
"Hans...?" Niken melepaskan pelukannya. Hans menatapnya. "Apa kau mendengarnya?" Tanya Niken.
"Mendengar apa?" Hans mengernyitkan dahinya. Tidak mengerti apa yang Niken katakan. Suara siapa itu? Apakah itu adalah hatiku? Apa yang sebenarnya terjadi denganku? Tuhan, apa Engkau mengirimkan aku sebuah cinta? Niken bertanya pada dirinya sendiri. Ia bingung dengan perasaannya. Semilir angin menelisik ke wajahnya, Hans menyapu rambutnya. Pandangan mereka bertemu dalam satu titik. Pertemuan yang menghanyutkan perasaannya masing-masing.
"Bagaimana itu cinta?" Lirih Niken.
Hans mencium keningnya, "dia ada didalam hati." Balas Hans dengan pelan. Lalu ia mencium pipi kiri Niken, "dekat dengan nadi dan dada." Hans kembali mencium pipi kanan, "rindu jika tidak bertemu, setia bila pergi, dan..."
Hans mencium bibir Niken dengan lembut. Jantung Niken berdebar keras, ia terhanyut dalam ciuman romantis. Seakan tidak ada yang mampu memisahkan keduanya. Hans melepaskan bibirnya pelan-pelan. "Dan selalu ingin berada didekatnya. Suka dan duka, bahagia dan sedih. Itulah cinta." Jelas Hans. Niken tidak mampu bernafas dengan baik, dadanya bergetar cepat, ciuman hangat itu membuatnya melayang ke udara, menari bersama peri-peri, membuatnya merasakan betapa berartinya Hans untuknya. Niken masih tak percaya dengan apa yang ia rasakan, matanya terpancar jernih. Niken masih memandang Hans dengan perasaan bahagia. Begitu pun dengan Hans, yang tak bisa menahan perasaannya. Hans kembali ******* bibir wanita yang ia cintai. Niken memejamkan matanya sambil menikmati perasaan bahagianya. Kemudian ia melingkarkan kedua lengannya ke leher Hans. Membalas ciuman hangat itu dengan mesra.
***
Hai malam... Apa kabar? Aku ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin tidak kau percayai. Aku yakin kau pasti setuju. Perasaanku bergetar, seakan dunia adalah milikku. Aku tidak pernah merasakan getaran ini. Hanya kali ini dengan Hans. Kau tahu Hans...?? Ya, dia. Lelaki yang dulu sering aku ceritakan lewat malam sepiku di Turki, saat aku kuliah S2. Aku tahu, ini seperti keajaiban. Seperti sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Hans selalu meyakinkanku bahwa cinta itu indah dan aku pasti merasakannya. Keindahan cinta dan bahagia bersama cinta. Pelan-pelan hatiku terbuka, untuk menyambut cinta yang belum pernah ada. Aku menyadari perasaanku padanya. Karena hanya dia satu-satunya pelerai takutku. Hanya dia. Dan karena dia aku mampu merasakan perasaan ini.
Ini kali pertama aku berciuman dengannya. Sungguh diluar ekspetasi. Benar kata Tanu, aku akan melambung tinggi. Aku akan merasakan dunia hanya milik kita berdua. Dan aku merasa tak ingin berpisah dengannya. Aku ingin mengulangnya lagi dan lagi. Aku ingin dipeluknya. Aku ingin selalu bersamanya. Aku tidak ingin memisahkan sentuhan hangat tangannya denganku. Benar, ini cinta. Karena itulah aku menulisnya untukmu. Aku tidak ingin malam ini menjadi sia-sia karena tak berbagi padamu wahai sang malam. Beritahu kepadanya, bahwa aku sangat mencintainya. Mungkin inilah yang disebut takdir. Inilah jalan yang harus aku tempuh untuk melewati semua tantangan yang di beri Tuhan kepadaku. Mungkin, lewat Hans, aku harus mengerti tentang cinta. Aku siap menerima segala bentuk cinta. Bahagia dan sedih, menderita karena rindu, dan berbagai rasa lainnya yang kemungkinan akan bergejolak di dalam hatiku. Katanya cinta begitu. Itulah sebabnya aku meraihnya dengan tangan terbuka. Aku ingin kelak, bisa menikah dengan seseorang yang aku cintai. Bisa mengandung, dan memiliki banyak anak. Hidup bersamaan dengan penuh cinta. Seperti keluarga yang bahagia, harmonis dan romantis. Bukan hanya didalam sebuah dongeng. Tapi nyata didalam kisah nyata antara aku dan lelaki yang aku cintai saat ini, yaitu Hans. Aku bahagia saat aku tahu ciuman itu mampu menggetarkan hatiku. Aku mencintainya dan aku bahagia. Begitulah hatiku saat ini.
