
Setelah selesai menemui Arfand, Niken pulang ke apartemennya. Dengan perasaan bahagia, Niken memasak makanan kesukaan Hans. Ini saatnya ia berterus terang kepada Hans. Namun saat ia hendak masuk, pintu apartemen Hans sedikit terbuka, sehingga Niken tidak perlu membunyikan bel. Ia masuk dan tak disangka Niken melihat Kezia memeluk Hans dengan sangat erat. Emosi Niken naik pitam, ia tidak bisa menahan amarahnya, Niken murka. Lalu membanting tupperwarenya ke lantai. Hans menoleh dan melepaskan tangan Kezia yang melingkar dipundaknya. Niken mendekat lalu menampar pipi Kezia dengan keras. Hans terkejut, begitu pun dengan Kezia yang tak menduga bahwa Niken akan menamparnya lagi. Kezia memandang Niken dengan perasaan benci dan muak.
"Kau pikir aku akan diam saja seperti 10 tahun yang lalu? Hah? Kalau kau melakukan ini dengan sengaja karena masih dendam terhadapku dan sahabat-sahabatku, mari kita selesaikan hari ini." Ujar Niken dengan tatapan yang menyala-nyala. Kezia melotot dan mendekati Niken.
"Kau tidak akan pernah mendapatkan Hans. Karena aku akan selalu merebutnya. Siapa? Via? Akan aku pastikan, Via, Naina, dan Naira tidak akan mendapatkan kebahagiaan. Aku akan mengutuk kalian." Katanya dengan mata yang melotot. Niken menampar keras wajah Kezia lagi. Ia tak ingin kalah dari Kezia.
"Kau bukan manusia, Kezia. Kau iblis yang harus musnah dari dunia ini. Aku yang akan mengantarmu ke neraka." Kata Niken.
"Bajingan." Kezia melayangkan tangan ke arah Niken. Namun Niken lebih sigap dan tamparannya meleset.
"Sudah... Sudah...." Kata Hans melerai. Kezia meneriaki Niken tepat diwajah Niken.
"Aaarrrgggghh..."
Niken tetap menatap Kezia dengan tegas. "Kau bisa membodohi Via, tapi tidak denganku. Kau bisa merayu Fariz tapi tidak dengan Hans. Aku akan melenyapkanmu jika kau menyentuh kekasihku." Balas Niken berteriak tepat diwajah Kezia. "Rahasiamu masih ada ditanganku, sebelum aku benar-benar menghancurkanmu, enyahlah kau dari sini." Lanjut Niken. Kemudian Kezia menangis sesunggukan. Niken menarik lengan Kezia, menyeretnya keluar dari apartemen Hans. Hans tak percaya bahwa Niken akan sebrutal itu. Ia juga tak percaya bahwa Niken akan sangat menakutkan jika marah.
Niken mengatur nafas, ia menangis mengingat sahabatnya yang sampai sekarang masih belum pulih dari pasca traumatiknya. Hans merangkul pundak Niken. Niken menghapus air matanya.
"Kenapa dengan pipimu?" Tanya Hans, ketika melihat wajah Niken memar.
"Awww..." Niken merasa kesakitan.
"Kau ditampar siapa?"
"Kezia." Balas Niken.
"Kapan?"
__ADS_1
"Tadi siang di bironya miss Tanu." Lirihnya.
"Tunggu sebentar." Hans mengambil gulungan es. Dan mengompres pipi Niken.
"Kenapa bisa seperti ini? Kau berkelahi? Hebat sekali kau." Ujar Hans. Niken merebut kompresannya. Niken menyipitkan matanya. Menghembuskan nafasnya pelan-pelan. Berusaha untuk meredam kembali semua emosinya.
"Kau tahu, Kezia itu adalah musuh kami." Kata Niken.
"Bagaimana bisa kau dan Kezia bermusuhan?" Tanya Hans. Niken menyimpan kompresan, dan Hans mengoles krim pereda nyeri ke wajah Niken.
"Awww... Pelan-pelan." Niken meringis.
"Iya ini juga pelan." Balas Hans. Setelah selesai, Hans menyentuh lembut rambut Niken.
