
"Kau mau menginap disini?" Selidik Hans kepada adiknya.
"Tidak." Haya menggelengkan kepalanya. "Tenang saja, aku tidak akan menginap disini koq. Besok aku ada kelas pagi dan oh ya sebentar lagi Adit jemput aku." Katanya.
"Adit? Siapa dia?" Tanya Hans sambil mengernyitkan dahinya. Haya menatap kakaknya lalu menyeringai.
"Eeerr dia temanku." Jawab Haya.
"Teman apa teman?" Selidik Hans.
"Iya, dia temanku." Balas Haya.
"Haya...?"
"Ohh come on kak, trust me. Dia itu temanku, tapi mungkin sebentar lagi kami pacaran." Pungkas Haya.
"Apa? Haya dengar, kau tidak boleh pacaran." Tukas Hans.
"Kenapa?" Haya mengernyitkan dahinya.
"Kau itu masih kecil. Kuliah aja dulu yang bener. Belajar. Ngapain pacaran-pacaran." Balas Hans.
"Dihhh, apaan. Kakak aja dulu pacaran. Mana pacarnya banyak lagi." Kata Haya.
"Ya nggak bisa gitu dong. Kamu jangan nyamain kakak sama kamu. Kamu sama kakak itu beda." Jelas Hans. Tiba-tiba ponsel Haya berdering, "Ya, Dit? Oh sudah didepan ya. Tunggu sebentar ya." Haya mengoles lip cream di bibirnya, dan merapikan rambutnya. Haya mengabaikan perkataan kakaknya.
"Haya kakak nggak izinin kamu pacaran ya. Awas aja kalau dia berani sentuh-sentuh kamu." Kata Hans.
"Tenang aja kak. Aku bisa jaga diri koq." Balas Haya.
"Jangan lama-lama, kau harus langsung pulang ya. Jangan pulang tengah malam. Tidak ada main lagi. Awas saja kalau kau macam-macam dengan lelaki itu ya." Tutur Hans.
"Ihhhh berisik deh. Kayak emak-emak aja. Udah deh nggak perlu rempong kayak gitu. Sudah ya... Aku pergi dulu. Bye kak Niken." Haya hampir menutup pintu.
"Haya...?" Seru Niken bergegas. Haya menoleh, "bawa ini untuk sarapan besok pagi. Tinggal dihangatkan saja. Ohya, jangan lupa kasih Adit juga. Aku sudah menyiapkan tempat yang berbeda." Jelas Niken.
"Ya ampun, terima kasih banyak kakak ipar. Kau memang terbaik. Mmmuach." Kata Haya sambil mengecup pipi Niken. Haya pun berlalu meninggalkan Niken dan Hans.
Niken menghampiri Hans yang sejak tadi mengerutkan keningnya. Ada perasaan mengganjal yang membuat Hans merasa resah. Ia takut kalau adiknya melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
"Hey, what happened?" Niken mencolek lengan Hans. Lelaki itu menoleh sebentar, dia masih mengerutkan keningnya dengan kesal.
"Aku khawatir." Ujar Hans.
__ADS_1
"Emmmm, I know but, kau mengkhawatirkan Haya atau mengkhawatirkan Adit?" Tanya Niken dengan menyilangkan kedua tangannya ke dada. Hans menoleh lagi, ia menatap Niken dengan serius. Ia juga menyilangkan kedua tangannya.
"Sebentar." Kata Hans, lalu ia mengubah password pintu apartemennya. Agar Haya tidak bisa membuka pintu seenaknya.
"Kau mau apa?" Tanya Niken.
"Mengubah password." Jawab Hans.
"Mengapa mengubah password?" Niken mengernyitkan dahinya. Setelah selesai mengubah password apartemennya, Hans menarik lengan Niken masuk ke apartemennya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku Hans."
"Pertanyaan yang mana?" Tanya Hans sok polos.
"Hans..."
"Niken..."
"Kau mau menjawab pertanyaanku atau mau aku pukul? Hah!" Pungkas Niken.
"Aku maunya di cium." Balas Hans.
"Hans... Serius. Kamu nggak perlu mengubah password kamu lho. Buat apa coba." Tutur Niken.
"Why?"
"Agar tidak ada yang mengganggu kemesraan kita." Jawab Hans, kemudian membopong tubuh Niken ke atas sofa. Lalu ia menyalakan televisi lalu duduk disamping Niken.
"Kau punya drama korea?" Tanya Niken.
"Film untuk anak-anak alay?" Balas Hans. Niken mencubit perut Hans.
"Kau pikir drama korea itu untuk anak-anak alay? Drama korea itu adalah hiburan yang menyenangkan. Kita bisa tertawa, menangis dan merasakan konflik yang dirasakan oleh pemeran utamanya." Jelas Niken.
"Ahhh apaan film begituan. Aku punya film ini. Film yang sangat bagus dan menyenangkan." Kata Hans.
"Film apa?" Tanya Niken penasaran.
"Ada deh." Hans mengangkat kedua alisnya sambil menggoda Niken.
"Jangan aneh-aneh ya. Awas lhooo." Hans memutar sebuah film Hollywood yang berjudul The Saw. Awalnya Niken menonton seperti biasa, namun setelah beberapa menit berlangsung. Ada adegan yang membuat Niken merasa ngilu, yaitu seperti pembunuhan. