One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Tujuh puluh empat


__ADS_3

Pakai pakaian yang rapi ya. Ini acara semi resmi.


Begitu pesan Amir. Hans keluar dari apartemennya tanpa pamit kepada Niken. Ia menuju sebuah cafe yang Amir janjikan. Tapi Amir dan Bella belum datang kesana. Sebuah meja sudah dipesan oleh mereka. Hans duduk dimeja yang sudah dipesankan. Tanpa rasa curiga apapun, Hans pun duduk dengan manis. Beberapa kali ia menengok ke kiri dan ke kanan. Namun Amir dan Bella tak kunjung datang. Tiba-tiba ponselnya berdering, tanda pesan dari Niken.


'Kau dimana?'


'Di cafe.' begitu Hans membalas.


'Dengan siapa?'


'Sendiri. Menunggu Amir dan Bella. Sebentar lagi mereka datang.' Begitu jawab Hans.


Tiba-tiba seorang perempuan datang menghampirinya. "Hai, apa kau yang bernama Hans?" Seru perempuan itu yang kemudian duduk didepannya. Hans mengangguk kikuk.


"Kenalkan, namaku Nirina. Amir sudah banyak cerita tentang dirimu." Ujarnya. Hans mengernyitkan dahinya. Ada apa ini? Hans bertanya pada dirinya sendiri. Siapa perempuan ini? Kenapa tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa Amir sudah banyak bercerita tentangku. Apa jangan-jangan Amir mau menjodohkanku dengan perempuan ini? Pikir Hans.


"Ohhh begitu. Tapi mengapa mereka belum datang?" Balas Hans.


"Kau tidak tahu? Ini kan kencan buta kita. Amir dan Bella sudah merencanakan ini sejak awal." Jawab Nirina. Hans terbelalak tak percaya. Gawat. Pikirnya. Bagaimana kalau Niken tahu? Hans mencoba menenangkan diri.


"Maaf tapi sepertinya kau salah paham." Ujar Hans.


"Salah paham bagaimana?" Tanya Nirina.


"Emmm, maaf tapi aku harus pergi." Tukas Hans.


"Tunggu. Kau tidak bisa pergi begitu saja. Mereka sudah susah payah untuk membuatmu move on dari kekasihmu yang dulu. Apa tidak sebaiknya kita saling tukar nomor ponsel setelah kencan buta kita ini selesai? Mungkin aku bisa menjadi teman baikmu." Imbuh Nirina.


"Kencan buta?" Seru sebuah suara. Spontan Hans berdiri, kikuk, dan Niken sudah berdiri tepat dipinggir kursi Nirina. Perempuan itu juga berdiri. "Emmm, Niken. Ini tidak seperti yang kau kira." Hans mencoba menjelaskan. Niken menahannya.


"Kau pikir kau siapa? Berani ajak lelaki orang." Ujar Niken. Nirina menyunggingkan bibirnya.


"Kau siapa?" Tanya Nirina.


"Perkenalkan, aku tunangannya. Senang bertemu dengan anda." Jawab Niken.


"Hah? Tunangan?" Nirina menutup mulutnya sendiri. Ia kaget bukan main.


"Apa kau punya keperluan lain dengan tunanganku?" Ucapnya.


"Emmm, aku rasa tidak. Maaf, aku harus pergi. Kau benar, sepertinya aku salah paham denganmu. Tidak seharusnya aku menyetujui pertemuan ini." Balas Nirina. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Hans tersenyum lega melihat kecemburuan kekasihnya. Pun ada rasa bahagia.


"Niken, aku..."

__ADS_1


"Aku tahu. Ini pasti kerjaan Bella dan Amir. Memangnya mereka siapa? Awas saja ya." Niken memotong kalimat Hans.


"Aku senang kalau kau mengerti." Kata Hans.


"Ayo...?" Ajak Niken.


"Kemana?"


"Pulang."


"Tapi...?"


"Apa?"


"Kita sudah diluar. Apa tidak sebaiknya kita kencan dulu?" Usul Hans.


"Sudah malam begini, kita mau kemana?" Tanya Niken.


"Jakarta memang tidak punya banyak hal yang istimewa. Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat?" Tukas Hans, Niken mengernyitkan dahinya.


Hans menggenggam tangan Niken, lalu ia mengajak Niken ke sebuah lapang bola.


"Kita mau ngapain kesini, Hans?" Tanya Niken.


"Kencan kita, harus berbeda dari orang lain." Katanya. Hans berlari meninggalkan Niken dibelakang.


