One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Empat puluh delapan


__ADS_3

Setelah selesai mengisi acara konten youtube-nya Gilbert. Niken dan Hans kembali ke hotel. Tidak ada percakapan saat perjalanan pulang. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Kenapa aku tidak tahu bahwa Hans akan kembali ke Rusia? Mengapa aku tahu dari orang lain? Apa Hans sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Ada apa ini...? Aku juga lupa menjelaskan tentang studi-ku. Bagaimana ini?


"Ummm, Hans..." Seru Niken memecahkan keheningan saat mereka tiba di hotel. Hans menggaruk pelipisnya.


"Emmmm...?"


"Ada yang ingin aku katakan padamu." Imbuh Niken. Hans mengangguk.


"Yaa aku juga." Balas Hans. Niken duduk di sebuah kursi.


"Aku tidak tahu dari mana Gilbert tahu soal studi doktoral-ku. Sebenarnya aku sudah menyelesaikan desertasi-ku. Sudah sidang. Tapi belum mengambil ijazah-ku di Turki. Mereka tidak menahan ijazahku. Tapi, dulu, aku sempat mengajukan diri sebagai dosen di sana. Karena aku sering diundang ke berbagai acara seminar dan talk show di Inggris. Aku tidak sempat memberikan kepastian kepada mereka. Jadi, kau jangan salah paham." Jelas Niken.


"So, apa kau akan ke Turki?" Tanya Hans, Niken mengangguk.


"Ya, tapi nanti, setelah akhir semester." Jawab Niken. Hans menghembuskan nafasnya.


"Ummm, aku juga ingin menjelaskan semuanya kepadamu." Kata Hans. Niken menyimak. "Aku memang professor yang mengajar di Rusia. Kontrak kerjaku belum selesai karena saat aku ke Seoul aku bertemu denganmu." Lanjut Hans. Niken mengernyitkan dahinya. Hans menggenggam tangan Niken, "aku minta maaf. Aku tahu mungkin keputusanku sangat, tapi, aku tidak ingin menyia-nyiakanmu lagi, Niken. Sungguh, dulu maupun sekarang, aku sangat tidak ingin kehilanganmu. Saat Il-Nam memberikan tasmu. Aku tidak sengaja melihat buku pribadimu. Tempat kerja dan alamat apartemenmu. Aku sengaja pindah ke apartemen sebelah. Dan aku juga sengaja pindah tempat kerja ke kampusmu. Semua itu aku lakukan hanya karena aku ingin memperbaiki kesalahanku dimasa lalu. Tapi perasaanku dan hatiku bukan direkayasa. Sungguh." Jelas Hans. Niken menghembuskan nafasnya.


"Lalu, apa kau akan kembali ke Rusia?" Tanya Niken.


Hans menggelengkan kepala, "Tidak." Jawabnya pendek. Niken memukul lengan Hans berkali-kali.


"Bodoh. Kalau kau tidak kembali bagaimana dengan kontraknya. Kau mau memberikan harapan palsu kepada mereka. Kau harus bisa memilih salah satu. Mau tinggal di Indonesia atau di Rusia?" Tutur Niken memarahi kekasihnya.


"Aw aw aw... Kau itu punya tenaga apa sih. Kuat banget mukulnya." Balas Hans.


"Hans, aku serius..."


"Iya aku juga serius." Hans menarik lengan Niken lalu memeluknya.


"Kau mencintaiku?" Tanya Niken memastikan.


"Iya aku mencintaimu." Jawab Hans.


"Bohong." Ketus Niken dengan melepaskan pelukannya.


"Tidak. Aku tidak bohong."


"Kalau hidungmu mengembangkan itu tandanya kamu bohong." Kata Niken. Hans menyentuh hidungnya.


"Siapa yang bilang begitu?"


"Haya."


"Kalau aku bohong. Tidak mungkin aku pindah ke sebelah apartemenmu. Tidak mungkin aku rela pindah kerja ke tempatmu bekerja. Semua itu aku lakukan untukmu sayang." Jelasnya.


"Tapi hidungmu..." Tunjuk Niken.

__ADS_1


"Kau percaya padaku atau pada Haya? Huh?"


"Emmm, kau."


"Ya sudah, percaya saja padaku."


"Kau sungguh mencintaiku?" Niken bertanya lagi seolah tak percaya pada Hans bahwa ia mencintainya.


"Apalagi yang harus aku buktikan padamu? Kau mau apa? Huh? Mau pesawat, mau rumah mewah, mau apa? Biar aku beli sekarang juga." Katanya. Niken tersenyum sumringah.


"Tapi, apa kau akan pindah ke Rusia?" Tanya Niken memastikan.


"Tidak. Aku tidak akan pindah. Tapi nanti aku akan kesana untuk menyelesaikan kontrakku." Jawab Hans. Tiba-tiba Niken memeluk Hans.


