One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Tujuh puluh


__ADS_3

Dua tahun yang lalu.


Ketika ikatan cinta yang dijalin oleh Hans dan Niken harus kandas. Disaat itu pula Hans kecewa lagi terhadap keadaan yang tidak bisa ia ubah. Niken pergi begitu saja. Tanpa sepatah kata apapun. Tampaknya itu menjadi karmanya sendiri. Dulu ia yang meninggalkan Niken untuk urusan studinya. Kini ia sendiri yang ditinggal oleh Niken. Bahkan entah bagaimana perasaan yang kini ada didalam dadanya membuncah begitu saja. Ia tak mampu mengendalikan emosinya sendiri. Ia bahkan seperti orang gila yang ditinggal pergi kekasihnya. Sering mabuk-mabukan dan mengigau menyebut-nyebut nama Niken.


Namun tanpa sepengetahuan Hans, Niken tak pernah benar-benar pergi. Ia selalu mengikuti kemana pun Hans pergi. Dia selalu ada disaat Hans mabuk seperti orang gila. Niken menyesuaikan pekerjaannya sesuai dengan jadwal kerja Hans.


"Aduh... Hans, kenapa kau jadi seperti ini sih?" Niken berusaha memapah Hans ke apartemennya. Setelah melepaskan sepatu dan membaringkan Hans ditempat tidur, Niken merapikan semua barang-barang Hans. Menyapu dan mengepelnya. Melakukan pekerjaan ibu rumah tangga setiap kali menemukan Hans dalam keadaan mabuk. Tanpa seorang pun yang tahu. Namun suatu waktu, penyamarannya itu ketahuan oleh adiknya Hans. Haya membulatkan kedua matanya, tak percaya. Begitupun dengan Niken.


"Kak Niken..."


Niken menghembuskan nafasnya. Akhirnya ia harus berterus terang kepada Haya, "Haya, maafkan aku karena telah berbohong kepadamu. Sebenarnya aku tidak pernah menjual apartemenku. Aku tidak pindah. Aku tidak pergi ke Turki. Aku selalu mengikuti Hans kemana pun dia pergi. Dan aku mohon, tolong rahasiakan ini dari Hans. Karena kalau tidak, mamamu pasti akan marah kepadaku." Jelas Niken. Meminta Haya mengikuti alurnya sendiri.


"Tapi kenapa harus begini sih kak? Trus mau sampai kapan kakak akan bersembunyi dari kak Hans? Kakak tahu, kak Hans sangat menderita." Ujar Haya.


"Aku tahu Haya. Ini sangat berat untukku. Aku tidak tahu kenapa tante Dina membenciku? Aku tidak tahu sampai kapan aku akan seperti ini? Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan dalam persembunyianku. Kondisiku lebih berat dibandingkan dengan Hans. Aku harus berpura-pura menghilang dari kehidupannya. Pergi meninggalkannya, tapi aku nggak bisa. Ini terlalu berat buat aku." Jelas Niken. Haya memeluk Niken dengan iba.


"Maafin mama Haya ya kak. Maafin mama Haya." Isak Haya.


"Kita coba lalui ini bersama ya. Haya harus janji, untuk merahasiakan persembunyian aku." Akhirnya Haya mengangguk setuju. Sejak itulah Haya bekerja sama dengan Niken. Meskipun sangat berat membohongi kakaknya, tapi ini satu-satunya cara untuk menjaga perasaan mamanya.


***


Menemukan satu wajah yang ia cintai itu membuat Hans sangat senang sekali. Bertemu kembali dengan Niken. Bisa menjalin lagi cerita yang sempat putus. Menjalin hubungan dengan lebih baik lagi. Namun sia-sia, pendekatan yang ia lakukan untuk kembali lagi ke sisi Niken adalah kesia-siaan. Karena siang itu Hans tak sengaja melihat Niken duduk berdua dengan seorang lelaki. Niken melempar senyum yang lebar. Bahkan melakukan kontak mata dengan lelaki itu. Hal itulah yang membuat Hans merasa sangat cemburu.


Fariz sengaja mengunjungi Niken di kampusnya. Mereka dulu pernah memiliki sebuah perasaan yang sama. Namun Fariz mengkhianatinya. Dan sejak saat itu Niken tidak pernah mau lagi berbicara dengan Fariz. Bagi Niken semua yang sudah berlalu adalah masa lalu. Niken mempersilahkan Fariz duduk di kantin sambil minum dan makan.

__ADS_1


"Kamu gimana?" Tanya Fariz.


