
Setelah mengusir Kezia dari apartemennya Hans, Niken menghidangkan semua makanan yang ia masak di meja makan. Niken menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya pelan-pelan. Kini ia sedang mengontrol emosinya. Karena ia tidak ingin menghancurkan apa yang sudah ia rancang sejak tadi sore sepulang kerja.
"Niken..." Seru Hans. Niken menoleh. Hans menelan ludah, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat sebelumnya. Pertengkaran antara Niken dan Kezia, serta cara Niken mengusir Kezia. Hans penasaran sekali, mengapa Niken mampu melakukan hal itu kepada Kezia.
"Huh? Ada apa?" Tanya Niken. Hans menggelengkan kepalanya. Ia menelan ludah. Ia masih memperhatikan setiap gerakan wanita yang dicintainya itu.
"Makanlah. Aku sudah menyiapkannya untukmu." Ujar Niken.
"Niken, Kezia itu tamuku. Kau tidak berhak untuk mengusirnya." Balas Hans dengan pelan. Niken menyipitkan kedua matanya. Saat ini perasaannya campur aduk. Ia mungkin tidak bisa menjelaskan semuanya kepada Hans. Kesal juga sih, kenapa Hans malah memihak Kezia.
"Kau tidak mengenal Kezia, Hans."
"Of course aku mengenalnya dia itu temanku, Niken. Kau tidak boleh seperti itu. Menamparnya, mengusirnya, dan kau bertindak kasar." Kata Hans.
"Kau tidak tahu masalahnya." Niken meletakkan piring dimeja makan.
"Apapun masalahmu. Kau tidak boleh bertindak kasar."
Niken muak dengan sikap Hans. Ia merasa sangat frustasi saat itu. Terlebih lagi Kezia mengungkit masalahnya di masa lalu. "Aku datang kesini bukan untuk berdebat denganmu. Tapi aku rasa, kau tidak akan pernah mengerti perasaanku." Tutur Niken.
"Kau mau kemana?" Hans menahan lengan Niken.
"Pulang." Jawabnya. "Aku rasa, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Semuanya terserah kepadamu." Lanjut Niken. Malam itu perasaannya berkecamuk. Niken mengurung diri dikamar mandi. Ia duduk dibawah shower yang membasahi dirinya. Membiarkan air matanya menyatu dengan air mengalir.
***
"Aku tidak bisa menggambarkan perasaanku. Aku tidak suka melihatnya bersama perempuan lain. Tapi aku tahu, aku juga bersalah dalam hal ini. Aku tidak menjelaskan mengapa aku marah kepadanya. Miss Tanu, apakah yang kurasakan ini adalah cinta?" Tanya Niken saat ia menjalani terapinya. Tanu bahagia sekali, karena akhirnya Niken merasakan getaran yang tidak membuatnya merasa takut. Tanu merasa berhasil atas terapinya terhadap Niken. "Ciuman itu, seakan membuatku bergetar. Dadaku berdegup lebih keras. Seluruh aliran darahku terasa hangat. Terkadang, aku merasa bahagia sekali melihat wajahnya. Aku tidak ingin waktu cepat berlalu. Karena jika aku dengannya berpisah, aku merasa sangat merindukannya. Aku merasa melayang ke udara ketika dia memelukku, menciumku, dan membelai rambutku dengan penuh mesra. Aku merasa dia menjadi bagian diriku. Dan aku benci sekali, jika melihat dia bersama perempuan lain. Aku, aku benci itu miss Tanu. Sebenarnya perasaan apa ini?" Lanjut Niken. Tanu tersenyum bangga.
__ADS_1
"Itu cinta. Kau mencintai lelaki itu, Niken. Hebat Niken, kau hebat sekali. Kau mampu menghilangkan rasa takutmu itu." Jawab Miss Tanu.
"Sekarang kita program kebahagiaanmu dengan sebuah instrument yang indah." Kata Tanu, Niken bersiap menjalankan terapi. Untuk sejenak Niken membayangkan kembali ciuman pertama dengan Hans. Sentuhan hangat Hans. Senyuman, tertawa, kebahagiaan, marah, kecemburuan, keberanian, dan energi positif lainnya bermunculan dilayar. Niken memiliki perkembangan yang signifikan. Terapinya akan naik ke level 'kedamaian', dimana kelak, Niken akan dihadapkan dengan sebab akibat terjadinya philophobia tumbuh didalam diri Niken.
"Apa aku harus mengatakannya? Bahwa aku mencintainya?" Tanya Niken setelah selesai terapi. Miss Tanu menganggukkan kepala setuju.
