
"Ya udah, sana gih. Katanya mau kencan." Balas Niken. Haya menenteng tasnya dan pamit kepada Niken dan Hans.
"Kencan?" Tanya Hans. Niken menganggukkan kepala. Hans berlari mengejar adiknya, sayangnya lift sudah tertutup. "Kenapa kau membiarkan adikku berkencan? Dengan siapa dia pergi?" Hans mencemaskan adiknya.
"Tenang saja. Dia hanya menonton bioskop dan makan malam." Jawab Niken.
"Kau tidak bisa begitu. Dia adik perempuanku. Bagaimana kalau laki-laki itu macam-macam dengan Haya." Tutur Hans.
"Hans, Haya itu sudah besar. Beri kepercayaanmu kepadanya. Aku yakin dia juga bisa jaga diri." Balas Niken.
"Tapi Niken...?"
"Aku tahu mengapa kau sangat ketakutan? Karena kau sudah beberapa kali melakukannya denganku, itu bukan alasannya." Tutur Niken, sembari duduk disofa.
Hans mendesah pelan, lalu duduk disamping Niken.
"Kenapa kau berbicara seperti itu? Haya berbeda dengan kita. Dia masih kuliah. Sementara kau dan aku sudah dewasa. Itu hal yang wajar, kita kan mau menikah." Balas Hans.
"Menikah?" Hans mengangguk. "Apa kau sungguh mencintaiku?" Niken memandang Hans dengan serius.
"Kenapa? Kau meragukanku?"
"Aku hanya tidak yakin, tante Dina akan menerimaku." Hans menggenggam tangan Niken.
"Percayalah padaku."
"Lebih dari diriku sendiri. Mulai sekarang, kau tidak boleh bermabukan lagi. Tidak boleh melakukan hal yang aneh-aneh. Berjanjilah kepadaku." Ujar Niken. Hans mencium punggung tangannya.
"Uhmmm, aku janji. Untukmu. Untuk kita." Balas Hans. Niken melingkarkan tangannya ke leher Hans, lalu mengecup bibir Hans. "Apa kau mau lebih?" Niken menggelengkan kepala.
"Sebentar lagi waktunya makan siang. Untuk pembukanya, aku ingin menciummu sepuasnya." Katanya. Hans tertawa mendengar kalimat kekasihnya itu.
...***...
Niken menggapaikan tangannya saat ia melihat Tanu. Hari ini ia sudah janjian dengan Tanu. Niken mengenakan baju berwarna merah muda dan high heels yang sepadan dengan tas dan bajunya. Tanu duduk dihadapan Niken.
"Bagaimana kabarmu, Niken?" Sapa Tanu.
"I'am good." Jawab Niken.
"You are so beautiful, Niken. Good look, I like your dress." Tukas Tanu.
"Thank you, Miss Tanu. Well, bagaimana kabar anakmu?" Tanya Niken.
"Dia baik." Jawab Tanu. "Kau semakin membaik Niken. Apa kuliahmu sudah selesai?" Lanjut Tanu.
"Aku menyelesaikannya dengan cepat." Jawab Niken. Tanu mengangguk. "Miss Tanu, apa selama 2 tahun terakhir ini, Hans sering menghubungimu?"
"What? Dia sangat sering dan menanyakan keberadaan dirimu. Sebenarnya aku tidak tega melihat sahabatku diperlakukan seperti itu olehmu. Tapi aku tahu, niatmu baik. Kau sudah mampu menyikapi masalahmu dengan baik. Aku kagum padamu." Ujar Tanu, sambil menggenggam tangan Niken.
"Aku tidak bisa melakukannya sendirian Miss Tanu. Semuanya berkat dirimu." Tukas Niken.
"Apakah orangtuamu sudah tahu?" Tanya Tanu.
"Tentang apa?"
"Tentang dirimu. Masalah yang kau hadapi. Kondisi psikismu."
__ADS_1
"Uhmmm, aku rasa mereka sudah tahu saat aku mengalami kecelakaan itu. Ohya apa yang akan kau bicarakan waktu itu?" Ujar Niken.
