One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Enam puluh delapan


__ADS_3

St. Petersburg, National Research University. Rusia.


Hans kembali ke Rusia. Ada yang harus ia selesaikan di sana. Yaitu menyelesaikan pengajaran di semester akhir ini dengan beberapa rekan kerjanya. Hans memutuskan untuk mengakhiri kontrak di sana. Hans akan fokus terhadap pekerjaan barunya di Indonesia. Namun saat ini, nama Hans terkenal di kancah dunia pendidikan di seluruh dunia. Banyak yang mengundangnya ke berbagai acara pelatihan. Menjadi narasumber diberbagai kegiatan pendidikan, baik di universitas maupun di sekolah menengah atas di benua Eropa dan Amerika. Bahkan dalam satu bulan ini, jadwal Hans sangat padat. Ia mendapatkan undangan sebagai narasumber di London dan di Berlin.


Bagi Hans itu adalah kewajibannya sebagai seorang professor muda. Namun di balik semua kegiatannya. Ia adalah seseorang yang sangat rapuh. Ia meneguk minuman untuk menghilangkan perasaannya terhadap Niken. Namun semakin ia melupakannya, semakin ia sangat merindukan perempuan itu.


Dina, Haya dan Harun terbang ke Rusia untuk menghadiri acara penghargaan untuk Hans. Sebagai professor muda yang bertalenta dan berbakat.


"Papa tahu nggak aku akan keliling dunia?" Kata Hans dengan semangat.


"Waw. Keren Hans. Untuk yang pertama, kamu mau pergi kemana?" Tanya Harun.


"Oxford University, pah." Jawab Hans dengan riang. Harun dan Dina bangga dengan prestasi putranya. Dina berharap, dengan kepergian Hans ke acara-acara tersebut dapat mengurangi perasaan cinta Hans terhadap Niken. Meskipun Dina sendiri tak yakin putranya akan mampu melupakan kekasihnya dengan cepat.


"Lalu kakak akan pergi ke Oxford?" Tanya Haya.


"Ini kesempatan yang langka Haya. Kenapa tidak, benarkan, pah?" Balas Hans. Harun mengangguk. Hans dan keluarganya berfoto bersama untuk mengabadikan kebahagiaan mereka.


Seperti yang Hans rencanakan sejak awal, ia menerima tawaran mengadakan workshop di Inggris. Hans seorang ilmuwan muda yang bertalenta, ia menulis buku tentang pengalamannya dan tak disangka bukunya melejit di kancah pendidikan internasional. Sehingga ia melakukan seminar ke beberapa negara guna memperkenalkan proses pembelajaran efektif untuk kalangan anak muda.


"Niken, seandainya kau ada disini. Aku akan lebih bahagia. Mengapa jalan takdir kita selalu begini? Aku merindukanmu, lebih dari siapapun." Gumam Hans dalam hatinya.


Nama Hans mendunia, banyak undangan dari berbagai universitas di negara-negara maju. Dalam dua tahun itu, hampir seluruh negara sudah ia jelajahi.


Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia, Hans diundang ke sebuah acara talk show di Turki. Hans berharap, ia akan bertemu dengan Niken disana. Karena Hans tahu bahwa Niken sedang berada di Turki.


Namun sayang, Hans tidak bertemu dengan perempuan yang dia cintai. Di acara talk show itu, Hans menceritakan kisah asmaranya. "Namanya Niken. Aku sudah mencarinya selama 2 tahun. Aku dengar, dia ada di Turki. Tapi aku tidak tahu dimana dia sekarang. Turki sangat luas dan aku tidak tahu dimana ia tinggal, dimana universitas tempat dia mengajar. Dengar, Niken, dimana pun kau berada aku mohon kembalilah kepadaku. Aku merindukanmu. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu." Begitulah Hans mengakhiri kalimatnya. Tak disangka videonya viral di media sosial. Semua orang menonton dengan penuh haru.


Hans kembali ke Indonesia, dan mengajar seperti biasa lagi.


"Hans...?" Amir mengetuk pintu. Lamunan Hans buyar.

__ADS_1


"Yahhh ada apa?" Tanya Hans.


"Datang ya, ke acara pernikahanku." Jawab Amir.


"Kau menikah dengan siapa?"


"Bella." Jawabnya pendek. Dulu, Hans yang sering mengejek Amir, kalau ia pengecut, tidak bisa menyatakan perasaannya kepada Bella. Hans mengangguk lemah. Ia kembali meneguk minuman keras. Hans tak tahu harus berbuat apa untuk mengisi kekosongannya. Tuhan masih belum mempertemukannya dengan Niken. Hans mencoba bangkit kembali, tapi ia tak bisa. Ia sangat lemah dan tak berdaya. Oleh karena itu, Hans kembali menegak alkohol.