"Katakan. Katakanlah Niken. Jelaskan kepadanya, bahwa kau cemburu. Bahwa kau tidak menyukai dia bersama perempuan lain. Katakanlah." Tanu mendukung Niken untuk mengatakan cinta kepada Hans. Tanu percaya bahwa Niken adalah satu-satunya perempuan yang Hans cintai, begitu sebaliknya.
Niken
Bisakah kita bertemu malam ini?
Niken mengirim pesan kepada Hans.
Hans
Aku juga ingin bertemu denganmu. Kau mau aku pesankan pizza? Kita makan di apartemenku.
Niken
Hans
Aku akan menunggumu.
Niken tersenyum ketika membaca pesan dari Hans sambil menunggu hasil rekam kejiwaannya. Tiba-tiba seseorang menyerunya.
"Haiii Niken... Kau juga disini? Apa kau ada masalah dengan kejiwaanmu?" Kata Kezia dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Kau..." Tunjuk Niken.
"Oohh iya, aku baru ingat. Semalam Hans mengirimkan aku pesan. Kau mau tahu apa isi pesannya? Dia bilang, dia minta maaf atas perbuatanmu tadi malam. Sudah kubilang, Hans itu mudah sekali ditaklukan. Aku dan Hans sudah sangat dekat sekali. Karena aku yakin Hans akan luluh kepadaku. Kau tahu Niken, semua laki-laki sama, mereka pasti akan seperti itu. Yaitu menginginkan lebih dari sekedar ciuman." Tutur Kezia.
"Jaga ucapanmu." Balas Niken.
"Oops, maaf Niken, lagi-lagi aku merebut pacarmu. Tapi tenang saja, aku kan baik. Aku bisa berbagi suami denganmu. Agar kau bisa merasakan apa yang aku rasakan. Kau tahu bukan maksudku?" Ejek Kezia. Emosi Niken naik pitam. Ia menjambak rambut Kezia.
"Kau tidak akan pernah bisa merebut Hans dariku. Aku tidak akan membiarkan masa depanku terenggut lagi olehmu. Kau bajingan brengsek." Balas Niken. Lalu dengan berani ia menampar Kezia dengan sangat keras. Kezia terkejut, ia pun membalas menampar Niken. "Kau tidak pantas untuk Hans. Kau adalah pelacur." Teriak Niken. Kezia menjambak rambut Niken. Tidak menerima dengan semua kalimat yang Niken lontarkan. Mereka pun berkelahi. Semua orang melihat pertengkaran sengit antara Niken dan Kezia. Penjaga keamanan pun tak mampu memisahkan mereka. Akhirnya Tanu yang harus turun tangan.
"Ada apa ini?" Tanya Tanu. "BERHENTI." Teriak Tanu. Kezia dan Niken pun menghentikan pertikaiannya.
"Kezia. Lagi-lagi kau. Kau selalu mencari keributan. Aku sudah merekomendasikanmu ke psikiater, kalau begini terus aku tidak bisa menjamin kau bisa sembuh dari penyakit mentalmu. Kau bisa-bisa mengalami skizofrenia stadium 4." Kata Tanu kesal, karena bukan sekali Kezia mencari keributan dengan pasien lainnya. Kerap sekali Kezia bertengkar dilingkungan sekitarnya.
Niken terkejut melihat Tanu begitu emosi. Tanu dibantu oleh perawat lainnya, memapah Kezia. "Bawa dia ke rumah sakit jiwa." Ujar Tanu kesal.
"Lepaskan aku. Aku janji Tanu. Aku akan berubah. Aku janji padamu, aku tidak gila. Jangan bawa aku ke rumah sakit jiwa. Aku mohon Tanu." Kata Kezia memohon.
"Bawa dia." Tanu memerintah. Kezia dibawa oleh 2 orang perawat.
"Miss Tanu, memangnya kenapa dengan Kezia?" Tanya Niken.
"Dia penderita skizofrenia, Niken. Kasusnya sudah banyak. Hiperseks, pornografi, halusinasi, bipolar, dan banyak lagi. Sebenarnya Kezia harus dirawat di rumah sakit jiwa." Jelas Tanu.
Niken teringat peristiwa yang menimpa Via 10 tahun yang lalu. Ia dan ketiga sahabatnya menangis karena kejadian yang menimpa Via. Karena Kezia-lah, ya benar. Karena perempuan itu, Via, Elsa, Naina, Naira dan dirinya menjadi korban nafsu bejad si Kezia.
Tiba-tiba Niken mendapatkan pesan dari Arfand, kakak seniornya dulu. Mereka memiliki janji bersama, untuk menjelaskan semuanya tentang Via.
__ADS_1
(Baca. Without You)
***