One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Tigabelas


__ADS_3

"Hans...?" Seorang perempuan cantik menggapaikan tangan kanannya. Dengan sengaja ia mencium pipi kiri dan kanan, tapi Hans merasa risih dengan kedatangan perempuan itu.


"Tia? Ngapain kesini?"


Niken menyipitkan matanya dan berlalu meninggalkan Hans dengan perempuan yang bernama Tia itu. Hans menyadari sikap dingin Niken yang berlalu melewatinya. Dan yang tidak bisa ia pahami adalah perasaannya.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Ujar Tia sambil menyentuh lengan Hans.


Hans melepaskan tangan Tia, "tapi tidak disini." Balas Hans.


"Kenapa? Apa ada wanita lain yang kau cintai? Atau memang kau sudah punya kekasih?" Tanya Tia.


Hans menghela nafas. "Dengar, kau tidak berhak tahu dan mencampuri urusanku."


"Ohhh ayolah, Hans. Kenapa kau menjadi dingin begini? Dulu kau tidak seperti ini. Kau tahu, aku sangat merindukanmu." Kata Tia.


"Apakah ini yang ingin kau bicarakan denganku? Pergilah. Aku sedang sibuk." Balas Hans.


"Hans, aku masih mencintaimu." Ujar Tia. Hans berbalik. Sebenarnya ia muak dengan kedatangan Tia yang suka tiba-tiba itu. Hans tidak suka dikejar oleh perempuan. Ia lebih suka mengejar. Lagi pula ia sudah tidak menyukai Tia. Kalau dulu ia pernah mendekati Tia karena dia cantik, okey, itu dulu, sebelum akhirnya Hans bertemu dengan Niken. Namun kali ini berbeda. Hans memejamkan kedua matanya sebentar.


"Pergilah." Katanya. Mata Tia berkaca-kaca, untuk yang kesekian kalinya Hans menolak perasaannya. Tia yang ingin kembali kepelukan Hans. Sudah berulang kali ia meminta. Namun jawaban Hans tetap sama. Dengan harapan yang kosong, Tia meninggalkan kampus.


Niken terlihat sibuk dengan laptopnya. Hans ingin sekali mendekatinya dan bertanya banyak hal. Namun ia tahu suasana hatinya sedang tidak baik. Hans mengurungkan niatnya. Hingga akhirnya suara ponsel Niken membuyarkan lamunan Hans.


"Hello?"


"Niken, ayah masuk rumah sakit." Ujar Nadine dengan cemas diujung telepon sana. Niken menarik nafas. Selalu dan selalu kabar ayah yang tidak baik. Niken muak sekali dengan kalimat yang mengabarkan ayahnya sakit atau sedang kritis. Niken tidak peduli lagi dengan kondisi ayahnya yang semakin memburuk. Dimata Niken, sebaik apapun ayahnya memperlakukan dirinya, tapi tetap saja ayah adalah seorang monster yang sangat menyeramkan. Begitu batin Niken, yang tidak bisa berdamai dengan inner child dimasa lampau.


"Nanti aku transfer uang untuk pengobatannya deh." Jawab Niken sekenanya.


"Ayah ingin bertemu kamu, Niken. Bukan butuh uang." Balas Nadine kakaknya.

__ADS_1


"Aku, aku punya banyak pekerjaan." Balasnya.


"Tolong dong, Ken. Dewasalah. Apapun masalahmu dengan ayah dimasa lalu. Tolong maafkan." Nadine memohon. Niken benci sekali mengungkit masa lalu. Ia sudah mengubur dalam-dalam perasaan kasian terhadap ayahnya. Niken sudah mendelete semua kenangan baik bersama ayahnya. Mungkin bagi ayah, itu masalah kecil. Tapi bagi Niken sangat besar. Karena fondasi otak besar Niken digaris bawahi dengan kata menyeramkan. Itulah yang membuat ia sangat membenci ayahnya. Dampak yang sangat luar biasa yang dialami Niken semasa kecil.


...***...


"Niken...?" Seru Bella sambil mengetuk pintu ruangan Niken. Lalu ia menghampiri Niken yang masih duduk santai di ruang kerjanya. Niken bergegas merapikan barang-barangnya.


"Hans sudah pulang?" Tanya Bella.


"Sudah." Jawab Niken pendek.


"Aku boleh nanya sesuatu nggak?" Kata Bella sedikit ragu. Niken menyamai langkah Bella.


"Apa?" Tanya Niken.


"Sorry nih ya. Aku penasaran banget lho sama hubungan kamu sama Hans. Soalnya bukan sekali aku pergokin kalian mesra di kantor. Juga bukan sekali aku lihat Hans memandang kamu, Niken. Kalian itu... pacaran ya?" Tutur Bella.


