
3 hari Hans dihiraukan oleh Niken, selama itu pula Niken tidak membalas satu pesannya dan panggilan teleponnya. Tapi bukan Hans namanya kalau menyerah begitu saja.
"Niken, kamu kenapa sih? Aku salah apa? Kenapa kau jadi seperti ini?" Tanya Hans saat mereka berada diruang kerja. Hans mengunci pintu agar tidak ada orang yang mengganggu.
"Apa sih? Minggir aku mau keluar." Balas Niken dengan memegang gagang pintu. Namun pintu terkunci. "Jangan kayak anak kecil deh, Hans. Buka pintunya." Kata Niken.
"Katakan padaku, apa salahku?" Tanya Hans. Niken selalu mengelak, ia tak mungkin mengatakan kepada Hans, bahwa sebenarnya ia sangat cemburu. Niken terdiam, ia berpikir bahwa sebenarnya Hans tidak bersalah.
"Apaan sih. Udah cepet minggir." Ketusnya.
"Niken...? Please."
"Nggak ada yang harus dijelaskan. Udah deh aku ada kelas." Lanjutnya.
"Aku butuh penjelasanmu. Bukan seperti ini. Kau selalu menghindariku disaat aku tidak tahu apa-apa." Ujar Hans.
"Hehhh tidak tahu apa-apa." Niken menghembuskan nafasnya. "Lucu sekali."
"Kenapa? Apa yang salah denganku?" Hans mendesak Niken untuk bicara terus terang.
"Tidak ada yang salah Hans. Please I have to go on. Aku ada kelas." Balas Niken.
"Katakan dulu yang sebenarnya." Desak Hans. Niken hendak merebut kunci dari Hans. Tapi ia tidak tahu dimana Hans menyembunyikan kunci ruangan itu.
"Hans....?"
"Apa? Katakan kepadaku kenapa kau marah?" Kata Hans.
"Aku tidak marah Hans." Balas Niken.
"Sikapmu yang mulai berbeda, kau tidak membalas pesanku. Tidak menerima panggilanku. Bahkan aku bertanya saja, kau hiraukan. Aku bertanya ada apa denganmu? Kau selalu begini, selalu menghindariku? Sikapmu itu seakan-akan menuduhku kalau aku ini punya kesalahan terbesar kepadamu. Kalau kau tidak berkata apa-apa, kau tidak mengatakan apapun kepadaku. Bagaimana aku bisa mengerti perasaanmu? Huh? Bagaimana aku bisa menjelaskan kepadamu? Hah?" Hans mulai tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia meninggikan suaranya.
Hati Niken sangat sakit sekali saat Hans mulai meninggikan suaranya. Matanya mulai berkaca-kaca, air matanya hampir jatuh ke pipinya. Kalimat Hans melukai perasaannya yang amat dalam.
"Kenapa kau marah kepadaku?" Suara Niken hampir tercekat.
"Aku tidak marah. Aku hanya berusaha untuk bersikap baik dan meminta maaf kepadamu kalau-kalau aku menyinggung perasaanmu." Nada suara Hans semakin tinggi.
"Mana kuncinya?" Niken menundukkan kepala, ia tak bisa menahan perasaannya. Ia juga tidak bisa menahan air matanya.
"Jelaskan dulu padaku, Niken." Hans mendekatkan wajahnya, Niken menunduk tak tahan. Ia tahu, mungkin tak seharusnya ia cemburu. Ia juga tahu bahwa ia sangat egois sekali. Tapi perasaan tidak bisa dibohongi kan? Perasaan cemburu itu nggak bisa disembunyikan dengan rapi kan? Air matanya jatuh tak terasa. Niken tak berani menatap wajah Hans. Ia menunduk sedalam-dalamnya. Hans menyadari bahwa wanita yang ada dihadapannya itu menangis.
"Niken...?" Hans memegang tangan Niken. Namun ia lepaskan begitu saja.
"Hey, Niken...?" Seru Hans.
