
Niken menelan ludah, gugup. Begitu pun dengan Hans yang kikuk dengan keadaan seperti itu. Suasana menjadi sangat tegang.
"Mah..." Seru Harun. Dina tersenyum kepada Niken dan Hans
"Kenapa? Kamu terkejut ya, kalau saya ada di sana waktu itu." Imbuh Dina.
"Huh? Emmm, ini ya tante." Balas Niken, lalu merapatkan bibirnya dan menunduk.
"Kamu nggak tahu kalau Tia itu mantan pacarnya Hans?" Ujar Dina lagi. Niken mendongak sebentar lalu menggelengkan kepala.
"Mah, kenapa harus nanya kayak gitu sih." Tukas Hans.
"Enggak, mama cuman pengin tahu aza." Balas Dina.
"Ayo kita duduk." Harun mempersilahkan semuanya untuk duduk di kursi masing-masing.
"Hubungan tante dengan Tia lumayan dekat, dia sering ke rumah dan cerita banyak. Dan nggak sengaja kemarin setelah tante lihat pertikaian kalian, Tia cerita, kalau kamu itu ngerebut Hans, benar begitu?" Tutur Dina.
"Eee, maaf tante. Tapi saya tidak tahu kalau Hans pacaran dengan Tia. Dan kalau pun saya tahu, saya tidak akan pernah tertarik kepada laki-laki yang sudah memiliki kekasih." Jelas Niken. Dina menyunggingkan bibirnya.
"Mungkinkah itu sebabnya dia menganggap kamu musuh?" Selidiknya.
"Mah..." Harun, Haya dan juga Hans bersamaan menyeru mamanya.
"Saya tidak tahu tante. Itu hak Tia untuk menganggap saya musuh atau bukan. Tapi, saya tidak pernah menganggap, orang yang membenci saya sebagai musuh saya." Jawab Niken.
Hans menggenggam tangan Niken, mencoba menenangkan. "Maaf, saya permisi ke toilet." Niken berlalu meninggalkan mereka. Hans juga mengikutinya.
"Mah, kan Haya udah pesan jangan ngebahas Tia dihadapan kak Niken. Lagi pula hubungan kak Hans dengan Tia udah berakhir lama. Kenapa harus diungkit sih?" Tutur Tia.
"Mama sebenarnya kenapa? Mama mengkhawatirkan Hans?" Tanya Harun.
"Kalian berdua kenapa sih? Suka-suka mama dong, mau nanya apa saja ke Niken. Emang salah?" Balas Dina.
"Enggak salah. Tapi momentnya yang salah mama." Imbuh Haya.
"Ini kayaknya mama keseringan nonton drakor. Makanya sok-sokan galak sama calon menantunya." Tambah Harun.
"Ihhh kalian kenapa sih? Koq kayak gitu ke mama." Kata Dina.
Sementara di toilet, Niken mencoba menenangkan dirinya. Ia harus bisa menghadapi mamanya Hans. Bagaimana pun caranya. Niken menghembuskan nafasnya. Ketika ia keluar dari toilet, Hans sudah berdiri dihadapannya.
"Kenapa kau ada disini?" Tanya Niken.
"Kamu nggak apa-apa?" Hans mengkhawatirkannya. Sehingga ia menyusul Niken ke toilet. Niken menggelengkan kepala. "Mama berlebihan. Aku akan bicara sama mama." Lanjut Hans.
"Hans, mama kamu berhak untuk bertanya. Berhak menyelidiki siapa aku." Balas Niken.
"Tapi..."
"Kita hadapi sama-sama ya. Kamu harus ada di samping aku." Pinta Niken. Hans mengangguk, lalu menggenggam tangan kekasihnya itu.
Mereka kembali ke meja dan duduk di kursi yang telah disediakan. Dina sedang menyuap makanannya.
"Niken ayo kita makan." Kata Harun. Niken menganggukkan kepala. Pesanannya sudah dimeja. Ia meletakan beberapa makanan didekat piring Hans.
