One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Tiga puluh satu


__ADS_3

Seorang perempuan berambut sebahu celingukan mencari seseorang. Namanya Kezia, ia memegang sebuah kartu nama. Kemudian ia tersenyum ketika melihat seseorang yang ia kenal. "Hans...?" Serunya memanggil. Hans menoleh sebentar.


"Ohh hai..." Balasnya. Hans menghampiri perempuan itu.


"Kau sibuk?" Tanya Kezia dengan melempar pesona senyumannya.


"Uhmmm tidak juga. Kenapa?" Jawab Hans.


"Bisa kita bicara sebentar." Pinta Kezia. Hans pun mengangguk bersedia.


"Kita bicara di kantin. Sambil minum, bagaimana?" Usul Hans.


"Okey." Hans mengajak Kezia ke kantin umum.


"Kau pasti meminta kerugian kan? Ouch, sudah kuduga. Kenapa dengan mobilmu, apakah sangat parah kondisinya?" Kata Hans.


"Mobilku lecet sedikit, Hans. Sudah tidak apa-apa." Kata Kezia memulai percakapan.


"Aku sempat khawatir, kalau aku menimbulkan masalah yang besar untukmu." Balas Hans.


"Tenang saja. Oh ya Hans, I have something for you." Ujar Kezia.


"Apa?" Kezia memberikan sebuah hadiah berupa jam tangan untuk Hans. "Oh no. Ini terlalu berlebihan, Kezia."


"Enggak Hans, this is special for you sebagai your comeback for me." Balas Kezia.


"Wait. What do you mean? Aku nggak mau terima ini jam tangan kalau ada maksud lain." Ujar Hans.


"Emmm enggak sih. Ya, siapa tahu aja, kita berjodoh." Kata Kezia terus terang bahwa dia tertarik kepada Hans. Tapi Hans mengembalikan jam tangan itu.


"Sorry, aku nggak bisa terima Key. Thank you banget lho sebelumnya. Tapi, I can't accept your gift." Sahut Hans.


"Kenapa sih? Kamu nggak suka? But, wait. You don't like me? Dengan keadaanku yang sekarang. Aku cantik, aku seksi and I'm smart." Balas Kezia.


Hans terkejut mendengar semua kalimat Kezia.


"Emmm Kezia, thank you banget kamu mau kasih aku this is gift. Tapi sorry aku nggak bisa terima. And I also know your beautiful and kind, but, I'm so sorry, sudah ada wanita lain yang aku sukai. " Hans menolak dengan lembut.


"Ohya? Who? Jadi ceritanya kamu taubat?" Balas Kezia.


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Maksudku, enggak mau gitu punya pacar banyak lagi kayak dulu." Tukasnya. Hans menggelengkan kepala.


"Aku sudah mau melamar dia." Balas Hans.


"Ohya? Really?" Hans mengangguk yakin. "Kapan?"


"Segera." Jawab Hans.


"Serius?" Tanya Kezia tak percaya.


"Aku serius."


"Siapa dia?"


"Seorang perempuan"


"Hans, kamu masih sama ya. Siapa perempuan beruntung yang kau cintai itu?" Tanya Kezia.


"Kejutan dong. Masa dikasih tahu sekarang." Balas Hans dengan bercanda.


"But are you really?" Tukas Kezia memastikan lagi. Hans menganggukkan kepalanya dengan yakin. "Kau sudah tidak tertarik lagi kepadaku?" dengan terus terang Kezia menanyakan rasa ketertarikannya kepada Hans.


"Huh? Kezia aku sudah memiliki seseorang yang sangat aku cintai. Dulu iya, sekarang aku minta maaf. Aku bukan Hans yang dulu." Balas Hans. Agak kecewa sebenarnya saat Hans mengatakan bahwa ia sudah memiliki seseorang yang dicintai. Akhirnya Kezia menyerah dengan semua usahanya yang terang-terangan.


"Huh?"


"Kamu kenapa?" Tanya Bella.


"Ng... Nggak apa-apa." Jawabnya.


Niken melihat jadwal sidang skripsi. Sebenarnya ia sangat malas bertemu dengan Hans. Ada perasaan dimana Niken ingin sekali mengatakan bahwa ia sangat cemburu. Tapi karena gengsi, Niken berusaha bersikap acuh tak acuh.


"Bu Niken..." Rina mengetuk pintu ruangannya.


"Masuk!" Perintah Niken.


"Ibu sudah siap?" Tanya Rina. Niken menganggukkan kepala. "Bu, pak Hans kemana ya? Saya cari-cari koq nggak ada." Kata Rina.


