One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Dua puluh satu


__ADS_3

Sebuah pena tergeletak di meja kasir. Dan pelan-pelan Hans mengambilnya. Fokus. Hans melempar pena dengan hati-hati. Dan takkkk... Pena melayang dan mengenai tepat ke mata si perampok yang menyandera Niken. Spontan tangannya langsung memegang matanya dan mendorong Niken hingga ia terjatuh dan terbentur ke dinding. Dalam kesempatan itu juga satpam dan beberapa orang lelaki menghajar si perampok dan berhasil melumpuhkannya. Begitu pun dengan Hans yang berhasil melumpuhkan lawannya, meski ia harus berkelahi terlebih dahulu. Uang brankas swalayan berhasil diselamatkan. Beberapa orang ada yang memfoto dan video kejadian tersebut. Hans sedikit memar dan berdarah dibagian bibir dan hidungnya. Sementara Niken masih sedikit pusing, ia merasa kesakitan dibagian pelipisnya. Seluruh tubuhnya terasa sangat lemah. Niken hampir tidak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri. Semuanya terasa berputar. Niken memejamkan kedua matanya. Berusaha mengendalikan dirinya.


"Kau tidak apa-apa?" Hans menghampirinya, lalu menyentuh pipi Niken dengan lembut. Niken mengangguk lemah. Niken menangkap tangan Hans yang terasa sangat hangat. Ia membuka matanya pelan-pelan. "Aku, aaaku tidak apa-apa." Lirihnya. Hans mengulurkan tangannya dan membantu Niken berdiri.


"Kau bisa jalan?" Hans sangat khawatir. Niken mengangguk pelan. "Tunggu sebentar." Hans membawa sebotol air mineral dan menyuruh Niken untuk meminumnya. Begitu tersadar Niken terkejut ketika melihat wajah Hans yang babak belur. Matanya terbelalak.


"Kau berdarah." Kata Niken sambil menyentuh bibir Hans.


"Ayo..." Hans merangkul Niken.


"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Haya. Niken dan Hans masuk ke dalam mobil. Hans meringis.


"Hans... Kau berdarah." Kata Niken.


"Aku tahu." Balas Hans pendek.


"Ada kotak p3k dibelakang." Lanjutnya. Haya segera mengambil kotak P3K yang ada dibagasi.


Niken mengambilnya dan meneteskan antiseptik ke kapas untuk mengobati luka dibagian ujung bibir Hans. Serta darah yang keluar dari hidung Hans.


"Tutup hidungmu dengan pelan. Dan jangan terlalu ditekan." Kata Niken, sementara Niken membersihkan luka diujung bibir Hans.


"Ada air mineral?" Tanya Niken kepada Haya. Haya mengangguk. Niken membersihkan lebam diwajah Hans dengan waslap. Kemudian mengoleskan krim pereda nyeri ke beberapa bagian yang lebam.


Hans menatap Niken lamat-lamat, "kau sangat cantik Niken. Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta kepadamu. Aku bahkan sangat tergila-gila kepadamu." Gumam Hans dalam hatinya. Ada luka dipelipis wanita yang ia cintai itu, lalu menangkap tangan Niken yang sedari tadi mengobati lukanya.


"Kenapa ini?" Tanya Hans sambil menunjuk ke pelilis Niken.


"Ohhh ini. Mungkin karena tadi aku didorong dan terbentur sedikit." Jawab Niken.


"Sakit?" Niken segera menggelengkan kepala. Ia juga merapikan kotak p3k.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Niken.


"Wajahmu sangat pucat. Apa saja yang dilakukan si bajingan itu?" Tanya Hans dengan kesal.


"Aku hanya disandera. Aku tidak apa-apa, Hans. Sungguh." Ujar Niken meyakinkan Hans.


"Bajingan. Berani sekali dia." Umpat Hans yang kemudian turun dari mobilnya.


"Kau mau kemana? Hans...?"


"Kak Niken kak Hans mau kemana?"


"Haya kamu tunggu di mobil." Niken mengejar Hans.


"Hans... Kau mau kemana?"


"Aku akan menghajar mereka." Emosi Hans naik pitam, ia sangat tidak rela kalau Niken terluka.


"Untuk apa? Mereka sudah ditahan. Ayolah Hans jangan begini. Kita ke mobil sekarang ya." Bujuk Niken.


Hans menatap Niken dengan serius. "Jika ada yang berani menyentuhmu sedikit saja. Aku akan habisi dia." Tukasnya. Niken menelan ludah. Ia sangat takut sekali. Hans benar-benar marah. Lalu mereka kembali ke mobil.


"Haya, ambilkan salep dan plester." Kata Hans.


"Untuk apa?" Tanya Niken menyondongkan tubuhnya.


"Untukmu. Aku akan mengobati lukamu." Balas Hans.


"Aku tidak apa-apa. Ini tidak sakit." Jawab Niken bohong. Hans menghela nafas, ia tahu kalau Niken berbohong.


"Haya simpan lagi kotak p3k-nya." Kata Niken.


"Kau terluka, sini aku obati." Hans menyibak poni Niken, tapi perempuan itu menepis tangan Hans.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Sungguh." Kata Niken sambil merapikan kembali rambutnya.


"Kau tidak dengar apa yang aku katakan tadi? Huh? Siapapun yang menyentuhmu, aku akan menghabisinya. Dan kau pikir aku tidak tahu kalau kau berbohong. Huh? Kalau sakit bilang saja sakit." Bentak Hans. Niken sangat tersentak dengan bentakan Hans, begitu pun dengan Haya. Niken menahan tangisnya. Kenapa rasanya sakit sekali saat kau membentakku, Hans. Cuman Niken dalam hatinya.


"Aku tidak apa-apa." Lirih Niken.


"Terserah." Kata Hans, ia segera melajukan mobilnya. Dan membiarkan Niken dengan pikirannya sendiri. Hans mengatur nafasnya.


"Kakak tidak perlu marah kepada kak Niken. Tadi dia sudah menolongku. Kakak tidak tahu kan, aku ditodong pistol oleh perampok itu." Jelas Haya. Niken melepaskan ikat rambutnya, tak terasa air matanya pelan-pelan jatuh. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam. Haya jadi canggung untuk memulai percakapan. Ia yakin, kalau Niken sangat syok dengan amarah kakaknya. Jangankan Niken, Haya sendiri sangat syok. Karena ia belum pernah melihat kakaknya semarah itu. Mobil berhenti tepat dikostan Haya.


"Kakak hati-hati ya." Kata Haya. Hans menganggukkan kepala. "Ohya, kakak harus minta maaf sama kak Niken." Bisik Haya. Hans mengangguk lagi.


Tapi Niken tidak berbicara sepatah kata pun. Dalam perjalanan menuju kampus pun mereka tetap saling diam.


"Maaf." Hans mulai bicara. Niken menoleh sebentar, lalu mengalihkan pandangannya lagi.


"Niken...?" Seru Hans.


"Hemmmm...." Guman Niken.


"Aku minta maaf." Ucapnya.


"Tumben seorang Hans minta maaf." Ketus Niken, pandangannya masih tertuju ke jalanan.


"Iya. Aku tahu aku salah. Karena sudah membentakmu. Tapi, ketahuilah, bahwa aku tidak mau kau terluka." Balas Hans.


"Memangnya kenapa kalau aku terluka?" Tanya Niken. Hans menoleh, ia mendapati Niken sedang memperhatikannya.


"Kalau kau terluka aku akan mengobati lukamu." Jawab Hans.


"Kalau aku terluka olehmu. Kau mau apa?" Hans menelan ludah.


"Aku akan menghajar diriku sendiri." Balas Hans.


"Serius."


"Hans...?" Seru Niken.


"Hemmmmhh..."


