
Tia
Tante gimana? Tante sudah bicara dengan Hans? Keputusan Hans bagaimana?
Dina mendapatkan pesan dari Tia. Sebenarnya Dina merasa sangat risih selalu ditelepon dan mendapatkan pesan yang mendesaknya untuk ikut campur dalam urusan pribadi putranya. Dina adalah ibu yang bijak, ada waktu dimana dia akan ikut campur dalam urusan pribadi anak-anaknya. Adapun waktu dimana ia membiarkan anak-anaknya memilih keputusannya sendiri. Sejak Hans dan Haya masih kecil, Dina selalu memposisikan dirinya sebagai sahabat anaknya. Sehingga mereka tidak akan merasa diintimidasi dan takut terhadap peraturan yang ia tetapkan untuk anak-anaknya. Hingga saat ini, baik Hans maupun Haya, selalu dekat dengan papa dan mamanya, tidak pernah ragu untuk bercerita kepada kedua orangtuanya. Dina dan Harun memiliki cara yang berbeda dalam pengasuhan putra-putrinya. Mereka orang tua yang penuh dengan toleransi namun juga tegas.
Dina menghela nafas panjang. Lalu membalas pesan dari Tia.
Maaf ya Tia. Semua keputusan, tante serahkan kepada Hans. Tante percaya kalau Hans bisa membuat keputusan yang baik. Tolong Tia mengerti. Menyinggung soal Niken, maaf tante tidak bisa menolong.
Pesan terkirim. Tidak lama kemudian pesan balasan dari Tia pun masuk.
Tia
Koq tante gitu sih? Niken itu orang jahat tante. Tante tahu nggak kalau Niken itu pelacur. Dia suka main di bar. Godain om-om. Emang tante mau punya menantu pelacur?
Dina tercengang membaca balasan dari Tia. Ia menggelengkan kepalanya, kemudian mengernyitkan dahinya. Dia semakin penasaran orang seperti apa Niken itu? Kenapa rasanya Tia sangat membenci Niken? Lalu kalau Dina pikir-pikir, baru kali ini Hans sun tangan, bersikap lebih sopan dari biasanya. Sikap Hans agak aneh, Dina tahu betul bagaimana karakter putranya. Jika Niken adalah perempuan yang tidak baik, Hans tidak akan bersikap lebih baik dari sikap sebelumnya.
"Maaf, Tia. Baik buruknya seseorang tidak bisa dinilai oleh pekerjaannya." Begitu Dina membalas pesan. Dina termenung agak lama. Ia pikir, ia harus lebih kenal dengan Niken. Baik buruknya seseorang harus dinilai dari beberapa sisi, bibit bebet dan bobotnya. Begitu pikir Dina.
"Hans, mama ingin berkenalan dengan pacar kamu." Ketik Dina dari layar ponselnya. Lalu mengirimnya kepada Hans. Tiba-tiba Dina teringat Haya yang sering mengunjungi apartemen kakaknya. Haya pasti tahu sesuatu. Haya juga pasti sudah mengetahui bahwa kakaknya sudah punya pacar. Jadi kenapa tidak ia selidiki saja Haya. Dina pun bergegas menghubungi putri bungsunya.
"Hallo Haya...?" Sambungan telepon terhubung.
"Iya mah, ada apa?"
"Ngopi yuk sayang?" Ajak Dina.
"Tumben mah, ayo deh. Emmm... Haya satu jam lagi selesai koq mata kuliahnya. Haya tunggu di tempat biasa ya, mah." Balas Haya.
"Okey sayang." Dina beranjak, dan bergegas menyalakan mesin mobilnya.
__ADS_1
***
Meskipun sudah berusia 56 tahun, namun Dina selalu berpenampilan apa adanya. Kasual namun terlihat elegan. Dina menunggu putri bungsunya datang. Sambil melihat ke arah luar jendela cafe.
"Mama..." Seru Haya menggapaikan tangannya. Lalu duduk ditempat yang sudah dipesan oleh mamanya.
"Hai sayang..."
"Mama udah pesan kopinya?" Tanya Haya. Dina mengangguk. Sesuai dengan selera putrinya. Es kopi latte untuk Haya dan Cappucino creamy untuk dirinya. Pesanan datang begitu Haya tiba dan merapikan rambutnya.