"Sejak SMP, Aku, Via, Elsa, Naina, dan Naira adalah sahabat. Persahabatan kami memiliki nama 5 Matahari. Sebenarnya kami tidak memiliki musuh, tapi entah bagaimana kami selalu bertemu Kezia, saat didalam cafe atau ditempat-tempat tertentu. Suatu ketika Kezia merebut kekasih Naira, kemudian merebut lelaki yang Naina taksir, menjebak Irshan cinta pertamanya Via, dan Fariz. Kau tahu siapa Fariz? Dia adalah lelaki pertama yang meyakinkanku kalau cinta itu indah. Sama sepertimu yang selalu meyakinkanku tentang cinta yang indah. Tapi, Kezia sengaja mengundangku dan Elsa untuk datang ke sebuah acara di hotel. Tidak sengaja aku melihat perilaku Kezia yang bejad, dia dan Fariz bercumbu, bersama Irshan dan satu teman perempuan Kezia. Aku dan Elsa tutup mulut untuk masalah ini, karena kami tahu Via akan sangat terpukul. Begitu pun denganku. Aku tidak menyangka lelaki yang kuanggap baik itu ternyata mampu tergoda oleh Kezia. Lalu tadi siang, tidak sengaja aku bertemu dengan Kezia di biro konsultan Miss Tanu. Ternyata dia memiliki penyakit kejiwaan yang sangat serius. Yang aku tahu juga, sejak dulu, Kezia pengidap HIV AIDS. Oleh karena itu, aku takut sekali, kau tertular." Jelas Niken. Hans tersenyum bangga. Lalu ia mengacak-acak rambut Niken.
"Ohya, makanannya tumpah. Aku bersihkan dulu ya." Ia mengelak dan mengalihkan topik. Niken segera membersihkan makanan yang tumpah tadi. Hans tahu sekarang, kalau saat ini Niken sedang cemburu. Lagi-lagi Hans mendekati Niken.
Niken pergi ke dapur menuangkan segelas air mineral. Lalu ia meneguknya dengan cepat. Hans menghampirinya lagi. Niken merasa gugup karena Hans selalu mengikutinya.
"Uhmm, aku lapar, kau punya makanan?" Kata Niken yang kemudian mencari bahan makanan di lemari es. Tiba-tiba Hans menahan lengan Niken. Menutup lemari es dan memandang wajah Niken lamat-lamat.
"Sofa." Kata Niken sambil menunjuk. "Wahhh. Apa ini sofa baru? Kelihatan lebih empuk." Tukas Niken. Krikkk krikkk krikkk krikkk. Niken mengerjapkan kedua matanya. Sementara Hans hanya menghembuskan nafasnya.
Kemudian Hans duduk disamping Niken, "kau mau menghindariku lagi?" Tanya Hans. Niken menggelengkan kepala. "Aku hanya gugup." Jawab Niken sembari memegang leher belakangnya. Hans tertawa, lalu mencubit pipi Niken.
"Dugaanku benar, kalau kau itu cemburu. Itu sebabnya kau sangat lucu kalau lagi cemberut." Ujar Hans meledek. Niken cemberut, lalu melempar bantal sofa ke wajah Hans.
__ADS_1
"Kau pikir aku badut. Enak saja. Kau menyebalkan." Balas Niken.
"Kau cemburu?"
"Iya. Aku cemburu. Aku tidak suka melihatmu bersama Kezia. Aku tidak suka kau bicara sok lembut dengan perempuan lain. Aku... Cemburu." Aku Niken. Hans mendekatinya, lalu memeluk Niken dengan mesra.
"Aku bahagiaaaa sekali..." Kata Hans. Niken merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia menahan nafasnya, mencoba merasakan pelukan hangat milik Hans. Niken pub membalas memeluk Hans. "Hans..." Seru Niken.
"Ya..."
"Kau tahu? Tangan inilah yang pada akhirnya akan memenangkan hatiku." Ujar Niken. Hans mengelus lembut rambut Niken.
"Aku mencintaimu, dulu, kini, dan nanti." Balas Hans. Niken tersenyum penuh bahagia.
"Makanannya gimana? Aku sudah menumpahkannya." Tukas Niken.
"Gampang. Nanti kita pesan ya." Hans kembali memeluk Niken.
"Oh ya, aku ingat, kau kan janji mau pesan pizza." Kata Niken. Hans menepuk jidatnya. Lalu mengirim pesan pizza ke go food. Hans menyalakan televisi, Niken meminta nonton drama korea. Tapi Hans menolak karena tidak mau menonton per episode-nya. Hans memutar film barat yang sangat vulgar.
"Hans... Kau gila. Kenapa kau memutar film beginian." Niken menutup kedua matanya.
"Kenapa?"
"Matikan matikan. Cepat matikan Hans..." Pinta Niken. Hans menuruti keinginan perempuan yang ia cintai. Hans menggenggam tangan Niken. Mata Niken mengerjap dengan cepat. Bibir Hans mendarat dibibirnya. Tidak ada penolakan dari Niken, ia membalasnya dengan melingkarkan kedua tangannya ke leher Hans.
***
__ADS_1