
"Sayang..." Dina mengetuk pelan pintu kamar putranya. Dina merasa ada yang Hans sembunyikan darinya. Entah itu apa? "Buka dulu pintunya nak. " Pinta Dina. Namun tak ada jawaban dari dalam kamar Hans. Dina menghela nafas panjang. Putranya sudah remaja, sebaiknya ia tidak terlalu ikut campur dengan urusan pribadi Hans. Akhirnya Dina biarkan Hans larut dalam emosinya. Begitulah anak remaja yang sedang gundah gulana.
Seperti biasa Dina menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Ditatanya dengan baik dan rapi, kemudian suara pintu kamar Hans terdengar nyaring. Hans keluar dari kamarnya dengan wajah yang lesu.
"Hans, makan dulu sayang." Kata Dina. Harun pun mengangguk setuju. Waktu itu Haya masih SMA, tidak tahu apa yang terjadi pada kakaknya. Hans menduduki tempat biasa.
"Hans, besok bisa antar mama ke swalayan?" Kata Dina tiba-tiba.
"Mmmm." Gumamnya sambil mengangguk. Sebenarnya Hans tidak punya selera makan, namun karena perutnya sangat lapar, mau tak mau ia harus mengisi perutnya dulu. Saat ini justru ia kecewa dengan dirinya sendiri. Karena sejak siang tadi ia tidak bisa menghubungi Niken. Setelah makan selesai, Hans bergegas kembali ke kamarnya. Berulang kali mencoba menghubungi Niken. Tapi hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban.
"Kak Hans kenapa mah?" Tanya Haya. Dina mengangkat kedua bahunya.
Setelah selesai makan malam, Harun berusaha mendekati putranya. Mencoba diskusi dari hati ke hati. Harun sengaja menginstal ulang laptopnya, sehingga ia butuh bantuan dari Hans.
"Hans, laptop papa kena virus deh kayaknya. Papa coba instal ehhh malah ngeheng." Imbuh Harun. Meski malas untuk bergerak, tapi Hans berusaha bersikap baik kepada kedua orangtuanya. Tanpa bicara, Hans membantu papanya untuk membetulkan laptop yang ngeheng.
"Ehh Hans pacar kamu yang namanya Tia itu gimana kabarnya? Koq papa udah nggak lihat kamu bareng dia lagi." Harun berusaha menyelidiki masalah putranya.
"Putus." Ketusnya
"Putus. Jadi kamu kayak gini tuh karena diputusin?" Kata Harun. Hans menyipitkan matanya ke arah papanya. Kesal. Papa sok tahu. Nggak ada hubungannya dengan Tia. Tia itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Niken.
"Apaan sih papa. Enggaklah."
"Ohhh bukan ya. Ehh kalau si Fanny gimana?" Harun tahu kalau anaknya playboy kampus.
"Putus."
"Putus juga?"
"Tenang aza kalau kamu diputusin juga. Masih banyak cewek yang mau sama anak papa. Kamu kan ganteng." Harun menghibur.
__ADS_1
"Apa sih pah. Orang yang mutusinnya juga aku koq." Jawab Hans.
"Kamu yang putusin mereka semua?" Harun agak kaget mendengarnya. Hans mengangguk.
"Trus kenapa kamu galau?" Tanya Harun.
"Mau tau aza." Jawab Hans. "Nih udah. Gitu aza nggak bisa." Lanjutnya.
Harun gagal menyelidiki masalah yang Hans alami. Keesokan harinya, Hans mengantar mamanya belanja ke swalayan. Sepanjang perjalanan Dina juga berusaha menyelidiki permasalahan anaknya. Tapi tidak sedikit pun yang keluar dari mulutnya untuk bicara terus terang.
Dina pun gagal. Akhirnya Dina dan Harun memutuskan untuk menunggu kesiapan Hans menceritakan masalahnya. Seminggu berlalu, Hans menghampiri Harun di halaman belakang rumahnya.
"Pah..." Seru Hans. Harun menoleh. Hans menyodorkan secarik kertas kepada papanya.
"Apa ini Hans...?" Tanya Harun.
"Surat keterangan kelulusan kuliah di Inggris." Jawab Hans. Harun membacanya, Hans telah diterima sebagai mahasiswa baru pascasarjana di kampus Oxford University.
"Masalahnya sebentar lagi pah." Imbuh Hans.
"Sebentar lagi gimana?"
"Ya harus berangkat."
