One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Lima puluh sembilan


__ADS_3

Suara angin malam berhembus menelisik lembut, Niken baru saja sampai di apartemen Hans. Ia masih tinggal dengan Hans, karena kekhawatiran Tanu terhadapnya. Begitu pun dengan Hans yang tidak mengizinkannya untuk kembali ke apartemennya sendiri. Alasannya karena Hans takut terjadi sesuatu kepada kekasihnya itu.


"Hans...?" Seru Niken.


"Hmmmm." Gumam Hans.


"Hooaaammm, aku lelah sekali." Niken meregangkan kedua tangannya.  "Apa mamaku merepotkanmu?" Tanya Hans. Niken menggelengkan kepala.


"Tidak. Aku justru senang karena bisa membantu mamamu. Memasak memang hobiku." Jawab Niken. Hans memeluknya, lalu memijat bahu Niken.


"Terimakasih karena sudah pengertian." Balas Hans. Niken menurunkan tangan Hans, lalu menatapnya.


"Aku bahagia sekali." Ucap Niken. Hans balas menatapnya. "Karena Tuhan mempertemukan kita kembali. Kau tahu, saat aku tidak percaya pada cinta, aku selalu hidup dalam ketakutan. Aku tidak pernah merasakan bagaimana indahnya dicintai. Tapi sekarang, aku bisa merasakannya. Dan hanya kaulah, alasan bagaimana aku bahagia." Tuturnya. Hans tersenyum bahagia.


"Kalau kau bahagia, aku juga bahagia." Balas Hans.


"Kata orang, ujian terberat itu bukan disaat aku mencintaimu, juga bukan disaat kau mencintaiku. Tapi ketika aku dan kamu, menjadi kita. Dan saling mencintai. Disini..." Niken menunjuk tepat ke dada Hans. "Dan disini." Tepat menunjuk ke dadanya, "akan merasakan bagaimana hebatnya ujian itu. Bukan lagi soal cinta, tapi kesetiaan, ketulusan, keikhlasan, kesabaran, dan komitmen akan dipertanggungjawabkan dengan ujian yang tidak biasa." Lanjutnya.


Hans mendekatkan dirinya, memeluk Niken tepat bersandar di dadanya.


"Kau dengar?" Ujar Hans. Niken mendongak sebentar. "Suara detak jantungku?" Lalu Niken mengangguk. "Detak inilah yang tidak akan pernah berbeda. Detak dimana hanya kau seorang perempuan yang aku cintai. Sesulit apapun ujian yang akan menerjang hubungan ini. Kita hadapi sama-sama. Berat ataupun ringan, tidak ada yang bisa membuat cinta itu sama. Kecuali kepadamu." Balas Hans. Niken tersenyum bahagia, Hans mendekatkan bibirnya dan menempelkannya dibibir Niken. Tapi ponsel Niken berdering. Tanda panggilan masuk dari Tante Dina, atau mamanya Hans. Tapi begitu hendak diangkat, panggilan berakhir. Hans mengulangi hal yang sama, ia ******* bibir Niken dengan mesra. Tiba-tiba ponsel Niken berdering lagi. Masih tante Dina. Hans menyembunyikan ponsel kekasihnya, agar tidak mengganggu kegiatan mereka. Ia kembali ******* bibir kekasihnya. Dan suara ponsel Niken tetap berdering.


"Aku jawab telepon dulu ya." Kata Niken.


"Itu dari mamaku. Tidak perlu diangkat." Balas Hans.


"Justru itu aku harus jawab, Hans. Kamu itu gimana sih." Hans menyembunyikan ponsel Niken dibawah bantal dibelakangnya.


"Hans..." Niken melotot dengan kesal karena kesengajaan Hans yang usil. Hans memegang ponsel Niken ditangan kanannya sambil mengangkat. Niken pun mendorong Hans terlentang ke sofa, lalu mengambil ponselnya dengan paksa. Hans menahan tubuh Niken dan memeluknya dalam posisi ia dibawah.


"Hallo tante." Seru Niken.


"Kamu lagi sibuk?" Tanya Dina. Niken menggelengkan kepala.


"Enggak, ada apa tante?"


"Enggak, tante mau nanya, besok kamu ada acara?" Tanya Dina.


"Uhmmm belum ada tante, ada apa?" Jawab Niken. Hans menempelkan bibirnya ke bahu Niken. Sementara Niken menempelkan telunjuknya ke bibirnya.


"Tante mau minta kamu nemenin tante shoping dan treatment ke salon. Kau bisa? Tapi kita bersama Tia ya." Kata Dina.


"Eee... Sama Tia ya, tante?" Lagi-lagi dengan Tia. Niken menghela nafas. Sebenarnya Niken malas jika harus ada Tia disana.

__ADS_1


"Iya kenapa? Kau tidak suka?"


"Uhmm. Eehh nggak apa-apa tante. Iya tante, jam berapa?" Tanya Niken.


"Jam 9 aza gimana?"


"Iya tante." Niken melempar ponselnya ke meja.


"Kenapa? Mama mengajakmu kemana?" Tanya Hans.


"Shoping." Jawab Niken pendek.