"Kenapa kau mau menghajar orang yang melukaiku?" Tanya Niken.


"Kau mau jawaban apa?" Balas Hans.


"Jawab saja."


"Aku punya dua alasan. Kau mau alasan yang mana?" Hans mengulur jawabannya.


"Jawab saja." Ucap Niken.


"Kita sudah sampai." Niken baru menyadari kalau mereka sudah sampai di parkiran kampusnya.


"Hans...?"


"Iya sayang..." Balas Hans. Niken sangat senang dengan panggilan itu.


"Jawablah dulu."


"Pertanyaan yang mana?"


"Kenapa kau mau menghajar orang yang melukaiku?" Niken mengulangi pertanyaannya. Hans menatap Niken dengan serius.


"Karena..."


Niken menganggukkan kepala, "karena...?"

__ADS_1


"Karena..." Hans menyondongkan tubuhnya. Mendekati Niken dengan pelan. Jantung Niken berdegup lebih cepat.


"Karena...?"


"Karena... Aku mau buka sabuk pengamanmu." Ucap Hans sambil nyengir.


"Hans...?"


"Niken...? Kita sudah sampai." Niken menoleh ke luar kaca mobil. Ia menghembuskan nafasnya.


"Kau tidak mau memberikan jawaban kepadaku?"


"Nanti." Balas Hans.


"Okey fine." Niken membuka pintu mobil dengan kesal. Ia melangkah dengan cepat.


"Niken...?" Seru Hans mengejar langkahnya, ia tahu kalau Niken sedang marah kepadanya. Niken mengacuhkan panggilan Hans.


"Niken...?"


"Aku tidak mau dengar." Balas Niken. Hans menyamai langkahnya dan menghentikan langkah Niken lalu berbisik tepat ditelinga kanannya.


"Maaf." Katanya


"Emmm." Gumam Niken sembari memonyongkan bibirnya. Tiba-tiba Hans mendekat dengan pelan lalu ia menyentuh pipi Niken dengan lembut. Niken mendongak, lalu menelan ludah. Hans meniup pelipisnya lalu mengolesi krim pereda nyeri. Tangan Hans begitu hangat. Seluruh aliran darahnya terasa panas dingin, Niken berusaha mengendalikan diri.


"Kau terluka." Lirih Hans tepat satu inci dari wajah Niken. Niken menelan ludah, gugup.


"Apa jawabanmu?" Tanya Niken


"Jawaban yang mana?" Balas Hans.


"Mengapa kau mau menghajar orang yang melukaiku?" Niken mengulangi pertanyaan yang ia lontarkan saat di mobil.


"Karena saat kau terluka aku juga terluka." Jawab Hans.


"Hans..." Lirih Niken. Hans menatapnya. Mereka saling bertatapan, glekkk. Jantung Niken berdegup lebih cepat. Jakun Hans turun naik, dan itu membuat detak jantungnya tiga kali lebih cepat dari biasanya.


"Hmmmm?" Gumam Hans.


Hans lebih mendekat, aroma harum mulutnya tercium oleh Niken. Ikat rambut Niken yang digelangi di tangan kanannya diambil oleh Hans. Niken menahan nafasnya lalu Hans menguncir rambutnya.


"Cantik." Puji Hans.


"Huh?"


"Kau terlihat lebih cantik." Batin Hans. Niken tersipu malu mendengar pujian Hans.


"Apa?"


"Ikat rambutnya." Ujar Hans.


Niken mengernyitkan dahinya.


"Maksudmu?"


"Ikat rambutmu sangat bagus dan cantik."


Bibir Niken cemberut. Ia menginjak kaki Hans dengan kesal. Lalu menampar wajah Hans dengan rambutnya.


"Aku tidak peduli." Ketus Niken sambil berlalu. Aroma harum rambut Niken menempel dihidung Hans.


"Oh God, aku tidak bisa menahan perasaanku." Tukas Hans pada dirinya sendiri.


...***...

__ADS_1


__ADS_2