One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Enambelas


__ADS_3

"Assalamualaikum..." Tiba-tiba pintu dibuka dan Sheirna anak Tanu yang berusia 8 tahun memberi salam.


"Wa'alaikumsalam." Balas Tanu dan Niken bersamaan.


"Hai tante Niken yang cantik. Sudah diterapi ya?" Tanya Sheirna sambil sun tangan kepada Niken.


Niken tersenyum, "anak pintar. Sudah dong." Jawab Niken sembari melempar senyum kepada Sheirna.


"Dapat es krim dari mana?" Tanya Tanu kepada putrinya.


"Dibelikan om Hans. Tadi Sheirna ketemu sama om Hans. Terus om Hans ngajak beli es krim ke swalayan sebelah. Sama beliin Sheirna boneka barbie. Cantik deh, mah. Oh iya mah, tadi aku cerita sama om Hans. Kalau minggu kemarin aku sama mama sama papa jalan-jalan ke Yogya. Terus om Hans bilang, katanya kalau nanti kita ke Yogya lagi, om Hans pengin diajak. Ya udah aku bilang aza kayak gini, kalau om Hans pengin ikut. Om Hans harus nikah dulu biar sekalian honeymoon. Kayak waktu mama sama papa dulu." Celoteh Sheirna. Niken dan Tanu tertawa mendengar celotehan anak berusia 8 tahun. Niken bahagia sekali melihat Sheirna yang lincah dan menggemaskan. Niken suka anak-anak, ia juga sering memberikan mainan ataupun makanan untuk Sheirna.


"Udah bilang makasih belum sama om Hans?" Tanya Tanu.


"Udah dong. Kan mama suka bilang, kalau ada yang kasih kita makanan ataupun barang. Kita harus bilang makasih." Jawab Sheirna.


"Pinter banget anak mama." Puji Tanu.


"Miss kalau gitu aku pamit ya. Tante pulang ya sayang." Kata Niken.


"Tante, mau kenalan sama om Hans nggak?" Sheirna menarik rok Niken. Niken tersenyum. "Khasian dia belum dapat-dapat jodoh." Lanjutnya. Niken terkekeh lagi.


"Boleh." Kata Niken sambil membungkukkan badannya. Niken tidak tahu om Hans siapa yang Sheirna maksud. Niken pikir nama Hans itu banyak dan pasaran.


"Mah telepon om Hans dong, katanya om Hans pengin dicariin jodoh sama Sheirna." Kata Sheirna.


"Lho emang Sheirna udah punya calon buat om Hans?" Tanya Tanu. Sheirna menganggukkan kepala dengan yakin. "Siapa?"


"Tante Niken." Jawabnya. Niken terkesiap mendengarnya. Lalu ia tersenyum. Niken berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Sheirna.


"Emang om Hans Sheirna kayak gimana sih orangnya? Tante Niken jadi penasaran." Tukas Niken.


"Om aku ganteng banget lho tante. Dia juga baik, suka ngasih es krim sama Sheirna. Om Hans juga orangnya lucu. Jadi, Sheirna mau jodohin tante Niken yang cantik. Sama om Hans yang ganteng. Biar nanti kalau punya baby, babynya cantik atau ganteng. Nanti sama Sheirna dijagain." Tutur Sheirna dengan gayanya yang lucu. Niken tertawa ringan mendengar semua kalimat anaknya Tanu.


"Mah, video call om Hans dong. Biar tante Niken kenalan." Ucap Sheirna.


"Yahhh kuota mama habis sayang. Belum mama isi. Nanti ya." Balas Tanu.


"Uhmmm fotonya aza dulu mah. Biar tante Niken bisa lihat." Ujarnya. Tanu memberikan ponselnya kepada anaknya. Lalu dengan semangat Sheirna memperlihatkan foto Hans.


"Ini tante. Ini foto om aku." Begitu Niken melihat foto yang Sheirna maksud. Niken pun terkejut.

__ADS_1


"Hans?" Ternyata om Hans yang dimaksud oleh Sheirna adalah orang yang sama dengan yang ia ceritakan kepada Tanu.


"Iya dia Hans, temanku." Kata Tanu.


"Dia juga lelaki yang aku maksud tadi, miss Tanu." Balas Niken.


"Benarkah?" Tanu pura-pura terkejut padahal sebenarnya ia sudah mengetahuinya. Niken menganggukkan kepala.


"Kau tidak akan membongkar rahasia aku kan?" Kata Niken. Tanu tersenyum.


"Tentu saja tidak. Tenang saja rahasiamu aman." Balas Tanu.


"Dahhh Sheirna."


"Bye bye..."


...***...


Hans melihat Niken masuk ke mobil taksi. Ia menghembuskan nafasnya.


"Kau ingat perempuan yang aku ceritakan kemarin?" Ujar Hans memulai percakapan. Tanu mengangguk.


"Ya tentu saja. Kau sangat ingin bertemu dengannya." Hans mengangguk.


"Tunggu, Niken, Niken siapa maksudmu?" Tanya Tanu.


"Niken Khana." Jawab Hans pendek.


"Sungguh?" Tanu mengangkat kedua alisnya tak percaya. Hans mengangguk. "Dia pasienku. Dia baru saja masuk ruangan terapi." Lanjut Tanu


"Ya, aku bertemu lagi dengan Niken di Seoul. Dan saat aku melihat identitasnya, aku sengaja pindah apartemen dan melamar pekerjaan di tempat dia bekerja. Aku sengaja melakukan hal itu hanya untuk dia." Jelas Hans terus terang.


