One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Dua puluh dua


__ADS_3

Dengan wajah kesal, Niken berjalan menuju ruang kelas untuk memberikan materi kuliah kepada mahasiswa semester genap. Hans memang gila. Dia...? Emmmm, dia tidak tahu malu. Ehhh apa yang aku pikirkan? Kenapa aku jadi deg degan begini? Apa yang sebenarnya aku inginkan dari Hans? Kenapa aku mudah marah? Ahhh sudahlah. Batin Niken pada dirinya sendiri.


"Pagi bu Niken..." Sapa beberapa mahasiswanya.


"Pagi juga..." Balas Niken dengan senyumnya yang mengembang. 


Niken melangkahkan kakinya ke kelas, tapi di sana ada Bella yang sedang mengajar. Niken terheran kenapa Bella ada dikelasnya. Begitu pun dengan Bella yang heran melihat Niken yang hendak masuk. Bella menghentikan pengajarannya dan menghampiri Niken.


"Hai Niken, ada apa?" Tanya Bella.


"Oh hai Bella. Bukankah sekarang jadwal aku mengajar dikelas ini." Jawab Niken. Bella mengernyitkan dahinya.


"Apa kau sedang mengigau?" Bella tertawa dengan sikap Niken yang tiba-tiba aneh itu. Karena selama ini Niken selalu teratur dalam mengajar. Tidak pernah salah lihat jadwal. Selalu disiplin dan profesional.


"Kenapa kau menertawakanku?" Kata Niken kesal.


"Kau tahu? Ini kali pertama kau salah masuk kelas dan tidak tahu jadwal. Ini bukan Niken seperti biasanya." Jelas Bella. Niken menghembuskan nafasnya. Ia juga menyadari kalau hari ini sikapnya berbeda dari biasanya."Kau ini kenapa?"


"Aku juga tidak tahu ada apa dengan diriku sendiri. Hemmmmm... Hampir saja." Balas Niken yang juga terheran pada dirinya sendiri.


"Hampir saja bagaimana? Ehh tunggu, kau mau masuk sekarang setelah jam mengajarku selesai?" Kata Bella menawarkan.


"Tidak tidak. Kau lanjutkan saja dulu pengajaranmu." Balas Niken.


"5 menit lagi sih. Aku kasih tugas dulu ya. Setelah itu kau boleh masuk." Ucap Bella.


"Okay. Itu lebih baik daripada harus bertemu lagi dengan Hans." Balas Niken.


"Huh? Kau bicara apa?" Tanya Bella.


"Oh tidak. Aku tidak bicara apa-apa. Hanya... Hanya menggerutu. Ya, menggerutu. Kau tahulah, kalau aku sering menggerutu." Jawab Niken sedikit tergagap. Bella mengernyitkan dahinya.


"Okay. Tunggu sebentar ya." Balas Bella. Niken mengangguk. Lalu ia mengatur nafasnya dengan pelan. Jangan sampai ia salah tingkah dihadapan semua mahasiswanya. Apalagi tadi Bella sudah merasa aneh dengan sikapnya. Bersama Hans sepanjang pagi tadi membuat ia tak mampu mendeskripsikan perasaannya. Perasaan yang tidak tahu apa namanya. Dan kenapa menjadi seperti ini. Irama jantung yang detaknya berbeda. Aliran darah yang mengalir jauh lebih dingin atau lebih hangat. Nafas yang tidak teratur lembut. Dan perasaan lain yang membuat ia menjadi salah tingkah.


"Niken, aku sudah selesai." Kata Bella.


"Huh? Okey Bel, thanks ya." Balas Niken. Ia kembali mengatur nafasnya. Perasaan Niken kali ini jauh lebih baik. Berhadapan dengan mahasiswa dan mengajar mata kuliah psikologi kepribadian lebih baik daripada harus bertemu dengan lelaki bernama Hans. Begitu pikir Niken. Namun tidak lebih baik bagi mahasiswanya, wajah mereka tampak kusut saat Niken memulai materi bahan ajarnya. Tidak ada jeda istirahat dari mata kuliah Psikologi Perkembangan yang diajarkan oleh Bella hingga Psikologi Kepribadian. 


