
"Selamat pagi..." Seru Niken menyapa Dina, ketika pintu sudah terbuka.
"Kamu pagi banget datangnya. Sama siapa?" Tanya Dina sambil cipika cipiki dengan Niken. Niken menunjuk seseorang.
"Emmm, pantes."
"Tante udah sarapan?" Tanya Niken sambil masuk ke rumah Dina.
"Baru juga tante mau masak." Jawab Dina.
"Tante nggak perlu masak. Niken udah bawain tante makanan." Balas Niken sembari menyodorkan makanannya.
"Ohya? Apa itu?"
"Siapa mah...?" Imbuh Harun saat keluar dari kamar mandi.
"Niken sama Hans, pah." Jawab Dina setengah berteriak.
"Wah, tumben pagi sekali." Kata Harun sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
"Aku cuma antar Niken doang pah. Katanya mau bantuin mama masak buat arisan. Bentar lagi juga berangkat." Tutur Hans.
"Oohhh." Jawab Harun pendek.
"Ayo dong, udah lapar nih." Tukas Hans. Dina dan Niken menyiapkan sarapan. Niken sudah masak sejak subuh tadi, ia masak sup ikan dan onigiri.
"Kamu belum sarapan Hans?" Tanya Dina.
"Tahu tuh Niken." Katanya sambil mengusap hidungnya yang mancung. Padahal Hans sudah meminta sarapan dari tadi. Namun Niken menahannya karena ia ingin sarapan bersama dengan Dina dan Harun.
"Lho koq nyalahin Niken." Dina melotot ke arah Hans.
"Iyalah, dia tuh yang ke pengin sarapan bareng sama mama sama papa. Sampai ngelarang buat aku sarapan duluan." Ketusnya. Niken merapatkan bibirnya. Lalu tersenyum malu.
"Ya udah bantuin dong kalau mau sarapan." Kata Niken.
"Nggak ahk males. Tuh minta bantuin mama aja." Balas Hans. Niken melotot kesal ke arah Hans.
"Serius nggak mau bantuin? Sarapan diluar ya..." Ancam Niken dengan kejam. Hans bergegas berdiri lalu membantu Niken menyiapkan piring dan gelas untuk sarapan pagi. Dina dan Harun memperhatikan mereka dengan kagum.
Hans pamit pergi ke kampus setelah selesai sarapan.
"Hans...?" Niken berlari ke luar.
__ADS_1
"Ada apa Niken?" Tanya Dina.
"Dasi..." Katanya. Hans kembali menghampiri. Niken segera memakaikan Hans dasi ke lehernya. Lalu merapikan jas hitam Hans.
"Koq tumben pakai jas?" Ujar Dina.
"Emmm nanti siang Hans ada janji dengan Professor Khairy yang dari Malaysia. Biar rapi dan formal, Hans harus menunjukan dedikasinya sebagai Professor muda yang bertalenta kan tante." Jelas Niken.
"Oooh gitu."
"Ya udah aku berangkat ya." Tukas Hans. Niken dan Dina mengangguk bersamaan. Hans mengecup punggung tangan Dina dan memberikan sentuhan hangat ke pipi Niken dengan lembut.
...***...
Dina mengajak Niken ke dapur dan mulai memasak untuk arisan nanti siang. Niken memulai dengan membuat makanan ringan terlebih dahulu seperti membuat puding, es nanas plus leci, martabak telur dan dessert strawberry.
Sejak saat itu Dina merasa bahwa Niken adalah perempuan yang tepat untuk Hans. Selain bisa memasak dan membuat kue, dia juga pandai mengurus rumah dan memperhatikan penampilan Hans.
Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Dina segera membuka pintu. "Tia..." Seru Dina.
"Hai tante. Maaf aku telat." Ucapnya. Dina mempersilahkan Tia masuk. Ekspresinya berubah ketika melihat Niken di dapur. Dia tampak sangat sibuk.
"Ohya, Niken, jangan lupa ya tema kita kali ini Seoul. Korea selatan." Kata Dina. Niken mengangguk. "Tia, kamu bantu Niken gih." Sebenarnya Tia enggan membantu Niken. Tapi apa boleh buat, ia sangat benci diremehkan. Meskipun ia sangat ingin terlihat lebih unggul dari Niken, namun keahliannya dalam memasak memang sangat rendah. Berbeda dengan Niken yang sudah sangat bersahabat dengan peralatan dapur. Tangannya begitu lihai dalam membuat segala macam kue dan makanan yang enak. Tia merasa rendah diri. Dessert strawberry sudah selesai. Niken mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sundubu jjigae, onigiri, kimchi dan bulgogi.
"Iya tante. Dulu Niken suka diajarin sama nenek." Jawab Niken.
"Coba Haya seperti kamu ya." Tukas Dina.
"Hhehe. Nanti Niken yang ajarin Haya." Balas Niken.
