
Tubuh Niken lemah tak berdaya, Hans menangis sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Hans menggenggan tangan Niken dengan erat. Ia tak kuasa menahan pedih perasaannya. Kekasih yang ia cintai, calon istri yang akan ia pinang, haruskah berlalu begitu saja? Seluruh dokter bersiap memeriksa keadaan Niken. Sementara Hans menunggu diluar ruang ICU. Haya datang tergesa-gesa, orang pertama yang Hans hubungi adalah Haya.
Haya segera menghubungi orangtuanya dan keluarga Niken. Sementara Hans masih diam tak bergeming, kejadian itu membuatnya sangat syok.
"Pasien kekurangan darah. Kami butuh darah secepatnya karena stock darah di rumah sakit sudah hampir habis. Apakah keluarganya sudah sampai?" Tanya dokter.
"Apa golongan darahnya, dok?" Haya bertanya balik.
"O negatif." Jawab dokter.
"Saya... Saya... Saya dokter. Sssssaya o negatif." Ujar Hans dengan keadaan linglung.
"Kakak." Haya mengkhawatirkan kakaknya. Kondisi Hans sedang tidak stabil. Haruskah ia mendonorkan darahnya kepada Niken? Haya ingin menangis, tapi ia menahannya sebisa mungkin. Dokter pun segera meminta Hans masuk ke dalam ruangan untuk diambil darahnya.
Tidak ada yang mampu memisahkan kita, kecuali maut. Apapun yang terjadi kepada kita, adalah takdir yang ditulis oleh langit. Aku mencintaimu, dulu, kini dan nanti. Sampai syurga mencatat cinta sejati kita. Sampai Tuhan menyambungkan hati kita didunia dan diakhirat. Untukmu kekasih hatiku. Wanita tercantik yang aku cintai. Niken, selamanya dihatiku.
Hans berujar didalam hatinya.
Sebuah cahaya silau masuk ke jendela kamar rawat inap. Hans membuka matanya pelan-pelan. Tubuhnya terasa lemah. Ia melihat ke sekeliling, tampak mama dan papanya sedang menangisi dirinya.
"Mah...?" Lirih Hans.
"Kamu sudah bangun sayang. Pelan-pelan." Balas Dina, lalu membantu Hans duduk dan menyenderkan bahunya.
"Niken bagaimana?" Tanya Hans. Dina terdiam begitu pun dengan Harun. Tidak ada yang sanggup menjelaskan kondisi Niken saat ini.
"Niken bagaimana sekarang, Mah?" Ulang Hans.
"Masa kritis kak Niken sudah berakhir, kak." Jawab Haya. Hans menghembuskan nafasnya. Ia merasa lega. Hans melepaskan selang infus dan hendak menemui Niken.
"Tapi kak Niken belum siuman, kak." Lanjut Haya.
__ADS_1
"Hans..." Seru Dina. Hans berlalu meninggalkan Dina, Harun dan Haya. Ia menuju kamar Niken, ia melihat Niken masih terbaring tak berdaya. Perlahan-lahan, Hans mendekat. Menggenggam tangan Niken, lalu mencium keningnya.
"Sayangku. Bangun, sayangku. Bangun. Aku disini, aku tidak akan pergi. Aku akan disini, menunggumu." Imbuhnya. Ria menangis saat Hans mulai memeluk dan menciumi wajah Niken.
"Niken mengalami koma, Hans." Tukas Nadine. Hans memejamkan matanya, masih terbayang kejadian tadi malam didalam pikirannya. Hans ingat, saat ia dan Amir berada di toilet.
"Hans...?" Seru Amir.
"Bella memintaku untuk memberikan ini padamu." Lanjut Amir. Kemudian menyodorkan ponsel kepada Hans.
"Apa ini?" Hans memutar sebuah video. Didalam video tersebut tampak sekali wajah Kezia.