Ponsel Niken berdering, tanda pesan masuk dari Nadine.


'Apa kau tidak bisa pulang Niken?' Niken menghembuskan nafasnya.


'Tidak adakah rasa pedulimu kepada ayah?' Niken membaca pesan masuk lagi. Ia tidak berpikir untuk segera membalas pesannya. Setelah memberikan tugas untuk mahasiswanya, Niken melamun sejenak.


"Bu... Bu Niken?" Seru seorang mahasiswinya. Lamunan Niken buyar.


"Ya ada apa?" Tanya Niken.


"Tugasnya dikumpulkan lewat email atau hardware, bu?" Jawab mahasiswi dengan rambut sebahu itu.


"Oh, lewat email saja." Balas Niken. Ia menatap ponselnya dengan lama. Tidak bereaksi apapun. Melamun. Beberapa mahasiswa sudah gelisah. Beberapa yang lain berdeham memberi isyarat. Jarum jam sudah menunjukan pukul 12.10. Jam kuliah sudah selesai. Tapi, Niken masih duduk termangu di kursinya sambil menatap ponselnya. Entah apa yang ia tunggu.


"Pssst..." Hans melewati kelas Niken dan ia melihat perempuan yang ditaksirnya itu sedang melamun. Mahasiswanya menoleh ke arah Hans.


"Kenapa kalian belum istirahat?" Tanya Hans.


"Nggak tahu pak. Dari tadi bu Niken kebanyakan ngelamun." Jawab salah satu dari mereka. Hans menghembuskan nafasnya.


"Iya pak, materi udah disampaikan. Tugas udah dikasih. Tapi bu Niken belum mengizinkan kita semua keluar." Tukas yang lainnya.


"Iya pak kita udah lapar." Lanjut yang lain. Hans menghembuskan nafasnya. Ia melihat jam ditangan kirinya. Sudah hampir setengah jam.


"Ya udah kalian semua keluar aja." Kata Hans.


"Takut pak. Tahu sendiri kan bu Niken kayak gimana orangnya." Katanya.


"Ssst Fanny." Sergah teman-temannya.


"Emangnya bu Niken kayak gimana orangnya?" Tanya Hans.


"Mudah marah pak." Jawab Fanny.


Hans masuk ke kelas dan menghampiri Niken.


"Ibu lagi ngapain?" Tanya Hans.


"Lagi nungguin ditelepon." Jawab Niken tanpa menoleh siapa yang bertanya.


"Sama siapa bu?" Tanya Hans lagi.

__ADS_1


"Sama Hans." Jawabnya pendek.


"Emangnya kenapa dengan dia?"


"Biasanya dia suka ngajak aku makan. Perasaanku sedang tidak baik. Makanya aku pengin di temenin sama dia." Jelas Niken.


"Ooh begitu." Niken menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Niken sangat gembira saat ada panggilan masuk dari Hans.


"Ekhemmm... Halo." Kata Niken.


"Halo Niken...?" Suara Hans begitu dekat. Ia menyadari seseorang berdiri didepannya. Niken mendongak, dan ia melihat Hans sambil mengembangkan senyumnya.


"Kau...? Se, se, sejak kapan kau ada disini?" Tanya Niken.


"Sejak setengah jam yang lalu." Jawab Hans.


"Kenapa? Maksudku, ada apa? Aku sedang mengajar. Kau? Kenapa bisa masuk? Ini masih jam kuliah." Tutur Niken.


"Ini sudah jam setengah satu Niken. Kau mau apa lagi? Lihat murid-muridmu, mereka sudah lapar dan lemas." Balas Hans. Niken terkesiap mendengar kalimat Hans.


"Kau... Maksudku. Tugasnya harus diselesaikan dengan cepat. Aku tunggu sampai jam 5 sore." Kata Niken kepada semua mahasiswanya.


