
Niken dan Hans mempersiapkan acara akad dan pernikahannya yang akan mereka selenggarakan 5 bulan mendatang. Mereka mulai memilih desain kartu undangan, rias pengantin, pelaminan, gaun pernikahan, gedung, dan acara musik untuk resepsi nanti. Mereka disibukkan dengan persiapan pernikahannya.
"Hans, menurut kamu yang ini bagus nggak?" Niken meminta pendapat calon suaminya itu. Sementara Hans sibuk dengan ponselnya.
"Yang mana?" Balas Hans mencondongkan punggungnya. Niken memberikan contoh undangan yang bagus kepada Hans. "Bagus sih..." Katanya. Niken mengernyitkan dahinya.
"Sih...?"
"Enggak maksudku gini. Mas, saya punya contoh desain kayak gini. Bisa nggak dipadu sama yang calon istriku mau?" Ujar Hans. Si pembuat desain menelaah desain buatan Hans.
"Ohh bisa mas. Tapi hasilnya mungkin kayak gini..." Si pembuat desain menggambar dengan serius. Cukup lama sekitar 20 menitan. "Nah kayak gini gimana?"
"Wahhh perfect." Balas Niken sambil bertepuk tangan riang.
"Kamu suka?" Tanya Hans. Niken mengangguk yakin. Setelah selesai ke desain undangan. Mereka bergegas mendatangi rias pengantin. Niken memilah dan memilih gaun yang akan ia gunakan nanti. Ada satu gaun untuk akad nikah dan dua gaun mewah untuk resepsi.
"Lelah..." Ucap Niken sambil menjatuhkan dirinya ke kasur. Hans meletakkan tas di meja. Lalu ia mencuci wajah dan tangannya.
"Hans...?" Seru Niken.
"Apa sayang?" Balas Hans. Terdengar Niken menghela nafas panjang. Hans menoleh dan menghampiri kekasihnya. Hans memainkan anak rambut Niken lalu mengelus lembut pipinya.
"Hari ini aku tidak mau masak." Ujar Niken. Hans mengernyitkan dahinya.
"Kenapa begitu?"
"Aku capek. Kau saja yang memasak ya...? Ya ya ya...?" Hans menghembuskan nafasnya.
"Emmm... Okey hari ini aku yang masak. Tapi..."
"Tapi apa?" Hans tersenyum jahat. Alisnya terangkat sebelah. "Hans jangan ngada-ngada kamu ya. Aku capek."
Hans menarik lengan Niken. Lalu menggelitik pinggang Niken sampai ia terkekeh. "Hans... Ampun..." Hans tiba-tiba memeluk Niken. Membelai lembut rambut kekasihnya. Lalu menempelkan bibirnya di bibir Niken. Niken memejamkan kedua matanya. Menikmati ciuman itu dengan mesra.
***
__ADS_1
"Wahhh. Akhirnya kalian menikah juga ya." Kata Bella sambil mengelus perutnya.
"Doain ya, Bel." Tukas Niken. Bella menganggukkan kepala.
"Aku yang tidak menyangka kalau Amir menikahimu, Bella." Seru Hans.
"Iya lho, dia tuh nggak basa basi pedekate dulu. Ehhh tahu-tahu dia datang ke rumah orangtuaku dan bilang dia mau melamarku. Aku terkejut setengah mati." Tutur Bella bercerita. Niken dan Hans tertawa, begitu pun dengan Amir yang ada disamping Bella.
"Dia itu udah lama naksir kamu, Bel." Ujar Hans.
"Nah, gimana kalau kita double date. Nanti malam ada film bagus lho di Bioskop. Nonton yuk." Usul Bella.
"Bella, kamu kan lagi hamil." Kata Amir.
"Ehhh justru karena aku lagi hamil. Aku harus banyak jalan-jalan, sayang." Balas Bella.
"Ide yang bagus. Kita nonton yuk sayang." Ajak Niken kepada Hans.
"Okey." Jawab Hans.
Akhirnya malam itu, Niken, Hans, Amir dan Bella pergi nonton bioskop. Niken dan Hans tampak sangat bahagia, begitu pun dengan pasangan Bella dan Amir.
"Wahhh, ada siapa ini? Ekhemmm, ohya kudengar kau akan menikah? Aku tidak yakin kau akan bahagia bersama Hans." Tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya. Itu Kezia, ya, Kezia yang tidak pernah berhenti mengganggu kehidupannya.
"Itu bukan urusanmu." Balas Niken. Kezia menahan langkah Niken.
"Minggir." Ucap Niken.
"Mau kemana? Urusan kita belum selesai." Tukas Kezia penuh dengan ekspresi benci terhadap Niken.
"Apa sih maumu?" Kata Niken.
"Aku mau hubunganmu dengan Hans berakhir. Dulu ataupun sekarang, aku tidak ingin kau bahagia. Terlebih lagi ketika Tia masuk penjara." Tutur Kezia.
Niken mengernyitkan dahinya, "Tia dipenjara?"
__ADS_1
"Hahh jangan pura-pura bodoh. Karena kau tidak mati, Tia harus mendekam di penjara. Kau tahu, semua ini karena kau, Hans, dan keluarganya Hans. Dan aku sangat membencimu." Balas Kezia.
