One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Delapan puluh satu


__ADS_3

Pukul 7.30, Hans tiba di restaurant tempat yang sudah dijanjikan oleh kedua orangtuanya. Secara kebetulan, ia melihat sepasang mata yang sedang memandanginya. Hans menelan ludah. Ia melihat wanita yang dicintainya. Ya itu adalah Niken. Dia sangat cantik sekali dengan gaun terbuka yang menampakkan lehernya yang seksi. Begitu pun dengan Niken. Ia menelan ludah. Mereka saling menatap satu sama lainnya.


"Sedang apa kau disini?" Seru Hans dan Niken bersamaan.


"Aku..." lagi-lagi bersamaan. Hans tersenyum begitu pun dengan Niken.


"Aku mau bertemu ibu dan kakakku." Jawab Niken.


"Aku juga mau bertemu orangtuaku." Balas Hans. "Apa kau sudah bertemu dengan pria yang akan dijodohkan oleh ibumu?" Lanjut Hans. Niken menggeleng. Jujur, Niken tak ingin dijodohkan oleh siapapun. Ia hanya berharap waktu bisa memutar kembali apa yang telah terjadi. Ia masih mencintai pria itu. Namun kali ini, Niken tidak bisa menolak permintaan ibunya. Meski dengan terpaksa. Ia harus menurut. Begitu pun dengan Hans. Hans mengulurkan tangannya. "Selamat ya." Glekkk. Niken menelan ludah. Hans memberikan selamat kepadanya entah untuk alasan apa. Tapi hati Niken terasa agak pahit. Niken berjalan beriringan bersama Hans. Begitu sampai didalam restauran. Mereka melihat kedua orangtuanya sedang duduk bersama sambil bercanda gurau. Niken dan Hans mendekat perlahan-lahan.


"Bu...?" Seru Niken.


"Nah ini lho, Din. Ichen kecilmu." Ujar Ria. Adina atau lebih akrab disapa Dina itu terperanjat tak percaya.


"Oalah, Ri. Koq kamu nggak bilang kalau kamu anaknya Riana sih. Ini sih aku kenal. Dulu pacarnya Hans. Nggak tahu kalau sekarang." Tutur Dina sambil menyipitkan matanya ke arah putranya.


"Hans yang ini sih aku juga kenal. Dulu waktu ayahnya Niken meninggal, dia datang ke rumahku." Balas Ria.


"Hhaha, ternyata dunia ini sempit ya, Ri." Tukas Harun. Dina dan Ria tertawa.


"Jadi maksud ibu, tante Dina itu teman ibu?" Tanya Niken sembari duduk di kursi yang sudah disediakan. Ria mengangguk begitu pun dengan Dina.


"Bukan teman lagi. Tapi udah lebih dari sekedar sahabat." Jawab Dina.


"Jadi, perjodohan itu...?" Tukas Niken dan Hans secara bersamaan. Ria dan Dina menganggukkan kepala dengan yakin. Niken tersenyum, begitupun dengan Hans yang sejak tadi memandangi Niken dengan tajam.


"Lebih baik sekarang makan dulu. Setelah itu kita baru bicarakan kembali soal perjodohan Niken dan Hans, gimana tante?" Usul Nadine. Mereka pun setuju. Setelah acara makan malam selesai, Dina, Harun, dan Ria kembali memperbincangkan topik lamaran.


"Nah jadi kedatangan kami ke Bandung ini Niken. Untuk melamar kamu. Sekarang papa tanya kamu dulu Hans, kamu setuju tidak kalau Niken yang papa pilih menjadi menantu kita?" Ujar Harun.


Hans mengangguk dengan yakin, "bahkan jika mama dan papa melarang pun, aku akan menikahinya." Jawab Hans. Mereka berseru menggoda Niken dan Hans. "Kalau nak Niken bagaimana? Apakah lamaran Hans diterima atau ditolak?" Tanya Harun. Niken tersenyum geli.


"Dengan satu syarat." Kata Niken. Mereka menatap Niken dengan penasaran.


"Apa syaratnya?" Tanya Harun. Dina, Ria, Nadine, Dimas, termasuk Hans pun menatap Niken untuk mengetahui kelanjutan kalimatnya.


Niken tertawa melihat semuanya terasa tegang, "tidak. Aku hanya bercanda. Aku menerimanya." Lanjut Niken. Hans memandanginya dengan tajam. Niken tersipu malu. Tak di sangka ternyata kedua orang tua mereka saling kenal, bahkan bersahabat. Mereka merasa lega karena akhirnya, Dina dan Ria akan berbesanan.