"Iya bu..."


"Ayo aku temani kau makan siang." Kata Hans. Niken menggelengkan kepalanya.


"Tidak, terimakasih."


"Katanya kau sedang menunggu teleponku untuk diajak makan. Sekarang aku ajak makan kenapa kau menggelengkan kepala." Imbuh Hans.


"Kelas kita hari ini sudah selesai ya."


"Iya bu..." Semua para mahasiswa bersorak gembira, Hans menyelamatkan mereka.


"Niken...?" Niken mempercepat langkahnya. Hans tidak tahu betapa malunya Niken saat ini. Namun Hans dengan bahagianya mengikuti langkah Niken dari belakang.


"Aduhhh kenapa dia ngikutin aku sih." Gerutu Niken sambil menoleh ke belakang. Dan Hans masih membuntutinya. Niken mampir ke kantin.


"Bu...?" Seru Niken kepada ibu kantin.


"Iya bu Niken..." Balasnya.


"Siap bu Niken."


"Aku juga ya bu, seperti biasa." Kata Hans.


"Siap pak Hans." Balas ibu kantin. Niken menoleh. Lalu memalingkan wajahnya lagi. Dengan cepat Niken berlari. Hans mengejarnya lagi.


"Niken...? Niken tunggu." Hans dapat menyamai langkah Niken dan menahan lengannya.


"Hhehe..." Niken nyengir. Memperlihatkan giginya yang rapi dan bersih.


"Kenapa kau berlari?" Tanya Hans.


"Aku? Siapa? Tidak. Aku tidak lari." Jawab Niken tergesa-gesa.


Hans menghembuskan nafas, lalu mendekati Niken. "Ada apa? Apa ada hal yang penting? Ahh aku tahu, kau pasti akan mendiskusikan mahasiswa bimbinganmu kan? Eee, aku, aku agak sibuk sekarang. Oh iya kau tahu kan, kalau aku mau makan siang dulu. Emmm, nan, nanti kita bicarakan lagi ya." Kata Niken salah tingkah. Niken menelan ludah saat tubuh Hans sudah satu inci darinya. Sementara Niken berusaha menjauhkan dirinya. Mengerjapkan kedua matanya.


"Ka-ka-kau mau apa?" Tanya Niken.


"Kenapa?"


"Kau tidak boleh mendekatiku." Kata Niken.


"Kenapa?"


"Kau... Uhh bagaimana ini?" Niken menggaruk kepalanya. "Ufo." Niken menunjuk ke langit. Hans menoleh ke atas. Spontan Niken berlari dengan cepat menuju ruangannya.


"Niken...?" Seru Hans.


Diruangan Niken pura-pura sedang mengerjakan sesuatu. "Ada apa denganku? Bagaimana kalau dia bertanya lagi? Aduhhh Niken kendalikan kendalikan... Hah dia datang." Niken terus menerus menggerutu sendirian.


Hans duduk dikursi kerjanya. Ia melirik Niken sebentar. Lalu ia menarik kursi Niken tepat dihadapan kursinya. Niken terkesiap "Kau..."


"Kenapa kau terkejut?"


"Aku? Eh ee, tidak, aku tidak apa-apa." Jawab Niken kikuk.


"Aku tidak suka kau menghindariku." Niken menundukkan kepalanya sedalam mungkin, namun Hans menengadahkan wajah Niken. Ia menyentuh pipi Niken dengan kedua tangannya. Sementara Niken memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Sebuah angin berhembus kewajahnya. Ketika ia membukakan matanya, Hans meniup luka yang sudah kering.

__ADS_1


"Aku tidak suka kau menghindarku, oleh sebab itu jika aku memanggilmu, kau tidak boleh menghindariku." Kata Hans dengan pelan.


"Aku... Malu..." Aku Niken.


"Kenapa malu?"


"Sudah jelas aku malu karena tadi. Kenapa harus ditanya? Kau itu pura-pura bodoh. Atau memang bodoh." Ujar Niken. Hans merekatkan plester didahi Niken.


