One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episodes Empat puluh dua


__ADS_3

Hans belajar menyiapkan sarapan ketika Niken sedang bermake-up. Hans membalikkan omelet lalu menghidangkannya di atas piring.


"Good morning..." Sapa Niken dengan mengembangkan senyumnya. Hans menoleh, lalu balas tersenyum.


"Siapa kamu?" Tunjuk Hans.


"Hans...." Hans tertawa melihat kekasihnya cemberut.


"Hhaha, ayo sarapan dulu. Aku sudah menyiapkan omelet untukmu nona cantik." Imbuh Hans. Niken duduk di samping Hans.


"Wow omelet. Terimakasih sayang."


"Omelet istimewa untuk wanita istimewa." Jawab Hans. Niken memeluk Hans, lalu mencium pipinya. "Lagi." Hans menyodorkan pipi sebelahnya. Niken menciumnya lagi. "Kalau begini, setiap hari aku akan selalu mendapatkan ciuman mesra darimu. Apalagi kalau kita menikah. Aku akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia didunia ini." Ujarnya.


Niken tersenyum senang, "Kau mau melamarku?"


"Tentu saja aku akan melamarmu. Menikahimu dan menjadikanmu istri yang teristimewa." Mendengar kalimat itu hati Niken melambung tinggi. Ia tidak bisa membohongi diri lagi jika sekarang ia sangat mencintai Hans.


Istilah dunia menjadi milik berdua itu kini dirasakan oleh Niken dan Hans. Mereka seperti abg yang baru saja di madu cinta. Kemana-mana pegangan tangan.


"Hai Niken, hai Hans...?" Seru Bella.


"Hai..." Balas Niken dan Hans bersamaan.


"Kau sudah sembuh, Ken?" Tanya Bella. Niken mengangguk.


"Sudah. Makanya aku kembali beraktivitas seperti biasa." Jawab Niken.


"Aku senang sekali kau kembali bekerja. Tapi ada apa ini?" Kata Bella sambil melihat kedua tangan mereka yang saling bergandengan. "Kalian berpegangan tangan begitu?"


"Kenapa? Apakah ini terasa aneh?" Tanya Niken. Bella menggaruk kepalanya.


"Eng... Enggak sih. Cuma beda aza gitu." Jawab Bella.


"Kita emang udah pacaran." Aku Niken.


"Wahhh serius?" Bella tak percaya. Niken mengangguk.


"Aku udah telat nih." Tukas Hans sambil melihat jam tangannya.


"Ya udah kita duluan ya, Bel." Kata Niken kepada sahabatnya itu. Bella mengangguk. Penasaran juga, kapan Niken pacaran sama Hans? Apakah sejak mereka ciuman itu? Ataukah...? Ahk, Bella menjitak kepalanya sendiri. Mungkin nanti juga Niken cerita. Tapi seperti yang Bella tahu, Niken tidak akan cerita kalau ia tidak bertanya langsung kepadanya.


Di kampus mereka beraktivitas seperti biasa. Niken mulai sibuk dengan pekerjaannya, begitu pun dengan Hans. Ditengah-tengah kesibukannya tiba-tiba langkah Niken terhenti.


"Bu Niken...?" Seru seorang mahasiswa bernama Salman.


"Iya Salman." Balas Niken.


"Uhmmm, sebenarnya saya agak malu mengatakan ini kepada ibu. Tapi..." Katanya.


"Tapi kenapa?" Tanya Niken.


"Tapi saya benar-benar mengagumi ibu." Jawabnya terang-terangan. Niken tersenyum kepada Salman. Itu adalah kali pertama Niken bersikap baik kepada mahasiswanya. Terlebih kepada lawan jenisnya.


"Maaf kalau saya lancang, maaf banget bu. Kebetulan saya punya rencana untuk melanjutkan kuliah ke Turki atau ke Moscow, bu. Cuma saya belum tahu harus mulai dari mana, bu. Nah, karena kebetulan ibu pernah kuliah di Turki, makanya saya ingin tahu langkah-langkahnya, bu. Buat beasiswa sama non beasiswa juga." Jelas Salman.


"Wah saya terharu kalau kamu mengagumi saya. Makasih lho ya. Nih saya kasih tahu ya, kalau kamu pengin banget kuliah di Turki atau di Moscow, kamu bisa cek websitenya ini, sini saya tulis di notepad kamu." Kata Niken sambil menuliskan alamat website di bukunya Salman.

