One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Empat puluh satu


__ADS_3

Wajah Niken tampak lebih berseri setelah keluar dari rumah sakit. Namun Niken harus melakukan terapi psikologis dari Tanu, sebelum akhirnya ia pulang ke apartemennya.


"Bagaimana, Niken?" Tanya Tanu. Niken menghela nafasnya.


"Aku pikir akan sangat berat, tapi itu mudah." Jawab Niken.


"Kau melakukannya dengan sangat baik. Ohya, apakah orangtuamu sudah mengetahui kondisi psikismu saat ini?" Ujar Tanu. Niken menggelengkan kepala. "Kau masih ragu untuk mempercayai mereka?" Pungkas Tanu. Niken mengangguk.


"Emmm, aku tidak tahu apakah memberitahukan kondisi kesehatanku kepada mereka akan membuatku nyaman atau tidak. Tapi, aku tidak ingin membuat mereka khawatir." Balas Niken.


"Ada dua hal yang harus kamu tahu, sesuatu yang bisa kita kendalikan. Dan sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Yaitu perasaan kita dan perasaan orang lain. Kita bisa mengendalikan diri kita sendiri. Tapi kita tidak bisa mengendalikan perasaan orang lain. Dan you know Niken, besarnya cinta keluargamu tidak akan mematahkan apapun. Mereka adalah tempat kembalinya kita setelah kita berpergian jauh." Jelas Tanu. Niken menghembuskan nafasnya.


"I know. Maybe I'll tell them later." Jawab Niken.


"Okey. I hope your always love you." Jelas Tanu.


"Thank you Tanu."


"Your welcome."


"Hans...?" Seru Tanu saat mereka keluar bersamaan.


"Yaa..."


Tanu memandang sahabatnya, kemudian berganti memandang Niken. "I believe you." Ujar Tanu. Hans tersenyum.


"Terimakasih Tanu." Balas Hans.


"Aku yang harus berterimakasih padamu, karena kau telah hadir ke dalam kehidupan Niken. Banyak sekali perubahan dalam diri Niken setelah ia bertemu denganmu." Jelas Tanu.


"Miss Tanu." Niken menyela. Tanu dan Hans tertawa. Niken mencubit perut Hans.


"Hati-hati ya " Kata Tanu. Kemudian mereka meninggalkan biro.


Mereka sampai didepan pintu apartemen masing-masing. "Aku tidak bisa meninggalkanmu, kau mau tidur dimana?" Tanya Hans.


"Aku menginap di apartemenmu saja." Jawab Niken sambil menggenggam tangan Hans.


"Kalau begitu kita berkemas dulu." Katanya. Hans menemani Niken mengemasi beberapa bajunya.


"Ohya..." Kata Niken mengingat sesuatu. Niken mengambil skincare dan alat make up-nya.


"Kau akan membawa semua itu ke apartemenku?" Tanya Hans tak percaya. Niken mengangguk.

__ADS_1


"Aku akan bawa hair dryer, curling, dan catokan. Ohya, aku juga akan membawa bodycare-ku. Uhmm, shampo, conditioner, vitamin rambut, hair spray dan tonic." Imbuh Niken.


"Sebanyak itu?" Hans menggelengkan kepala tak percaya. "Kau bukan mau pindah rumah yang jaraknya puluhan kilometer Niken. Kau hanya pindah ke apartemenku yang hanya selangkah saja." Imbuh Hans.


"Kenapa?" Niken cemberut, "kau tidak suka?" Niken menyilangkan kedua tangannya ke dada.


"Bukan begitu, maksudku, kau tidak perlu membawa semua barang-barangmu ke apartemenku." Jelas Hans.


"Tapi aku butuh semua ini, Hans." Niken membela diri. Hans menghela nafas dan membiarkan Niken bertindak semaunya.


"Baiklah." Katanya akhirnya. Niken tersenyum senang.


"Ahh. Kita melupakan sesuatu." Kata Niken. Hans menoleh, "bagaimana kalau Haya datang? Lalu bertanya mengapa aku ada di apartemenmu? Lalu dia curiga dan salah paham tentang kita." Lanjut Niken.


"Kau tidak perlu khawatir. Aku bisa mengurus Haya." Jawab Hans santai. Niken kembali tersenyum.


Niken merapikan barang-barangnya ke lemari Hans. Pun dengan skincare-nya yang disimpan di meja rias Hans.


"Aku menaruh lotion dan parfume-mu disini ya." Kata Niken. Hans mengangguk, lalu ia berbaring dikasurnya. Niken menoleh.


"Kemarilah." Hans menepuk kasurnya, memberikan isyarat kepada Niken untuk menghampirinya. Niken duduk disamping Hans. Hans menarik lengan Niken dan memeluknya.


"Aku masih takut kalau Haya tiba-tiba datang." Tukas Niken.


"Apakah aku harus mengganti password pintu apartemenku?" Tanya Hans.


"Lalu bagaimana?" Hans merapikan rambut Niken dan menatapnya penuh dengan cinta.