Kenapa begitu berat? Berpisah denganmu sekarang, lebih berat dibandingkan berpisah denganmu 10 tahun yang lalu. Datanglah kepadaku kekasihku. Aku hampa tanpamu. Aku merindukanmu.


"Aku mencintaimu..." Hans membuka matanya pelan-pelan, lalu mengucek matanya. Seperti ada suara yang berbisik ditelinganya. Rupanya mimpi, gumam Hans.


"Mah...?" Seru Hans. Tapi tidak ada jawaban dari luar kamar. Seingatnya, kemarin ia tertidur di bar dan entah bagaimana ceritanya ia bisa tiba di apartemennya dengan keadaan tertidur pulas.


"Kupikir setelah lama diluar negeri, kebiasaanmu akan berubah. Tapi ternyata sama saja." Gerutu Haya sambil memasak sebuah sop hangat.


"Jadi kau." Tukas Hans sambil meneguk segelas air mineral.


"Sesekali." Jawabnya pendek.


"Aku tidak yakin kak Niken akan kembali kepadamu jika perilakumu seperti ini." Haya terus mengaduk dan menyiapkan sarapan untuk kakaknya.


"Ginseng? Aku tidak punya ini dilemari esku. Kenapa kau menaruh ginseng di sayur sop?" Tanya Hans heran.


"Ahhh, temanku memberi ginseng sepulang ia dari Korea. Katanya menaruh sedikit ginseng ke dalam sop akan membuat staminamu kuat." Jawab Haya.


"Ohhh." Hans mandi dan bergegas pergi mengajar setelah ia sarapan.


"Kau pintar masak sekarang." Puji Hans kepada adiknya.


Di Kampus pak Kiki memperkenalkan kembali seorang dosen baru yang baru saja selesai penelitian, professor muda yang bertalenta. Dan alangkah terkejutnya Hans bahwa dosen itu adalah Niken.

__ADS_1


"


Niken, meja dan ruanganmu masih ditempat yang sama seperti dulu." Ujar pak Kiki.


"Terimkasih." Jawab Niken. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin Hans sampaikan kepada Niken. Hans mengejar Niken lalu menarik tangannya.


"Kemana saja kau selama ini? Kenapa kau pergi tanpa seizinku?" Tanya Hans.


Niken menarik nafas dalam-dalam, lalu tersenyum, "Hai Hans...? Lama tidak bertemu." Jawab Niken bertegur sapa.


"Apa kau bilang? Aku hampir gila mencarimu. Sekarang kau menyapaku seolah-olah kita adalah dua orang asing, begitu?" Hans sangat kesal.


"Maaf, mungkin kau salah menilaiku. Tolong lepaskan tanganmu." Pinta Niken. Hans masih mencengkram lengan Niken. Kemudian Hans menarik tubuh Niken dan memeluknya. "Kenapa kau begini? Kenapa kau lakukan ini kepadaku? Huh?" Semua orang menoleh dengan aneh. Niken mendorong tubuh Hans.


"Tolong bersikaplah profesional, pak Hans." Balas Niken dan berlalu meninggalkannya. Hans masih tidak percaya bahwa Niken melupakan semua tentang dirinya. Hans mengunci pintu ruangan kerja mereka.


"Urusan kita belum selesai." Kata Hans. Dengan santai Niken mendongak.


"Urusan apalagi?" Tanyanya.


"Kenapa kau kembali setelah 2 tahun yang lalu meninggalkanku begitu saja? Kau dari mana? Mengapa sulit untuk menghubungimu? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Apa kau tidak pernah merasa kesepian? Apa kau tidak pernah merindukanmu? Apa kau tidak pernah mencariku? Kau tidak pernah memikirkanku?" Tanya Hans.


"Tunggu. Pertanyaanmu terlalu banyak. Apa aku harus menjawab semuanya?" Balas Niken. Hans mengangguk. "Jawaban yang pertama, karena aku menandatangani kontrak lagi dengan kampus ini. Kedua, aku dari mana saja? Aku sudah menjelajahi seluruh negara. Ketiga, aku sudah ganti nomor hp, dan jawaban terakhirku adalah tidak. Kau puas?" Hans menyipitkan matanya, tak percaya dengan apa yang dikatakan Niken.


"Kau bohong. Kau tidak bisa membohongiku Niken. Kau masih mencintaiku. Aku yakin." Bentak Hans. Niken mengernyitkan dahinya.


"Hans, dengar, kau tahu, hubungan kita sudah berakhir 2 tahun yang lalu." Jawab Niken, "dan aku sudah memiliki kekasih yang lain." Lanjutnya.


"Kapan aku mengakhiri hubungan kita?" Tanya Hans.


"Saat kau koma dirumah sakit dan aku melakukan perjanjian dengan mamamu. Untuk meninggalkanmu selamanya." Jawab Niken. Hans marah dan kesal. Perasaannya campur aduk. Ia kesal kepada mamanya. Ia pun kesal karena Niken berbeda dari yang dulu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2