One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Delapanbelas


__ADS_3

Haya keluar dari kamar mandi dan secara tidak sengaja ia mendengar percakapan Hans dengan Niken. Cara Hans menatap Niken sangat dalam, berbeda ketika ia melakukan kontak mata dengan perempuan lain. Haya menyadari perasaan kakaknya, yang langka tersebut. Itu kali pertama Haya melihat seberkas cahaya memancar dari mata kakaknya. Tatapan penuh cinta. Begitu pun dengan tatapan Niken yang malu-malu. Haya tersenyum senang melihat keduanya memiliki magnet yang sama.


"Ciyeeeee, yang nggak bisa lihat cewek cantik." Celetuk Haya sambil mengangkat sebelah alisnya. Niken dan Hans menoleh secara bersamaan.


"Dulu kakakku itu playboy kak Niken. Tapi dia taubat semenjak tidak dipercayai seorang perempuan." Ujar Haya. Hans mengernyitkan dahinya dan mengisyaratkan kepada Haya untuk diam. Namun Haya menyunggingkan bibirnya dan, "dia bilang perempuan itu cinta pertamanya. Kak Niken mau tahu siapa namanya?"


"Hayaaaa." Seru Hans ia bergegas berdiri.


"Panggilan perempuan itu adalahhhhh...." Dengan cepat Hans menutup mulut Haya.


"Ennnn... Mmmm." Gumam Haya tak jelas.


"Ucapkan selamat malam pada tetanggaku. Bye Niken... Ayo cepat pulang." Kata Hans sambil menyeret adiknya. Niken terkekeh melihat Hans dan Haya bertengkar.


"Kakakkkk.. Sakit... Kak Niken, nanti kuberitahu ya..."


"Bye Niken..." Kata Hans.


"Bye Hans..." Balas Niken. Pintu ditutup rapat. Niken akhirnya tahu siapa perempuan yang selama ini dekat dengan Hans. Ia merasa bersalah pada Hans karena telah berprasangka buruk. Andai saja waktu itu ia langsung bertanya, tapi... Ya sudahlah. Toh semuanya sudah jelas. Bahwa Hans tidak memiliki kekasih.


***


Semu saga merah diufuk timur terbit dengan anggun. Merekah bagaikan semburat aurora. Niken sudah membersihkan diri di bathtub dengan sabun yang melimpah serta wangi yang feminim. Niken mengeringkan rambutnya sebelum ia mengenakan baju. Ia memilih kemeja hitam dan rok berwarna abu-abu. Lalu ia mengenakan sepatu wedges dan tas yang senada dengan bajunya. Rambutnya dikuncir kuda, dengan poni yang dirapikan ke samping kirinya. Niken bermake up natural, seperti biasa. Saat ia membuka pintu, secara kebetulan Hans juga membuka pintu. Mata mereka bertemu secara tak sengaja.


"...Salah kakak sih." Kata Haya mengakhiri kalimatnya.


"Selamat pagi Hans. Selamat pagi Haya." Sapa Niken ramah.


"Oh My God, kak Niken terlihat cantik banget." Puji Haya.


"Sangat..." Hans menambahkan sembari menatap Niken dengan takjub.


Haya mendongak, melihat kedua mata kakaknya yang berbinar-binar. Begitu pun dengan Niken yang balas menatap Hans.  "Ekhemmm... Katanya kau sudah taubat. Gimana mau ketemu cinta pertamamu, kalau kau masih jelalatan sama perempuan lain." Celoteh Haya.


"Berisik." Ketus Hans sambil menyunggingkan bibirnya pada Haya.


"Ahkk payah sekali memang punya kakak sepertimu." Gerutu Haya. "Kak Niken, jangan tergoda sama rayuan kakakku ya. Dia ini playboy." Haya menambahkan. Hans menjitak jidat adiknya. Niken tersenyum lucu.


"Haya kau mau kuliah?" Tanya Niken. Haya menganggukkan kepalanya.


"Sebenarnya jadwal hari ini dari sore sampai malam sih kak. Jadi sepertinya tidak bisa membuatkan makan malam untuk si bocah ini. Dia ini payah. Tidak bisa mandiri. Selalu merepotkanku. Dan sangat kejam kepada adiknya." Hans kembali menyentil dahi adiknya.


"Suka sekali kau menjelekkan kakakmu." Tukas Hans.

__ADS_1


"Kau memang jelek. Apalagi yang bisa dibanggakan darimu? Makanya kadang aku heran sama cewek-cewek yang naksir sama kakak. Lihat gantengnya dari mana coba. Aku rasa nih ya, mata mereka kelilipan deh. Perempuan mana yang mau sama kakak. Udah jelek, jahil, nyusahin pula." Haya sepertinya tidak kehabisan kata-kata.


"Mobilmu masih dibengkel?" Tanya Hans, Niken mengangguk.


"Masih."


"Kakak ikut saja dengan kita." Tukas Haya dengan cepat.


"Ahk tidak. Terimakasih."


