One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Tiga puluh


__ADS_3

"Kak Niken, lain kali aku ingin makan masakan kak Niken boleh kan?" Ujar Haya ketika mereka sampai didepan apartemennya masing-masing.


"Boleh." Balas Niken.


"Kenapa tidak sekarang saja?" Usul Hans.


"Sekarang? Bukankah tadi kau sudah makan?" Balas Niken heran.


"Tidak harus nasi kan? Ayo masakin kita cemilan enak buatanmu." Ujar Hans memaksa.


"Benar kata kak Hans. Ayolah kak Niken..." Kata Haya. Akhirnya Niken menuruti keinginan mereka. Hans membantu Niken menyiapkan semua bahan-bahan untuk dimasak. Sementara Haya menonton televisi sambil sesekali melirik kakaknya dengan orang yang dicintainya yaitu Niken. Haya sangat menyukai mereka berdua. Perlu Haya akui kalau sebenarnya kakaknya itu lelaki yang baik dan juga tampan. Banyak teman-teman Haya yang naksir sama Hans. Bahkan sampai ada yang menitip barang serta surat cinta untuk Hans. Meskipun terkadang Haya kesal, tapi Haya manfaatkan mereka dengan caranya sendiri. Kali ini Haya yakin seyakin-yakinnya kalau kakaknya sangat mencintai Niken, begitu sebaliknya. Karena saat mereka saling memandang, memancarkan energi yang sangat dalam.


"Ngapain kamu disitu?" Kata Hans kepada Haya yang sedari tadi memandanginya.


"Biarin..." Ketus Haya.


"Hans bisa bantu aku?" Ujar Niken sambil menunjuk kompor.


"Apa?"


"Tolong kecilkan apinya." Hans segera mengecilkan kompor gas. Sementara Haya membayangkan dirinya dengan seorang lelaki. Ia berharap bisa seperti Niken, cantik, cerdas, porposional dan elegant. Haya senyum-senyum sendiri membayangkan hal yang indah.


"Ada apa dengan Haya?" Tanya Niken. Hans menggelengkan kepalanya.


"Haya... Hayaaaa...." Teriak Hans tepat ditelinga adiknya.


"Ihhhh kakak. Usil banget deh. Sakit tahu telinga Haya." Marah Haya.


"Habis ngelamun terus. Anehhh..." Usil Hans. Haya merajuk dan masuk ke kamar tamu. Hans dan Niken menertawakannya. Tiba-tiba Hans memeluk Niken dari belakang.


"Aku mencintaimu." Bisik Hans.


"Hans, adikmu ada disini." Niken terkejut dan melepaskan tangan Hans.


"Dia sedang di kamar." Balas Hans. Lalu kembali memeluk Niken.


"Aku tidak mau adikmu salah paham lagi ya." Ujar Niken.


"Kita memang pacaran, kan?" Kata Hans.


"Siapa bilang kita pacaran?" Tukas Niken.


"Aku."


"Ge er. Aku kan nggak bilang kalau kita pacaran."


"Yeee buktinya kau mau dicium olehku. Kau juga tidak pernah menolak disentuh olehku." Ujar Hans.


Niken menelan ludah, entah apa yang bisa ia jawab kepada Hans. "Mencium dan menyentuh itu bukti fisik. Cinta itu nggak melulu soal sentuhan Hans." Niken memukul kepala Hans dengan spatula secara pelan. Hans tersenyum mendengar kalimatnya.


"Jadi apakah kau sudah mencintaiku, miss Niken yang cantik." Gombal Hans. Niken tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku tidak mencintai siapa-siapa." Balas Niken masih menggoreng cemilan kentang krispi.

__ADS_1


"Aduhhh..." Hans menempelkan tangannya kejidatnya. "Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku." Hans menggelitik pinggang Niken.


"Hans...? Jangan. Ihhh geli tahu." Lalu Hans memeluk Niken.


"Say you love me." Kata Hans. Niken menggelengkan kepala lagi.


"No no no..."


"No no no..." Hans menirukan suara Niken dengan gayanya. Mereka tertawa kekeh.


"Kentangnya gosong." Niken segera mengangkat kentang dipenggorengan. Mereka tertawa. Niken memilah dan memilih kentang yang tidak gosong untuk disiapkan di atas piring. Sementara Hans sibuk memandangi wajah Niken.


"Apa wajahku terlalu aneh?" Tanya Niken tanpa menengok ke arah Hans.


"Huh?"


"Sampai kapan kau mau menatapku seperti itu? Wajahku terlalu aneh ya?" Ujar Niken, lalu menoleh ke arah Hans. Hans menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana bisa aku memalingkan pandanganku dari bidadari secantik dirimu." Balas Hans.


"You are so overacting." Sahut Niken.


"No... I'm not so overacting. You are so really really beautiful. So, aku tidak akan pernah bosan untuk memandangi wajahmu." Tukas Hans. Niken mengangkat kedua alisnya.


"So, by the way, yang kau tabrak itu perempuan atau laki-laki?" Tiba-tiba Niken teringat kalimat Haya tadi sore, tentang seseorang yang Hans tabrak. Bola mata Hans berputar ke arah kiri.


