartemen Hans. Tapi sama sekali tidak ada respon. Ia juga mencoba menghubungi ponsel Hans, tapi hasilnya sama. Tidak ada respon. Sebuah nama yang Niken kenal ada di kontak pribadinya yaitu Haya.
"Hallo Haya?"
"Kak Niken? Kakak sudah keluar dari rumah sakit?" Tanya Haya. Niken mengangguk.
"Sudah Haya. Haya, bolehkah aku bertanya." Jawab Niken.
"Apa itu kak?"
__ADS_1
"Apa Hans sedang bersamamu?" Tanya Niken. Haya pun mengatakan bahwa Hans dirawat di rumah sakit swasta di Jakarta Pusat. Haya juga memberikan alamat rumah sakit dan kondisi Hans saat ini.
Malam itu Niken datang seorang diri. Ia mengetuk pintu kamar inap, Haya yang membukanya.
"Masuk, kak." Kata Haya.
Niken melangkahkan kakinya pelan-pelan. Tiba-tiba saja ia ingat dengan kecelakaan malam itu. Hans terbaring tak berdaya. Pelan-pelan air matanya jatuh. Niken memeluk Hans sambil menangis.
"Maafkan aku... Maafkan aku Hans..." Lirih Niken.
"Kak Hans koma kak. Ini sudah hari ke-8." Ujar Haya. Niken menggenggam tangan Hans. Niken sangat terpukul dengan kecelakaan itu. Dina membuka pintu kamar inap, ia melihat Niken menangis dihadapan putranya. Ia teringat ancaman Tia sehari setelah kecelakaan tersebut.
"Ini belum seberapa? Jika aku masih melihat Hans bersama Niken, maka Haya dan suamimu akan menjadi korban selanjutnya. Aku akan menghancurkan kehidupanmu." Begitu isi ancaman Tia. Dina menelan ludah. Tidak tahu harus berbuat apa? Ia tahu kalau saat ini hati Niken sangat hancur. Melihat orang yang dicintainya terbaring lemah tak berdaya.
"Ini semua gara-gara kamu. Kamu yang menyebabkan anak saya seperti ini. Saya sudah bilang agar kamu menjaga Hans. Tapi kamu sudah membuat anakku mengalami kejadian ini." Bentak Dina. Niken menggelengkan kepalanya dengan bercucuran air mata.
"Maafkan Niken tante. Maafkan Niken." Isak Niken sambil meminta maaf kepada mamanya Hans.
"Pergi. Sekarang kamu pergi. Saya tidak mau, anak saya terancam lagi karena dirimu." Bentak Dina.
"Mah, mama jangan gitu dong." Kata Haya melerai mamanya.
"Izinkan, izinkan aku ada disamping Hans tante. Aku mohon." Pinta Niken.
"Tidak. Saya tidak akan mengizinkanmu." Dina melotot dan membuang muka.
"Tante, aku mohon. Tante..." Niken memohon sambil berlutut didepan Dina.
"Mah... Jangan gitu dong. Khasian kak Niken." Kata Haya membujuk mamanya.
"Diam kamu." Bentak Dina. Haya terdiam seketika.
"Tante aku mohon. Izinkan saya merawat dan menjaga Hans sampai dia siuman." Ujar Niken memohon.
__ADS_1
"Tidak Niken. Setelah apa yang terjadi, tante tidak ingin Hans dan kau menjalin hubungan. Sebaiknya kalian berpisah." Ujar Dina. Niken menelan ludah. Mengapa kali ini tante Dina menjadi berubah? Niken tergugu dalam tangisnya. Entah harus apa yang ia lakukan untuk menumbuhkan kembali kepercayaan tante Dina.
***