"Dan karena dia juga kau insyaf jadi playboy?" Selidik Tanu.


"Ahk ceritanya panjang Tanu, tapi kau harus tahu Niken itu berbeda dari perempuan lain, Tanu. Dia itu spesial. Dulu saat aku mendekatinya, dia berbeda dari yang lain. Lalu entah bagaimana semakin aku melupakannya, semakin aku merindukannya. Dan ada hal yang sangat aku ingin tahu tentang diri Niken." Jelas Hans.


"Apa itu?" Tanya Tanu.


"Ada sesuatu yang sangat membuatku penasaran. Dulu, tidak sengaja aku mendengar percakapan sahabatnya bahwa Niken penderita philofobia. Saat aku mencari tahu di artikel. Dan itu mengarah kepada rasa trauma yang dialaminya dulu. Anehnya saat bersamaku dia tidak pernah merasa takut. Dan kau tahu, kepribadiannya selalu membuatku bingung. Kadang dia marah, kadang dia diam saja. Dan entah kenapa akhir-akhir ini dia selalu menghindariku." Tutur Hans.


"Jadi itu alasanmu mengikuti Niken sampai ke biro konsultanku." Balas Tanu. Hans menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Dan kau tahulah, Tanu. Aku ingin tahu dengan keadaan Niken yang sebenarnya. Apalagi tentang fobianya." Ucap Hans.


"Hans, kau tahu bukan aku punya kode etik sendiri. So, I can't help you." Ujar Tanu.


"Oh ayolah Tanu. Masa kau tidak bisa membocorkan sedikit saja tentang kondisi Niken kepadaku. Tenang saja, aku bisa menjaga rahasianya koq." Hans berusaha membujuk.


"I'm so sorry Hans."


"Okey, begini saja. Kau tidak perlu mengatakan tentang kondisi Niken. Yang perlu kau jelaskan adalah tentang philophobia saja. Itu saja." Kata Hans. Tanu tersenyum mendengar kalimat Hans yang hampir menyerah itu.


"Kau sungguh mencintainya?" Selidik Tanu. Hans mengangguk.


"Sangat." Katanya. Tatapannya sangat meyakinkan. Baru kali ini, Tanu melihat kesungguhan Hans.


"Kau janji akan selalu ada didekat Niken, apapun yang aku katakan padamu." Ujar Tanu. Hans mengangguk dengan yakin.


"Dengar, Niken memang pasienku dan penderita philofobia. Diafragma emosinya selalu naik turun. Maafkan aku karena tidak bisa membantu banyak. Karena, kau tahu sendiri. Ada kode etik yang harus tetap aku jaga. Menceritakan data pasien sama saja seperti membongkar aib diri sendiri." Tutur Tanu.


Hans menarik nafas, menundukan kepala. Sia-sia ia ke kantor Tanu. Ia tidak menemukan apa-apa.


"Bagaimana dengan kondisi Niken sekarang?" Tanya Hans.


"Frekuensi emosinya cukup baik. Niken masih harus terapi banyak hal. Dan dia masih belum mempercayai tentang cinta dan keberadaan cinta. Niken masih menganggap semua lelaki sama bajingannya. Dalam lingkar pikirannya masih berpusat pada masa lalu. Kebencian, dendam, dan trauma melingkar tepat pada pusat otaknya. Sehingga tidak ada celah baginya untuk membagi pada kebahagiaan masa lalu, masa kini ataupun mimpi masa depan yang indah." Jelas Tanu sebagai psikolog pribadinya.


"Kira-kira apa yang bisa aku lakukan untuknya?" Hans menundukan kepalanya dengan kedua tangan yang didekatkan pada bagian hidungnya.


"Tanyakan perasaannya. Dan sampaikan perasaanmu kepadanya. Itu akan mempengaruhi kondisi psikis Niken. Dan membuka ruang-ruang yang lain, yang mungkin akan terasa menyakitkan tapi itulah masa pemulihan. Dimana ia harus memaafkan, berdamai, mengikhlaskan, mencintai dan berbahagia." Jelas Tanu.


"Kau tahu Tanu, aku sangat beruntung memiliki sahabat sepertimu. Cantik, cerdas dan bijak. Kau psikolog terbaik yang aku temui." Puji Hans.


"Itu karena kau tidak mengenal psikolog lain selain diriku." Balas Tanu. Hans tertawa.


"Tapi sungguh kau memang cantik Tanu." Puji Hans.


"Kau memujiku? Karena ada maunya kan?" Selidik Tanu.


"Ahk aku tidak bisa berbohong padamu."


"Cari tahulah sendiri. Apa yang membuat Niken merasa trauma. Itu tidak sulit, juga tidak mudah." Kata Tanu.


"Ahhh baiklah."

__ADS_1


"Ohya, apakah hari ini kau bahagia?" Tanya Tanu. Hans mengernyitkan dahinya. "Tanyakan itu pada Niken setiap hari? Dan jangan lupa, kau juga harus bahagia." Sambung Tanu. Hans tersenyum. Benar. Tanu benar. Hal terpenting dalam hidup ini adalah kebahagiaan. Apakah kebahagiaan selalu ada didalam diri kita?


...***...


__ADS_2