"Wahhh mama bener-bener deh. Besok kan waktunya kamu sama aku liburan. Sini, biar aku yang telepon." Hans juga merasa mamanya keterlaluan kepada Niken. Tapi Niken mencoba menenangkannya.


"Nggak usah. Nggak apa-apa. Justru aku senang bisa lebih dekat sama mama kamu." Balas Niken. Hans menyapu rambut Niken. "Apa? Kamu mau ciuman lagi?"


"Kamu nggak mau? Ya udah sana-sana." Rajuk Hans.


"Ihhh merajuk."


"Enggak."


"Hans, kau tahu tidak, apa yang aku suka darimu."


"Hidungmu, dan matamu. Kata Bella kau mirip aktor bollywood. Kau tahu siapa?"


"Siapa?"


"Sidharth Malhotra."


"Siapa itu? Aku tuh mirip Shahrukh Khan, tahu." Balas Hans. Niken tertawa cekikikan. Hans memeluk Niken sambil menggelitikinya.


***


Keesokan harinya Niken sudah sampai pukul 9 tepat dirumah tante Dina. Lagi-lagi Tia terlambat. Tia terlambat 30 menit. Dan Dina merasa sangat jengkel sekali. Di mall Dina membeli beberapa baju, gaun, sepatu, dan tas. Niken banyak me-recomended beberapa barang branded. Begitu pun dengan Tia yang mengambil barang seenaknya. Tapi semua itu dibayar oleh Niken. Niken merasa kesal karena diperlakukan tidak adil oleh tante Dina. Saat tante Dina dan Tia saling tertawa dan memilih barang-barang, Niken harus menunggu dan membawakan semua barang-barang mereka.


Niken merasa diperalat oleh tante Dina, menjadi sopir dan pelayan dalam satu hari. Niken juga mengajak tante Dina ke salon miliknya.


"Selamat siang. Bisa saya bantu?" Tanya seorang pelayan salon dan spa.


"Ohya, saya minta kelas viv untuk tante Dina dan saya. Dan kelas biasa buat nona ini." Jawab Niken menunjuk Tia.


"Lho koq aku kelas biasa sih." Katanya iri dan mengernyitkan dahinya kepada Niken.

__ADS_1


"Ohhh kamu mau kelas viv? Ya udah kasih aza. Tapi bayar sendiri ya." Balas Niken dengan kesal.


"Ehhh enak aza. Nggak bisa gitu dong." Tukas Tia.


"Ya trus mau gimana? Mau tante Dina yang bayar? Ehhh kamu pake otak dong, Tia. Tadi kamu ambil baju seenaknya itu siapa yang bayar? Aku. Kayaknya, kamu emang sengaja peralat tante Dina ya." Jawab Niken marah dan kesal.


"Ya udah nggak apa-apa biar tante yang bayar aza." Ujar Dina. Tia tersenyum puas.


"Ehh nggak usah tante. Dia kalau dikasih hati minta jantung." Kata Niken sambil menunjuk Tia.


"Ehhh jaga mulutmu ya?" Tunjuk Tia.


"Kenapa? Benar bukan apa yang aku katakan? Kau memanfaatkan tante Dina untuk mendapatkan hati Hans? Dan kau menguras harta tante Dina untuk kepentinganmu sendiri. Kau pikir aku tidak tahu apa rencanamu?" Emosi Niken naik pitam.


"Tante lihat sendiri, bukan? Apa yang sudah dia katakan? Dia ini perempuan yang tidak baik." Lagi-lagi Tia menunjuk Niken. Dan Niken menelintir jari telunjuk Tia dengan kasar.


"Aku bukan orang yang bodoh. Jika kau mempermainkan tante Dina, aku akan membongkar semuanya. Termasuk perilaku kejahatanmu " Ancam Niken. Tia terdiam.


"Tante, begitulah Niken yang sebenarnya. Dia tidak bermoral dan tidak tahu sopan santun." Balas Tia.


"Aku tidak tahu, kau menghasut tante Dina dengan kata-kata apa. Tapi ingat, kau harus membayar perbuatanmu 10 tahun yang lalu. Dan aku tidak akan membiarkan Hans jatuh ke pelukanmu." Ancam Niken. Tia naik pitam dan mendorong Niken dengan kesal.


"Aku tidak takut dengan ancamanmu. Tante Dina akan lebih mempercayaiku dibandingkan denganmu." Ujar Tia.


"Cukup. Cukup. Kalian sama saja."


Niken merasa percuma saja menjelaskan apapun tentang Tia kepada tante Dina.


"Siska, beri dia kelas viv dengan harga yang murah." Tukas Niken akhirnya.


"Baik bu." Jawab pelayan spa itu.


Dina memandang Niken dengan heran.


"Tapi ingat, aku tidak akan membayar biaya salon dan perawatanmu disini." Tegas Niken kemudian berlalu meninggalkan Tia.


"Silahkan kesini, bu." Kata pelayan yang tadi.


"Iya. Ohya kau mengenal Niken?" Tanya Dina kepada Siska pelayan spa.


"Ohh bu Niken. Dia yang punya salon ini, bu." Jawab Siska. Tia terperangah mendengarnya. Sialan. Gerutu Tia. Begitu pun dengan Dina yang tidak mempercayai bahwa Niken memiliki salon sendiri.


...***...

__ADS_1


__ADS_2