One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Tiga puluh enam


__ADS_3

"Tante...?" Seru Niken kepada Hani ibunya Jihan. Hani memeluk Niken penuh kesedihan. "Boleh Niken bicara sebentar sama Jihan?" Ujarnya. Hani mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan Niken dengan Jihan di ruang rawat inap rumah sakit. Sementara Ria ibunya Niken menenangkan Hani.


"Jihan...?" Seru Niken berat, kemudian meneteslah air matanya yang tertahan sejak tadi. Jihan tampak lemah sekali. Wajahnya pucat pasi, bibirnya putih kering, matanya cekung, khasian sekali. Jihan adalah sahabat terbaik Niken. Ia baik dan peduli.


"Ssst, jangan nangis Niken." Lirih Jihan parau.


"Jihan, maafin ayah Niken ya..." Kata Niken sambil bercucuran air mata.


Jihan mengangguk pelan.


"Niken, jangan bilang mama Jihan ya. Nanti mama Jihan sedih. Ayah Niken..." Jihan menghela nafas, "Ayah Niken nggak apa-apa kan? Jihan mau pergi lihat nenek." Lanjutnya.


"Jihan jangan ninggalin Niken." Ujar Niken sambil menggenggam tangan Jihan. Kemudian Jihan memejamkan matanya pelan-pelan. "Jihan...?" Suara Niken parau.


"Jihan mau tidur dulu ya." Lirihnya pelan sekali. Suaranya hampir tak terdengar.


"Jihan...?" Seru Niken lagi. Jihan tersenyum mendengar suara Niken memanggil dirinya. Selang 5 menit, Niken membangunkan Jihan kembali.


"Jihan...?" Tapi kali ini Jihan tidak meresponnya. Niken menggoyangkan tangan Jihan. Namun Jihan tak bergeming. "Jihan... Jihan... Jihan........ Ibuuuuuu." Niken berlari ke arah ibunya sambil menangis tersedu sedan. Mama Jihan berlari melihat anaknya, kemudian berteriak dengan keras. Ibu memanggil dokter, tak lama setelah itu dokter datang dan memberikan efek kejut. Namun sayang, Jihan telah pergi. Mata Niken kabur, ia melihat bayang-bayang. Sosok Jihan tersenyum manis, ia menggapaikan tangannya. Niken menggerjapkan kedua matanya. Tak percaya apa yang dilihatnya. Ia menangis sesunggukkan.


Hari itu hujan gerimis, pemakaman Jihan dilaksanakan pada siang hari. Langit mendung kelam, angin segan berhembus kencang, bumi pun  menangisi kepergian Jihan. Air mata Niken tumpah bersama hujan. Saat ia melihat ayahnya yang membawa payung. Terlintas sebuah bayangan seram dari wajah ayahnya menyeringai, gigi taringnya sangat tajam, seakan hendak menerkamnya.


"Ssst... Jangan berisik. Kalau kau berisik ayah tidak akan segan-segan membunuhmu." Ancam Reno. Kalimat itu terus terngiang didalam ingatannya, sehingga menimbulkan kecemasan dan tekanan yang berat untuknya. Baginya, tatapan ayahnya sangat menakutkan. Bagaikan singa yang hendak menerkam mangsanya. Oleh sebab itulah, Niken menatap ayahnya dengan tatapan yang berbeda. Ia bukan lagi putri kesayangan ayah. Ayah bukanlah cinta pertamanya. Niken sangat membenci ayahnya.


Reno menyadari tatapan penolakan yang terpancar dari putrinya. Ia tahu, ia telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Sehingga ia tidak pernah lagi memiliki harga diri dan martabat sebagai seorang ayah dimata putri bungsunya. Semakin Niken dewasa semakin berat perasaan Reno terhadap putrinya. Selama 22 tahun itu pula, Reno hidup dalam kebersalahan yang besar. Ia tidak pernah lagi merasakan cinta dari Niken. Tidak pernah lagi ada kata rindu yang terucap dari mulut Niken. Hukuman itu sepadan dengan perbuatannya sebagai seorang pedofilia. Reno sangat terpuruk, ia berjanji akan berubah. Tapi sayangnya kanker hati stadium 4 telah menggerogotinya.