"Terimakasih." Kata Hans sambil tersenyum. Niken merespon dengan senyumannya. Mengaduk sebentar makanan Hans. Lalu Hans melahap makanannya. Dina melirik sebentar, lalu kembali fokus ke makanannya. Hans tersedak karena tidak hati-hati, lalu dengan sigap Niken memberi Hans segelas air mineral dan menepuk punggung kekasihnya dengan pelan.
"Gimana? Sudah baikan?"
"Sudah..." Balas Hans. Harun, Dina dan Haya melirik sebentar ke arah Niken dan Hans. Kemudian meneruskan makan. Tiba-tiba suara ponsel Niken berdering, panggilan dari pak Kiki rektornya.
"Siapa?" Tanya Hans.
"Pak Kiki." Jawab Niken. Harun dan Dina saling berpandangan melihat anaknya bereaksi dan saling merespon.
"Ngapain?"
"Nggak tahu, aku jawab dulu ya." Kata Niken.
"Kan lagi makan. Nanti aza."
__ADS_1
"Takut penting. Nanti dia marah loh."
"Pccch, ya udah sini aku aza." Hans merebut ponsel Niken.
"Hans...?"
"Hallo pak Kiki, ada apa?"
"Ini siapa?"
"Pacarnya Niken." Ketusnya.
"Ehhh saya nggak ada urusan sama pacarnya. Saya punya urusannya sama Niken." Balas pak Kiki diujung telepon sana.
"Ngomong aza sama saya. Nanti saya sampaikan sama Niken."
"Nggak bisa. Ya udah nanti aza. Saya mau telepon dulu Hans." Lalu telepon terputus. Hans meletakkan ponsel Niken di meja.
"Kenapa?" Tanya Niken. Hans mengangkat bahu. Ponsel Hans juga berdering. Tanda dari pak Kiki.
"Nih kamu yang angkat." Hans menyodorkan ponselnya.
"Enggak ahk. Kamu aza."
"Siapa Hans?" Tanya Dina.
"Ini loh mah, rektor kita. Nelepon mulu." Jawab Hans.
"Jawab dulu. Siapa tahu penting." Kata Niken.
"Lagi makan." Ketus Hans.
"Hans...? Sebentar aza." Pinta Niken. Akhirnya Hans menjawab panggilan masuk pak Kiki.
"Ya pak Kiki. Ada apa?...... Oooh.... Emmm.... Ya.... Ohhhhh.... Okey. Saya usahakan. Apa Niken? Emmmm... Oh gitu, okey deh. Iya iya. Nanti saya sampaikan." Kemudian telepon terputus.
"Ada apa?" Niken kembali bertanya.
"Pak Kiki bilang, besok malam kita diundang ke acara talk show di salah satu media televisi Indonesia." Balas Hans.
"Kita. Kita berdua. Hans dan Niken." Jelas Hans. Niken tersenyum melihat ekspresi Hans. Dina dan Harun memperhatikan mereka berdua.
"Ohya Niken, ayahmu bekerja dimana?" Tanya Harun.
"Huh? Oughmmm, Dulu, ayah bekerja sebagai direktur keuangan, om. Tapi sekarang udah meninggal." Jawab Niken.
"Innalillahi. Om turut berduka cita ya, Niken." Balas Harun, Niken mengangguk.
"Kalau ibumu?" Tanya Dina.
"Ibuku dosen, tante." Jawab Niken.
"Ohya? Dosen dimana? Tante juga dosen sastra. Di kampus di Trisakti." Balas Dina.
"Ibu saya juga dosen bahasa dan sastra, tante. Di Universitas Pasundan di Bandung." Ujar Niken.
"Ohhh gitu." Niken mengangguk
"Iya tante "
"Kamu kuliah dimana?" Dina terus menyelidiki.
"Kalau S1, saya kuliah di UI tante satu almamater sama Hans." Jawab Niken dengan sopan. Dina mengangguk-angguk.
"Jadi sekarang kamu dosen juga sama satu kampus dengan Hans?" Niken mengangguk. "Kalau S2nya kamu dimana?"
Harun memberi isyarat kepada istrinya untuk berhenti bertanya. Tapi Dina mengacuhkannya.
