One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Tujuh puluh delapan


__ADS_3

Hans membuka pintu apartemen, ia berjalan gontai tak semangat. Perjuangannya selama ini sia-sia. Sudah berapa kali ia harus terjatuh, berapa kali ia harus membangun kepercayaan untuk orang yang dicintainya. Berkali-kali bahkan ia selalu meyakinkan Niken bahwa ia tidak akan pernah goyah. Memang benar kedatangan Erika membawa petaka untuk hubungannya. Namun Hans tidak pernah berpikir negatif dengan semua perlakuan Erika terhadapnya. Mengingat bahwa Erika adalah perempuan baik-baik, sekaligus teman masa kecilnya. Membuat Hans tak pernah curiga sedikit pun. Namun tiba-tiba Hans mendengar suara tawa yang renyah didalam kamar. Pintu terbuka lebar-lebar, Hans mendengar Erika sedang menelpon seseorang. Ia mengernyitkan dahinya. "Ohya, apa kau sudah transfer uangku? Kau tahu bukan, ini pekerjaan yang sulit bagiku. Apalagi aku harus meninggalkan anak dan suamiku selama satu bulan penuh. Demi uang yang harus aku dapatkan untuk menghancurkan hubungan seseorang. Sebenarnya aku tidak tega lho, Key. Hans itu sangat sayang banget sama Niken. Tapi, aku juga butuh uang. Emang kenapa sih kau ingin sekali menghancurkan hubungan mereka? Bukannya dulu kau juga menghancurkan hubungan Niken dengan Fariz? Kau meniduri lelaki itu dan membuat Niken trauma kan." Ujar Erika, lama sekali ia terdiam, "Ohhh begitu. Oh, ya sudah ya. Takut Hans datang. Nanti ketahuan sandiwaraku. Pura-pura tidak bawa ponsel, padahal aku bawa lha. Gimana mau hubungi suamiku coba kalau nggak bawa. Hhahaha... Okey bye..." Erika menutup panggilannya. Bagaikan petir di siang bolong. Hans menahan emosinya setelah ia mendengar sendiri bahwa Erika dengan sengaja ingin menghancurkan hubungannya dengan Niken.


Hans tak menyangka jika teman masa kecilnya sanggup berbuat seperti itu. Erika membalikkan badannya, dan melihat Hans tengah berdiri tegap dibelakangnya. Seluruh darahnya mengalir panas. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi. Erika menelan ludah pahit.


"Hans? Kau? Eee apakah kkkau sudah lama disitu?" Tanya Erika tergagap. Hans mendesah pelan. "Kembalikan ponselku?" Pinta Hans. Erika mengembalikan ponselnya. Hans melempar ponselnya dengan keras, sehingga ponselnya hancur seketika.


"Pergi!" Usir Hans. Erika terdiam mematung. Hans teringat saat pertama kali ia bertemu dengan Erika saat ia di Medan. Saat itu Erika memeluk Hans sambil berkata.


"Tolong aku, Hans. Aku mohon tolong aku. Kedua orangtuaku akan menjodohkanku dengan lelaki yang tidak aku kenal. Aku tidak mencintainya. Aku butuh tempat untuk menenangkan diri. Bolehkah aku ke Jakarta dan tinggal disana untuk sementara waktu?" Karena iba, akhirnya Hans menolong Erika. Namun ia tidak menyangka bahwa teman masa kecilnya itu mengkhianati dirinya, memanfaatkannya, dan menghancurkan hubungannya dengan Niken. Selama satu bulan, ia tidak menerima panggilan khusus dari Niken. Bahkan tidak bisa menelponnya untuk menggoda dan merayu kekasihnya. Ponselnya disita dengan alasan menghubungi orangtuanya. Hans merasa ditipu oleh Erika.


"Hans, tolong dengarkan penjelasanku."


"Bahkan ketika Niken pulang, sebenarnya kau tahu, bukan? Dan kau sengaja memelukku untuk membalaskan dendam Kezia kepada Niken? Begitu?" Imbuh Hans.


"Tidak. Uhmm maksudku, ini tidak seperti yang kau bayangkan. Begini, aku butuh uang." Alih-alih beralasan, Erika tak sengaja mengatakan yang sebenarnya.


"Uang...? Kau butuh uang?" Hans memotong kalimat Erika, lalu memberikan lembaran uang ratusan kepada Erika. "Ambil. Dan jangan pernah memperlihatkan wajahmu didepanku lagi." Lanjut Hans. Seluruh aliran darahnya terasa mendidih. Hans tak kuasa menahan emosinya. Ia pun mengusir Erika dengan kejam. Erika tidak sempat menjelaskan, ia pergi tanpa menoleh kearah Hans.