__ADS_1


"Ekhemmm..." Sebuah suara mengejutkan mereka.


"Ehh pak Hans." Salman menggaruk kepalanya dengan kikuk.


"Ngapain?" Tanya Hans.


"Eng, enggak ngapa-ngapain, pak." Jawab Salman.


"Kamu apaan sih. Nah kamu coba search aza ya, Man." Tukas Niken.


"Iya bu, makasih bu. Tapi kalau ada yang tidak saya ngerti, saya boleh nanya sama ibu, kan?" Kata Salman.


"Ohhh tentu saja boleh." Balas Niken.


"Nggak usah sama Niken. Sama saya aza." Ketus Hans.


"Apaan sih."


"Makasih ya bu." Salman segera berlalu. Hans merasa tidak nyaman jika ada lelaki lain yang mendekati kekasihnya.


"Ngapain sih tuh bocah?" Gerutu Hans.


"Kamu yang ngapain? Dia tuh nanya soal universitas dan lanjutan kuliah S2 di Turki." Kata Niken.


"Dosen disini tuh banyak. Kenapa harus sama kamu." Imbuh Hans.


"Apaan sih Hans. Udah sana." Niken tidak begitu nyaman ketika Hans mengganggunya.


"Bagaimana kalau kita makan siang?" Ajak Hans, Niken mengangguk setuju.


Sepulang dari kampus Hans menemani Niken berbelanja ke supermarket. Tak sengaja ia bertemu dengan teman lamanya yang bernama Arjun. Ditengah-tengah percakapan mereka, Niken memanggilnya.


"Siapa tuh cewek?" Imbuh Arjun menyikut lengan Hans. Niken menghampiri mereka.


"Ayooo..."


"Ehhh ya, Niken ini temanku Arjun." Hans mengenalkan Niken kepada temannya. Niken mengulurkan tangannya dan Arjun balas mengulurkan tangan.


"Niken..."


"Arjun..."


"Arjun Rampal?" Tanya Niken. Arjun mengernyitkan dahinya. "Maaf aku selalu ingat aktor bollywood kesukaanku. Namanya Arjun Rampal." Lanjutnya.


Arjun tersenyum, ia sangat senang melihat wajah Niken. Cantik mempesona, ia tidak tahu bahwa sejak tadi Hans memperhatikannya.


"Bukankah sama gantengnya kayak aku." Kata Arjun. Niken tertawa, "kau masih kuliah?"


"Enggak. Aku udah kerja. Jadi dosen, satu rekan bersama Hans." Jawab Niken.


"Ohhh. Hati-hati, Hans itu playboy." Tukas Arjun. Niken tersenyum.


"Kalau dia berani menduakan aku, aku akan mengulitinya sampai berdarah." Jawab Niken.


"Mendua?" Tanya Arjun.


"Dia calon istriku." Jawab Hans.

__ADS_1


"Yuk sayang." Ajak Niken. Kecemburuan Hans memudar setelah Niken menggandengnya. Perkembangan Niken signifikan. Ia aktif berbicara dengan lawan jenis. Ia juga tidak lagi merasa takut atau depresi. Meski begitu, Hans masih harus berjaga-jaga dengan kondisinya. Malam itu Niken dan Hans memasak bersama sambil menikmati lagu-lagu Westlife.


"So I say a little prayer and hope my dream will take me dare. Where the skies are blue to see you once again my love..."


Saat sedang asyik-asyiknya bermesraan di dapur sambil memasak, tiba-tiba Haya masuk tanpa memencet bel. Haya terkejut dengan pemandangan yang ia lihat. Hans memeluk Niken dari belakang dan Niken menyuapi Hans makanan yang baru saja dituang ke wadah.


Haya mengecilkan volume dvd, "kakak..." Teriak Haya. Niken dan Hans terkesiap dan melepaskan pelukannya satu sama lain.


"Kau...? Sejak kapan kau disini?" Ujar Hans menunjuk Haya.


"Sejak 2 menit yang lalu. Ngapain kau memeluk kak Niken?" Tanya Haya, Niken terkejut dan malu, ia pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan mengaduk kuah dimsum.


"Kau sendiri ngapain datang kesini? Datang seenaknya aza." Balas Hans.


