One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Enam puluh empat


__ADS_3

Hari berikutnya Niken masih datang ke rumah sakit, apapun alasan Dina mengusirnya, Niken tetap ingin berada disamping Hans. Haya yang membantunya untuk bertemu dengan kakaknya. Niken harus sembunyi-sembunyi untuk bertemu kekasihnya itu. Karena Dina melarang Niken untuk bertemu dengan Hans.


Hari berganti hari, sudah hampir satu bulan Hans masih terbaring tak berdaya. Meskipun begitu, Niken setia menemaninya.


"Dulu, aku pikir kau hanya lelaki biasa yang suka mempermainkan perempuan. Kau selalu mengatakan tentang cinta, bahwa cinta itu indah, bahwa cinta itu sebuah impian. Kau juga bilang, kau akan ada disampingku. Melindungiku dan menjagaku. Kau bilang, kau akan mencintaiku dulu, kini dan nanti. Kau juga bilang, aku adalah pertama dan terakhir untukmu. Sampai surga mempertemukan kita lagi. Aku ingin kau bangun, Hans. Aku janji Hans, aku janji akan selalu ada untukmu. Apapun yang terjadi, aku ingin kau bangun. Aku mencintaimu." Ujar Niken sambil mengenang hal-hal indah yang sudah ia lewati bersama.


Suara pintu kamar terbuka. Niken terkejut bukan main, Dina menatapnya dengan tajam. Niken menahan nafasnya.


"Sebelum akhirnya aku bertindak kasar, silahkan pergi dari sini." Usir Dina.


"Mah..." Seru Harun.


"Aku tidak ingin kau ada disini. Semua ini terjadi karena dirimu." Ujar Dina.


"Mah, mama kenapa sih? Kecelakaan ini terjadi bukan karena kak Niken. Ini sudah takdir mah." Tukas Haya.


"Diam kamu Haya. Kau tidak akan mengerti." Balas Dina dengan melototi Niken.


"Apa kesalahanku tante? Aku sangat mencintai Hans." Tukas Niken. Tangan Dina melayang dan tepat mendarat dipipi Niken.


"Cinta katamu? Aku telah salah menilaimu. Hans tidak akan pernah bahagia bersamamu. Jadi tinggalkan dia." Tuturnya. Niken menyentuh pipinya. Terasa sakit. Harun dan Haya terkejut melihat perlakuan Dina kepada Niken.


"Mama." Seru Harun dan Haya bersamaan.


"Kalian tidak tahu bahwa dia yang membuat Hans koma seperti ini." Tukas Dina, tetap dengan pendapatnya sendiri.


"Polisi sedang menyelidiki kasus kecelakaan ini. Tapi mereka belum memiliki titik terang, mah." Kata Harun.

__ADS_1


"Lagi pula, aku heran. Dengan sikap mama yang tiba-tiba menuduh kak Niken tanpa bukti apapun. Kak Niken bersama kak Hans malam itu. Kak Niken juga tidak sadarkan diri, mah. Mama juga lihat kan waktu itu. Aku nggak ngerti sama sikap mama yang sekarang. Perilaku mama sekarang, bukan seperti mama yang aku kenal." Tutur Haya.


"Diam kamu Haya. Bawa pergi Niken sekarang. Sekarang!" Perintah mama.


Niken berlutut dihadapan Dina, "Izinkan aku untuk menyentuh Hans sekali ini saja, tante. Aku mohon." Lirih Niken. Dina membuang muka, sementara Harun mengangguk membiarkan Niken menyentuh anaknya. "Apapun. Apapun yang terjadi, aku tetap mencintaimu. Sangat." Bisik Niken tepat ditelinga Hans. Dina menarik tangan Niken, lalu meletakkannya didahi putranya.


"Berjanjilah atas nama Hans, bahwa kau akan pergi meninggalkannya." Kata Dina. Niken terkejut, ia tidak sanggup berjanji. Ia tak sanggup menahan air matanya. "Ayo. Berjanjilah." Kata Dina memaksa. Niken menggelengkan kepalanya.


"Ayolah Niken, untuk sebentar saja. Tante mohon kepadamu."


"Ayo Niken."


"A-a-ak-u be-ber-jan-ji..." Suara Niken parau.


"Akan meninggalkan Hans." Ujar Dina. Sekali lagi Niken menggelengkan kepala.


"Pergilah!" Usir Dina. Niken mengecup kening Hans.


"Aku berjanji pada diriku sendiri, akan selalu bersamamu meski dalan keadaan jauh sekalipun." Batin Niken.


"Ayo, kak. Haya antar ke depan." Haya menggandeng lengan Niken.