"Aku tidak tahu." Kata Niken.


"Kenapa kau begitu cantik?"


Niken tersenyum malu. Hans mendekatkan bibirnya, dan Niken memejamkan matanya. Hasratnya menggelora. Lama sekali, Niken menunggu bibirnya dicium oleh Hans. Dan Hans tertawa melihat Niken yang mengharapkan ciumannya. Dia tertawa.


"Kau mengerjaiku. Menyebalkan." Niken cemberut kesal.


"Hey...?" Hans menarik kembali lengan Niken, lalu mencium keningnya dengan mesra.


"Kau, tidak mau mencium bibirku?" Tukas Niken sambil menggigit bibirnya. Hans tersenyum lalu menyapu rambut Niken.


"Kenapa? Kau ingin berciuman denganku?" katanya sambil tersenyum. Niken menggelengkan kepalanya, tampak sekali Niken sangat malu. Hans memeluk Niken dengan sangat erat. "Aku sangat mencintaimu." Hans berbisik lembut ke telinga Niken.


Pelan-pelan Niken mendekatkan bibirnya ke bibir Hans. "Aku juga." Balas Niken. Hans ******* bibir Niken dengan mesra. Darah Niken mengalir hangat. Ia merasa terbang ke angkasa. Hanya berdua bersama Hans.

__ADS_1


***


Hans mempersiapkan makanan yang sudah ia masak untuk makan malam. Hans memasak nasi goreng spesial kesukaan Niken. Dengan toping sosis, keju dan ayam suwir.


Niken menyuap makanannya, "bagaimana?" Tanya Hans. Niken mengacungkan jempolnya.


"Ini pertama kalinya kau memasak untukku. Dan sangat enak setelah omelet buatanmu." Puji Niken. Hans menyendok nasi gorengnya dan Niken tidak bohong soal masakannya. Semua bumbu tercampur pas.


"Hans, jangan katakan apapun kepada Bella dan teman-teman yang lain ya." Pinta Niken, Hans mengangguk mengerti.


"Kapan kau akan mengatakan kondisimu kepada ibu dan kakakmu?" Tanya Hans. Niken menggelengkan kepalanya.


"Tidak adakah cara yang lain selain mengatakan kepada ibu dan kakakku?" Balas Niken.


"Apa kau punya rencana yang lain?" Hans menggenggam tangan Niken.


"Tidak. Aku tidak punya rencana apapun. Aku hanya ingin mencintai diriku seperti aku mencintai dirimu, tanpa harus kuberitahu kondisiku kepada mereka. Jika bisa, aku menerima dirimu dengan cepat, kenapa aku tidak bisa menerima diriku sendiri? Apa yang harus aku lakukan?" Tutur Niken.


Hans menghela nafas, lalu ia mendekati Niken. Memeluk Niken dari belakang, "aku akan selalu membantumu. Akan selalu disampingmu. Jadi kita akan melakukannya sama-sama, demi kesembuhanmu." Balas Hans kemudian mencium pipi Niken.


"Terimakasih." Ujar Niken.


Malam sudah larut, Niken dan Hans menyiapkan diri untuk tidur.


"Aku akan tidur di sofa." Kata Hans. Tapi Niken tidak setuju dengan keputusan Hans. Niken tidur dibahu Hans, saat pria itu berbaring di sofa.


"Niken?" Hans terkejut.


"Aku tidak bisa tidur." Jawab Niken.


"Kau mau aku mendongeng?" Usul Hans, Niken mengangguk setuju. Hans mendongeng kisah Romeo dan Juliet, dan itu berhasil membuat Niken terlelap. Hans membopong Niken ke kamar, mencium keningnya lalu menyelimutinya. Ketika ia hendak pergi, tiba-tiba tangannya tertahan.


"Hans...? Tidurlah denganku." Imbuh Niken. Hans mengangguk lalu berbaring disamping Niken. Baik Hans maupun Niken, belum terlelap dalam mimpi. Hans begitu gelisah, begitu pun dengan Niken. Ini adalah untuk pertama kalinya, perasaan Niken tak tenang. Begitu pun dengan Hans yang tidak mampu menahan hasratnya.


"Kau belum tidur?" Kata Niken membuyarkan lamunan Hans. Hans memandangi wajah Niken.


"Kemarilah." Hans meminta Niken untuk mendekatinya. Niken menyenderkan kepalanya ke bahu Hans.


"Jantungmu berdegup lebih cepat." Tukas Niken. Hans tersenyum.


"Aku mencoba menahannya." Balas Hans.


"Menahan apa?" Niken mendongak. Hans mengecup kening Niken lalu turun ke bibirnya. Niken mengganti posisi tubuhnya. Nafas mereka beradu cepat. Niken dan Hans saling menatap.

__ADS_1


"Bolehkah aku melebihi batasku?" Tanya Hans. Niken menelan ludah, ia juga tak sanggup menahan hasratnya. Niken mengangguk pelan.


***


__ADS_2