"Dia di kantin." Jawab Niken. Rina hendak ke kantin. "Rina, bilang sama dosen bimbingan kamu itu. Semua tim sudah siap. Kalau dia mau menjadi dosen dengan kualitas yang tinggi, dia harus disiplin. Di kampus tidak boleh menerima tamu dari luar. Apalagi ngobrol lama. Bilang juga, kalau ketua sidang sudah tiba di ruangan. Biar tahu rasa dia. Suruh dia lari sekencang kilat." Cercau Niken kesal.


Rina menelan ludah. "Ibu marahan ya sama pak Hans." Tebak Rina. Niken menatap Rina dengan tajam. Rina pun bergegas pergi.

__ADS_1


Begitu Rina sampai di kantin, "Pantas saja bu Niken marah, rupanya pak Hans lagi sama perempuan lain." Gumam Rina. Lalu ia berlari ke arah dosen bimbingannya. "Pak Hans, ayo, Rina udah telat nih. Hari ini kan Rina sidang skripsi."


"Oh iya. Kezia, aku minta maaf ya. Aku tidak bisa lama. Mahasiswaku mau sidang skripsi." Kata Hans.


"Ohhh baiklah." Kezia mengangguk.


Rina dan Hans berjalan beriringan.


"Ayo dong, nanti ketua sidangnya marah lho." Hans hendak berlari.


"Tenang pak, Rina belum telat." Kata Rina. Hans mengernyitkan dahinya. "Bapak sih ngobrolnya kelamaan. Bu Niken marah lho sama bapak." Ujar Rina.


"Lho, marah kenapa?" Tanya Hans.


"Kayaknya bapak akan mendapatkan masalah besar, kalau bapak tidak minta maaf sama bu Niken." Jawab Rina. Hans masih mengernyitkan dahinya. Ia tak mengerti apa yang mahasiswanya itu katakan. Sesampainya diruangan, benar saja apa kata Rina. Raut wajah Niken tampak sedikit menyeramkan dari biasanya. Wajah tegas dan penuh ambisi itu terlihat berbeda.


"Niken...?" Seru Hans. Niken hanya melirik lalu kembali fokus pada skripsi hasil tulisan Rina. Ketua sidang sudah tiba di ruangan. Sidang skripsi Rina dilaksanakan dengan baik. Rina mendapatkan nilai B diakhir sidang skripsinya. Niken memberikan selamat dengan tulus.


"Ken, Niken...?" Seru Hans. Niken menghiraukan panggilan Hans. Hans tidak mengerti mengapa Niken terlihat begitu kesal dan marah kepadanya.


"Yuk, kita pulang bersama." Hans menawarkan tumpangan.


"Tidak. Hari ini mobilku sudah selesai di servis." Jawab Niken pendek. Dan berlalu meninggalkannya.


Hati Niken merasa tidak tenang sekali. Ia kerap cemburu ketika Hans bersama perempuan lain. Niken berusaha mengendalikan perasaannya, namun ia sungguh benci melihat Hans tersenyum dan tertawa dengan perempuan lain. Selama 3 hari itu, Hans menyadari ada yang tidak beres dengan sikap Niken.


"Aku tidak tahu apa salahku? Tapi jika itu membuatmu murka. Maka tolong jelaskan padaku, Niken. Ayolah, cobalah untuk bicara denganku." Hans pantang menyerah untuk mencoba berbaikan dengan Niken, meskipun Niken selalu menghindarinya. Tiba-tiba Bella mencolek punggungnya.


"Marahan ya?" Tanya Bella.


Hans menggelengkan kepala.


"Niken kenapa sih?" Tanya Hans kepada Bella.


"Apa kau melakukan kesalahan?" Bella menyelidik. Hans mengangkat bahu.


"Itulah yang ingin aku tanyakan kepadanya. Apa ya kesalahanku?" Jawab Hans.


"Hadeuhhh, kalian membuat semua penduduk kampus menjadi tegang." Ujar Bella.


"Ehhh Bella Bella, tolong bantu aku dong. Cari tahu kenapa Niken marah kepadaku." Tukas Hans.

__ADS_1


"Hadeeehhh, kalau udah urusannya dengan hati, itu susah. Usaha kek. Bujuk kek. Kalian kan pacaran." Kata Bella. Hans menggaruk kepalanya dengan kesal. Urusan dengan hati? Apa dia melihat aku ngobrol sama Kezia?


***


__ADS_2