__ADS_1
"Niken... Kau menangis?" Niken dengan cepat menghapus air matanya. Ia melepaskan tangan Hans.
"Aku-aku mau keluar. Buka dulu pintunya." Pipinya basah. Hans menyadari bahwa wanita pujaannya itu menangis.
"Hey Niken..."
"Bukain..." Suara Niken parau. Tiba-tiba Hans menempelkan kedua tangannya di pipi kiri dan kanan Niken.
"Dengar..." Bisik Hans ditelinganya, "semakin kau menutupi semua perasaanmu, aku akan semakin dekat. Apapun alasanmu untuk tidak mencintaiku. Aku tidak peduli. Aku tidak akan pernah berhenti untuk membuktikan kepadamu, aku layak bertahta di dalam hatimu." Lanjutnya.
Niken menelan ludah. Hans lalu memeluknya.
"Lepaskan aku, Hans." Lirih Niken.
"Kenapa kau menangis?" Tanya Hans, kali ini dengan lebih lembut, sambil membelai lembut rambut Niken.
"Kau membentakku." Jawab Niken beringsut.
"Maafkan aku." Niken mengangguk. "Kau marah padaku?" Tanya Hans. Niken menggelengkan kepalanya.
"Aku... Aku hanya kesal kepadamu. Aku..." Suara Niken terhenti sejenak. "Cemburu... Aku cemburu Hans. Aku nggak suka kamu dengan perempuan lain. Duduk ngobrol, ketawa ketiwi, pokoknya aku nggak suka." Batin Niken. Ia menggigit bibir bawahnya. Ia tak bisa mengakui perasaannya saat ini. Tiba-tiba tangan Hans menyentuh pipi Niken. Sekujur tubuh Niken terasa hangat. Ada getaran yang sangat luar biasa didalam tubuhnya.
"
Maaf." Lirih Hans. Niken mendongak.
"Kalau aku membuatmu terluka, aku minta maaf." Tukas Hans. Lalu ia membuka kunci pintu.
"Hans...?" Hans menatap wajah Niken.
"Aku mau menjelaskannya." Hans mengernyitkan dahinya. Niken menarik nafas, "aku mau menjelaskan perasaanku padamu."
"Kau mau menjelaskannya kepadaku?" Niken mengangguk.
"Heemm... Tapi tidak disini."
"Kenapa?"
"Aku mau mengajar Hans." Balas Niken.
"Ouch... Okey. Nanti aku ke apartemenmu." Tukas Hans. Niken menggelengkan kepalanya.
"Tidak Hans... Aku yang akan menemuimu. Nanti malam di apartemenmu." Balas Niken.
"Emmm okey, aku setuju." Kata Hans kemudian ia membuka pintu. Niken langsung berlari dengan cepat. Ia segera menghapus air mata yang mengalir dipipinya. Bella tak sengaja melihat Niken di pojok koridor.
__ADS_1
"Niken, kau kenapa?" Tanya Bella.
"Tidak apa-apa." Jawab Niken cepat. Kemudian ia berlalu meninggalkan Bella. Perasaan ini sangat menyakiti hatiku Hans. Bukan karena kau bersama perempuan lain, tapi karena kau membentakku. Kenapa rasanya sakit sekali...
***
Malam itu Hans sudah berdandan untuk bertemu dengan wanita yang dicintainya. Ia berjanji tidak akan membela diri hanya karena ia benar. Hans tahu, bahwa saat ini Niken butuh didengar. Bukan untuk dikritik dan dinasehati. Tiba-tiba bel pintu berbunyi, senyum Hans yang tadinya mengembang berubah drastis. Ternyata bukan Niken yang datang, melainkan Kezia. Perempuan itu bertamu ke apartemennya. Hans menghembuskan nafas berat. Dengan terpaksa, Hans mempersilahkan Kezia masuk. Lalu ia memberi pesan kepada Niken bahwa ia sedang ada tamu. Begitu pesan terkirim bel pintu berbunyi. Hans ragu untuk membuka pintu, ia takut Niken salah paham dengan kedatangan Kezia malam itu.