Niken menutup bukunya. Ia menggigit bibirnya, membayangkan kembali ciumannya bersama Hans. Ini yang namanya jatuh cinta. Niken ingin sekali berbagi dengan Tanu. Ia ingin segera pulang dan langsung mengunjungi klinik konseling Tanu. Sungguh Niken sangat bahagia sekali. Berkali-kali ia mencoba memejamkan matanya, bayangan ciuman itu selalu muncul tiba-tiba.
"Niken... Kau belum tidur?"
"Ahcccaaaa..." Spontan tubuhnya terangkat. Niken terkejut begitu Bella menoleh. "Kau mengagetkanku saja."
"Kenapa kau begitu terkejut?" Tanya Bella.
"Tidak. Tidak apa-apa. Tidurlah." Balas Niken.
Hans
Kau sudah tidur?
Niken mendapatkan pesan dari Hans.
Niken
Belum. Kau?
Hans
Sama. Aku juga belum.
Niken
Aku baru saja selesai menulis.
Hans
Menulis apa?
Niken
Diary-ku. Kau, kenapa belum tidur?
Hans
Masih memikirkanmu.
Niken
Aku juga.
Hans
Kenapa tadi kau tidak menolak?
Niken
Menolak apa?
Hans
Menolak dicium olehku.
Niken
Ummm, tidak.
Hans
Kenapa tidak?
Niken
Sudahlah, jangan membahas itu. Aku malu.
Hans
__ADS_1
Kenapa malu..?
Niken
Hans, aku akan membunuhmu jika kau terus-terusan membahas soal ciuman itu.
Hans
Kau tidak akan bisa membunuhku. Karena kau juga mencintaiku.
Niken
Kenapa kau percaya diri sekali...?
Hans
Kalau tidak, kau tidak akan mau dicium Niken.
Niken.
☺ sudahlah. Aku mengantuk. Mau tidur.
Hans
Tidurlah. Mimpi yang indah. Dan bahagialah dalam mimpimu. Aku akan hadir disana.
Niken
Kenapa kau ingin hadir di dalam mimpiku?
Hans
Untuk berjaga-jaga saja. Siapa tahu kau butuh sandaranku.
Niken
Hans, terimakasih ya. Kau selalu berusaha meyakinkanku untuk menerima kebahagiaan dan cinta.
Hans
Sudah menjadi tugasku, Niken. Kau tidak perlu khawatir.
Niken
Hans
Selamat tidur Niken-ku sayang.
Niken
Selamat tidur juga Hans.
Hans
Jangan dibalas lagi. Cepat tidur.
Niken
Baiklah. Mimpi yang indah Hans.
Hans
Kau juga. Mimpi yang indah. Biarkan rembulan menyinari wajahmu. Agar esok ku tatap pemandangan indah dari wajahmu. Senyum yang merekah berseri bagaikan mentari di siang hari. Dan seanggun malam dimusim panas. Biarkan aku mencintaimu dengan caraku.
Niken
Tetaplah begitu, agar aku semakin yakin bahwa kau mencintaiku.
Hans
Kau mencintaiku?
Niken
Kau ingin aku menjawab apa?
Hans
Apa saja. Yang bisa membuatku bahagia.
Niken
Kalau begitu, aku akan membuatmu bahagia juga.
Hans
__ADS_1
Kau mencintaiku?
Niken
Hans, aku ingin bertemu lagi denganmu.
Hans
Kenapa? Kau merindukanku?
Niken
Hhhh, sepertinya begitu.
Hans
Aku berhasil.
Niken
Berhasil apa?
Hans
Membuatmu merindukanku.
Niken
Boleh aku bertanya.
Hans
Ya, tentu saja.
Niken
Mengapa kau yakin sekali aku akan jatuh cinta padamu?
Hans
Matamu. Matamu yang menjawab semuanya Niken. Matamu yang tidak membuatku ragu.
Niken
Ciumanmu...
Hans
Kenapa? Kau ingin lagi?
Niken
Tidak. Aku tidak berkata begitu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa ciumanmu yang mengubah perasaanku.
Hans
Apa perasaanmu saat ini?
Niken
Selalu ingin bersamamu. Hans, apakah itu cinta?
Hans
Seharusnya begitu. Karena aku tidak akan pantang menyerah untuk menjadikanmu permaisuri didalam hidupku dan seorang ibu untuk anak-anakku.
Niken
Aku mengantuk. Ayo kita tidur.
Hans
Hemmmh, ayo kita tidur. Nanti, akan aku pastikan. Kau akan tidur disampingku.
Niken
Selamat malam Hans.
Hans
Selamat malam wanita yang aku cintai.
Niken menutup mulutnya dan tersenyum bahagia. Dia seperti remaja yang dilanda kasmaran. Ia bergegas men-charger ponselnya. Dan mengolesi dulu skincare ke wajahnya, setelah itu ia terlelap dalam tidur.
***
__ADS_1