
Niken
Setelah selesai acara bisakah kita bertemu di taman belakang?
Pesan telah terkirim. Dan Niken menunggu jawaban dari Hans. Harusnya malam ini menjadi malam istimewa untuk Niken karena ia mendapatkan penghargaan sebagai dosen yang memiliki kinerja yang tinggi. Tapi, gara-gara Bella menantangnya, Niken jadi khawatir. Sebenarnya, perasaan Niken sedang tidak baik. Ada sebuah perasaan aneh yang berkecamuk di dalam dirinya, yang tidak bisa ia definisikan apa artinya. Tapi Bella tidak pernah tahu bahwa sebenarnya Niken seorang penderita philofobia.
Hans
Pukul berapa?
Niken menerima balasan dari Hans.
Niken
Setelah semuanya tertidur. Kira-kira pukul 1. Gimana?
Hans
Okay.
Seperti yang Niken janjikan sebelumnya. Ia menemui Hans di taman belakang. Bella mengintip dari belakang pintu.
"Kau sudah lama menunggu?" Tanya Niken kikuk. Hans sedang memandang langit dengan tangan terlipat ke dada pun menoleh.
"Ohh hai. Tidak, aku baru saja sampai." Jawab Hans.
"Uhmmm, Hans." Kata Niken.
"Yahh. Apa yang mau kau katakan kepadaku?" Tanya Hans.
"Ummm, apa ya... Ehhe..." Ketus Niken sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa sangat canggung sekali.
Hans memandangi wajah Niken yang kikuk. Dan Bella tersenyum puas melihatnya. Aku hanya ingin kau bisa bahagia Niken. Semenjak berteman denganmu, ini kali pertama kau mau merespon seorang lelaki. Gumam Bella
"Kau kenapa?"
"Huh? Ummm tidak apa-apa." Jawab Niken.
"Cepatlah, aku mengantuk." Kata Hans.
"Ummm Hans. Gimana ya ngomongnya. Aku bingung." Ujar Niken.
__ADS_1
"Ngomong apa?" Niken menggapaikan tangan kanannya.
"Ada Bella di sana" Hans mengernyitkan dahinya.
"Kenapa memangnya?"
"Sebenarnya, aku mengajakmu kesini karena ingin membuktikan kepada Bella. Bahwa aku berani balas menatapmu dan menciummu tanpa merasakan jatuh cinta." Akunya polos.
"Apa? Kau mau menciumku?" Tukas Hans dengan tertawa remeh.
"Uhmmm bisakah kau membantuku sedikit saja." Balas Niken. Sebenarnya agak ragu. Hans pasti mengira bahwa dirinya aneh. Tidak normal dan sebagainya. Niken sangat malu untuk mengatakannya tapi mau bagaimana, Niken tidak mau menjelaskan panjang lebar kepada Bella bahwa ia penderita philofobia.
"Okey. Tapi dengan syarat."
"Apa?"
"Temani aku malam ini disini. Sambil ngobrol." Kata Hans. Niken merasa syarat Hans tidak begitu berat, lalu ia mengangguk.
"Setuju." Niken tersenyum penuh kemenangan. Hans menatapnya lamat-lamat. Lalu dengan ragu Niken menempelkan bibirnya tepat dibibir Hans. Tantangan dari Bella berhasil. Hans terkejut karena ia pikir Niken akan mencium pipinya atau keningnya. Tapi perempuan itu malah mencium bibirnya. Niken berlari menghampiri Bella.
"Kau sudah melihatnya?" Ujar Niken. Bella memiringkan kepalanya.
"Well, itu cukup mengejutkan bagiku." Balas Bella.
"Kau berhasil. Ayo kita naik ke atas." Bella mengajaknya.
"Kau saja dulu, aku... Emmm mau ke kamar mandi dulu." Kata Niken bohong.
"Baiklah." Setelah Bella pergi, Niken kembali menghampiri Hans.
"Hans...?" Seru Niken.
"Duduklah." Hans menepuk bangku disampingnya. Niken merapatkan sweaternya, lalu duduk tepat di samping Hans.
"Apa yang kau rasakan?" Tanya Hans.
"Huh?"
"Setelah mencium bibirku." Hans memperjelas. Niken sedikit malu kalau harus berterus terang.
"Huh? Uhmmm itu... Aku..." Hans tertawa mendengar Niken gugup.
__ADS_1
"Sudahlah." Katanya.
"Uhmmm ohya Hans..." Hans menoleh, "jangan menatapku seperti itu lagi." Lanjutnya.
"Menatap bagaimana?"
"Karena kau selalu menatapku seperti itu, semua orang jadi salah paham. Termasuk Bella." Ujar Niken.
"Memandangimu setiap hari bahkan setiap detik adalah caraku menikmati keindahan alam." Balas Hans. Niken tersipu malu.
"Tapi aku manusia Hans. Bukan alam." Katanya.
