One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Empat puluh lima


__ADS_3

Hans dan Sam masih mengobrol sambil menikmati kopi di teras depan, sementara Niken dan Elsa mengobrol di tengah rumah.


"Ceritakan padaku, apa saja yang sudah kalian lakukan setelah menikah? Bukannya dulu dia itu bosmu." Tukas Niken sambil mengunyah makanan.


"Huh? Iya Sam memang bosku sampai sekarang." Balas Elsa.


"So, gimana rasanya menikah?" Tanya Niken.


"Apaan sih. Ya biasa aja." Jawab Elsa.


"Apa aja yang udah kalian lakukan?" Selidik Niken.


"Yang dilakukan apa?" Elsa mengernyitkan dahinya.


"Ya apa saja."


"Kenapa kau bicara seperti itu? Apa jangan-jangan kau dengan Hans sudah pernah melakukan sesuatu?" Elsa menyelidik.


"Kau jangan mengalihkan pembicaraan." Timpal Niken.


"Aku tidak mengalihkan pembicaraan. Kau yang selalu ingin tahu urusan orang." Tukas Elsa.


"Aku hanya ingin tahu orang yang sudah menikah Elsa. Kau ini. Ayolah katakan." Bujuk Niken. Elsa merapatkan bibirnya lalu berpikir sejenak. "Kau sudah pernah berciuman?" Lanjut Niken.


"Kau sudah berhubungan intim?" Tambah Niken.


"Berapa kali sehari? Berapa posisi yang sudah kau lakukan dengan dia? Apa dia sangat hot saat di ranjang?" Tutur Niken menggebu-gebu dengan pertanyaannya. Elsa mengerjapkan kedua matanya dengan tak percaya.


"Kau gila?" Ketus Elsa.


"Apanya yang gila? Aku ini bertanya Elsa. Ayo jawab. Kau sudah pernah.... Ekhemmmm..." Goda Niken. "Aku yakin kau dengan Sam sama-sama menggairahkan. Benarkan?" Lanjut Niken.


"Niken... Niken... Niken..." Elsa memukul Niken dengan bantal. Ia kesal karena Niken selalu menggodanya. Niken tertawa kekeh, sudah lama ia tidak menggoda sahabatnya itu.


"Aku hanya ingin tahu. Dimana salahku?" Balas Niken memonyongkan bibirnya. Elsa kesal dan melempar bantal ke arah Niken. Niken balik melempar, begitu seterusnya. Hans dan Sam menoleh sebentar melihat kekasihnya masing-masing saling lempar bantal.


"Jadi gimana sekarang usahamu, Sam?" Tanya Hans.


"Ya begitulah. Berkat Elsa semuanya berjalan dengan lancar. Hutang dan segala permasalahan lainnya bisa teratasi dengan baik. Setelah setahun yang lalu hampir bangkrut." Jawab Sam.


"Elsa banyak membantumu?" Hans mengernyitkan dahinya.


"Ya, dia sekretaris-ku, istriku dan tangan kananku." Balas Sam.


"Kau mencintainya?" Hans menyeruput kopinya.


"Kenapa kau bertanya begitu?" Sam juga menyeruput kopinya.


"Jujur saja, aku terkejut ketika kau memutuskan untuk nikah muda. Saat itu aku tahu kau banyak mengalami kesulitan. Kabar tentang dirimu banyak diberitakan di media. Dan banyak orang yang berkata bahwa pernikahanmu itu hanya untuk menyelamatkan perusahaan. Tapi setelah aku tahu siapa yang kau nikahi, aku urungkan diri untuk berkomentar kepadamu." Jelas Hans.


"Kenapa?"


"Karena aku tahu kau mencintai perempuan itu." Hans mendongak, melihat Niken dan Elsa masih mengobrol.


"Masih banyak kesalahanku kepada Elsa, Hans. Meskipun aku mencintainya. Belum tentu dia mencintaiku. Terlebih lagi, jika dia tahu hal yang sebenarnya." Hans meletakkan kopinya.


"Kau memang pandai menyimpan rahasia, Sam." Puji Hans.

__ADS_1


"Sudahlah."


"Niken..." Elsa mengejar Niken yang berlari ke arah Hans dan Sam.


"Hey hey ada apa ini." Seru Hans.


Niken menjulurkan lidahnya. Sementara Elsa masih kelihatan kesal. Niken sering kali menghindari pukulan Elsa.


"Tahu tuh Niken..." Ketus Elsa. Sam menarik lengan Elsa, ia terduduk dipangkuan suaminya.


"Apa apa apa...?" Cibir Niken.


"Awas ya..." Tunjuk Elsa.


"Kayak anak kecil aza." Tukas Sam.


"Dia tuh seneng banget bikin orang kesal." Elsa melempar bantal lagi. Niken menghindar dan masuk ke rumah.