Satu tahun yang lalu


Niken pulang ke rumah orangtuanya untuk mengambil ijazah S2-nya, serta file dan barang penting lainnya.


"Niken, apa nggak sebaiknya kamu menginap dulu di rumah." Ujar Reno. Niken tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala. Nadine sangat kesal dengan sikap Niken yang tidak pernah berubah. Dia selalu menunjukan tatapan sinis terhadap ayahnya. 


"Niken, ayah nanya, jawab dong." Kata Nadine.

__ADS_1


"


Enggak ahk, besok pagi ada rapat kerja. Repot kalau harus pulang subuh." Jawabnya.


"Yeeehhh, nadanya kayak gitu. Yang sopan dikit sama ayah kenapa sih? Nih anak makin gede makin nggak tahu diri." Tukas Nadine kesal


"Ehhh kalau ngomong dijaga ya. Jangan mentang-mentang kakak anak kesayangan ayah dan ibu, terus bisa seenaknya ngomong kayak gitu ke aku." Balas Niken.


"Anak kesayangan apa sih. Aku ngomong karena kamu tuh nggak sopan sama ayah." Suara Nadine meninggi.


"Ohhh kak Nadine sekarang udah pinter ya."


"Niken?" Gertak Ria.


"Kamu tuh jadi anak tahu diri." Bentak Nadine.


"Nadine." Ria menahan emosinya. Ia khawatir kedua anaknya akan saling memusuhi satu sama lain.


"Ehhh dengar ya, aku yang ngurusin ayah sama ibu sakit. Kamu dimana? Saat orangtua susah, nggak ada. Ayah sakit kamu ngilang. Kamu tuh anak durhaka tahu nggak?" Nadine naik pitam begitupun dengan Niken.


"Ehhh kalau kamu nggak tahu apa-apa sebaiknya kamu diem." Kata Niken.


"Aku heran, apa sih hebatnya kamu. Kuliah tinggi-tinggi, lulus S3, buat apa? Kalau sama orangtua aza durhaka. Apa buktinya kalau kamu berhasil? Punya apartemen, mobil mewah, jadi dosen, tapi kelakuan kayak setan. Itu yang namanya berhasil." Tutur Nadine. Tangan Niken melayang dan mendarat tepat dipipi kakaknya.


"Ini yang ibu mau? Lihat bu, Niken nggak pantes ibu banggakan. Dia bahkan berani menampar aku. Ini akibatnya ibu membiarkan Niken tinggal sama kakek dan nenek. Mereka terlalu memanjakan Niken." Lanjut Nadine.


"Kakak nggak berhak ngehina kakek dan nenek. Kalian tahu apa? Tahu apa soal hidup aku? Kali ini, kau telah membuktikan Nadine. Bahwa kau tidak pantas menjadi kakakku." Balas Niken. Bulir air mata berjatuhan ke pipinya.


"Baiklah. Kalau aku tidak pantas menjadi kakakmu. Maka kau bukan adik kandungku." Tukas Nadine.


"Nadine cukup?" Bentak Reno.


"Kenapa kamu diam saja? Kenapa tidak menjelaskan apa yang sudah kamu perbuat terhadapku? Kamu tahu, seberapa menderitanya aku selama ini?" Tutur Niken menatap marah kepada ayahnya.

__ADS_1


Nadine menampar Niken karena telah kurang ajar terhadap ayahnya. "Cukup Niken. Cukup." Kata Ria.


"Apa ibu juga tidak tahu? Kenapa diusia 5 tahun aku bisa mengalami depresi?"