"Baiklah tuan Hans. Kali ini aku ingin memelukmu sampai pagi." Ujar Niken. Hans balas memeluknya, ia mencium rambut Niken yang wangi.


"Jangan. Aku tidak mau. Lepaskan aku." Canda Hans. Niken sengaja mengencangkan pelukannya. Dan mereka terbaring ke kasur.


"


Niken... Sakit..." Niken tertawa senang. Hans menggelitiki pinggangnya.


"Kau curang. Nggak, aku nggak mau." Balas Niken. Niken mencoba menahan tangan Hans, tapi tenaganya tak cukup.


"Aku nyerah..." Kata Niken.


"Nyerah...?" Niken mengangguk. Hans merapikan helaian rambut milik Niken. Kemudian ia mencium bibir Niken dengan lembut.


***


Niken mengangguk. "Pasti."


Hans membelai lembut rambut kekasihnya.


"Kau harus bahagia." Kata Hans.


"Aku akan bahagia jika bersamamu."


"Ada atau tidak ada aku. Kau harus bahagia."


Niken mendongak, Hans mengecup keningnya. "Jika kau pernah berjuang untukku. Maka aku juga harus berjuang untukmu. Kita, tidak akan berpisah. Selamanya bersama." Balas Niken. Hans mengganti posisinya, ia mencium lagi bibir Niken.


Setelah semua acara selesai, Niken dan Hans mengajak Elsa dan Sam pergi menonton bersama. Setelah itu Niken dan Hans pergi berbelanja ke departement store. Dan berbelanja untuk oleh-oleh.


"Kau mau pulang malam sore ini?" Tanya Elsa. Niken mengangguk.


"Gimana menurutmu Hans? Makanan disini enak kan?" Tanya Sam. Hans mengangguk setuju.


Hans dan Niken tidak keberatan ketika Elsa dan Sam mengajaknya makan siang bersama.

__ADS_1


"Uhmmm Niken...?" Seru Elsa.


"Soal yang waktu itu kau bahas. Udah." Lanjut Elsa.


Niken mengernyitkan dahinya, tiba-tiba, "wahhh. Serius?" Elsa menganggukkan kepala. "Gimana, enak kan?" Niken mengangkat kedua alisnya. Elsa tersenyum malu.


"Apaan sih?" Tanya Sam.


"Ada deh rahasia." Jawab Elsa.


"Cuma perempuan yang tahu." Niken menambahkan. Hans dan Sam hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka. Tiba-tiba Sam menoleh ke arah Elsa.


"Apa...?" Sam kembali melahap makanannya. 


Tak terasa waktu cepat berlalu. Niken dan Hans harus kembali ke Indonesia.


"Niken...?" Seru Hans. Niken menoleh. "Aku mencintaimu." Katanya.


"Aku juga mencintaimu." Balas Niken.


Niken bersandar dibahu Hans. Mencintai Hans adalah penyembuhan alternatif yang ampuh untuknya. Pun bersama Hans, Niken merasa aman.


Hans tidak pernah absen mengantar Niken konsultasi dengan Tanu. Menemani Niken terapi, membuatnya sangat bahagia. Hans bagaikan obat penenang. Obat kebahagiaan yang mujarab.


***


Reuni akbar yang dilaksanakan di kampus membuat semua para alumni bernostalgia termasuk Niken dan ke-4 sahabatnya. Acara itu megah dan meriah. Panitia acara mengundang band terkenal di Indonesia, yaitu Band Ungu. Semua alumni bersorak penuh gembira.


"Ini Naira dan Aidan, itu Naina dan Dev, Via dan Arfand dan Elsa dan Sam." Ujar Niken mengenalkan Hans kepada sahabatnya.


"Ahk dia sih nggak usah dikenalin juga udah kenal." Sahut Hans.


"Girls, kita di sana yuk." Ajak Naina. Semua mengangguk setuju.


"Reeya...?" Seorang perempuan berlari dihadapan genk lima matahari.


"Siapa dia?" Tanya Naira.


"Reeya. Dia mantan ketua organisasi pecinta buku." Jawab Niken.


"Kau kenal?" Via mengerjap tak percaya.


"Kenallah, dia pernah satu pesawat saat ke Turki dulu. Kita sempat komunikasi, tapi dulu sih. Sekarang udah enggak." Jelas Niken.


"Ehhh lihat deh, mereka akrab banget ya." Elsa menunjuk suaminya dan pacar sahabat-sahabatnya.


"Cowok emang gitu." Balas Niken.


"Ummmm kangen banget lhooo. Kita curhat-curhatan yuk." Ajak Naira.

__ADS_1


"Ayoooo." Jawab mereka berbarengan.


***


__ADS_2