One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Sembilanbelas


__ADS_3

Hans tersenyum cerah ketika adiknya berhasil membujuk Niken untuk pergi bersama ke kampus. Sesekali ia menoleh ke arah perempuan cantik itu. Ia tak pernah berhenti untuk menatap lamat-lamat wajah Niken. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Niken dihatinya. Perasaannya semakin bertambah ketika ia bertemu kembali dengan perempuan yang ia taksir selama 10 tahun terakhir ini.


"Ehhh kalian udah sarapan belum?" Tanya Niken sambil menoleh kearah Haya. Hans dan Haya menggelengkan kepala. "Kalau gitu kita sarapan dulu yuk?" Ajak Niken.


"Boleh." Balas Hans.


"Ayo. Dimana kak, makanan yang enak dan tempatnya juga okey?" Haya sangat bersemangat.


"Aku punya tempat yang bagus dan rasa makanannya juga okey. Disana juga dekat dengan swayalan. Jadi Haya bisa sekaligus belanja." Lanjut Niken.


"Wahhh ide yang bagus. Ayo kak, kita sarapan dulu." Jawab Haya setuju.


"Emmm okey." Balas Hans. Niken memberi arah petunjuk kepada Hans.


Mobil pun berhenti di sebuah restauran, Hans, Niken dan Haya bergegas duduk di kursi, menempati posisi yang paling strategis untuk memanggil waiters.


"Kau sering kesini?" Tanya Hans.


"Sekali-sekali." Jawab Niken. Lalu melempar senyum kepada Hans. Begitu pula dengan mata tajam milik Hans, tidak pernah melepaskan pandangannya dari Niken. Hal itu menarik perhatian Haya.


"Kak Niken udah punya pacar?" Tanya Haya spontan. Niken terkesiap mendengar pertanyaan aneh itu. Pertanyaan yang jarang ia temukan dari siapapun. Lalu Niken menggelengkan kepalanya.


"Belum." Jawab Niken pendek.


"Masa sih perempuan secantik kak Niken belum punya pacar. Kalau mantan kakak berapa?" Tanya Haya.


"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?" Niken bertanya balik.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja." Ujar Haya.


"Ohhh. Sebenarnya Haya, aku tidak pernah pacaran." Jawab Niken. Haya melongo tak percaya. Sementara Hans hanya menyimak obrolan mereka.


"Serius?"  Niken menganggukkan kepala yakin.


"Dulu aku pernah punya seorang teman yang selalu melindungiku. Dan aku sempat menyukainya. Tapi aku bersyukur, ternyata Tuhan membukakan hatiku. Dia bukan lelaki yang baik." Jelas Niken. Hans menatap Niken lamat-lamat, ia merasa bahwa Niken sedang menyindirnya.


"Kalian pacaran?" Selidik Haya.


"Tidak Haya."


"Lalu kakak pernah menyukai lelaki lain selain dia?" Tanya Haya.


"Pernah." Jawab Niken.


"Lelaki itu tahu?"


"Tidak."


"Lho kenapa? Harusnya kakak jadian dengan lelaki yang kakak cintai." Tukas Haya.


"Aku terlalu takut untuk menyatakan perasaanku, apalagi menjalin hubungan yang namanya pacaran." Jelas Niken.


"Kenapa?"


"Emmm, ada banyak alasan mengapa aku memilih melajang sampai usiaku sekarang ini. Salah satunya adalah karena aku takut untuk patah hati. Sebenarnya sahabat-sahabatku sering bercerita tentang pacar mereka. Hubungan mereka. Tapi, menurut penilaianku pacaran itu nggak penting. Kayak buang-buang waktu untuk kenal sama tipe kepribadian cowok yang sukanya mainin perasaan cewek." Jelas Niken. Haya mengangguk paham dengan penjelasan Niken.


"Tapi banyak dong yang suka sama kakak?" Kata Haya dengan sangat penasaran.


Niken tersenyum, "Kalau itu aku nggak tahu." Tukas Niken.


"Ahk kak Niken, kalau aku jadi laki-laki nih ya, aku juga pasti akan menyukai kakak. Secara gitu, kakak itu tanpa make up aja udah cantik, apalagi pake make up, cantiknya double. Ehhh triple deh. Pokoknya kalau harus dinilai pake angka, kak Niken itu nomor 10. Perfect. Cantik, cerdas, dan sempurna." Balas Haya.


"Ahhh kamu Haya bisa aja."


"Aku setuju dengan Haya." Ucap Hans. Niken menoleh dan keduanya saling menatap satu sama lain. Getaran cinta yang terpancar dari tatapan mereka bisa dirasakan oleh Haya.


Waiters datang dengan membawa pesanan mereka. Haya segera menyeruput minuman pesanannya.