"Nggak apa-apa nak. Ini kan impian kamu. Kamu udah kerja keras untuk bisa kuliah di Inggris. Soal biaya nggak perlu khawatir." Ujar Harun.
"Masalahnya ada sama Niken pah." Balas Hans.
"Niken...? Siapa dia? Pacar kamu?" Hans menggelengkan kepalanya.
"Dia perempuan yang aku suka. Tapi waktu itu, ada orang yang hampir mencelakai dia. Dan Hans di fitnah telah bersekongkol mencelakai Niken. Dia marah, dia nggak mau maafin aku, aku mau menjelaskan semuanya tapi dia menghindariku. Dan sekarang, beberapa hari lagi aku harus berangkat ke Inggris. Nggak ada waktu untuk bertemu dengan Niken. Aku, aku ngerasa kena batunya pah." Jelas Hans.
__ADS_1
"Kamu butuh bantuan papa dan mama?" Tanya Harun, Hans menggeleng lagi.
"Nggak usah pah. Biar waktu aza yang menjawab semuanya. Mungkin memang sudah waktunya Hans untuk berhenti mempermainkan perempuan." Jawabnya lemah.
"Tapi jangan lemas begini dong." Kata Harun. Hans tersenyum tipis.
Dina menghembuskan nafasnya. Ia teringat beberapa kejadian yang menimpa putranya. Haya memastikan bahwa mamanya tidak terhasut oleh kalimat Tia. Dina mengernyitkan dahinya. Yang entah bagaimana ia tidak bisa mempercayai apa yang Tia katakan. Satu-satunya cara adalah berkenalan dengan kekasihnya Hans yaitu Niken.
***
Hans menyiapkan pertemuan dengan kedua orangtuanya dan Niken. Ini adalah kali pertama Hans memperkenalkan Niken kepada kedua orangtuanya secara formal. Canggung sebenarnya, tapi Hans tidak mau hubungannya dengan Niken menggantung begitu saja. Ke depannya Hans berencana untuk melamar Niken.
"Mah, mama harus pura-pura nggak tahu ya. Aku kan udah bilang ke mama. Aku harap mama suka dengan kak Niken. Karena bagaimana pun itu juga pilihan kak Hans." Ujar Haya mengingatkan mamanya untuk bersikap baik kepada Niken, meskipun ia sudah pernah mendengarnya dari Tia..
"Wahh papa udah nggak sabar. Cantik nggak dia, Ya?" Tukas papa.
"Cantik banget, pah. Nah itu mereka." Tunjuk Haya. Dina dan Harun menggapaikan tangannya kepada anak sulungnya.
"Mama kangen banget sama kamu, Hans." Kata Dina sambil memeluk Hans.
"Mah, pah, ini Niken pacarku. Niken ini kedua orangtuaku." Hans mengenalkan Niken kepada kedua orangtuanya. Niken tersenyum ramah lalu menyalami keduanya. Dina memperhatikan penampilan Niken yang natural nan elegan itu. Niken mengenakan stelan dress yang sopan, dan sendal wedges yang manis ia pakai. Rambutnya panjang se punggung dan hitam legam, tampak sekali bahwa ia sangat memperhatikan penampilannya. Wajahnya mulus dan bersih, Dina memprediksi bahwa Niken sangat memperhatikan tubuhnya. Pasti ia pakai skincare yang bagus. Serta wangi semerbak yang tercium dari tubuh Niken. Parfum Niken begitu soft dan ceria. Dina baru ingat bahwa ia pernah bertemu dengan Niken di satu tempat. Oh ya, di mall. Saat itu Niken bertengkar dengan Tia. Apakah dia yang dimaksud oleh Tia? Tapi, di tidak seperti apa yang Tia katakan.
"Hai Niken. Waktu itu kita pernah bertemu ya..." Tukas Dina. Niken tersenyum manis.
"Emmm, dimana ya tante...?" Tanya Niken.
"Di mall."
Niken berusaha mengingat. Namun ia tak ingat kapan ia bertemu dengan Mamanya Hans. Niken dan Hans saling memandang.
"Kapan kamu ketemu sama mama?" Tanya Hans. Niken menggelengkan kepalanya, ia juga tidak tahu kapan mereka bertemu.
__ADS_1
"Kamu yang berantem sama Tia, benar bukan?" Kata Dina. Glekkk. Niken menelan ludah. Ia menyipitkan matanya ke arah Hans.