...***...


Cuaca siang itu tidak begitu terik, tidak juga mendung, Niken duduk dibangku kosong, di kantin kampus. Makan siang sendirian dengan ditemani ponsel dan sebuah buku. Ia melirik ke arah kanan, melihat beberapa dosen lelaki termasuk Hans duduk disebelah utara, mereka memesan makan dan minum untuk makan siang. Hans memandangi Niken dari kejauhan. Dia duduk sendirian. Ingin hati menghampirinya, menjelaskan kembali apa yang terjadi pada dirinya dan Erika. Tapi ia mengurungkan niatnya. Begitu pun dengan Niken, ia merasa Hans tidak lagi mengejarnya. Tidak lagi berambisi mendapatkan hatinya. Minta maaf pun tidak. Niken merasa sangat kecewa. Mungkin memang mereka tak berjodoh.

__ADS_1


Niken masuk ke ruangannya, begitu pun dengan Hans. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada kata sapa lagi diantara mereka. Berhari-hari dan berminggu-minggu.


"Ken, kau dan Hans lagi bertengkar ya...?" Tanya Bella saat mereka berada diruang rapat.


"Kita udah putus." Jawab Niken pendek.


"Kenapa?" Seru Bella terkejut. Semua orang melirik mereka berdua termasuk Hans.


"Ceritanya panjang. Aku tidak bisa mempertahankannya lagi." Balas Niken. Bella menepuk pundak Niken.


"Sabar ya, Ken. Aku yakin, kesedihanmu akan segera berakhir." Imbuh Bella. Niken menganggukkan kepala. Saat acara rapat dimulai, mata Hans selalu tertuju kepada Niken. Beberapa saat ia mengalihkan pandangannya. Kemudian kembali memandangi wajah Niken.


"...untuk itu kita berikan selamat kepada professor Hans dan professor Niken." Ujar Pak Rektor. Semua dosen bertepuk tangan dengan meriah. Niken menoleh ke arah Hans, mata mereka bertemu. Namun Niken mengalihkan pandangan lagi.


"Terimakasih sudah setia pada kampus kita." Ujar pak Kiki. Niken mengangguk begitu pun dengan Hans.


"Saya rasa, bu Niken dan pak Hans cocok ya. Hanya kalian berdua yang saya rasa masih single. Mungkin bisa kita jodohkan mereka." Lanjut pak Kiki. Niken menundukkan kepala dengan malu.


"Mungkin jika Niken bersedia, pak." Balas Hans. Niken mendongak, Hans menatapnya dengan tajam. Itu adalah moment yang tidak begitu indah bagi Niken.


"Apakah kita sudah tidak bisa lagi bersama?" Tanya Hans saat mereka berjalan menuju ruangannya. Langkah Niken terhenti lalu ia menatap lurus ke arah Hans.

__ADS_1


"Ibuku akan menjodohkanku dengan seorang pria yang lebih baik darimu. Maka, jangan berharap apa-apa lagi dariku." Jawab Niken.


"Apa kau akan menikahi pria yang tidak kau cintai?"


"Itu lebih baik dari pada aku harus terluka lagi olehmu." Balas Niken, sambil melangkah lagi.


"Bagaimana jika aku menggagalkan perjodohan kalian?" Kata Hans. Niken menoleh, mata mereka bertemu dalam satu titik.


"Kau gila." Jawab Niken. Tiba-tiba Hans mendorong Niken, menahan lengan Niken ke dinding. Ia menatapnya dengan tajam. Begitupun dengan Niken.


"Kenapa rasanya wajahmu menunjukan bahwa kau masih mengharapkanku? Matamu masih menyatakan kau mencintaiku. Dan kau tidak bisa berpaling dariku." Katanya, Niken balas menatap Hans.


"Kau salah mengartikan sikapku. Bagiku kau adalah masa lalu." Balas Niken.


"Katakan padaku bahwa kau sudah tidak lagi mencintaiku. Setelah itu aku tidak akan mencarimu lagi." Imbuh Hans. Niken menahan air matanya, ia menggelengkan kepala.


"Aku tidak mencintaimu lagi." Ujar Niken, seakan meyakinkan Hans untuk tidak lagi berharap kepadanya.


"Katakan sekali lagi." Pinta Hans,


"Aku tidak mencintaimu, Hans. Aku tidak mencintaimu. Kau puas?" Jawab Niken. Pelan-pelan Hans melepaskan genggamannya. Dan berlalu meninggalkan Niken. Sebulir air mata jatuh membasahi pipinya.

__ADS_1


***


__ADS_2