"Hans...?" Seru Harun ketika melihat tangan Hans bergerak. Dina memencet tombol merah untuk memanggil suster. Tidak lama setelah itu, dokter dan suster datang untuk memeriksa Hans. Kondisi Hans membaik. Tubuhnya memberikan sinyal yang baik. Dokter melepaskan sebagian alat yang terpasang pada tubuh Hans. Kemungkinan terbesar, Hans akan siuman dalam waktu dekat. Niken sangat senang ketika mendengar kabar baik itu.


"Katakan hal-hal positif untuk mendukung kesembuhannya. Saat ini ia butuh motivasi dari orang-orang yang ia cintai, termasuk oleh kekasihnya itu sangat membantu. Agar ia bisa pulih dengan cepat." Jelas Dokter tersebut. Haya merasa senang, karena Niken mempunyai tempat untuk pemulihan kakaknya.


"Ini perintah dokter. Mama tidak bisa mengusir kak Niken seenaknya." Ujar Haya. Dina menyunggingkan bibirnya. Niken kembali ke kamar, duduk disamping Hans dan menggenggam tangan Hans dengan lembut.

__ADS_1


"Kau mencintainya?" Tanya Dina. Niken mendongak, lalu mengangguk pelan. "Dengar, setelah ini. Aku ingin kau secepatnya pergi dari kehidupan Hans." Lanjut Dina. Air matanya jatuh lagi. Dina tetap memaksa Niken untuk meninggalkan Hans.


"Jika itu yang terbaik untuk Hans. Tapi bisakah tante memenuhi permintaanku." Balas Niken.


"Apa?" Tanya Dina.


"Tidak peduli seberapa jauh jarak memisahkan kita. Tidak peduli siapapun yang mencoba memisahkan kita, aku yakin, Tuhan memiliki cara untuk menyatukan hati kita lagi. Aku akan pergi, tapi aku ingin Hans tahu, untuk tidak melupakan janjinya kepadaku. Selalu sarapan setiap pagi." Jelas Niken.


"Tante tahu. Tante sangat tahu bahwa kau dan Hans saling mencintai. Tapi tunggu. Tunggu sampai Tia masuk dalam jeruji besi. Agar dia tidak lagi mengancam kita." Batin Dina.


"Tanpamu Hans bisa hidup lebih baik." Bisik Dina. Air mata Niken mengalir sangat deras. Hatinya hancur berkeping-keping. Tidak ada yang sanggup menahan perasaannya saat ini kecuali dirinya sendiri.


"Jika..." Niken sesunggukan, "jika memang itu terbaik untuk Hans. A,aku akan menuruti keinginan tan-tante." Balasnya.


"Berjanjilah atas nama Hans." Tukas Dina. Niken mengangguk setuju meski dengan hati yang sangat berat.


"Tapi, izinkan aku bersamanya, hingga dia membuka matanya." Kata Niken. Dina pun setuju.


"Hans, jika takdir masih baik terhadap kita, maka suatu hari nanti. Kita akan dipertemukan kembali. Tapi jika tidak, aku mohon maafkan aku. Aku mencintaimu, dulu, kini, dan nanti. Sampai surga mempertemukan kembali. Bangunlah untukku." Lirih Niken. Air matanya jatuh ke pipi Hans. Niken mengecup kening Hans sebagai tanda perpisahan. Hati Dina tidak sekejam apa yang dikatakannya. Semua itu ia lakukan untuk menyelamatkan putra dan keluarganya. Niken tak sanggup menahan air matanya, ia mundur beberapa langkah dari ranjang tempat Hans berbaring.


"Begitulah cinta. Kau harus rela berkorban." Kata Dina.


"Apa yang kak Niken korbankan?" Tanya Haya tiba-tiba masuk ke kamar. Niken menggelengkan kepalanya.


"Kak Hans...? Kakak...?" Seru Haya ketika ia hendak menaruh ponsel di atas lemari kecil. Haya melihat Hans membuka matanya.


"Mahhh..." Lirih Hans pelan. Haya memencet tombol merah untuk memanggil suster. Dina terkejut bahagia. Sementara Niken melangkah mundur. Perjanjiannya dengan tante Dina sudah diresmikan ketika Hans siuman. Niken berlari keluar dari rumah sakit. Niken menyetir mobilnya dalam keadaan menangis. Ia tidak pulang ke apartemennya. Mobilnya masuk ke jalan tol, Niken hendak pulang ke rumah orangtuanya. Tidak ada yang mampu mengerti perasaannya saat ini. Ia butuh dukungan dan pelukan seorang ibu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2