
"Niken, aku mencintaimu." Aku Hans dengan sungguh-sungguh. Niken menahan nafas sebentar. Menatap Hans dengan perasaan yang sangat berbeda dari biasanya.
"Aku juga... Mencintaimu."
"Look, I don't know what to say. But... Aku nggak tahu dengan perasaanku sendiri. I just wanna say, aku nggak tahu gimana caranya mencintaimu. And I think, I don't love you." Balas Niken, ia tahu apa yang diucapkannya tidak sesuai dengan apa yang ia rasakan. Bagi Niken, jatuh cinta itu adalah hal tersulit yang bisa ia terima, tapi entah bagaimana kepada Hans ia merasakan hal yang berbeda. Ia tidak tahu apakah itu cinta atau hanya perasaan sesaat saja? Hans masih menatapnya dengan lekat. Tidak ada lagi jawaban yang bisa ia katakan, kecuali hanya menatap mata Hans dengan sungguh-sungguh. Dan sebenarnya hati yang Niken punyai saat ini adalah untuknya. Untuk Hans. Karena hanya Hans, satu-satunya lelaki yang selama ini dekat dengan dirinya. Hanya Hans satu-satunya yang bisa ia percayai.
"See, I will make you fall in love with me." Kata Hans dengan percaya diri. Niken menahan nafas, "tidak ada yang bisa membuatku nyaman kecuali kau Hans. Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya mencintai. Apakah itu menyenangkan atau menyedihkan? Aku hanya tidak ingin merasakan kepahitan dan kegetiran untuk menjalaninya. Hanya itu. Aku tahu mungkin ini berat bagimu. Tapi Hans, saat kau mencoba untuk meyakinkanku tentang cinta itu. Aku yakin, kalau aku jatuh cinta kepadamu. Sejak pertama kau dan aku saling mengenal pada waktu itu." Batin Niken.
"How too...?"
"Bimil..." Jawab Hans dengan menggunakan bahasa Korea yang artinya rahasia.
Niken memukul lengan Hans "Kau itu selalu menyebalkan, bagaimana aku bisa jatuh cinta kepadamu? Dasar playboy."
"Playboy katamu? Hey bagaimana kalau aku berhasil membuatmu jatuh cinta kepadaku?" Imbuh Hans.
"Coba saja dulu." Balas Niken.
"Do you challenge...?"
"Yes I'am... show me now."
"Kau mau apa?"
"Apa saja terserah." Balas Niken. "but now, aku lapar. I wanna eat fried rice, Okay." Lanjut Niken. Hans menyeret piring nasi goreng milik Niken.
"Hans...?"
"Iya Niken..."
"Itu piringku."
"Ohhh itu piringmu. Aku pikir piring ibu kantin."
"Iya maksudku itu piring ibu kantin. Tapi aku mau makan." Tukas Niken.
"Mau makan ya...?" Niken menganggukkan kepala dengan memanyunkan bibirnya ke depan. Sementara Hans dengan sengaja menodongkan pipinya tepat ke hadapan.
"What?"
"Kiss." Balas Hans.
"No."
"Ohhh ayolah. Aku ingin kau menciumku." Kata Hans.
"Nggak mau. Hans awas, aku mau makan."
__ADS_1
"Aku nggak akan kasih makananmu kalau kau tidak menciumku." Ujar Hans. Niken mencubit perut Hans.
"Awww..."
"Makanya jangan jahil." Katanya. Lalu segera ia mengambil makanan yang Hans sembunyikan tadi.
"Aku nggak jahil. Tapi..."
"Tapi apa?" Niken menyuap nasi gorengnya.
Hans menggelengkan kepalanya lalu menyuap nasi goreng miliknya. Bagiku, kau adalah perhiasan dunia yang sangat indah. Bagiku, kau adalah bidadari dunia yang sangat cantik dan menawan. Niken, you have to know, tidak ada perempuan yang membuat aku tergila-gila kecuali kau. And I know, your only one for me." Batin Hans. Kemudian ia mengacak-acak rambut Niken.
"Lucu." Ketus Hans.
"Siapa yang lucu?" Tanya Niken sambil mengunyah makanannya.
"Kau."
"Memangnya aku badut apa. Pake lucu segala. Makan..."
"Hhehe... Iya sayang..." Balas Hans. Dalam hati Niken tersenyum senang saat Hans memanggilnya dengan kata itu. Sebuah panggilan yang sangat menyenangkan hatinya. Menenangkan hatinya. Dan membuatnya terbang jauh ke angkasa.
Bella tak sengaja memergoki Niken dan Hans sedang berduaan lagi. Tadinya Bella hendak meminta file sk yang diminta operator kampus kepada Niken. Tapi karena melihat keduanya sedang bermesraan. Bella mengurungkan diri untuk mengetuk pintu.
"Mereka berdua pacaran ya?" Sebuah suara mengejutkan Bella. Amir berdiri tepat dibelakang Bella.