"Di Istanbul University, tante." Jawab Niken pendek. Mata Dina terbelalak ketika Niken menyebutkan Istanbul.
"Ohhh Turki ya." Niken mengangguk. Tia berbohong soal pekerjaan Niken. Dina memandang Niken dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia tidak tampak seperti pelacur pada umumnya. Niken justru tampak sangat elegan dan berwibawa. Gaunnya juga tampak berkelas. Rambutnya hitam legam, tidak seperti Tia yang diwarnai. Justru Niken menunjukan sikap seorang wanita berkelas bagaimana.
__ADS_1
"Mama nggak nanya S3 kak Niken dimana?" Ketus Haya tiba-tiba. Niken melirik adiknya Hans.
"Niken juga udah S3?" Harun mengerjap tak percaya.
"Udah om, kemarin sebelum ketemu lagi sama Hans. Saya baru selesai sidang. Nggak ikut wisuda karena harus ke Seoul." Jawab Niken.
"Ke Seoul ngapain kak?" Tukas Haya.
"Penelitian Haya."
"Wahhh enak ya jadi kak Niken. Bisa jalan-jalan terus ke luar negeri." Puji Haya.
"Enggak jalan-jalan juga sih Haya. Penelitian intinya." Balas Niken.
"Pokoknya aku ngefans banget sama kak Niken. Udah cantik, cerdas, udah jadi doktoral, punya apartemen sendiri, jalan-jalan ke luar negeri, punya salon sendiri lagi. Pokoknya kalau kak Hans nyakitin kak Niken. Aku yang akan bela kak Niken." Jelas Haya.
"Ehhh mulutmu aku taro sambel lho." Ketus Hans.
"Udah udah, enggak, kakak kamu baik koq Haya." Kata Niken.
"Tuh denger." Timpal Hans. Haya memonyongkan bibirnya, mencibir kakaknya.
"Kamu punya salon dimana, Niken?" Tanya Dina sambil melap mulutnya.
"Di Kelapa Gading, tante."
"Kapan-kapan boleh dong tante ikut nyalon. Udah lama juga tante nggak perawatan. Minta antar papanya Hans, malah suka banyak alasan." Tutur Dina.
"Boleh tante. Nanti Niken antar tante." Jelas Niken. Dina melempar senyum, ia mulai menyukai pacar anaknya itu.
"Baru dua minggu yang lalu dibilang udah lama. Ini nih Niken, mamanya Hans tuh emang paling suka ngilang-ngilangin kebaikan orang." Balas Harun.
"Ihhh papa apaan sih."
"Tahu nggak hobi papa aku apa?" Kata Hans.
"Apa?"
"Karaokean lagu-lagu lawas. Mending kalau suaranya bagus. Kita kalau udah denger papa nyanyi langsung tutup telinga." Jelas Hans diiringi tawa Haya, Dina dan Niken.
"Wherever you go whatever you dooooo..." Haya memperagakan suara papanya. Hans dan Dina tertawa kekeh.
"Richard Marx ya om. Oh aku juga suka dengar lagu itu." Balas Niken.
"Iya iya, itu lagu zaman om masih muda. Lagu buat mamanya Hans." Imbuh Harun.
"Itu tuh pah, lagu apa sih yang suka papa nyanyiin tuh. Dari Bryan Adams itu... Aduh lupa..." Dina mencoba mengingat.
"Look into my eyes
You will see
What you mean to me
Search your heart
Search your soul
And when you find me there
You'll search no more
Don't tell me it's not worth tryin' for
You can't tell me it's not worth dyin' for
You know it's true
Everything I do
I do it for you" Harun menyanyikan lagu kebangsaannya dengan Dina disusul dengan suara Niken. Mereka bernyanyi bersama. Setelah itu mereka tertawa.
__ADS_1
Hampir dua jam lebih Dina dan Harun menghabiskan waktunya untuk mengenal Niken lebih jauh. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 10 lewat 25 menit. Hans sudah membayar semua makanan sejak tadi. Dina dan Harun pamit pulang.
***