"Begini lebih baik." Tukas Hans.


"Uhmmm terimakasih." Kata Niken sambil mengusap pelipisnya.


"Siapa bilang aku bodoh?" Kata Hans.


"Aku. Kau tidak dengar?" Balas Niken.


Hans menyentil dahi Niken. "Aakk."


Niken mengusap dahinya yang sakit. Ia cemberut. Sementara Hans tertawa cekikikan.


"Hans...?" Seru Niken pelan.


"Hemmmhhh..."


"Aku pikir Haya..."


"Kenapa dengan Haya?" Potong Hans. Niken menghembuskan nafasnya.


"Dia bertanya tentang kedekatan aku denganmu. Dia pikir aku dan kau menjalin sebuah hubungan." Jelas Niken.


"Kenapa memangnya? Apa kau keberatan dengan asumsi Haya?" Hans menatap Niken dalam-dalam.


"Dia juga cerita, tentang kau dengan seorang perempuan yang mengubah semua sikapmu. Perempuan itu bernama Khana. Siapa dia?" Tanya Niken menyelidik. Hans tersenyum santai.


"Kau sangat mengenalnya."


"Who is she?"


"Dia adalah..." Niken menyondongkan tubuhnya.


"Adalah...?"


"Adalah..."


"Is she...?" Hans tersenyum senang, saat Niken cemburu dengan dirinya sendiri.


"Hans...?"


"Niken..."


"Jawab dong. Aku kan nanya."


"Kamu tuh lucu tahu nggak. Makanya aku senang kamu kayak gini." Balas Hans.


Niken cemberut. "Hans, aku nanya, sebaiknya kau jawab. Bukan mainin aku kayak gini." Ketus Niken.


"She is in front of me now. Niken Khana your call name. Right? Only you, yang aku cintai." Balas Hans. Niken menelan ludah. Menatap Hans dalam-dalam. Hans mendekati wajah Niken. Semakin dekat dan semakin dekat.


Tok tok tok... Seketika Niken menoleh begitu pun dengan Hans. Saat Niken hendak membuka pintu, Hans menahan kedua paha Niken. Sehingga Niken tidak bisa berdiri.


"Hans, kau ini kenapa sih? Aku mau buka pintu dulu." Tukasnya.


"Masuklah!" Perintah Hans, lalu masuklah Rina ke ruangan dengan membawa dua porsi nasi goreng dengan dua gelas lemon tea.


"Bu, ini pesanannya." Ujar Rina.


"Ohya, terimakasih." Rina menyodorkan nasi goreng ke arah Niken, Hans menahan tangannya. Niken hampir menampar pipi Hans. Rina tersenyum melihat tingkah lucu dua dosen pembimbingnya itu.


"Simpan dimeja ini." Kata Hans. Rina menurut. Rina senyum-senyum malu melihat mereka.


"Kau? Mengapa kau selalu menyebalkan? Kau tahu tidak, dia bisa saja salah paham dengan apa yang dia lihat." Tukas Niken.


"Memangnya ada apa dengan hubungan kita?" Kata Hans.


"Uhh, tidak. Maksudku kita ya memang tidak memiliki hubungan yang khusus. Tapi sikapmu itu akan membuat semua orang salah paham. Mereka pikir kita ini..."


"Apa?" Hans menatap lurus mata Niken. Tapi Niken tidak melanjutkan kalimatnya. Hans memegang kedua pipi Niken. "Biarkan mereka salah paham. Biarkan mereka yang menyimpulkan kisah kita yang terputus dari 10 tahun yang lalu. Aku tidak bisa menahan diriku untuk menyatakan perasaanku padamu." Lanjut Hans. Niken terkesan dengan semua ucapan Hans. Mungkin terdengar klasik dan gombal. Tapi entah bagaimana, apapun yang Hans katakan akan selalu membuatnya merasa aman dan tenang.


***

__ADS_1


__ADS_2