"Uhmmm, perempuan." Jawabnya pendek.


"She is beautiful?" Tanya Niken sambil menyunggingkan bibirnya.


"Really?"


"Kan semua perempuan cantik. Kalau ganteng punya laki-laki. Nggak ada kan, perempuan ganteng. Atau laki-laki cantik." Tutur Hans.


"Enggak, maksud aku. Dia lebih cantik dari aku gitu?" Kata Niken dengan merapatkan kedua bibirnya yang semu merah jambu itu. Di hati kecilnya ia merasa cemburu.


"Kenapa memangnya kalau dia lebih cantik darimu?" Selidik Hans.


"Ohhh nggak apa-apa. Aku cuma nanya doang koq. Ya kan kamu ngeliatin aku kayak gitu, berarti kamu juga bisa ngeliatin cewek yang lebih cantik dari pada aku. Laki-laki kan emang kayak gitu, iya kan?" Balas Niken.


"Kenapa ngomongnya kayak gitu, kau cemburu?" Tebak Hans.


Niken menggelengkan kepala dengan cepat, "tidak. Aku tidak cemburu." Balas Niken.


"Sungguh?" Hans menatap lurus ke mata Niken. Niken mengangguk pasti, tapi didalam hatinya ia merasa kesal dan cemburu.


"Kalau kau cemberut begitu, artinya kau cemburu." Ujar Hans.


"Tidak. Aku tidak cemburu." Jawab Hans.


"Aku tidak cemburu Hans." Balas Niken.


"Cemburu."

__ADS_1


"Enggak."


"Kalau begitu, beri aku satu kecupan." Hans mendekatkan bibirnya ke bibir Niken.


"Apaan sih. Jangan ngaco deh. Haya ada disini." Balas Niken


"Jadi kalau Haya tidak ada dirumah, kau mau dicium?" Krekkk suara pintu berbunyi, Haya keluar dari kamarnya. Niken melepaskan pelukannya begitupun dengan Hans. Niken membuat garnis yang unik. Lalu semua cemilan yang ia buat segera ia hidangkan di meja ruang tengah.


"Makanan sudah siap." Kata Niken.


Niken membuat onigiri, kentang goreng, dan sup buah apel yang hangat sebagai pencuci mulut. Niken membagi makanannya ke piring kecil, satu untuk Hans dan satu lagi untuk Haya. Kedua kakak beradik itu dengan semangat menyuap makanannya ke dalam mulut mereka.


"Bagaimana?" Tanya Niken meminta pendapat Haya dan juga Hans.


"Enaaaaakkkk bangetttttt." Jawab Haya sambil mengacungkan jemponya.


"Sangat enak. Hemmmm ini sih perlu dapat penghargaan, iya kan Haya?" Tambah Hans.


"Iya benar. Aku setuju banget kalau kak Niken itu pandai memasak. Oh ya, kak Niken harus ketemu sama mama. Aku yakin mama pasti suka sama kak Niken yang multi talenta." Puji Haya.


"Makasih Haya atas pujiannya. Haya adik yang baik." Niken balas memuji Haya.


"Aku terharu sekali. Karena hanya kak Niken yang memuji aku, kalau aku ini adik yang baik." Haya terharu.


"Ohhh so sweet."


"Kalau begitu, kita buat perjanjian." Usul Hans dengan bangganya.


"Perjanjian apa?" Kata Niken sambil mengernyitkan dahinya.


"Setiap hari, buatkan aku sarapan dan makan malam, hadiahnya adalah sebuah pelukan." Jawab Hans. Niken menggelengkan kepala menolak.


"Kau tidak mau?" Tukas Hans.


"Ngapain mesti pelukan? Kayak orang pacaran aza." Ketus Haya.


"Aku dan Niken memang pacaran bego." Balas Hans. Haya menggeleng tak percaya.


"Emang kak Niken mau pacaran sama kak Hans...? Cowok tengil kayak gini?" Haya memasukan kentang goreng ke mulutnya sambil menunjuk kakaknya. Niken menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya. Agak sedikit gugup menghadapi Haya.


Cuppp tiba-tiba Hans mengecup pipi Niken dihadapan Haya. Niken terkejut bukan main, ia hanya diam dan menundukkan wajahnya. Sementara Haya tercengang melihatnya.


"Kau lihat..." Kata Hans.


"Beneran? Kalian pacaran?" Tanya Haya tak percaya. Niken mengangguk pelan. "Kak Niken nggak salah milih orang kan?"


"Kenapa begitu?"


"Kau ini, kau pikir aku apa?" Ketus Hans.


"Hhaha tidak. Aku hanya bercanda. Syukurlah kalau kalian pacaran. Jadi, aku tidak akan susah payah memasak lagi buat kak Hans. Capek aku, sering dibilang nggak enak." Tutur Haya.


"Oh ya? Hans sering bicara seperti itu?" Haya menganggukkan kepala. "Lain kali, kita masak bersama, okey?" Lanjut Niken. Haya setuju.

__ADS_1


***


__ADS_2