"Kalau kau bisa menyentuh tanganku, aku akan memberimu hadiah." Teriak Hans.


"Apa?" Balas Niken.


"Apapun yang kau mau." Niken tersenyum lalu melepaskan high heelsnya, dan mengejar Hans. Tapi ia tidak bisa menyentuh lengan Hans.


"Kau curang." Ketus Niken.


"Apanya yang curang?" Balas Hans. Niken berlari lalu memukul lengan Hans sekuat tenaga. Hans mendorong Niken sehingga ia terjatuh. Niken membalasnya. Begitu seterusnya hingga mereka kelelahan.


"Aku lelah." Kata Niken. Hans duduk direrumputan disamping Niken.


Suara ponsel Hans berdering, Hans menerima panggilan dari mamanya.


"Mah...?" Seru Hans.


"Kau dimana?" Tanya Dina diujung telepon sana.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Bisakah kau pulang dulu. Ada hal penting yang harus mama bicarakan denganmu." Jawab Dina.


"Uhmmm baiklah, nanti aku pulang." Balas Hans lalu ia menutup panggilan mamanya. "Ayo kita pulang." Ajak Hans. Niken memandang Hans lamat-lamat.


"Tante Dina-kah?" Tanya Niken. Hans mengangguk.


"Aku harus pulang. Ada hal penting yang mau mama katakan kepadaku. Aku akan mengantarmu terlebih dulu." Jawab Hans. Niken mengangguk setuju. Hans mengantar Niken ke apartemennya, lalu menyetir mobilnya menuju rumah kedua orangtuanya.


Tampaknya sangat serius, Dina dan Harun sudah duduk diruang tengah. Mereka tampak sedang membahas sesuatu saat Hans tiba disana.


"Ada apa mah?" Tanya Hans, lalu duduk di sofa.


"Uhmmm mama tidak tahu harus mulai dari mana." Jawab Dina.


"Ini kan ide mama. Jadi mama dong yang bilang ke Hans. Tadi saja, semangat sekali mama bercerita tentang masa lalu Hans." Sambung Harun.


"Masa lalu apa, mah?" Hans penasaran.


"Hans, kamu ingat sama tante Riana kan?" Tanya Dina.


Hans mengangguk, "sahabat mama orang Bandung itu kan. Kenapa mah?"


"Kau ingat anaknya yang bernama Ichen?" Hans mengernyitkan dahinya. Ia tidak begitu ingat. Pasalnya sudah lama sekali itu berlalu. "Dulu kan kalian berteman. Masa nggak ingat sih? Uhmmm, tante Riana bilang, Ichen jomblo lho. Kamu mau ya ketemuan sama Ichen." Lanjut Dina.


"Maksud mama gimana sih?" Hans menggaruk kepalanya.


"Jadi begini, mama dan tante Riana sudah sepakat untuk menjodohkan kamu dengan Ichen. Itu sih kalau kamu mau? Kalau enggak juga nggak apa-apa." Imbuh Dina. Hans merasa tidak nyaman ketika mamanya membicarakan soal perjodohan. Jujur, ia mencintai Niken. Dan tidak ingin melepaskan Niken begitu saja. Tapi ia juga tidak ingin membuat kedua orangtuanya kecewa. Hans memandang papanya.


"Papa sih bagaimana keputusanmu saja." Ujar Harun.


"Hans pikir-pikir dulu deh." Jawab Hans.


"Hans, dia perempuan yang baik lho. Kata tante Riana dia sudah lulus S3. Seimbang lha denganmu." Kata Dina dengan semangat.


"Mama sudah bertemu dengan orangnya?" Tanya Hans. Dina menggelengkan kepala.


"Tapi, sepertinya dia baik lho, Hans."


"Mah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada mama. Apakah aku menerima perjodohan ini atau tidak. Jujur aku masih mencintai Niken. Aku ingin meminangnya. Aku ingin mama menyukai Niken seperti pertama kali mama bertemu dengannya. Tapi jika hati mama memilih bahwa perempuan itu baik untukku, baik kepada keluarga kita, aku akan mencoba menerimanya. Tapi tolong beri aku waktu untuk berpikir. " Jelas Hans dengan bijak. Harun tersenyum mendengar jawaban putranya. Ia lebih dewasa dibandingkan apa yang Harun pikirkan. Dina pun tidak merasa kecewa dengan apa yang dikatakan putranya. Ia menerima jawaban Hans dan akan menelusuri latar belakang putri sahabatnya itu.


***

__ADS_1


__ADS_2