
Saat Hans sedang asyik-asyiknya bermain psp, seseorang memencet bel pintu apartemennya. "Siapa sih itu ganggu aja deh. Tunggu sebentar?" Hans mengakhiri mem-pause permainannya. Meletakan psp di meja. Lalu ia bergegas membuka pintu.
"Hai..." Seru Niken ceria.
"Hai Niken..." Hans tersenyum saat melihat wajah Niken yang berseri cerah itu. Rambutnya digerai begitu saja. Anting mungil itu menghiasi telinga Niken yang mulus bersih.
"Kau sudah makan?" Tanya Niken. Hans menggelengkan kepala.
"Aku baru saja mau pesan makanan." Jawabnya.
"Mau makan bersamaku?" Niken langsung masuk ke apartemen Hans. Menyediakan makanan di atas meja makan. "Aku masak banyak, tapi aku tidak punya teman untuk berbagi. Kau mau?" Hans menganggukkan kepala dengan semangat. Niken memberikan sepiring nasi dengan ikan balado yang baru saja ia masak, masih hangat.
"Ayo duduk."
"Kau pikir ini apartemen siapa?"
"Ehh hehe..." Niken menggaruk kepalanya. Bukannya duduk, Hans malah memeluk Niken dari belakang.
"Kenapa?" Tanya Niken sambil melepaskan tangan Hans.
"Rasanya selalu ingin begini." Jawab Hans sambil mencium punggung Niken.
"Makan dulu, aku sudah lapar." Hans enggan melepaskan pelukannya.
"Hans...?"
"Iya sayang." Rasanya sangat nyaman sekali ketika Hans memanggilnya dengan sebutan 'Sayang'. Rasanya seperti ia adalah milik Hans seorang.
"Makan dulu." Balas Niken.
"Okey." Katanya dengan berat hati.
Niken dan Hans menikmati makan malamnya. Tampaknya Niken mulai terbuka kepada Hans. Niken sudah mampu menerima Hans dengan caranya sendiri. Bahkan ia juga tak segan untuk bersikap lebih hangat. Serta membiarkan Hans menyentuh tangannya.
"Kapan aku bisa melamarmu?" Tanya Hans selepas makan selesai.
"Apaan sih." Balas Niken. Hans menatap Niken serius.
Niken mendesah pelan, "beri aku waktu." Jawab Niken.
"Berapa lama?" Tanya Hans dengan agak kecewa.
"Satu tahun." Balas Niken sekenanya, ia merapatkan bibirnya. Menahan tawa di bibirnya.
"Satu tahun? Selama itu? Aku bisa mati oh Tuhan." Ketus Hans. Niken tertawa melihat tingkah lucu Hans.
"Hhaha... Satu menit Hans." Jawab Niken akhirnya. Mata Hans seolah-olah bersinar penuh harapan.
"Maksudmu kau menerima lamaranku?" Tanya Hans dengan mata berharap.
"Aku tidak yakin, tapi karena kamu aku bisa membuka hatiku. Aku tahu, ini akan berat untukmu. Karena mencintai seorang perempuan philofobia seperti diriku. Hans, terimakasih, karena telah mencintaiku." Balas Niken.
Hans menggenggam tangan Niken, mendekatinya dan mencium pipinya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah malu mencintai dirimu. Karena aku tahu, syarat dari cinta itu adalah menerima segala kekuranganmu." Ujar Hans. Sebening bulir air mata tiba-tiba jatuh pelan ke pipi Niken.
"Ehh kenapa kau menangis?" Tanya Hans.
Niken menggelengkan kepala, "tidak apa-apa, kau membuatku tertegun." Jawab Niken malu. Hans menarik lengannya. Lalu memeluknya.
"Apa kau juga begini kepada perempuan lain?" Selidik Niken.
"Perempuan lain siapa?"
"Mantan-mantanmu."
"Tidak."
"Bohong."
"Sungguh aku tidak bohong."
"Hans...?" Niken mendongak.
"Hhehe iya sedikit."
"Tuh kan..."
"Apa...?"
"Kalau aku saja bisa tersipu malu, apalagi perempuan yang lain, yang normal. Pantas saja kau playboy." Ketus Niken.
"Bohong." Niken merajuk.
"Ya Tuhan... Kamu mau bukti?" Niken menganggukkan kepala. Hans mencari sesuatu yang bisa membuktikan bahwa dirinya hanya mencintai Niken seorang. Hans mengambil pisau dari dapur.
"Kau mau apa?" Tanya Niken dengan melotot.
"Katanya kamu mau bukti. Nih aku belah urat nadiku." Jawab Hans.
"Ehhh jangan... Kalau kamu mati gimana? Enggak enggak, jangan gila deh." Tukas Niken.
"Kan tanda cinta aku padamu."