"Iya, emang harus diajarin tuh."
"Niken inget deh, tan. Dulu nenek Niken suka bilang gini, jadi perempuan tuh harus serba bisa. Bisa masak, biar suaminya nggak makan diluar. Tante... Cobain deh." Tutur Niken.
"Tante coba ya..." Tukas Dina sambil mencicipi masakan Niken "Uhmmm, enak banget, Niken." Puji Dina.
Dina mulai menyukai Niken. Kelihatan sekali Dina sangat ekspresif.
"Ehhh denger ya, awas kalau kau merebut hati tante Dina. Hidupmu akan aku hancurkan." Ancam Tia.
"Tia, tante punya singkong. Kamu bisa bantu tante menggoreng singkong." Kata Dina. Tia mengangguk dengan cepat. Tapi sebenarnya Tia tidak bisa menggoreng singkong. Tiba-tiba si singkong malah jadi gosong.
"Eh eh eh, ini kenapa jadi gosong begini." Ujar Dina saat melihat singkong.
__ADS_1
"Ehh tante, iya tante maaf." Balas Tia sambil menggaruk kepalanya. "Anu tante. Nggak tahu ini. Kenapa ya bisa gosong gini?" Pikir Tia.
"Yaa gimana nggak gosong, orang apinya aza besar begini. Kalau goreng singkong, apinya harus kecil Tia. Gimana sih." Imbuh Dina. "Aduh, kalau kayak gini terus nggak bisa jadi cemilan dong. Niken coba kamu aza yang goreng." Lanjut Dina.
"Iya tante." Niken merebut spatula dari Tia, dan melanjutkan menggoreng singkong yang masih tersisa.
Setelah Niken selesai menggoreng, Niken melihat Tia dan Dina sedang mengobrol diruang tengah.
"Tante, goreng singkongnya udah selesai." Kata Niken.
"Makasih ya, Niken." Balas Dina.
"Sama-sama tante."
"Ohya, kalian bisa bantuin tante beresin rumah nggak? Pembantu tante lagi cuti. Kan nggak enak kalau rumah tante kotor begini." Tutur Dina dengan sengaja mengerjai Niken dan Tia.
"Bisa tante." Niken mengangguk dan siap untuk membantu Dina membersihkan rumahnya.
"Tante, Tia menata makanan di meja aza ya." Balas Tia.
"Udah Tia. Tadi sekalian sama Niken." Balas Dina.
"Kalau gitu, Tia nemenin tante ngobrol aza gimana? Tante kan tahu, Tia nggak biasa capek." Imbuh Tia dengan berbagai banyak alasan.
"Ya udah tante, nggak apa-apa, biar Niken aza." Imbuh Niken.
Dina mengangguk setuju. Niken siap untuk membersihkan rumah yang sangat luas dan besar itu. Dimulai menyedot debu di karpet, sofa, kursi dan kasur, lalu mengelap guci-guci, cermin, meja dan perlengkapan yang banyak sekali debunya. Menyapu, mengepel, mencuci piring, dan merapikan jemuran. Niken merasa menjadi pembantu hari itu. Sementara Dina dan Tia asyik mengobrol berhaha-hihi diruang tengah. Niken tidak bisa menebak pikiran tante Dina, apakah dia menyukai Niken ataukah justru dia menyukai Tia? Niken merasa sangat jengkel, tapi begitu ia melihat jam tangan. Waktu sudah menunjukan pukul 1.30 siang. Niken harus bergegas ke kampus untuk mengajar.
"Tante...?" Seru Niken.
"Iya Niken."
"Maaf banget. Niken nggak bisa lama. Niken mau ke kampus dulu. Takutnya Niken telat. Tapi semuanya sudah siap dimeja makan koq tante. Trus makanan penutup juga udah disiapin. Niken berangkat dulu ya tante." Imbuh Niken. Dina mengangguk. Tidak lupa Niken menyalami tante Dina. Satu per satu teman arisan Dina datang ke rumah. Mereka langsung mencicipi cemilan yang sudah dihidangkan.
"Ehhh jujur ya jeng, ini kue beli dimana? Enak banget." Ujar seorang teman Dina.
"Ini buatan calon menantu dong. Saya nggak beli." Jawab Dina. Lalu tiba-tiba Tia datang sambil membawa minuman.
"Ini siapa yang cantik ini?" Tanya salah satu teman Dina kepada Tia.
"Ohhh ini Tia." Jawab Dina.
"Ohhh jadi ini calon menantumu." Seru semua teman-teman Dina. Tia tersenyum bahagia. Ia merasa beruntung berada ditengah-tengah ibu-ibu arisan. Karena secara tak sengaja mereka mengira bahwa Tia-lah yang membuat semua makanan itu. Dan Dina hanya diam sambil tersenyum. Tia merasa bahwa Dina berpihak kepadanya.
__ADS_1
***