One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Dua puluh enam


__ADS_3

"Hans...?" Niken melepaskan pelukannya. Hans menatapnya. "Apa kau mendengarnya?" Tanya Niken.


"Mendengar apa?" Hans mengernyitkan dahinya. Tidak mengerti apa yang Niken katakan. Suara siapa itu? Apakah itu adalah hatiku? Apa yang sebenarnya terjadi denganku? Tuhan, apa Engkau mengirimkan aku sebuah cinta? Niken bertanya pada dirinya sendiri. Ia bingung dengan perasaannya. Semilir angin menelisik ke wajahnya, Hans menyapu rambutnya. Pandangan mereka bertemu dalam satu titik. Pertemuan yang menghanyutkan perasaannya masing-masing.


"Bagaimana itu cinta?" Lirih Niken.


Hans mencium keningnya, "dia ada didalam hati." Balas Hans dengan pelan. Lalu ia mencium pipi kiri Niken, "dekat dengan nadi dan dada." Hans kembali mencium pipi kanan, "rindu jika tidak bertemu, setia bila pergi, dan..."


Hans mencium bibir Niken dengan lembut. Jantung Niken berdebar keras, ia terhanyut dalam ciuman romantis. Seakan tidak ada yang mampu memisahkan keduanya. Hans melepaskan bibirnya pelan-pelan. "Dan selalu ingin berada didekatnya. Suka dan duka, bahagia dan sedih. Itulah cinta." Jelas Hans. Niken tidak mampu bernafas dengan baik, dadanya bergetar cepat, ciuman hangat itu membuatnya melayang ke udara, menari bersama peri-peri, membuatnya merasakan betapa berartinya Hans untuknya. Niken masih tak percaya dengan apa yang ia rasakan, matanya terpancar jernih. Niken masih memandang Hans dengan perasaan bahagia. Begitu pun dengan Hans, yang tak bisa menahan perasaannya. Hans kembali ******* bibir wanita yang ia cintai. Niken memejamkan matanya sambil menikmati perasaan bahagianya. Kemudian ia melingkarkan kedua lengannya ke leher Hans. Membalas ciuman hangat itu dengan mesra.


***


Hai malam... Apa kabar? Aku ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin tidak kau percayai. Aku yakin kau pasti setuju. Perasaanku bergetar, seakan dunia adalah milikku. Aku tidak pernah merasakan getaran ini. Hanya kali ini dengan Hans. Kau tahu Hans...?? Ya, dia. Lelaki yang dulu sering aku ceritakan lewat malam sepiku di Turki, saat aku kuliah S2. Aku tahu, ini seperti keajaiban. Seperti sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Hans selalu meyakinkanku bahwa cinta itu indah dan aku pasti merasakannya. Keindahan cinta dan bahagia bersama cinta. Pelan-pelan hatiku terbuka, untuk menyambut cinta yang belum pernah ada. Aku menyadari perasaanku padanya. Karena hanya dia satu-satunya pelerai takutku. Hanya dia. Dan karena dia aku mampu merasakan perasaan ini.


Ini kali pertama aku berciuman dengannya. Sungguh diluar ekspetasi. Benar kata Tanu, aku akan melambung tinggi. Aku akan merasakan dunia hanya milik kita berdua. Dan aku merasa tak ingin berpisah dengannya. Aku ingin mengulangnya lagi dan lagi. Aku ingin dipeluknya. Aku ingin selalu bersamanya. Aku tidak ingin memisahkan sentuhan hangat tangannya denganku. Benar, ini cinta. Karena itulah aku menulisnya untukmu. Aku tidak ingin malam ini menjadi sia-sia karena tak berbagi padamu wahai sang malam. Beritahu kepadanya, bahwa aku sangat mencintainya. Mungkin inilah yang disebut takdir. Inilah jalan yang harus aku tempuh untuk melewati semua tantangan yang di beri Tuhan kepadaku. Mungkin, lewat Hans, aku harus mengerti tentang cinta. Aku siap menerima segala bentuk cinta. Bahagia dan sedih, menderita karena rindu, dan berbagai rasa lainnya yang kemungkinan akan bergejolak di dalam hatiku. Katanya cinta begitu. Itulah sebabnya aku meraihnya dengan tangan terbuka. Aku ingin kelak, bisa menikah dengan seseorang yang aku cintai. Bisa mengandung, dan memiliki banyak anak. Hidup bersamaan dengan penuh cinta. Seperti keluarga yang bahagia, harmonis dan romantis. Bukan hanya didalam sebuah dongeng. Tapi nyata didalam kisah nyata antara aku dan lelaki yang aku cintai saat ini, yaitu Hans. Aku bahagia saat aku tahu ciuman itu mampu menggetarkan hatiku. Aku mencintainya dan aku bahagia. Begitulah hatiku saat ini.