"Sudah Niken sudah. Itu sudah lama, tidak perlu lagi membahas soal kematian Jihan yang membuatmu sangat syok."  Ujar Ria. Niken mengernyitkan dahinya tak percaya. Ia mendekati ayahnya, lalu menarik kerah baju ayahnya.


"Sampai detik ini. Ka-kamu tidak pernah mengatakan yang sebenarnya kepada ibu. Ayah macam apa kau itu?" Niken meneriaki ayahnya. Nadine tak segan-segan menampar dan memukul adiknya.


"Nadine...?" Bentak Reno.


"Pukul. Pukul aku Nadine. Pukul aku sampai mati."


"Cukup. Sudah cukup." Ria menangis tak tertahankan. Niken menghapus air matanya. Ia berdiri sekuat tenaga.


"Baiklah kalau kau memang tidak mau menjelaskan kepada ibu. Aku yang akan menjelaskan semuanya." Kata Niken mengatur nafasnya.


"21 tahun yang lalu. Saat Jihan menginap di rumah kita..."


"Niken...?" Sergah Reno.


"Pukul 1 malam, aku terbangun saat ayah menggendongku, dan memindahkanku ke lemari. Dia mengunciku, lalu dia memperkosa Jihan..." Niken mencoba menahan tangisnya.


"Niken, biar ayah yang jelaskan." Pinta Reno.


"Ayah mengancamku, kalau aku berisik maka dia akan membunuhku. Aku takut, aku sangat takut saat itu. Aku ingin berlari ke kamar kakak, tapi, tapi aku terlalu takut menghadapinya. Ibu tahu, mengapa Jihan meninggal? Itu karena suami ibu. Dia yang sudah merenggut semuanya. Aku membencinya, bahkan dia menuduh kakek sebagai pelaku pelecehan. Ibu tahu mengapa aku depresi...? Karena aku tertekan bu. Aku takut. Aku sangat takut menghadapi dia. Karena berulang kali dia mengancamku. Kakek rela dipenjara selama 4 tahun menggantikan si bajingan ini. Mereka merahasiakan ini dari kalian agar ayah dan ibu tetap rukun. Tapi ini, ini balasan kalian terhadapku. Dan kau tahu Nadine. Kau adalah kakak terburuk di dunia ini. Dimana kamu saat aku meminta ditemani untuk tidur. Huh? Dimana kamu?" Teriak Niken. Matanya merah padam. "Kau tahu, kau yang selalu iri kepadaku. Bahkan kau yang dulu mencuri makanan di swalayan. Lalu menuduhku sebagai pelakunya? Kakak macam kau? Huh? Kau pikir kau lebih baik dari pada aku. Kau. Kau bahkan iblis, Nadine." Plakkk, Ria menampar pipi putri bungsunya.


"Bagus. Ibu melakukan dengan benar. Ibu melindungi Nadine, melindungi si bajingan itu. Bagus. Bagus bu. Ibu bahkan tidak pernah bertanya padaku, apakah aku bahagia? Apakah aku menderita? Kalian bahkan tidak tahu, dampak dari 21 tahun yang lalu. Aku penderita philofobia. Kau senang Nadine. Bahwa adikmu ini tidak akan pernah menikah. Kau senang Reno, bahwa anakmu ini telah melabel semua laki-laki bajingan sepertimu. Dan kau ibu, kau senang, kau senang aku terluka? Keluarga macam apa ini. Aku benci kalian. Aku benci kalian semua." Pungkas Niken melampiaskan semua amarahnya. Suaranya parau, lalu ia meninggalkan rumah.


"Benarkah apa yang Niken katakan, ayah?" Tanya Nadine. Reno tidak bisa mengelak kembali. Lalu ia mengangguk.


"Maafkan ayah. Maafkan ayah, bu." Jawab Reno. Nadine terdiam begitu pun dengan Ria. Mereka tidak menyangka bahwa semua ini akan terjadi.


***

__ADS_1


__ADS_2