
Pukul 8.30 WIB, Hans sudah tiba di Bandara Soekarno-Hatta mengantar kepergian kekasihnya ke Belanda. Setelah mengantar Niken cek in, Hans membantu Niken mendorong kopernya. Hans membelai lembut rambut Niken. Mengelus pipinya. Kemudian memeluk Niken dengan mesra.
"Sayang, Audi udah nunggu tuh." Tukas Hans. Niken merasa enggan melepaskan pelukannya. Rasanya ia tak ingin pergi. Rasanya ingin selalu ada didekat Hans. Begitupun dengan Hans. Pasti akan sangat merindukan Niken. Tak terbayang olehnya jika harus berpisah lagi. Niken dapat mendengar suara detak jantung milik Hans. Ia tahu lelaki itu takut akan kehilangan dirinya. Niken menatap mata Hans lamat-lamat.
"Kenapa?" Tanya Hans sembari membelai lembut rambutnya.
"Kau tidak apa-apa?" Balas Niken.
"Sebenarnya aku ingin ikut bersamamu. Aku tidak bisa membohongi diri sendiri untuk selalu terlihat baik-baik saja. Kalau kau bagaimana?" Tutur Hans. Niken menghembuskan nafasnya.
"Aku juga. Kau tahu, aku takut sekali kau berpaling dariku." Balas Niken. Hans tersenyum mendengar kalimat itu terlantar dari mulut Niken.
"Kenapa begitu...?"
Niken mengangguk, "banyak perempuan cantik yang ada disekelilingmu. Meskipun kau tidak terpengaruh dengan perhatiannya, tapi tidak menjamin kau tidak terpengaruh dengan rayuan dan sentuhannya. Karena laki-laki tidak akan tergoda kalau perempuan tidak menggodanya." Jelas Niken. Hans memeluk Niken kembali.
"Jadi, kau takut aku tergoda oleh perempuan lain?" Balas Hans. Niken mengangguk. "Sayang, dengar, perjuanganku untuk mendapatkanmu itu sangat sulit. Hanya kau, satu-satunya perempuan yang selalu aku perjuangkan. Enggak ada yang lain. Kalau ada wanita lain yang merayuku, percayalah, dia hanya datang sementara. Cintaku hanya untukmu. Dibawah bulan musim panas, aku tidak akan melepaskan cintaku padamu. Rembulan akan membawa kita untuk bersama kembali. Apapun cobaannya. Kita lalui bersama. Kau mengerti?" Jelas Hans. Niken mengangguk pasti.
"Aku akan selalu merindukanmu." Bisik Niken tepat ditelinga Hans. Hans mengangguk, lalu membalas.
__ADS_1
"Aku juga. Jaga baik-baik dirimu ya." Kata Hans. Niken bersama Audi menuju tempat boarding. Sementara Hans menuju pintu lain untuk terbang ke Medan.
Pesawat menuju Belanda sudah take off, Hans merasa lega karena pesawat yang ditumpangi Niken sudah terbang diudara. Sementara dirinya masih menunggu jadwal penerbangannya. Hans membuka pesan dari mamanya.
"Hans, apakah kau sungguh-sungguh mau menerima perjodohan ini? Mama tidak mau kau sedih karena permintaan mama ini. Tapi ketahuilah, Hans, tidak ada seorang ibu yang menjerumuskan putranya ke hal negatif. Mama ingin kau bahagia. Jika kau punya pilihan lain, mama akan coba menerimanya. Mama seperti ini, karena mama sayang sama kamu." Begitu isi pesannya, Hans menghela nafas. Lalu ia membalas pesan mamanya.
"Mah, jika aku menerima perjodohan yang telah mama siapkan dengan sahabat mama itu membuat mama bahagia, maka aku akan bahagia. Mungkin, aku sudah terlalu banyak membuat mama terluka. Aku tahu, aku masih mencintai Niken. Tapi, jika memang aku tidak berjodoh. Maka aku akan meninggalkannya untuk mama." Begitu Hans membalas pesan untuk mamanya. Sebenarnya berat bagi Hans untuk meninggalkan Niken. Ia sangat mencintai Niken. Begitu pun sebaliknya. Hans sangat dilema. Niken itu, bukan hanya cantik dan baik. Ia juga sangat pengertian dan cerdas. Dia adalah cinta pertama dan terakhir bagi hidupnya. Tapi bagaimana dengan mama? Hans mengingat percakapan Niken dengan ibunya. Tentang perjodohan juga. Ini sangat kebetulan. Apakah zaman sekarang sudah seperti zaman Siti Nurbaya. Yang bisa dijodoh-jodohkan seenaknya oleh orang tuanya.