"Hai..." Sapa Niken dengan mengembangkan senyumnya. Hans balas tersenyum.
"Hai..." Balas Hans. "Aku sedang kedatangan tamu."
"Siapa itu Hans?" Tanya Kezia. Niken menoleh ke sumber suara. Lalu Niken melihat Kezia didalam apartemen Hans. Rasa cemburu Niken kembali menyelinap. Kesal. Marah dan cemburu. Ia ingat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Kenangan yang buruk bersama perempuan itu. Hans pikir Niken akan pulang tapi dugaannya meleset.
"Ohhh kau kedatangan tamu ya." Kata Niken sambil masuk ke dapur meletakan makanan untuk Hans.
Mata Kezia membulat tak percaya. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Niken. Kali ini Niken lebih bersinar dibandingkan dirinya. Kezia memperhatikan Niken dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kehidupan Niken selalu lebih baik dari pada Kezia. Itu yang membuat Kezia sangat kesal dan tidak menyukai Niken dan teman-temannya.
"Ohh hai Niken. Long time no see? Apa kabar?" Lanjut Kezia. Hans menoleh ke arah Kezia. Hans tak percaya bahwa Kezia juga mengenal Niken.
"Sudah lama disini?" Tanya Niken dengan menatap tajam.
"Uhmmm tidak juga. Sudah lama ya kita tidak bertemu." Jawab Kezia.
"Bagaimana kabarmu sekarang? Lebih baik dari sebelumnya?" Niken mengangkat kedua alisnya.
"Kalian sudah saling mengenal?" Kata Hans.
Niken mengangguk begitu pun dengan Kezia. "Lebih dari sekedar kenal." Balas Kezia. Kedua perempuan itu saling berhadapan. Niken seakan kembali ke masa dimana ia melihat pemandangan yang sangat menjijikan. Begitu pun dengan Kezia yang menantang kehidupan bahagianya Niken. Pertemuan itu membuat mereka terbayang masa lalu. Kezia mendekat lalu berbisik ke telinga Niken.
"Kau masih ingat kejadian itu? Kau mau aku melakukannya dengan Hans. Agar kau bisa mengingat kembali ke masa lalumu." Niken menarik nafasnya, ia menggertakan rahangnya dengan kesal, lalu mendorong Kezia dengan kasar.
"Jaga ucapanmu." Tunjuk Niken.
"Niken...!" Hans terkejut dengan sikap Niken yang tidak sopan. "Jaga sikapmu. Dia tamuku." Bentak Hans. Niken dan Kezia menoleh secara bersamaan. Lalu Kezia menyeringai dengan sinis.
"Kau lihat, semua laki-laki sama. Begitu juga dengan Hans. Dia akan memihakku. Sama persis seperti Fariz yang selalu memihakku." Ujar Kezia. Niken tidak mampu mengendalikan emosinya lalu ia mendaratkan tangannya ke pipi kiri Kezia. Hans melotot tak percaya, ia terkejut dengan sikap Niken yang seperti itu.
"Aku, bukan Niken yang dulu." Matanya memancarkan dendam yang membara. Kezia menyunggingkan bibirnya.
"Niken Niken, apa sih yang kamu punya? Kamu tuh masih sama seperti dulu." Balas Kezia. Prakkkk, Niken menampar Kezia lagi.
"Tamparan ini, untuk mengingatkanmu. Kalau kau tidak akan bisa merebut Hans dariku. Pergi!" Perintah Niken.
"Kita lihat saja nanti. Aku pasti akan menghancurkan hidupmu lagi." Balas Kezia dengan senyuman jahatnya. Niken menarik lengan Kezia dengan kasar, dan mendorongnya ke luar pintu. Hans yang memperhatikan situasi itu pun terkejut.
__ADS_1
***