"Ehh sejak kapan kau marah aku datang kesini tanpa memberitahumu? Bukankah itu hal biasa. Hah? Hah hah hah?" Imbuh Haya.


"Ahk kau memang adik yang menyebalkan. Pergi sana!" Perintah Hans sambil menjitak kepala adiknya.


"Awww... Kakak." Haya mengaduh.


"Awww... Kakak." Hans meniru ekspresi adiknya.


"Makan malam sudah siap." Ujar Niken. Haya dan Hans menoleh ke meja makan, lalu duduk dikursi makan. Begitu pun dengan Niken.


"Haya, ayo kita makan malam dulu." Ajak Niken. Haya mengangguk. Niken menuangkan nasi dan lauk pauk ke piring Hans.


"Dimsum." Kata Hans. Niken menuangkan kuah ke mangkuk dimsum milik Hans. Sementara Haya memandang kakaknya dengan aneh.


"Haya juga mau?" Niken menawarkan dimsum untuk Haya.


"Ummm boleh deh. Buatan kak Niken ya?" Niken mengangguk. Haya menyendok kuah dimsum dan ini kali pertama Haya memakan makanan korea. "Enaaakk."


"Haya sudah pernah nyoba sushi belum?" Haya menggelengkan kepala, "lain kali, aku akan buatkan sushi untuk Haya." Lanjut Niken.


"Serius? Kak Niken bisa buat sendiri?" Tanya Haya dengan mengerjapkan kedua matanya.


"Ugghhh, Niken tuh bisa masak makanan apa saja. Calon istri idaman." Kata Hans.


"Ehhh by the way, dalam rangka apa kak Niken masak di apartemen kakakku? Lalu apa kak Niken tidak takut sama si Hans ini? Pake acara peluk-peluk segala lagi." Tutur Haya sambil mengunyah makanannya. Hans dan Niken saling berpandangan. Entah mengapa, suasana menjadi kikuk. Mereka terdiam dan hanya suara piring dan sendok yang berbunyi diruang makan itu. Niken memberi isyarat kepada Hans untuk berterus terang kepada adiknya. Tapi Hans menggelengkan kepalanya. Menyadari mereka sedang memberi kode satu sama lain, Haya menatap Niken dan Hans secara bergantian.


"Kalian kenapa sih?" Tanya Haya.


"Ehmm Haya, sebenarnya aku..."


"Kita mau menikah." Sanggah Hans. Haya melotot tak percaya lalu tertawa.


"Kakak serius? Aku tahu kalian pacaran, tapi apa benar kakak akan serius sama kak Niken? Apa kau sungguh-sungguh tidak akan mengulangi masa lalumu?" Ketus Haya.


Niken memandang Haya, "aku yakin kita bisa melewati masa-masa sulit bersama." Niken menegaskan. Haya terdiam.


"Serius?" Tanya Haya.


"Sebenarnya begini. Dulu aku dan Hans pernah dekat. Dia kakak seniorku waktu kuliah dan aku adik juniornya. Hubungan kami sempat renggang karena kesalahpahaman. Dan..." Niken harus menjelaskan semuanya kepada Haya agar ia mengerti. Tentang phobia-nya dan mengapa ia jatuh hati kepada Hans.


"Kau ingat dulu aku pernah bercerita tentang cinta pertamaku padamu?" Tanya Hans kepada Haya. Haya mengangguk, "perempuan itu adalah Niken. Aku dan Niken saling mencintai. Dan untuk saat ini, Niken tinggal di apartemenku. Dia sedang tahap penyembuhan phobia-nya. Kenapa harus diapartemenku? Karena aku harus menjaganya. Niken harus dalam pengawasanku 1 hari 24 jam, oleh karena itu aku harus bertanggungjawab atas dirinya. Kau mengerti?" Jelas Hans. Haya mengangguk-angguk. Tak percaya bahwa kakaknya begitu sangat mencintai wanita itu.


"Tapi mengapa kau harus memeluknya?" Tanya Haya. Hans mengangkat sebelah alisnya. Dan Niken menundukkan kepalanya karena malu. Tapi tiba-tiba Haya tertawa. "Iiya-iya aku mengerti. Aku malah senang kalau akhirnya kakak bertemu dengan cinta pertamanya dan aku punya kakak ipar yang cantik seperti kak Niken." Lanjut Haya. Hans dan Niken merasa lega.

__ADS_1


***


__ADS_2