Hans menggelengkan kepala, "kau adalah keindahan yang terukir dari tangan Tuhan. Itulah sebabnya aku jatuh cinta padamu." Setiap kata yang keluar dari mulut Hans membuat hati Niken terbang melambung tinggi. "Kau tahu, ini kali pertama bagiku." Ujar Niken, ia menghembuskan nafasnya dan Hans menyimak dengan seksama. "Ada seorang lelaki yang menyatakan cinta kepadaku. Ada seorang lelaki yang selalu menggangguku, dan ada seorang lelaki yang sangat menyebalkan didunia ini, kau tahu siapa?" Hans menggelengkan kepala, "kau."
"Apa itu karena aku spesial?" Niken tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Hans, jika kau pikir aku keindahan alam, kau keliru. Alam tidak pernah cacat dan tidak memiliki kesalahan. Sementara aku, aku bukan perempuan yang selalu kau pikirkan." Niken menghembuskan nafas. "Aku sakit, aku tidak seperti yang lainnya." Niken mengecilkan suaranya.
"Siapa bilang?" Tanya Hans. Sebulir air mata jatuh ke pipinya.
"Hans kau tidak akan percaya kalau aku tidak pernah percaya pada cinta. Dan aku tidak pernah jatuh cinta pada lelaki mana pun. Aku selalu menutup diri, merasakan kecemasan yang sangat tinggi, depresi bahkan aku,..." Suaranya tercekat, "aku penderita philofobia? Kau pernah dengar istilah itu?" Hans mengangguk dan Niken menghembuskan nafas lagi dengan berat. "Aku takut untuk jatuh cinta. Aku terlalu takut untuk merasakannya. Aku tidak pernah mau menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman. Aku takut disentuh, takut kehilangan, takut kesepian dan takut merasakan kebahagiaan. Aku tidak ingin merasakan semua itu. Aku hidup hanya untuk berambisi. Kehidupanku berbeda denganmu, hidupku, hidupku hanya untuk pekerjaan dan impian. Tidak ada cinta." Jelasnya. Angin malam berhembus, meniup rambut panjang milik Niken. Suara angin malam dan jangkrik menemani suasana romansa mereka berdua. Hans tetap menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Niken. Kemudian ia merangkul pundak Niken. Dan menyenderkan kepala Niken kebahunya.
"Apa kau tidak takut?" Tanya Hans. Niken mendongak, "aku menyentuhmu. Aku bahkan memelukmu. Aku laki-laki, apa kau tidak takut padaku?" Lanjut Hans.
"Huh? Hhmmm." Niken pun bingung apa yang harus ia jawab. Ia menegakkan kembali posisinya.
"Ehh hee, mungkin ini terdengar klise, tapi tanganmu sama seperti almarhum kakekku." Jawabnya.
"Jadi aku terlihat seperti kakek-kakek ya. Baiklah, Niken... Apa kau mau memeluk kakek." Balas Hans dengan menirukan suara kakek-kakek. Niken tersenyum begitu Hans menghiburnya.
Hans meraih tangan kirinya, sambil nengelus rambut Niken. "Aku tidak tahu bagaimana cara menghiburmu. Tapi aku tahu kau butuh seseorang untuk melepaskan semua bebanmu." Ujar Hans.
"Saat kau menyatakan perasaanmu. Aku bingung harus jawab apa? Aku, hanya tidak ingin kau terluka. Karena aku sendiri pun tidak tahu bagaimana perasaanku padamu. Maafkan aku." Niken menelan ludah.
"Kau menolakku dengan cara yang halus." Lirih Hans. Niken mendongak.
"Kau tahu? Orang bilang cinta itu indah dan bahagia. Tapi aku, aku tidak pernah tahu seperti apa indahnya? Apakah yang aku rasakan ini cinta? Apakah aku bahagia? Aku tidak tahu bagaimana cara menerima cintamu? Sebab yang kurasakan saat ini adalah...." Niken menghentikan kalimatnya. Suaranya tercekat, bulir bening jatuh ke pipinya.
"Maafkan aku. Sekali lagi maafkan aku." Lanjutnya.
"Kenapa kau meminta maaf? Kau tidak salah, itu hakmu. Kau menerimaku atau menolakku, kau punya hak untuk itu. Kita masih bisa berteman meskipun kau menolakku." Tutur Hans. Ia mendekat, lalu menghapus air mata Niken. Menarik lengannya lantas mendekapnya dengan sangat erat. "Aku tetap mencintaimu. Sakit atau tidaknya dirimu. Aku tetap mencintaimu, diterima atau ditolaknya aku. Aku tetap mencintaimu dengan segala perasaanmu kepadaku. Apapun yang kau butuhkan, aku akan tetap bersamamu, apapun yang terjadi." Bisik Hans, Niken balas memeluk Hans. Mereka larut dalam pelukan rembulan. Seluruh tubuh Niken lagi-lagi mengalir hangat. Dadanya berdegup lebih cepat. Warna-warni pelangi menghiasi hatinya, seakan jiwanya melayang ke udara. Pun seolah hanya ia berdua di alam dunia ini. Terbang melayang ke langit ke tujuh. Hanya berdua. Niken tersenyum bahagia sekali, Sehingga suara hatinya yang paling dalam mengakui perasaannya. "Aku mencintaimu, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Hans." Niken melepaskan pelukan Hans, ia takut Hans mendengar suara hatinya.
__ADS_1
***