__ADS_1


"Tapi, Niken mau, konsep akad dan resepsi terpisah. Dan sesuai yang aku dan Hans inginkan." Imbuh Niken.


"Ohhh nggak masalah. Anak muda pasti punya selera yang lebih segar. Iyakan Ri?" Balas Dina. Ria menganggukkan kepalanya.


"Kita gimana kalian aja." Balas Ria.


"Kalau akhirnya mama sama papa kenal sama keluarga Niken. Kenapa nggak dari dulu aja kita di jodohkan, ya kan?" Ketus Hans. Niken menyipitkan kedua matanya. Dina mencubit lengan anaknya.


"Jangan nakal." Kata Dina.


"Iya tante, Hans nakal tuh." Ketus Niken. Dua keluarga telah bersatu. Akhirnya hubungan Niken dengan Hans memiliki celah.


...***...


Kenyataan bahwa orangtua Hans dan Niken adalah sahabat, membuat keduanya sangat bahagia. Sementara itu Hans masih sibuk dikampusnya, dan Niken masih dikampung halaman dengan ibu dan kakaknya.


"Bisakah kau pulang, sayang." Sebuah pesan diterima oleh Niken dari Hans.


"Tidak mau. Aku masih ingin bermanja-manjaan dengan ibuku." Balas Niken.


"Apa hadiahnya kalau aku mau pulang?"


"Aku akan menciummu 100x." Balas Hans. Niken menggigit bibirnya dan tersenyum geli membayangkan disaat Hans mencium bibirnya.


"Eh eh eh, senyam senyum sendiri. Ada apa nih?" Seru Ria kepada Niken.


"Hemmm enggak ada apa-apa, bu." Balas Niken. "Bu, aku pulang ya nanti sore." Katanya tiba-tiba.


"Lho kenapa tiba-tiba kau mau pulang? Apa ada masalah?" Tanya Ria.


Niken menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Niken berusaha mencari alasan yang lain. "Enggak. Ada hal yang harus aku urus di salon. Boleh kan?" Imbuh Niken meminta izin kepada ibunya.


"Iya boleh. Tapi kamu hati-hati ya." Balas Ria. Sore itu pun Niken kembali ke Jakarta. Seperti biasa, Niken akan singgah ke pasar untuk beli bahan pokok untuk ia masak nanti malam. Pukul 8.00 malam, Niken sampai di apartemennya. Ia bergegas masak untuk makan malam.


Suara bel pintu berbunyi, Niken segera berlari dan membuka pintu. Alangkah terkejutnya ia ketika Hans membawa sekuntum mawar putih untuknya. Dengan senyum yang mengembang dan penuh cinta itu.


"Untukku?" Kata Niken, Hans mengangguk. Niken pun memeluk Hans dengan mesra.

__ADS_1


"Duduklah, sebentar lagi selesai." Ujar Niken. Hans duduk dikursi makan.


"Ahhh aku lupa sesuatu." Kata Hans.


"Apa?"


Hans mencari sesuatu disaku celananya. "Dimana ya?" Katanya.


"Apa?" Tanya Niken.


"Senyummu." Jawab Hans. Niken tersenyum mendengar gombalan calon suaminya itu. Setelah Niken selesai memasak, mereka berdua pun makan malam dengan romantis.


"Kalau saja sejak dulu orangtua kita bertemu. Mungkin kita sudah menikah." Kata Hans. Hans meletakkan kepalanya dipaha Niken. Ia berbaring sambil menatap wajah Niken yang cantik.


"Jalan takdir kita mungkin harus begini sayang." Balas Niken.


"Emmm... Apa? Apa?" Hans seolah tak percaya kalau Niken memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Apaan sih." Niken malu sendiri.


"Tumben kamu panggil aku sayang duluan." Ujar Hans.


"Kenapa? Nggak boleh?" Tukas Niken sambil membelai lembut pipi kanan Hans.


"Enggak. Bukannya nggak boleh. Justru aku senang banget lho sayang." Balas Hans. "I love you..."


"I love you so much."


"Oh ya kau ingat satu permintaan yang belum aku katakan padamu?" Kali ini Hans yang mengusap lembut pipi Niken.


"Apa?"


"Jangan pergi. Tetaplah bersamaku, apapun yang terjadi." Lanjut Hans. Niken mengusap dahi Hans, lalu mengecupnya.


"Aku akan bersamamu, selamanya." Balas Niken. Hans menarik leher Niken dan mengecup bibirnya dengan lembut. Hans duduk bersejajar lalu menarik lengan Niken dan ******* bibir kekasihnya dengan lembut dan penuh gairah.


***

__ADS_1


__ADS_2