"Ohhh. Aku mengerti sekarang. Kau ingin membalaskan dendam Tia kepada aku dan Hans, begitu? Ingat satu hal, aku dan Hans tidak akan pernah terpisahkan." Begitu Niken berujar didalam video tersebut.
"Ohhh begitu. Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan sangat menderita?" tampak Kezia mendekati Niken.
"Ancamanmu tidak akan pernah mempengaruhi hubunganku dengan Hans."
"Mungkin Niken sedang dalam bahaya. Bella ingin, kau melindunginya." Imbuh Amir. Hans terkejut ketika Kezia terlibat dalam kasus 2 tahun yang lalu. Saat ia dan Niken mengalami kecelakaan. Hans tahu kalau Niken sangat ketakutan, malam itu, harusnya ia tidak keluar dari mobil. Mungkin Niken sudah mengetahuinya bahwa Kezia tidak mengancam nyawanya melainkan nyawa Hans. Dan saat itulah Hans tergugu dalam tangisnya.
...***...
Disebuah taman yang indah, dipenuhi dengan warna warni bunga. Dan cerahnya mentari yang menghangatkan tubuh. Ichen begitu sapaan kecilnya, berusia 5 tahun. Dia mengaduh saat terjatuh.
"Kamu nggak apa-apa?" Seorang anak laki-laki berusia 9 tahun mengulurkan tangannya.
Air mata Ichen tertahan disudut matanya. Ia hanya terdiam lalu membalas uluran tangan lelaki itu.
"Kakak jangan bilang-bilang sama ibu ya." Kata Ichen.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Nanti ibu marahin Ichen, kalau ibu marah, nanti Ichen tidak bisa main lagi sama kak Raj." Jawab Ichen. Lelaki itu disapa Raj. Berhidung mancung, tampan, dan memiliki mata yang tajam. Ichen sangat menyukai tetangganya itu.
"Kalau gitu, ayo ikut aku." Raj menuntun Niken ke rumahnya. Ia membawa kotak P3K, lalu mengobati kaki Niken dengan betadine.
"Kalau sudah besar nanti, Ichen mau terjatuh terus ahhh." Tukasnya dengan riang. Raj mendongak lalu mengernyitkan dahinya.
"Ehhh koq aneh. Sakit dong, Chen jatuh terus mah." Ujar Raj.
"Kan ada kak Raj. Jadi nggak sakit lagi kalau Ichen jatuh mulu." Balas Ichen dengan memandangi Raj. Lihat betapa kagumnya gadis kecil itu kepada anak laki-laki itu.
"Udah." Raj duduk disamping Ichen. "Jangan. Ichen harus kuat ya." Kata Raj. Ichen menganggukkan kepala.
"Assalamualaikum..." Kedua orangtua Raj baru sampai dirumah. Mereka memberikan salam.
"Wa'alaikumsalam." Balas Ichen dan Raj. "Mama... Papa..." Raj berhambur memeluk mama dan papanya.
"Ehhh ada Ichen yang cantik." Kata mama Raj.
"Iya mama. Ichen lagi main sama kak Raj." Balas Ichen.
"Ichen mau nggak, mama bawain kentang goreng buat kalian." Ichen dan Raj bersorak riang.
Saat sedang makan kentang, Ichen turun dari kursinya, mengambil sebuah foto. "Ini siapa mah?" Tanya Ichen.
"Itu mama waktu masih muda. Sebelum menikah dengan papanya Raj." Jawab mama Raj.
"Ohhh. Mama cantik deh. Ichen kalau udah besar mau jadi cantik ahh. Biar bisa menikah sama kak Raj." Ujarnya. Kedua orangtua Raj tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat itu.
"Kenapa mau menikah sama Raj sayang?" Tanya mama Raj.
"Karena kak Raj ganteng. Kata kak Nadine, kalau laki-laki yang ganteng jodohnya sama perempuan cantik. Trus Ichen mau jadi cantik biar jodohnya sama kak Raj." Balas Ichen dengan polosnya. Mereka tertawa lagi.
__ADS_1