"Mereka berdua memang pacaran ya?" Amir mengulangi pertanyaannya.
"Mungkin." Jawab Bella.
"Kau kan teman dekatnya Niken. Harusnya kau tahu dong." Tukas Amir.
"Apaan sih. Nggak semua gue harus tahu dong. Lagi pula nggak penting mereka pacaran atau nggak. Bukan urusan gue pula." Jelas Bella sambil berjalan menuju ruangannya.
"Ehh Bel, makan yuk."
"Enggak. Gue udah kenyang." Ketus Bella.
"Yahhh elu diajak makan siang aja susah amat sih Bel." Kata Amir.
"Kalau gue bilang enggak ya enggak. Jangan maksa dong Amir." Balas Bella.
"Kalau gitu, kita pacaran yuk?" Kata Amir.
"Pacaran lu peyang."
"Kalau gitu kita nikah aja yuk?" Kata Amir sambil nyengir. Bella menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Gila lu. Ngajak Nikah kayak ngajak jajan aja. Mending sekarang, elu cari makan sendiri." Tutur Bella.
...*** ...
"Bahagia. Kebahagiaanmu sendiri. Bebaskan hatimu. Bukalah lebar-lebar perasaanmu. Raih cinta dengan energi yang positif. Cinta itu membahagiakan. Cinta memberikan energi yang kuat untuk kita membuka hati pada kebahagiaan. Kenyamanan, kehangatan, senyuman, getaran, melayang jauh tinggi, dan dunia terasa milik berdua itu adalah nyata karena cinta membahagiakan. Tidak ada yang namanya cinta yang salah, jika kau melihat ketulusan. Tapi cinta yang salah akan selalu terlihat walau hanya setitik. Tuhan tidak akan membiarkan kita menderita karena cinta. Jika ada, itu bukan cinta tapi pilihannya yang salah. Cinta itu bersyarat, syaratnya adalah bahagia. Jadi bahagiakanlah dirimu sendiri sebelum membahagiakan orang lain" Kalimat Tanu selalu terngiang di dalam pikirannya. Niken selalu berusaha untuk melepaskan semua ikatan yang membelenggunya selama ini. Tapi bayangan masa lalunya lebih kuat dibandingkan dengan kedamaian yang ada di dalam hatinya. Berulang kali pun ia mencoba melepaskannya tapi tetap saja Niken tidak bisa. Tidak mampu untuk bisa melepaskannya sendirian.
Bel suara pintu berbunyi, Niken bergegas membukanya. "Hans..." Lelaki itu tersenyum ramah. Dia membawa dunkin donut dan dua cup es krim. Niken menelan ludah dengan heran.
"Kau... Mau apa datang ke rumahku?" Tanya Niken masih mengernyitkan dahinya.
"Aku berkunjung ke tetangga." Jawabnya. Hans duduk diruang tengah, membuka donat yang tadi dia bawa dan es krim cokelat yang tampak nikmat dilahap.
"Duduklah, jangan sungkan. Aku beli dua es krim cokelat untukmu. Ayo ayo..." Kata Hans. Niken duduk di sampingnya. "Ayo mangap... Aaaa..." Niken menurut dan Hans memasukkan donat ke dalam mulut Niken. "Bagaimana? Enak?"
"Tentu saja enak. Ini kan makanan." Balas Niken.
"Aku tidak pernah salah." Tukasnya.
"Apa?" Hans menggelengkan kepalanya.
"Kapan terakhir kau bisa makan enak?" Tanya Hans, mulutnya penuh dengan makanan.
"Kenapa kau bertanya begitu?"
"Hanya ingin tahu saja."
"Aku selalu menikmati apa yang aku makan. Dan selalu makan enak." Jawab Niken.
"Sungguh?"
"Kenapa? Kau tidak percaya?"
"Kali ini kau beruntung." Tukas Hans.
"Beruntung kenapa?"
"Karena telah makan bersama lelaki tampan se-Indonesia." Hans memuji dirinya sendiri. Niken hampir saja tersedak. Dengan cepat Hans mengambilkan segelas air mineral.
"Hey, sejak kapan tamu mengambil minum sendiri." Ketus Niken.
"Aku ini istimewa, makanya kau tidak perlu memberiku air. Aku akan masuk dan mengambil airku sendiri." Balasnya.
"Kau itu aneh."
"Ayo minum dulu." Niken meminum segelas air mineral langsung dari tangan Hans.
"Meskipun aneh, aku tetap akan selalu mencintaimu." Ujarnya. Niken menelan ludah. Sebenarnya tanpa Hans berusaha untuk membuat Niken jatuh cinta kepadanya. Niken sudah mencintai Hans. Namun, Niken masih meragukan perasaan tulusnya. Apakah itu benar cinta atau bukan? Sebab apapun yang ia rasakan saat ini, sepenuhnya adalah sebuah kedilemaan.
__ADS_1
***