Niken menutup bukunya. Ia menggigit bibirnya, membayangkan kembali ciumannya bersama Hans. Ini yang namanya jatuh cinta. Niken ingin sekali berbagi dengan Tanu. Ia ingin segera pulang dan langsung mengunjungi klinik konseling Tanu. Sungguh Niken sangat bahagia sekali. Berkali-kali ia mencoba memejamkan matanya, bayangan ciuman itu selalu muncul tiba-tiba.


"Niken... Kau belum tidur?"


"Ahcccaaaa..." Spontan tubuhnya terangkat. Niken terkejut begitu Bella menoleh. "Kau mengagetkanku saja."


"Kenapa kau begitu terkejut?" Tanya Bella.


"Tidak. Tidak apa-apa. Tidurlah." Balas Niken.


Hans


Kau sudah tidur?


Niken mendapatkan pesan dari Hans.


Niken


Belum. Kau?


Hans


Sama. Aku juga belum.


Niken


Aku baru saja selesai menulis.


Hans


Menulis apa?


Niken


Diary-ku. Kau, kenapa belum tidur?


Hans


Masih memikirkanmu.


Niken


Aku juga.


Hans


Kenapa tadi kau tidak menolak?


Niken


Menolak apa?


Hans


Menolak dicium olehku.


Niken


Ummm, tidak.


Hans


Kenapa tidak?


Niken


Sudahlah, jangan membahas itu. Aku malu.


Hans

__ADS_1


Kenapa malu..?


Niken


Hans, aku akan membunuhmu jika kau terus-terusan membahas soal ciuman itu.


Hans


Kau tidak akan bisa membunuhku. Karena kau juga mencintaiku.


Niken


Kenapa kau percaya diri sekali...?


Hans


Kalau tidak, kau tidak akan mau dicium Niken.


Niken.


☺ sudahlah. Aku mengantuk. Mau tidur.


Hans


Tidurlah. Mimpi yang indah. Dan bahagialah dalam mimpimu. Aku akan hadir disana.


Niken


Kenapa kau ingin hadir di dalam mimpiku?


Hans


Untuk berjaga-jaga saja. Siapa tahu kau butuh sandaranku.


Niken


Hans, terimakasih ya. Kau selalu berusaha meyakinkanku untuk menerima kebahagiaan dan cinta.


Hans


Sudah menjadi tugasku, Niken. Kau tidak perlu khawatir.


Niken


Hans


Selamat tidur Niken-ku sayang.


Niken


Selamat tidur juga Hans.


Hans


Jangan dibalas lagi. Cepat tidur.


Niken


Baiklah. Mimpi yang indah Hans.


Hans


Kau juga. Mimpi yang indah. Biarkan rembulan menyinari wajahmu. Agar esok ku tatap pemandangan indah dari wajahmu. Senyum yang merekah berseri bagaikan mentari di siang hari. Dan seanggun malam dimusim panas. Biarkan aku mencintaimu dengan caraku.


Niken


Tetaplah begitu, agar aku semakin yakin bahwa kau mencintaiku.


Hans


Kau mencintaiku?


Niken


Kau ingin aku menjawab apa?


Hans


Apa saja. Yang bisa membuatku bahagia.


Niken


Kalau begitu, aku akan membuatmu bahagia juga.


Hans

__ADS_1


Kau mencintaiku?


Niken


Hans, aku ingin bertemu lagi denganmu.


Hans


Kenapa? Kau merindukanku?


Niken


Hhhh, sepertinya begitu.


Hans


Aku berhasil.


Niken


Berhasil apa?


Hans


Membuatmu merindukanku.


Niken


Boleh aku bertanya.


Hans


Ya, tentu saja.


Niken


Mengapa kau yakin sekali aku akan jatuh cinta padamu?


Hans


Matamu. Matamu yang menjawab semuanya Niken. Matamu yang tidak membuatku ragu.


Niken


Ciumanmu...


Hans


Kenapa? Kau ingin lagi?


Niken


Tidak. Aku tidak berkata begitu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa ciumanmu yang mengubah perasaanku.


Hans


Apa perasaanmu saat ini?


Niken


Selalu ingin bersamamu. Hans, apakah itu cinta?


Hans


Seharusnya begitu. Karena aku tidak akan pantang menyerah untuk menjadikanmu permaisuri didalam hidupku dan seorang ibu untuk anak-anakku.


Niken


Aku mengantuk. Ayo kita tidur.


Hans


Hemmmh, ayo kita tidur. Nanti, akan aku pastikan. Kau akan tidur disampingku.


Niken


Selamat malam Hans.


Hans


Selamat malam wanita yang aku cintai.


Niken menutup mulutnya dan tersenyum bahagia. Dia seperti remaja yang dilanda kasmaran. Ia bergegas men-charger ponselnya. Dan mengolesi dulu skincare ke wajahnya, setelah itu ia terlelap dalam tidur.


***

__ADS_1


__ADS_2