Sam menatap Elsa, "heh heh heh, mau kambuh lagi sakitnya. Nggak bisa dibilang." Imbuh Sam.


"Huh? Ohh enggak koq. Udah nggak sakit." Balas Elsa.


"Elsa...?" Seru Niken. Hans menoleh, Niken menggapaikan tangannya.


"Niken...?" Seru Hans.


"Enggak, aku nggak godain Elsa lagi. Sini dulu. Ada yang mau aku kasih tahu." Balas Niken.


"Apa?"


"Sini. Soal yang tadi itu." Elsa beranjak lalu menghampiri Niken.


"Mereka sudah lama tidak bertemu." Ujar Sam. Hans mengangguk setuju.


Malam semakin larut, Hans dan Sam mengakhiri percakapan mereka. Dan masuk ke kamarnya masing-masing.


"Hans...?" Seru Niken.


"Hemmmh..."


"Kau mau tidur denganku?" Hans yang tidur beralaskan selimut pun terbangun. Niken menepuk kasurnya.


"Ayo kemarilah." Lanjut Niken. Hans bergegas memindahkan bantal dan selimutnya lalu merebahkan diri dikasur.


"Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" Tanya Hans.


"Kau kan sudah menjadi kekasihku. Mana mungkin aku tega membiarkanmu tidur dilantai. Lagi pula Elsa dan Sam tidak akan tahu kalau kita tidur satu ranjang." Ketus Niken.


"Pintar juga kekasihku. Akan aku beri satu ciuman." Hans mendekatkan bibirnya. Tangan Niken bergerak cepat dan menghalangi bibir Hans.


"Ehhh sabar dulu." Kata Niken.


"Kenapa?"


"Kau tidak boleh berbohong kepadaku. Apa yang kau rahasiakan dengan Sam?" Tanya Niken penasaran.


"Rahasia apa?" Hans balik bertanya.

__ADS_1


"Hans...?"


"Niken...?"


"Hans...?"


"Niken...?"


"Hans, katakan terus terang kepadaku." Ujar Niken sangat penasaran.


"Itu urusan mereka. Kenapa kau ikut campur?" Balas Hans.


"Aku tidak ikut campur. Aku hanya penasaran." Katanya.


"Ahk, beginilah kalau berurusan dengan perempuan. Aku tidak suka kau selalu bertanya." Imbuh Hans.


"Ayolah, katakan terus terang kepadaku. Aku janji, aku tidak akan mengatakan kepada siapapun termasuk Elsa." Niken terus mendesak Hans.


"Ahkk tidak-tidak. Sebaiknya aku kembali tidur dibawah." Hans tetap tutup mulut.


"Ayolah Hans." Rengek Niken.


"Kau mau tahu." Hans mengangkat alisnya, Niken mengangguk. "Ada 3 syarat." Hans memberikan syarat kepada Niken.


"Apa?"


"Syarat pertama, ikuti semua perintahku." Kata Hans dengan perasaan berbunga-bunga. Niken mengangguk setuju.


"Baik. Itu tidak sulit."


"Kedua, beri aku ciuman setiap hari."


"Kau gila...? Dasar mesum." Niken memukul lengan Hans dengan kesal.


"Aw aw aw, ya sudah aku tidak mau." Balasnya.


"Hans...." Rengek Niken.


"Kau tidak mau?"


"Ok... Okey okey. Tapi nggak tiap hari ya." Katanya.


"Ehhh harus tiap hari. Pipi kiri pipi kanan, dahi, dan bibir." Kata Hans menggoda Niken.


"Ihhhh kau ini." Niken mencubit perutnya.


"Aduh aduh aduh, sakit tahu."


"Ketiga apa?" Tanya Niken.


"Untuk yang ketiga, biarkan aku berpikir dulu. Nanti akan kuberitahu. Sekarang, beri aku satu ciuman dulu." Balas Hans.


"Ahk kau ini benar-benar menyebalkan. Pergi sana. Tidur dilantai. Aku tidak mau tahu." Niken geram karena merasa dijahili. Niken melempar selimutnya tepat diwajah Hans.


"Kau tidak mau memakai selimut?" Kata Hans.


"Tidak." Tukasnya kesal. Busana tidur Niken yang transparan membuat kerongkongan Hans kering. Glekkk. Hans menelan ludah, sementara Niken membalikkan badannya. Jakun milik Hans naik turun. Kaki Niken tampak mulus. 10 menit berlalu, Niken membalikkan badannya. Hans masih terjaga, ia melihat paras Niken yang cantik ketika tidur. Hans menghela nafas, lalu menyelimuti tubuh Niken. Hans mengecup kening kekasihnya itu.

__ADS_1


"Selamat malam, sayangku." Bisik Hans kemudian ia meletakan kembali selimutnya diatas lantai, lalu ia terlelap dalam tidur.


***


__ADS_2