
Selama dirumah ibu, Niken menghabiskan waktu merapikan buku-buku diperpustakan pribadinya. Ruang pojok yang dijadikan perpustakaan kecil oleh Niken. Selain itu, ia juga bertemu teman-teman masa kecilnya. Tapi sayangnya, Niken tidak bisa hangout bareng 5 matahari. Naira tinggal di New York bersama suaminya, Naina sudah setahun terakhir ini pindah ke Batam, Via sedang liburan ke Paris, sementara Elsa belum pulang dari Australia. Ke-4 sahabatnya itu sudah menikah, hanya Niken yang masih senang dengan kesendiriannya. Sebenarnya, sebelum Niken putus dengan Hans. Niken sudah merencanakan untuk mempertemukan ibu dengan Hans. Tapi apa boleh dikata, kalau ternyata mereka tidak berjodoh. Niken menghembuskan nafas panjang, rasanya terlalu berat juga menerima perjodohan ini. Antara sedih dan bahagia, Niken menyadari sendiri bahwa ia sudah tak lagi muda. Mungkin sudah saatnya ia menikah dan tidak banyak menuntut pada pasangan.
"Niken...?" Seru Kikan
"Hai..." Balas Niken.
"Apa kabar?"
"Baik." Jawab Niken.
"
Ohya, mau cicipi kue buatanku?" Tukas Kikan sambil membawa sepiring kue bolu untuk Niken.
"Boleh." Balas Niken. Lalu mencubit sedikit kue bolu buatan Kikan. Dia teman masa kecil Niken.
"Aku dengar, kau mau dijodohkan ya?" Imbuh Kikan. Niken mengangguk.
"Niken...?" Seru ibu memanggil Niken.
"Ehhh aku pulang ya. Maaf banget, lain kali kita ngobrol lagi. Okey?" Tukas Niken.
"Ehhh ini kue nya." Kikan menyodorkan sepiring kue bolu.
"Thank you, Kikan." Niken bergegas pulang.
"Ada apa bu?" Tanya Niken ketika ia sudah sampai dirumah.
"Sini foto dulu." Ujar ibu.
"Aduhhh kirain apa sih. Kan Niken udah bilang, Niken nggak mau difoto." Kata Niken.
"Ihhh ge'er kamu. Bukan buat dikirim ke calon kamu koq. Kita foto aza berdua. Kan udah lama ibu nggak foto bareng sama kamu." Balas Ria.
Niken menyipitkan matanya, ia tahu betul sifat ibunya. Lalu Niken berfoto bersama ibunya. Tidak ada satu foto yang bagus. Niken sengaja memotret foto jelek dengan rambut yang tergerai ke depan, menutupi wajahnya. Lagi-lagi Ria kesal dengan kelakuan putrinya.
"Ahhh udah ah, Niken capek. Niken mau main sama Dea. Dea... Ayo sini. Ikut aunty yuk." Kata Niken dengan menggapaikan tangannya.
"Kemana aunty?" Tanya keponakannya.
"Kita berenang yuk?" Ajak Niken. Deandra berseru riang. Niken sering menghabiskan waktu bersama keponakannya.
Hans masih sibuk dengan pekerjaannya di kampus. Beberapa mahasiswanya memilih mata kuliahnya sebagai semester pendek bagi yang nilainya jelek atau kurang memenuhi standar kelulusan. Beberapa dosen yang lain libur termasuk Niken, tapi tidak untuk Hans. Sehingga ia tidak menyempatkan waktu untuk pulang ke rumah orangtuanya.
Selain itu distro miliknya mengalami penurunan yang sangat drastis. Kerugian besar-besaran di bulan ini. Sehingga Hans sangat ekstra mengawasi distronya setiap hari, dan dipenuhi dengan tugas mahasiswanya yang menumpuk dimeja.
"Hemmmh bagaimana ini?" Gerutunya dalam hati. Ponselnya berdering, terbaca mama dilayar ponsel.
"Iya mah?"
"Hans, kapan kamu ada waktu sih? Sibuk terus deh ahk. Mama udah malu nih sama temen mama." Tutur Dina.
"Iya mah, sebentar aza. Aku ini bener-bener lagi sibuk." Balas Hans.
__ADS_1
"Iya mama ngerti. Tapi sehari aza sayang." Pinta Dina memohon kepada anaknya.
"Duhhh mah, gimana ya? Mama tuh banyak maunya deh. Mama minta ini lha itu lha, Hans kan jadi pusing, mah." Keluh Hans.
"Ohya, rumah gimana? Kamu udah dapat belum?"
"Belum." Balas Hans.
"Tuh kan. Kamu tuh sebenarnya niat nggak sih buat nikah. Ngurusin kerjaan mulu deh. Ya udah lha terserah kamu deh. Mama capek." Cerewet Dina.
"Iya iya mah. Okey. Jumat besok, aku usahain buat dapat rumah secepatnya. Dan pertemuan kita malam minggu besok. Sekalian aku ada pertemuan dengan seluruh dosen di Bandung." Jawab Hans akhirnya.
"Ya udah kalau begitu." Dina mengakhiri panggilannya. Sementara Hans masih bergelut dengan pekerjaannya.
...***...
Niken ditelepon oleh pak Kiki untuk menemani Hans dalam pertemuan seluruh dosen se-Indonesia di Bandung. Awalnya Niken menolak, tapi pertemuan itu sangat penting untuk karir dan masa depan kampusnya, sehingga Niken tidak bisa menolak pengajuan Pak Kiki terhadapnya. Diantara dosen yang lain, yang memiliki kredibilitas yang tinggi hanya Hans dan Niken. Oleh karena itulah pak Kiki menunjuk mereka.