"Ohya. Sebenarnya agak berat memang permintaanku ini. Tapi aku tidak tahu meminta bantuan kepada siapa lagi kalau bukan kepadamu. Karena kau dosen psikolog perkembangan yang sudah lulus S3, aku ingin kau menggantikanku untuk melakukan perjalanan ini." Tanu memberikan sebuah map kepada Niken. "Perjalanan apa?" Tanya Niken sambil membuka lembaran kertas itu, sebuah pengajuan program penelitian guna menjadi professor, disahkan oleh beberapa ahli professor dari Oxford, Stanford dan Harvard University. Penelitian tersebut berlangsung selama 50 hari.
"Ya Tuhan, Miss Tanu, mengapa kau memberikan pengajuan professor ini kepadaku." Kata Niken tak percaya.
"Professor Bernard sudah menghubungiku sejak 3 bulan yang lalu. Beliau bilang bahwa ini adalah kesempatan yang langka. Saat aku akan mengirimkan pengajuan tersebut aku hamil. Dan suamiku melarang aku untuk berpergian. Jadi aku hubungi Hans, lalu kita sepakat bahwa kau akan meneliti guna menjadi seorang professor." Balas Tanu. Niken tak mempercayai bahwa kesempatan menjadi professor muda ada dihadapannya.
"I can't believe it." Tukas Niken.
"Kabar baiknya lagi, kau tidak akan sendirian. Lihat professor siapa yang akan membimbingmu disana." Kata Tanu sambil melirik ke kertas yang sedang dipegang oleh Niken.
"Siapa?" Tanya Niken. Lalu ia membuka lembaran terakhir. Niken menutup mulutnya tak percaya.
"Hans? Apa aku tidak salah baca?"
"Tidak Niken. Professor Bernard adalah senior Hans di Rusia. Jadi Hans adalah rekomendasi dari professor Bernard." Jelas Tanu
"Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepadamu Miss Tanu. Thank you so much." Balas Niken.
"Ini dia." Tanu menyodorkan sebuah kartu nama, "Professor Bernard ingin bertemu denganmu besok siang. Dia sudah mengkontak Hans untuk menjadwalkan pertemuan kalian. Aku harap pertemuan kalian berjalan dengan lancar." Lanjut Tanu
"Aku harap, kau dan bayimu selalu sehat." Balas Niken.
"Amin."
"Sekali lagi terimakasih Miss Tanu." Niken memeluk Tanu layaknya seperti sahabat. Niken menyetir mobilnya sambil menempelkan ear phone ke telinganya.
"Hai Hans...? Kau dimana? Ohh baiklah, aku akan kesana." Kata Niken, lalu telepon terputus. Niken menyetir mobilnya menuju kampus.
...***...
"Iya, ada apa?" Tanya Hans.
"Nilai tengah semester saya sangat jelek. Saya takut kalau di ujian semester nanti saya tidak bisa lulus. Bapak bisa bantu saya tidak?" Jawab si mahasiswi itu.
"Belajar saja yang tekun." Balas Hans dingin.
"Pak, saya dengar bapak buka les privat. Saya boleh daftar?" Katanya. Cara pendekatan mahasiswi itu sangat kuno buat Hans. Ia tahu kalau muridnya itu mencoba mendekatinya. Tapi Hans tidak pernah tergoda dengan anak muda seperti itu. Hans berjalan menuju ruangannya.
"Hans...?" Seru Amir saat Hans hampir membuka pintu ruang kerjanya.
"Ada apa?" Tanya Hans.
"Nanti malam kau ada acara tidak?" Kata Amir.
"Memangnya ada apa?"
"Begini, aku dan Bella mau mengundangmu ke acara makan malam. Kau harus ikut ya." Imbuh Amir.
"Okey." Balas Hans pendek. Amir menepuk pundak Hans kemudian berlalu. Amir punya rencana lain untuk menjodohkan sahabatnya itu dengan seorang perempuan muda. Ia tidak mengatakan kepada Hans bahwa nanti malam adalah kencan buta Hans dengan perempuan yang ia pilihkan.