"Ayolah..." Bujuk Haya. "Aku akan senang jika kak Niken ikut. Ada banyak yang ingin aku tanyakan padamu." Lanjut Haya.


"Tapi bukankah Hans akan mengantarkanmu dulu." Tebak Niken.


"Memangnya kenapa? Arah tujuan kalian kan sama. Kakak tidak mau ya mengantarku dulu." Haya tampak kecewa.


"Ohh tidak. Bukan begitu. Aku..."


"Kalau begitu sepakat. Kau ikut dengan kita. Nanti, kalau kakak tahu kostanku. Kakak boleh main ke kostanku bersama kakakku." Kata Haya. Hans merasa Haya lebih pandai mengambil hati Niken ketimbang dirinya. Sehingga mau tak mau Niken mengangguk dan nenyetujui kesepakatan Haya.


"Apakah ini paksaan?" Kata Niken.


"Ya, aku yang paksa kak Niken." Jawab Haya.


"Kau tidak keberatan, Hans?"


"Baiklah kalau begitu."


"Aku akan duduk di kursi belakang ya." Kata Haya.


"Kau disini saja." Hans membukakan pintu mobil untuk Niken.


"Hhmmm ta-tapi." Hans memberi isyarat. Niken tampak sangat gugup. Hans menyalakan mesin mobilnya dan melaju di jalanan.


"Kak Niken..." Seru Haya


"Iya Haya."


"Apa sih rahasia kecantikan kakak? Pasti skincarenya mahal mahal deh." Tanya Haya yang sejak tadi memperhatikan wajah Niken yang tampak bersih dan cantik.


"Ehhh berisik. Dasar cerewet." Ketus Hans.


"Ehhh ini urusan perempuan ya. Kakak jangan suka ikut campur." Balas Haya.

__ADS_1


"Kalian tuh emang sering berantem ya." Tukas Niken.


"Ahk enggak koq, dia aza tuh yang sering cari masalah." Jawab Hans.


"Bilang iya aza kenapa sih. Kak Hans tuh yang suka mulai duluan." Balas Haya. "Emang kak Niken nggak pernah berantem ya sama saudaranya?"


Niken menggelengkan kepala. "Tidak pernah."


"Nggak pernah sama sekali?" Tanya Haya tak percaya.


"Iya."


"Kak Niken nggak punya adik atau kakak gitu?"


"Aku punya kakak, tapi tidak terlalu dekat."


"Ehh kak, jawab dulu dong pertanyaan aku yang tadi."


"Yang mana?"


"Skincare kakak."


"Ohhh yang itu. Enggak mahal koq. Perawatan wajah itu sebenarnya nggak harus dengan produk yang mahal. Rahasia cantik itu sebenarnya mudah. Pertama, rajin membersihkan make up wajah sebelum tidur. Kedua, rajin pake skincare pagi dan malam. Ketiga  jangan gonta ganti produk skincare." Jelas Niken.


"Ohhh gitu. Ohya kak, aku tuh orangnya suka coba-coba gitu. Makanya kadang suka jerawatan mukanya. Gimana tuh kak?"


"Kalau wajah kamu sensitif suka jerawatan. Kamu pakai skincare yang acne dong, Haya. Ohya minggu depan kakak mau perawatan ke salon tempat biasa kakak, kau mau ikut Haya?" Tukas Niken. Mata Haya tampak gembira sekali. Mereka baru kenalan tadi malam dan sekarang sudah sangat akrab. Hans kagum pada Niken.


"Wahh yang bener, kak? Emang boleh?" Tanya Haya. Niken menganggukkan kepala. "Wahh. Seandainya aku punya kakak perempuan seperti kak Niken, pasti bisa diajak shoping, treatment, dan travelling deh. Nggak kayak yang satu ini. Apaan, punya kakak nyusahin mulu." Tutur Haya. Niken tersenyum.


"Entar kalau aku nikah, nanti kan kamu punya kakak ipar, ya ajak kek travelling atau apalah terserah kalian." Balas Hans.


"Yaelah, iya kalau kakak iparnya kayak kak Niken. Lha kalau kayak si Tia. Amit-amit deh. Awas ya kalau balikan lagi sama si Tia ya, kak. Cewek halu tuh dia." Timpal Haya.


"Ehh dek, waktu itu dia datang ke kampus kakak lho. Trus dia minta balikan sama kakak. Ya ogahlah." Ujar Hans seakan tak menyadari kecemburuan Niken.


"Oughmmm, ternyata Tia memang minta balikan lagi sama Hans. Trus Hans nolak, pantas saja Tia kayak marah." Batin Niken.


"Bagus tuh kak. Amit-amit deh pokoknya." Kata Haya.


"Apalagi kakak." Hans menambahkan sambil bergidik. 


"Ehhh kak, berhenti dulu di swalayan ya. Aku mau belanja dulu."

__ADS_1


"Gini nih ribetnya kalau jalan sama si Haya." Ketus Hans. Niken hanya tersenyum melihat tingkah mereka.


***


__ADS_2