"Malam ini kan kita mau ada pertemuan, Ken." Ujar Ria.
"Iya Niken tahu, bu. Niken usahain sebelum jam 7 Niken udah ada disana, ya." Balas Niken. Ria cemas kalau-kalau Niken kabur dari perjodohannya kali ini. Mendadak Ria sangat tidak setuju kalau Niken pergi ke acara pertemuan itu. Tapi perintah rektor siapa yang mau ganggu gugat? Akhirnya Ria pun mengizinkan Niken pergi.
"Kau dimana?" Tanya Hans saat teleponnya terhubung ke ponsel Niken.
"Aku sudah ditempat parkir." Jawab Niken.
"Sepertinya aku akan terlambat, kau bisa mengosongkan 1 kursi untukku?" Ujar Hans. Niken mengangguk.
"Ummm baiklah. Kau sudah sampai mana?" Kini Niken balik bertanya.
"Tidak jauh dari hotel. Kau sudah hampir dekat. Aku akan menunggumu." Ujar Niken.
"Baiklah kalau begitu." Hans mengatur setirnya saat mobil lain sudah melaju lambat. Hans sudah hampir sampai, ia mulai memarkir mobilnya. Ponselnya berdering kembali.
"Ya Niken?" Seru Hans.
"Kau dimana?"
"Baru saja memarkir mobil."
"Cepat." Hans mengangkat alis.
"Kenapa?"
"Acara sudah mau dimulai." Kata Niken. Hans mulai berlari ke arah pintu masuk. Niken menggapaikan tangannya.
"Kenapa kau tidak masuk?" Tanya Hans sambil mengatur nafasnya.
"Kalau aku masuk duluan, kau mungkin tidak akan bisa masuk." Balas Niken sambil merapikan dasi Hans. "Ayo." Niken menggandeng tangan Hans. Mereka pun masuk ke dalam ruangan.
Acara sudah dimulai dengan sambutan dari Gubernur Jawa Barat. Acara itu diselenggarakan dengan sangat meriah namun tetap memiliki kesan elegan. "Hai, boleh kenalan?" Seru seorang lelaki yang duduknya bersebelahan dengan Niken. Niken tersenyum ramah.
"Namaku Fajar. Kau?" Lelaki yang bernama Fajar itu mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Niken." Balas Niken sambil balas mengulurkan tangannya.
"Sepertinya kita sudah pernah bertemu." Rayu Fajar.
"Uhmmm, aku tidak ingat. Maaf."
"Kita pernah bertemu dialam mimpi. Apakah kita berjodoh?" Goda Fajar lagi. Niken hanya menyunggingkan bibirnya.
"Ekheeemmm." Hans berdeham. Lalu melirik Niken dan lelaki itu. "Kalau kau tidak diam. Aku pastikan buku ini akan melayang diwajahmu." Ujar Hans kepada Fajar. Niken menyikut lengan Hans. Hans mengangkat alisnya. Acara selesai pukul 5.00 sore, Niken memburu waktu karena ibunya sudah menghubunginya sejak 1 jam yang lalu.
"Uhmmm, Niken." Seru Hans saat Niken menutup panggilan dari ibunya.
"Aku titip tas sebentar." Kemudian Niken mengambil kantung plastik dari tas-nya.
"Kau mau kemana?"
"Ke toilet." Jawab Niken pendek. Suara ponsel Hans berdering.
"Iya mah?"
"Kamu dimana? Sebentar lagi maghrib. Mama sudah dihotel ini lho, Hans." Imbuh Dina.
"Sebentar mah. Hans nunggu teman dulu." Balas Hans.
"Kamu ini gimana sih?"
"Mah, masih ada waktu satu jam lagi, kan. Ya udah santai saja." Ujar Hans.
"Di Bandung ini kalau malam minggu suka macet Hans. Gimana sih." Dina mulai menggerutu kepada putranya.
"Iya mah. Tenang saja. Okey?" Panggilan terputus, Dina sudah mulai khawatir kalau Hans kabur. Niken keluar dari toilet dengan mengenakan gaun perpaduan gold dan silver. Rambutnya di biarkan tergerai ke belakang, dengan poni yang disisir ke arah kanan, Niken tampak sangat cantik dan cerah dengan make up natural namun terlihat elegan. Hans terpukau melihat kecantikannya.
"Kau mau kemana?" Tanya Hans. Niken mengambil tasnya kembali.
"Mau tahu aza." Jawab Niken.
Hans menelan ludah. "Baiklah." Tukas Hans pendek.
"Aku mau kencan." Seru Niken.
"Kencan? Dengan siapa?" Balas Hans.
"Bukan urusanmu." Ketus Niken sambil berlalu meninggalkan Hans.
"Niken...?" Ponsel Hans bergetar kembali. Mamanya sudah berulang kali menghubunginya. Hans menerima panggilan mamanya.
"Hallo mah."
"Kamu masih dimana? Ini mama dan papa sudah di restaurant." Ujar Dina dengan kesal.
"Iya mah, sebentar." Balas Hans.
"Hans...?"
__ADS_1
"Iya mah. Sabar." Lalu Hans menutup panggilannya. Ia mencari sosok Niken yang sudah hilang diantara lalu lalang. Hans menyerah, lalu ia menuju mobilnya dan melajukannya ke jalanan untuk bertemu dengan orangtuanya.
***