"Bagaimana, Hans mau datang?" Tanya Bella. Amir mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
"Sekarang tinggal Niken. Tapi siapa yang akan kita kenalkan ya?" Pikir Bella.
"Kalau Niken susah, Bel. Tipe dia itu tinggi. Gimana kalau satu-satu saja dulu." Balas Amir.
__ADS_1
"Hemmmmh, padahal dulu yang pacaran mereka. Ehhh malah kita yang nikah. Aku jadi bersalah sama mereka." Kata Bella. Amir memeluk istrinya.
"Sudahlah, tidak perlu merasa bersalah begitu. Nanti juga Niken mendapatkan kekasih baru." Ujar Amir. Bella mengangguk.
"Tapi Niken sudah berusia 30 tahun, Amir. Tetap saja aku mengkhawatirkannya." Bella mengembungkan bibirnya.
"Khawatirkan kandunganmu. Aku tidak mau kau pusing hanya karena memikirkan masalah sahabatmu." Kata Amir. Bella tersipu bahagia.
"Ciyeeee pengantin baru." Seru Niken saat melewati ruangan sahabatnya.
"Niken...?" Balas Bella.
"Udah 3 bulan, Niken." Kata Amir.
"Sama aza, masih pengantin baru. Ehh gimana hasil pemeriksaanmu kemarin, Bel?" Tanya Niken.
"Positif." Jawab Bella pendek, sambil mengelus-elus perutnya.
"Wahhh serius?" Niken seolah tak percaya. Amir dan Bella mengangguk. "Keponakanku. Kau jangan seperti ibumu ya, cerewet." Bisik Niken ke perut Bella. Bella memukul lengan Niken pelan.
"Dari mana saja kamu, Ken?" Tanya Amir.
"Ehh Bel, kau tahu, aku akan mengadakan penelitian buat pengajuan professorku." Jawab Niken.
"Wahhh serius?"
Niken mengangguk bersemangat. "Ceritanya panjang. Nanti aku ceritakan. Ohya, apa kau melihat Hans?" Tanya Niken.
"Dia diruangannya."
"Ohh baiklah." Niken berlalu meninggalkan kedua temannya. Bergegas menuju ruangannya. Niken masuk tanpa mengetuk pintu, lalu menguncinya dari dalam.
"Niken..." Seru Hans, Niken memeluk Hans lalu mencium pipinya. "Ada apa ini?" Tanya Hans.
"Aku bahagia sekali. Terimakasih ya." Jawab Niken.
"Buat?" Hans masih bingung dengan kelakuan Niken.
"Pengajuan yang kau buat dengan Miss Tanu." Jelas Niken.
"Oohhh. Aku sudah tahu kau akan bahagia." Balas Hans. Niken mengecup bibir Hans.
"Sebagai hadiahnya, malam ini aku akan membuatkan makanan yang spesial untukmu dan uhmmm sesuatu yang hot." Kata Niken sambil menggoda kekasihnya itu.
"Uhmmm, aku ada janji dengan Amir dan Bella nanti malam. Kita ketemu di apartemen saja ya." Imbuh Hans. Niken menghembuskan nafasnya.
"Ada apa tiba-tiba Bella dan Amir mengajakmu makan malam?" Hans menggelengkan kepala.
"Minggir, aku mau memeriksa tugas mahasiswaku dulu." Niken duduk dipangkuan Hans. Ia tidak mau pindah ke kursinya. Dan itu kali pertama Hans menolaknya. Sehingga membuatnya enggan untuk turun dari pangkuan kekasihnya.
"Niken...?" Niken menggelengkan kepala. "Sebentar aza." Lanjut Hans. Niken mendesah pelan.
"Baiklah kalau begitu." Kata Niken akhirnya. Kemudian ia membuka kunci pintu, lalu pergi meninggalkan Hans sendirian.
"Kau mau kemana?" Tanya Hans.
"Tidak usah memperdulikanku." Jawab Niken kesal. Hans menghela nafas, lalu memeriksa tugas mahasiswanya.
__ADS_1
***