"Ohhh. Aku mengerti sekarang. Kau ingin membalaskan dendam Tia kepada aku dan Hans, begitu? Ingat satu hal, aku dan Hans tidak akan pernah terpisahkan." Imbuh Niken dengan mengangkat bahunya.
"Ohhh begitu. Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan sangat menderita?" Kata Kezia.
"Ancamanmu tidak akan pernah mempengaruhi hubunganku dengan Hans."
"Niken Niken, tidak ingatkah, apa yang pernah aku lakukan padamu beberapa tahun yang lalu. Dengar, aku benci ketika Fariz memilihmu dibandingkan diriku. Aku benci ketika Fariz selalu membanggakanmu. Dan aku benci ketika Fariz jatuh cinta kepadamu. Aku sengaja menjebak Fariz dan Irham. Karena hanya kau dan Via yang sering membuat aku tersingkirkan. Aku yakin kau sudah mengetahui semuanya. Kau ingat, saat pemilihan Duta Kecantikan, aku ada diposisi kedua setelah dirimu. Dan pemilihan fashionable, Via menyingkirkanku menjadi posisi kedua. Itulah yang membuat aku tidak bisa hidup jika melihat kalian bahagia. Aku sengaja menjebak Fariz ketika aku didiagnosa mengidap HIV Aids dan menularkannya kepadanya. Aku juga tahu kalau kau mengidap philophobia. Kau ingat, beberapa lelaki yang sering mengganggumu? Mereka itu aku yang nyuruh. Aku membayar mereka agar kau tidak pernah sembuh dari penyakit psikismu itu. Aku ingin kau menderita. Lebih menderita dari diriku. Sekarang, waktu akan menjadi milikku." Jelas Kezia. Niken menelan ludah. Hampir tak bisa dipercaya, kejadian yang sudah lama sekali, membuat Kezia menaruh dendam yang sangat dalam.
"Jangan coba-coba kau menularkannya kepada kekasihku. Kau akan berhadapan denganku."
Balas Niken melototi Kezia.
Tiba-tiba Kezia menjambak rambut Niken, "dengar, ini untuk yang terakhir kalinya. Kematian Hans ada ditanganku." Bisiknya, Kezia mendorong Niken dan berlalu meninggalkannya. Niken terkejut, matanya memerah dan ia merasa sangat ketakutan. Dengan isak tangis Niken menghubungi Tanu, dan meminta bantuan kepada psikolog pribadinya itu.
Setelah menonton bioskop, mereka makan malam bersama di sebuah restaurant. Niken sangat cemas, hidupnya kembali mengalami ancaman. Kezia tahu semuanya. Sejak 14 tahun yang lalu, dialah yang membuat seluruh kehidupannya hancur. Dengan sengaja Niken mempublikasikan video porno Kezia bersama Fariz yang terekam cctv hotel. Ia sengaja membuat Kezia jera dari apa yang sudah dia lakukan terhadapnya. Emosinya naik pitam, Niken tidak mungkin membiarkan Hans terlibat dalam perselisihannya dengan Kezia dalam beberapa tahun yang lalu.
"Kamu kenapa sayang?" Hans membuyarkan lamunannya.
"Uhh, tidak, tidak apa-apa. Hans, kita pulang yuk." Jawab Niken dengan gelisah.
"Uhmmm, tapi kan kita belum selesai." Kata Hans.
"Aku lelah. Aku ingin istirahat." Balas Niken.
"Ya sudah, kita pulang. Tapi aku ke toilet sebentar ya." Jawab Hans. Bella menyikut lengan Amir, mereka berdua ke toilet bersama. 10 menit kemudian, Hans dan Amir kembali. Sepanjang perjalanan Niken hanya diam, Hans tidak tahu apa yang membuat kekasihnya itu bersedih. Hans memarkir mobil disembarang.
"Kenapa? Apa mobilnya mogok?" Tanya Niken.
"Aku akan beli sesuatu untukmu." Jawab Hans.
"Ehh tidak Hans. Kau tidak boleh keluar. Tidak." Niken menahan, tapi Hans tersenyum, lalu melepaskan tangan Niken.
"Aku tidak akan lama. Tunggu ya." Hans pun keluar dari mobil. Niken sadar betul, sejak tadi Kezia membuntutinya. Mata Niken mengawasi, terlihat Hans sedang membeli sesuatu. Hans menggapaikan tangannya ketika ia selesai memberi uang kepada penjual makanan di seberang sana. Hans menoleh ke kiri dan kanan untuk menyebrang. Sebuah mobil menyala, siap untuk menabrak Hans. Niken berlari sekencang mungkin, mendorong tubuh Hans dan mobil itu menabrak Niken dengan kecepatan tinggi. Tubuh Niken melambung tinggi, Brukkkkk, Niken terjatuh dan terseret sejauh 5 meter. Hans melihat kekasihnya terlempar tak berdaya, genangan darah melumpuri tubuh Niken. Pandangan Hans terasa kosong saat kekasihnya berlumuran darah. Semua terasa terhenti. Hans merasa jatuh sejatuh-jatuhnya.
__ADS_1
"Nikennnnn..."
***