"Nanti mama kirimkan foto anak sahabat mama itu. Lewat email ya. Mama juga belum lihat fotonya." Jawab mama. Hans mendesah pelan.
...***...
"Bu...?" Seru Audi.
"Iya Audi." Balas Niken sambil membuka majalah. Pesawat akan mendarat 2 jam lagi, sementara Niken dan Audi masih asyik membaca majalah. Audi perempuan yang baik, ia juga banyak membantu Niken selama berpergian. Audi mengagumi Niken diam-diam. Ambisinya, ketekunannya, kecantikannya, dan kepribadiannya yang tangguh.
"Aku senang bisa membantu bu Niken." Imbuhnya. Niken menoleh, lalu mengembangkan senyum kepada Audi.
"Jangan panggil ibu ahk. Panggil aza mbak atau kakak kek. Aku kan belum jadi ibu-ibu." Balas Niken. Audi tersenyum lalu mengangguk.
__ADS_1
"Iya bu... Ehh mbak... Masih canggung." Ujar Audi.
"Pelan-pelan aza. Nanti juga terbiasa."
"Uhmmm, mbak Niken sama pak Hans cocok." Serunya. Niken tertawa pelan. "Aku dulu pernah berpikir, pak Hans itu kan orangnya agak galak ya. Tegas, trus disiplin banget. Pernah sempat bilang, kayak gimana ya perempuan yang mau sama pak Hans. Pak Hans itu kan kayak yang anti sama perempuan. Kalau ada yang menggodanya, dia cuek banget." Lanjut Audi.
"Hans cuek?" Tanya Niken tak percaya. Selain menjadi mahasiswa, Audi juga pernah bekerja untuk Hans. "Setahuku dia itu playboy dan tidak galak koq." Lanjut Niken.
"Ohya? Ibu.. Ehh mbak Niken udah kenal lama ya sama pak Hans?" Audi penasaran dengan kisah asmara Niken dengan Hans.
"Sudah. Dia dulu kakak tingkatku." Jawab Niken. "Ohya berapa usiamu, Audi?"
"27 tahun." Jawab Audi. "Selama hampir satu bulan ini, aku kagum pada mbak Niken. Mbak Niken selain cantik juga sangat gigih. Aku pengin seperti mbak Niken. Terutama semangat mbak Niken yang sangat menyala bagaikan matahari. Kalau kata pak Hans, bercahaya lembut dimusim dingin, dan bercahaya terang menyilaukan musim panas. Dan aku rasa itu adalah mbak Niken." Tutur Audi. Niken menelan ludah. Ia tersentuh dengan kalimat terakhir yang Audi katakan.
"Kapan Hans mengatakan hal itu?" Tanya Niken.
"Selama menjadi karyawan pak Hans, kami selalu mendengar semua kata mutiara pak Hans. Dia menuliskan kata-kata itu dipapan visinya. Setiap hari dia akan selalu memandang satu foto yang ia simpan didekat layar komputernya. Mungkin itu mbak Niken. Saat dia mengalami kesulitan, dia pasti akan memejamkan matanya dan menggumamkan 3 kata ajaibnya, "aku mencintaimu selamanya". Dia tidak pernah melirik wanita manapun kecuali foto yang ada didekat layar komputernya. Dan sepertinya itu mbak Niken." Jelas Audi. Hati Niken terenyuh, seakan-akan Hans hanya mencintai dirinya. Niken tidak sabar ingin segera bertemu dengan Hans memeluknya dan mengucapkan kembali kata-kata cinta untuknya. Serta mengucapkan terimakasih karena telah mencintai dirinya.
Tapi... Pesan ibu membuatnya tersentak. "Ibu ingin, kau menyempatkan waktu untuk bertemu dengan anak sahabat ibu. Kali ini, ibu tidak ingin kau menolaknya." Niken menghembuskan nafasnya. Ini sangat berat, tapi Niken menyadari bahwa saat ini Hans sedang menghindarinya. Mungkin setelah ini, hubungannya harus diakhiri. Ia sudah janji kepada ibunya, bahwa ia akan menerima perjodohan ini. Meskipun harus mengorbankan kisah cintanya berakhir.
__ADS_1
...***...