"Lho koq ketawa sih."


"Bella Bella. Aku sama Hans itu cuma temen aza. Nggak lebih." Jawab Niken.


"Serius?"


"Kenapa? Kau tertarik pada Hans?" Tanya Niken. Bella dengan cepat menggelengkan kepala.


"Dia bukan tipeku." Katanya.


"Kenapa? Dia terlalu tampan? Atau dia kurang seksi bibirnya?"


"Kau ini." Bella mencubit lengan Niken.

__ADS_1


"Aku duluan ya Bel." Bella mengangguk. Tiba-tiba Niken mengingat perempuan yang bernama Tia. Perempuan yang menemui Hans tadi. Sedikit menguping pembicaraan mereka. Sepertinya Tia ingin kembali kepada Hans, tapi kenapa Hans menolaknya? Bukankah dulu mereka juga pacaran. Niken menggelengkan kepala. Ahhh sudahlah, aku tidak peduli. Tidak terlalu penting. Batin Niken.


...***...


Rina dan beberapa temannya mengalami kesulitan lagi. Niken dan Hans tidak pernah sepaham, tidak pernah sependapat. Mereka sering kali berdebat didepan mahasiswanya. Baik masalah kecil maupun besar, selalu diperdebatkan. Sehingga membuat para mahasiswanya tidak memiliki kemajuan dalam pembuatan skripsinya. Hans kembali naik darah karena selalu diremehkan oleh Niken, selalu dianggap salah dalam pembuatan skripsi. Saat itu Niken sedang berada diruangannya. Dengan geram dan kesal, Hans masuk nyelonong.


"Apa ini?" Hans melempar proposal skripsi mahasiswanya tepat dimeja Niken. Niken pun mendongak kaget.


"Ada apa?" Tukas Niken.


"Ada apa katamu? Kau mau apa? Seenaknya aja menyepelekan orang." Balas Hans.


"Menyepelekan bagaimana?" Tanya Niken dengan mengernyitkan dahinya.


"Ehhh dengar ya, kalau kau marah kepadaku marah saja. Kalau kau kesal kepadaku, lampiaskan saja. Kau tidak bisa meremehkanku begitu saja. Jangan membuat mereka bingung karena sikapmu terhadapku. Kalau kau benci, katakan saja. Kau tidak perlu berpura-pura baik kepadaku. Aku tidak ingin berselisih lagi denganmu." Ujar Hans.


"Apa maksudmu? Siapa yang ingin berselisih? Memangnya kau pikir aku tidak mau anak bimbinganku segera sidang skripsi. Dan kau, apa yang salah dengan bimbinganku terhadap anak bimbinganku. Kau memang tidak bisa memahami metode kualitatif, bukan. Wajar kalau aku membuat revisi ulang dari bab 2 mereka." Balas Niken.


"Kau?" Hans melotot. Niken pun tak mau kalah.


"Kenapa? Kau mau bertaruh lagi denganku? Tidak masalah. Akan aku terima. Kau bukan tandinganku. Lagi pula aku akan selalu menang dari lelaki playboy sepertimu." Ujar Niken.


"Apa? Playboy katamu?" Hans menyunggingkan bibirnya. Melangkah dan mendekatkan wajahnya ke arah Niken. Glekkk. Niken menelan ludah.


"Apa masalahnya denganku? Aku pikir kau bukan Niken yang dulu. Tapi ternyata aku salah. Menyimpulkan sesuatu tanpa bertanya apapun kepadaku. Dan kuharap aku tidak akan merasa bersalah lagi pada kejadian yang telah terjadi dimasa lalu. Aku telah menyesalinya untuk meminta maaf kepadamu." Jelas Hans, kemudian ia berbalik. Niken sangat kesal dengan semua kalimat Hans. Menyesal katanya? Dia pikir dia siapa? Seenaknya saja kalau bicara.


Niken sangat geram sekali. Ia melempar kembali proposal itu ke punggung Hans. Ia sudah tidak tahan dengan sikap Hans. Niken tidak bisa membohongi perasaannya. Ia sangat marah, kesal dan cemburu. Hatinya seakan mendidih dan entah bagaimana ia sangat muak sekali dengan Hans. Kenapa harus merayuku? Jika sebenarnya dia sudah punya kekasih? Dasar playboy. Dasar cowok kurang ajar.


"Ohhh gitu ternyata sifat aslimu. Dasar cowok playboy. Nyebelin..." Timpal Niken. Rahangnya mengeras, ia sudah tidak mampu menahan emosinya.


***

__ADS_1


__ADS_2