"Tumben mama ngajak Haya ngopi. Ada apa nih...? Mama mau menyelidiki Haya ya, yang jarang pulang dan suka nggak angkat telepon mama?" Imbuh Haya. Ia tahu kalau mama atau papanya ngajak ngopi atau makan berdua. Artinya ada sesuatu yang ingin mereka diskusikan. Baik itu masalah yang mereka perbuat atau karena mereka menyembunyikan sesuatu dari orangtuanya.
"Oh iya ya. Koq mama nggak inget kesitu sih. Emang kamu kemana sayang?" Tanya Dina dengan tenang.
"Sudah Haya duga. Mah, Haya punya pacar. Namanya Adit." Jawab Haya mengaku. Dina mengernyitkan dahinya. Selama ini Dina tidak tahu kalau putrinya juga sudah dewasa. Sudah memiliki ketertarikan kepada lawan jenis. Pantas saja selama ini Haya selalu senyum-senyum sendiri. Kasmaran dan kadang-kadang seperti merasa galau.
"Adit? Orangnya kayak gimana sayang?" Ekspresi Dina tidak menunjukkan marah. Ia justru sangat tenang dan menyimak. Ia justru tertarik dengan semua hal yang Haya lalukan bersama pacarnya.
"Kapan-kapan kenalin ke mama ya?"
"Mama nggak marah kalau aku pacaran?"
"Enggak dong sayang. Mama justru senang kamu punya pacar. Itu artinya kamu udah dewasa. Tapi ingat ya Haya, pesan mama cuma satu, jaga baik-baik diri kamu. Okey?" Jelas Dina.
"Iya mah tenang aza." Kata Haya.
"Ohya, mama juga mau nanya sesuatu deh sama kamu."
"Soal apa mah?"
"Soal kakak kamu."
__ADS_1
"Kak Hans...? Emang kenapa sama dia?"
"Mama dengar dia punya pacar, itu benar?" Tukas Dina. Haya mengangguk.
"Iya mah benar."
"Kamu udah pernah kenalan sama pacar kakak kamu?" Tanya Dina. Haya menganggukkan kepala lagi. "Gimana orangnya?"
"Kak Niken itu orangnya cantik, ramah, tubuhnya ideal banget mah. Jago masak, dan perhatian banget." Jawab Haya. "Oh ya, aku punya fotonya waktu lagi jalan sama kak Niken." Haya memperlihatkan keakrabannya dengan Niken. Dina men-scroll foto-foto Niken dan Haya.
"Pekerjaannya apa?" Selidik Dina.
"Dia itu dosen mah. Sama kayak kak Hans. Satu kerjaan bareng. Udah doktor, punya salon sendiri dan udah punya apartemen sendiri lagi. Nanti kalau aku udah lulus sarjana. Aku juga mau kayak kakĀ Niken." Jelas Haya. Dina memikirkan balasan dari Tia yang rancu dengan apa yang Haya jelaskan. Ia sangat penasaran seperti apa sih Niken itu?
"Wah hebat dong kalau gitu. Ohya, kamu ngerasa nggak kalau kakakmu itu agak aneh." Tukas Dina dengan menyondongkan tubuhnya.
"Aneh gimana maksud mama?" Haya menyeruput kopinya.
"Ya aneh. Nggak kayak biasanya. Soalnya kemarin pas dia pulang. Dia sun tangan mama sama papa. Trus dia peluk mama, cium pipi mama. Hal yang tidak biasa kakak kamu lakukan." Ujarnya.
Haya menghembuskan nafasnya, "emang. Sama Haya juga kadang-kadang suka aneh." Balas Haya.
"Kenapa ya?" Tanya Dina.
Haya mengangkat kedua bahunya. "Entah. Sejak ketemu lagi sama kak Niken, dia emang kayak gitu." Jawab Haya.
"Ketemu lagi?" Selidik Dina.
"Mama tahu nggak kalau dulu kak Hans itu pernah kehilangan perempuan yang dia cintai?" Kata Haya, Dina mengingat beberapa tahun yang lalu. Saat Hans pulang malam-malam dengan keadaan yang kacau. Semua barang-barang ia banting ke lantai. Sangat histeris dan mengamuk sepanjang malam. Tidak mau makan dan minum. Bahkan tidak mau keluar dari kamar.
***
__ADS_1