"Kakak pernah nggak dideketin sama cowok?" Tanya Haya. Niken spontan menatap Hans. Ia menelan ludah. Pernah. Laki-laki itu adalah kakak kamu Haya. Dia juga yang membuat aku merasa nyaman. Batin Niken. Hans tersenyum masih dengan asyik menatap wajah Niken.


"Pernah." Jawab Hans.


"Siapa?" Tanya Niken.


"10 tahun yang lalu. Saat ospek." Balas Hans. Haya tersenyum senang saat melihat Hans dan Niken saling menatap.


"Memangnya kakak tahu?" Tanya Haya.


"Tahu dong, aku dan Niken dulu satu kampus. Dia adik juniorku." Jawab Hans. Niken mengusap leher belakangnya. Sementara Hans masih menatap perempuan yang ada dihadapannya. Pesanan datang dan membuyarkan lamunan Niken. Hans tidak melepaskan pandangannya.


"Kak, makan dulu." Ujar Haya. Hans mengangguk. Baru kali ini Haya melihat kakaknya menatap dalam-dalam seorang perempuan. Meskipun dulu kakaknya itu playboy, tapi Haya ini adalah pertama kalinya Hans benar-benar mencintai seorang perempuan. 


"Aduh..." Kata Niken.


"Kenapa?" Tanya Hans.

__ADS_1


"Ada ini." Ujar Niken sambil menunjuk makanannya.


"Tadi nggak bilang kalau nggak usah pake udang?" Hans mengambil piring Niken dan menyisihkan udangnya.


"Tapi itu udah tercampur, Hans. Aku nggak bisa makan. Kamu tahu kan kalau aku alergi udang." Jawab Niken.


"Ya udah aku ganti menu lain ya, gimana?" Hans menawarkan. Niken pun mengangguk setuju.


"Ehh aku pesan salad aza deh nggak apa-apa." Tiba-tiba Niken berubah pikiran.


"Serius? Nggak pesan makanan yang sama aza? Kamu belum makan lho Niken." Kata Hans.


"Nggak apa-apa, aku lagi pengin salad." Kata Niken.


"Niken..."


"Hans... I am fine. It's salad you know? My favorite."


"No..." Hans memanggil seorang waiters. "Saya pesan makanan yang sama tapi tidak pakai udang. Okay? Dan salad yang super jumbo." Kata Hans.


"Hans...?" Niken terkejut ketika Hans juga memesankan salad kesukaannya.


"What?" Kata Hans.


"You excessive."


"No. This is no exaggeration. I just wont you to starve. So you have to eat." Ujar Hans. Niken mengembangkan senyumnya.


"Okay." Kata Niken akhirnya.


Haya menyimak, namun ia tidak mengerti apa yang mereka debatkan.


"Aduh... Haya nggak ngerti kakak ngomong apaan sama kak Niken. Please deh jangan ngomong pake bahasa Inggris. Udah tahu kan aku paling lemah sama bahasa Inggris." Ketus Haya. Niken dan Hans menoleh bersamaan.


"Ohhh maaf Haya. Kakakmu ini sangat berlebihan." Kata Niken.


"Siapa yang berlebihan? Enggak. Aku nggak berlebihan. Aku hanya nggak mau kamu sakit aja." Balas Hans.


"Okey, fine. Nggak perlu ngegas gitu." Ucap Niken.


"Hello, nyadar nggak sih, kalau ada aku disini. Kayak dunia milik berdua aja." Kata Haya. Niken merapatkan bibirnya.


"Sorry." Makanan pesanan Niken sudah sampai.


"Nggak apa-apa, biar dia nggak kurus kerempeng." Ketus Hans. Niken memukul lengan Hans.


"Ini nggak bakalan habis Hans. Kamu harus bantu aku buat ngabisin makanan ini." Balas Niken.


"Aku punya makanan sendiri koq. Enak aja." Kata Hans.


"Nggak bisa gitu dong. Siapa yang pesan makanan ini?" Niken memperdebatkan makanannya sendiri.


"Kamu. Niken ayo cepat makan!" Perintah Hans. Niken menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak bisa makan sebanyak ini Hans."


"Niken, cepat makan."


"Kamu yang makan." Niken memberikan sesuap untuk Hans.


"Aku lagi makan punyaku." Niken menggelengkan kepalanya.


"Hans, ini sayang banget lho. Ayo dong, bantu aku. Hans... A-a-a...." Makanan dilahap oleh Hans. Niken tertawa melihat Hans yang sangat keberatan memakan makanan punya Niken. Haya juga ikut tertawa melihat tingkah kakaknya.


"Haya juga mau...? Biar aku yang suapin." Kata Niken.


"Enggak kak Niken. Ini aja belum habis. Kakak suapin aja kak Hans." Balas Haya.


"Ide yang bagus." Niken mengangkat kedua alisnya.


"Niken... No. Itu makanan kamu. Kamu harus makan." Kata Hans.


