One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Dua puluh sembilan


__ADS_3

Niken melihat Haya sedang menggerutu, ia segera menghampirinya, "Selamat siang, Haya...?" Seru Niken.


"Kak Niken." Haya terkejut melihat Niken menyerunya. "Kak Niken lihat kakakku tidak? Aku kesal sekali, harus berapa lama lagi aku menjadi patung pancoran disini." Ketus Haya. Niken terkekeh mendengar umpatan Haya.


"Kakakmu masih mengajar." Jawab Niken.


"Tuh kan, dasar semprul. Bisa akaran nih kalau nungguin dia terus." Timpal Haya bete.


"Aku sudah dapat izin dari kakakmu. Hari ini, aku akan mengajakmu treatment ke salon, shoping dan makan sepuasnya." Ujar Niken.


"Tapi aku mau belanja bulanan, kak. Aku mau beli sabun, deodoran, dan sebagainya. Gimana?" Kata Haya, "tadinya aku mau minta antar sama kak Hans." Haya cemberut dan merajuk.


"Kalau begitu biar aku yang antar kamu, gimana? Kebetulan kakak juga mau belanja." Balas Niken.


"Emang nggak apa-apa?"


"Tidak apa-apa Haya. Justru kakak senang kalau ditemenin sama Haya. Jadi ada teman ngobrol." Tuturnya.


"Okey deh."


"Tapi sebelumnya kita ke salon dulu yuk? Kita treatment bareng. Kakak yang traktir deh." Ajak Haya.


"Asyik..." Mata Haya berbinar bahagia. Hari itu, Niken mengajak Haya facial treatment ke salon, berbelanja, dan makan sore ditempat favorite Niken. Haya merasa menjadi seorang putri hari itu. Semua barang yang Haya beli, Niken yang bayar.


"Kak, wajah aku kayak kinclong banget deh." Tukas Haya.


"Kalau kamu suka, kamu boleh ke salon kakak tiap hari." Balas Niken.


"Salon kakak?" Tanya Haya heran.


"Iya, yang tadi itu salon kakak." Jawab Niken. Haya mengerjapkan matanya tak percaya. Haya memperhatikan Niken dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia sangat menyukai penampilan Niken. Tubuhnya yang porposional, wajahnya yang lembut dan cantik, wangi tubuhnya, gayanya, kecerdasannya dan kepribadiannya, Haya sangat menyukai Niken. Pantas saja kakak menyukai kak Niken. Gumam Haya dalam hati.


Setelah dari salon, Niken mengajak Haya ke mall untuk berbelanja baju dan tas. Haya memilah-milih baju yang menurutnya bagus. Ia terkejut ketika melihat harganya.


"Haya, kau mau itu...?" Kata Niken.


"Ehhh enggak kak. Cuma lihat-lihat doang koq." Jawab Haya.


"Kalau kamu suka ambil aza."


"Mahal kak, 600ribu." Ujar Haya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, ambil aza." Niken membelikan Haya 3 pasang baju dan sepasang sepatu untuk Haya kuliah. Kemudian Niken berbelanja di supermarket. Haya juga beli keperluannya, seperti, body lotion, parfume, deodorant, sabun mandi, facial wash, bedak, day cream dan night cream, toner dan semua skincare yang biasa ia pakai serta bodycare yang lainnya. Kelak, ia ingin seperti Niken. Sangat elegan dan berwibawa. Haya memandang Niken dengan takjub. Apalagi semua keperluannya, Niken yang bayar. Haya menelan ludah, ia merasa tak enak karena sudah sejak tadi Niken bayar semua keperluannya.


"Kak, aku nggak enak lho." Kata Haya. Niken menoleh lalu tersenyum ramah..


"Nggak enak kenapa?" Tanya Niken.


"Dibayarin terus dari tadi sama kakak." Jawab Haya.


"Udah nggak apa-apa." Tukas Niken.


"Habis ini kita mau kemana kak?"


"Kita makan yuk?" Ajak Niken. Haya mengangguk sambil mengelus perutnya yang lapar.


***


Hans mendapatkan panggilan masuk dari Niken, "hallo Niken. Ada apa?"


"Hans mobilku kayaknya mogok lagi deh. Kau bisa menjemput kami?" Kata Niken diujung telepon.


"Okey aku lagi di jalan sekarang. Kalian dimana?" Tanya Hans.


"Aku di restaurant tempat dulu kita nge-date." Jawab Niken, ia melirik ke arah Haya. Sementara Haya sedang sibuk dengan ponselnya. Pura-pura tidak mendengar percakapan mereka.