"Aku? Gimana apa maksudnya?" Balas Niken.


"Ya, tadi kan aku udah cerita panjang lebar. Masa kamu nggak cerita." Tukas Fariz.


"Cerita apa...? Aku nggak punya cerita menarik seperti kamu." Kata Niken.


"Bohong banget. Ohya, katanya kamu udah punya calon. Mana sekarang calon suamimu?" Tukas Fariz.


Niken menggelengkan kepala, "kita udah lama putus." Balas Niken.


"Hah? Koq bisa?"


"Hans...?" Seru Niken. Hans sedang duduk dikursi kerjanya sambil mengecek tugas mahasiswanya.


"Tadi pak Kiki memintaku untuk memberikan ini kepadamu." Ujar Niken. Hans bergumam sambil mengangguk, tanpa melihat wajah Niken.


"Simpan saja." Jawab Hans pendek.


Niken merasa aneh dengan sikap Hans. Hari demi hari, Hans tidak lagi mengganggunya. Tidak ada lagi Hans yang menyadarkannya bahwa ia adalah kekasihnya.


Hari sabtu itu, Hans menghadiri acara pernikahan Amir dan Bella. Niken pun hadir di sana. Ia tampak cantik dan seksi. Hans melihat Niken bersama lelaki yang sama. Dan itu membuat Hans sangat cemburu. Sepulang dari acara resepsi, Hans minum sebotol anggur di bar tempat biasa. Hans menenggak kembali botol kedua dan ketiga.


"Mbak Niken, cepat mbak. Mas Hans minta botol yang ke-empat." Kata si pelayan.

__ADS_1


"Hemmmh, makasih ya, Ris. Udah ngasih tahu mbak." Balas Niken. Lalu Niken menghampiri Hans.


"Ayo pulang." Kata Niken.


"Siapa ini? Ohhh Niken kekasihku. Sedang apa kau disini? Hah? Pergi sana pergi." Ujar Hans setengah sadar dan tidak. "Ehhh kau bukan Niken. Kau siapa?"


"Aris, apa Hans sudah bayar anggurnya?" Tanya Niken.


"Sudah mbak. Dia bayar dimuka. Malah lebih." Jawab pelayan yang bernama Aris itu.


"Kalau gitu aku pulang ya." Niken memapah Hans masuk ke mobil, Niken menyetir mobil Hans melaju ke jalanan dan memarkirnya setiba mereka di apartemen. Niken masih memapah Hans ke kamarnya.


"Aku benci kau, Niken. Aku sangat membencimu." Tukas Hans tiba-tiba.


Niken mendesah pelan, "apa yang bisa aku lakukan untukmu, Hans? Aku tahu aku salah. Tapi aku mohon jangan membenciku." Balas Niken. Hans menatap Niken penuh dengan marah. "Siapa lelaki itu? Katakan siapa lelaki itu?" Teriak Hans.


Niken menelan ludah. Siapa yang Hans maksud? Lelaki mana? Ohh mungkinkah Fariz yang dia maksud? Niken mendekat lalu mencium kening Hans. "Kau cemburu?" Tanya Niken pelan. Mata Hans merah. Entah ia sadar atau tidak tapi wajah Niken sangat dekat dengannya.


"Dia Fariz. Lelaki yang pernah aku ceritakan waktu dulu. Dia sudah menikah dengan teman masa kecilku Ineu. Kau tidak perlu cemburu. Karena hatiku masih untukmu." Jelas Niken, kemudian ia mengecup bibir Hans dengan lembut.


"Aku mencintaimu." Bisik Niken. Saat ia hendak pergi meninggalkannya, Hans menarik lengan Niken dengan keras. Sehingga Niken terbaring diranjangnya. Mata Hans merah, nafasnya terasa hangat. Bau anggur masih tercium oleh Niken. Hans menatap Niken lamat-lamat, ia menyapu rambut Niken, lalu mencium bibirnya. Sejenak Hans menatap kembali wajah Niken.


"Aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan." Imbuhnya. Niken mengernyitkan dahi. Hans ******* bibirnya penuh dengan nafsu. Hans merobek gaun Niken yang tipis. Menanggalkannya ke sembarang arah. Hans menanggalkan semua pakaiannya, dan kembali ******* bibir Niken. Sementara Niken membiarkan Hans berada diatas tubuhnya. Niken membalas menggigit bibir bawah milik Hans. Malam itu, Niken dan Hans memenuhi kebutuhan biologisnya.


***

__ADS_1


__ADS_2