"Ya tapi nggak gitu juga. Ada-ada aza deh."
"Kamu percaya?" Hans kembali duduk di samping Niken.
"Uhmmm gimana ya..." Pikir Niken.
"Kalau buktinya ini bagaimana?" Kata Hans, tiba-tiba ia mengecup bibir Niken. "Kau percaya?"
Niken mendongak, lalu menarik kerah baju Hans. Membalas mencium bibir lelaki itu.
Hans mengatur posisinya, semakin intim ciuman itu, semakin intim pula perasaan Niken kepada Hans.
"Aku percaya. Karena hanya kau satu-satunya lelaki yang aku percaya di dunia ini." Bisik Niken.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku tidak bisa mengendalikan diriku, Niken." Balas Hans. Tatapannya semakin lekat. Hans ******* bibir Niken lagi dengan mesra.
***
"Hai Hans..." Seru Niken ketika mereka bertemu di parkiran di keesokan harinya.
"Hai sayang..." Balas Hans. Niken melotot tak percaya. "Kau mau bersamaku?" Niken menggelengkan kepala.
"Mobilku sudah selesai diperbaiki. Aku mau naik mobilku sendiri." Balas Niken.
"Ohh Tuhan, padahal aku ingin sekali berduaan denganmu." Ketus Hans. Niken mendekatinya, lalu merapikan kemeja Hans.
"Kau harus lebih bersabar." Cuppp, Niken dengan terang-terangan mencium pipi Hans. Dada Hans terasa bergetar saat perempuan yang dicintainya mencium pipinya secara terang-terangan.
"Baiklah." Niken dan Hans pergi ke kampus dengan mobilnya masing-masing.
Disiang hari, Haya kesal sekali, satu jam sudah ia menunggu kakaknya. Tapi Hans tak kunjung datang. Berulang kali ia memeriksa jam tangannya. Kakinya sudah sangat pegal sekali. Panas, tidak ada tempat untuk duduk lagi. Haya malu kalau tiba-tiba ia masuk ke kelas untuk menemui kakaknya. 5 menit yang lalu Hans berkata, "iya tunggu sebentar. Kakak masih ngajar, Haya." Dan Haya tahu mengajar itu waktunya lama. Haya benar-benar kesal, menggerutu dan mengumpat kakaknya dengan kasar. Haya menelpon kakaknya lagi.
"Kak, kakak dimana sih? Katanya sebentar, tapi koq lama. Aku nggak bakalan lama koq. Kakak kesini dulu deh." Gerutu Haya.
"Iya dek, nanti dulu sebentar. Kakak nggak bisa ninggalin mahasiswa kakak. Lagi ada tutor penting buat mereka. Kamu ngerti dong. Kalau nggak kamu kesini deh." Balas Hans.
"Enggak ahk, malu." Ujarnya.
"Ya udah tunggu aza dulu ya." Hans menutup panggilan teleponnya. Haya kembali lagi menggerutu.
"Ihhh dasar punya kakak nggak punya perasaan. Masa adeknya disuruh nunggu seharian disini sih. Pegel."
Hans sangat jengkel dengan adiknya karena mengganggu mata kuliahnya. "Hans...!" Seru Niken tiba-tiba. Hans tersenyum lebar. "Ada apa dengan wajahmu?" Tanya Niken.
"Hemmm, Haya." Jawab Hans pelan.
"Kenapa dengan Haya?" Lagi Niken bertanya.
"Dia marah karena harus menungguku diparkiran. Dia pengin diantar belanja. Kau tahu bukan, jadwalku padat." Jawab Hans.
"Oohhh. Dia pasti ngambek." Tebak Niken. Hans mengangguk yakin.
"Ya begitulah kalau punya adik perempuan. Menyusahkan." Tukas Hans sambil mengusap hidungnya.
"Hey aku juga perempuan. Uhmmm kau butuh bantuanku?" Niken mengembungkan pipinya dan menawarkan bantuan kepada Hans.
"Kau mau membantuku?" Hans menatap Niken tak percaya. Lalu Niken mengangguk yakin."apa yang akan kau lakukan dengan adikku?"
"Hari ini, aku mau ke salon lalu ke mall dan terakhir aku mau ke pasar untuk belanja bahan makanan, gimana? Aku akan mengajak adikmu jalan-jalan. Kau bisa mengandalkanku Mr. Hans." Tutur Niken sambil menyipitkan kedua matanya.
"Mr. Hans?" Kata Hans, Niken dan Hans tertawa. "Baiklah. Aku percaya padamu." Lanjut Hans.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi." Kata Niken.
"Sebentar..." Hans menahannya, lalu ia merapikan rambut Niken dan menyentuh pipinya dengan lembut. Semua mahasiswanya yang sedang di kelas mendongak, menonton dua dosen yang sedang di mabuk cinta.
***
__ADS_1