"Siapa sih yang parkir mobil sembarangan." Ketus Hans, lalu ia keluar dan melihat kerusakan mobil honda berwarna silver itu. Seorang perempuan keluar dari mobilnya.


"Aduh lecet. Gimana ini?" Pikir Hans.


Perempuan itu memandangi Hans.


"Saya minta maaf ya mbak atas kelalaian saya. Saya tidak sengaja. Mobil mbak jadi tergores gini. Maaf banget." Tutur Hans dengan memelas meminta maaf.


"Hans?" Kata perempuan itu, menyebut nama Hans. Dia menurunkan kaca matanya. Hans terdiam, ia mencoba mengenali wajah perempuan itu, tapi ia sungguh tak mengenalinya. "Ini aku Kezia. Teman SMA kamu." Katanya.


"Kezia? Tunggu tunggu..." Hans berusaha mengingatnya, "Ohhh Kezia si mata siput itu?" Hans ingat sekarang, dia teman SMA-nya dulu. Dan perempuan itu mengangguk.


"Wahhh, makin ganteng aza." Puji Kezia.


"Ahk kau bisa saja. Ehh tapi sorry ya, aku nggak bisa lama. Aku mau jemput adikku." Tutur Hans.


"Ohh iya nggak apa-apa. Tapi aku boleh minta kartu namamu nggak?" Ujar Kezia. Hans mengangguk dan menyodorkan kartu namanya yang baru. Tanpa basa basi Hans kembali menyetir mobilnya dengan hati-hati.

__ADS_1


Sesampainya di restauran, Hans bergegas masuk dan mencari meja Niken dan Haya.


"Kakak lama banget sih." Kata Haya langsung mencercau kakaknya yang baru sampai.


"Iya maaf maaf." Balas Hans. "Tadi kakak nggak sengaja nabrak mobil orang."


"Hah?" Niken terkejut, lalu berdiri memastikan Hans tidak terluka. "Tapi kamu nggak apa-apa kan? Ada yang luka? Trus mobil orangnya gimana? Orangnya terluka?" Cercau Niken sambil memastikan tubuh Hans tidak terluka. "Koq ketawa sih. Aku serius lho. Kamu nggak apa-apa kan?"


"Aku tidak apa-apa, Niken. Tenang saja." Balas Hans kemudian duduk bersama Haya dan Niken.


"Sungguh?"


"Iya aku tidak apa-apa. Aku justru senang." Ujar Hans.


"Senang kenapa, kak? Ketemu cewek cantik? Tadi yang punya mobilnya cewek cantik ya. Hayo ngaku." Tuduh Haya. Niken melirik Haya, ada perasaan cemburu didalam hatinya.


"Apaan sih? Enggak. Aku tuh senang, karena Niken mulai peduli sama aku. Dan mengkhawatirkanku." Balas Hans. Niken menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya. Ia malu sekali.


"Aku juga bahagia. Karena kak Niken ngajak aku facial treatment. Lihat deh kak wajah aku. Kinclong kan? Trus aku dibeliin sepatu sama baju. Aku ditraktir makan makanan enak, trus aku dibeliin cemilan buat dikostan. Aku seneng bangetttt." Tutur Haya mengekspresikan kebahagiaannya. Niken tersenyum bahagia.


"Coba aza kalau aku jadi adiknya kak Niken. Pasti diajak jalan-jalan terus." Lanjut Haya. Hans menjitak jidat adiknya.


"Emangnya aku nggak nurutin semua keinginanmu? Enak aza ya kalau ngomong. Uhhh dasar centil." Umpat Hans. "Tapi makasih ya." Hans meraih tangan Niken. Niken pun menganggukkan kepala.


"Sama-sama."


"Hey kenapa kakak pegang-pegang tangan kak Niken?" Kata Haya. Niken segera melepaskan tangannya. "Kalian pacaran ya...?" Selidik Haya. Niken dan Hans saling menghindar. Haya bukan lagi anak kecil yang bisa dibohongi. Jadi percuma kalau berbohong.


"Kamu sudah makan?" Tanya Niken. Hans menggelengkan kepalanya. "Ya udah kamu pesan makanan dulu gih."


"Nggak kamu pesankan makanan kesukaanku?" Tukas Hans.


"Enggak."


"Pesenin dong."


"Tinggal pesan aja, Hans."


"I want you to order." Balas Hans.


"Ihh manja. Ya udah bentar."

__ADS_1


***


__ADS_2