"Aku makan, tapi ada salad juga. Dan ini nggak akan habis. Kan sayang kalau nggak habis. Mubajir tahu." Balas Niken.


"Salad bisa kamu makan nanti."


"I want you eating it." Niken memelas.


Hans menghembuskan nafasnya, "okay. Aku akan makan. Tapi, kamu juga harus makan." Kata Hans dengan menarik piring Niken. Menyendok makanannya dan menyuapi Niken. Mereka berdua saling menyuapi.


"Pelan-pelan dong Hans. Ini aja belum habis aku kunyah." Protes Niken.


"Kamu tuh banyak protesnya. Tinggal makan aja susah."


"Kamu juga makan. Nih..."

__ADS_1


Lagi-lagi Haya tersenyum bahagia melihat mereka berdua. Lucu. Nggak apa-apa deh jadi obat nyamuk juga, yang penting kak Hans happy. Begitu gumam Haya dalam hatinya.


Niken menyedot minuman yang tak lain adalah minuman Hans


"Hey itu minumanku." Tukas Hans.


"Huh? Ohhh iya maaf. Aku salah." Kata Niken sambil tertawa, sehingga membuat ia tersedak dan cegukan.


"Tuh kan... Pelan-pelan makanya kalau minum." Hans memberikan segelas air mineral.


"Kamu bisa minum punyaku." Kata Niken.


"Enggak ahk, aku nggak suka strawberry." Ketus Hans.


"Tapi aku udah minum minuman kamu."


"Ya udah nggak apa-apa."


"Aku pesenin lagi ya."


"Ada air mineral, nggak usah." Kata Hans.


"Sungguh?" Hans menganggukkan kepala. "So cute..." Puji Niken.


"Aku memang cute koq." Narsis Hans.


Niken tertawa renyah sekali. Ia melihat mulut Hans yang belepotan. Haya juga ikut tertawa melihat kakaknya yang belepotan.


"Kenapa sih?" Tanya Hans. Niken memberikan cermin kepada Hans.


"Ohhh ya Tuhan..." Hans hampir melap mulutnya dengan bajunya.


"Ehhh no no no... Pake tisu." Niken melap mulut Hans dengan tisu. Pandangan Hans mengikuti arah mata Niken. Ia tidak pernah melepaskan pandangannya walau hanya sedetik.


Hans bersendawa pertanda ia sudah sangat kenyang. Niken menutup mulut Hans dengan cepat.


"Ini gimana nih, perut aku sudah kenyang. Aku tidak bisa menyetir kalau begini." Kata Hans. Niken tertawa bahagia.


"Bagus dong kalau udah kenyang. Itu artinya sehat." Balas Niken.


"Saladnya habiskan ya."


"Emmm, nanti aku habiskan. Bareng kamu lagi." Kata Niken. Hans menepuk jidatnya. Haya dan Niken tertawa.


"Kak Niken cocok deh kalau jadi istrinya kak Hans." Kata Haya tiba-tiba. Niken menoleh, ia terkejut mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Haya.


"Aku setuju dengan idemu, Haya." Balas Hans. Niken menoleh ke arah Hans.


"You know me Hans." Tukas Niken.


"What? You don't believe love? Or you don't believe me?" Tanya Hans. Niken menelan ludah. Lalu menggelengkan kepala.


"I don't know. Aku masih takut dengan kejadian yang pernah kita alami dulu." Jawab Niken. Hans menghembuskan nafasnya.


"Dulu? Dulu kalian pacaran?" Tebak Haya.


"No... Aku dan kakakmu tidak pacaran." Jawab Niken. Ponsel Hans tiba-tiba berdering.


"Aku jawab telepon dulu ya." Kata Hans. Niken menganggukkan kepalanya.


"Oh ya kak, kak Niken ngajar mata kuliah apa di kampus?" Tanya Haya saat Hans menjauh dari mereka berdua.


"Psikologi kepribadian, Haya. Kenapa?" Jawab Niken.


"Ng nggak apa-apa. Kak Niken bisa dong, baca kepribadian aku." Tukas Haya.


"Aku bukan dukun Haya."


"Ehh enggak. Maksudnya, kak Niken bisa dong tahu kepribadian aku." Ralat Haya.


"Para psikolog nggak bisa diagnosa kepribadian seseorang dengan hanya menilai struktur wajah saja, Haya. Ada tes untuk menentukan kepribadian kita seperti apa." Jelas Niken.


"Ohhh gitu. Kalau gitu aku mau dong kak, ikut tes kepribadian." Tukas Haya.


"Kau mau? Nanti aku kenalkan dengan psikolog pribadiku." Haya mengangguk dengan semangat.


"Niken..." Hans merangkul pundak Niken tiba-tiba.


"Ya...?"


"Kita harus segera pergi." Kata Hans.


"Ohhh okey."


***

__ADS_1


__ADS_2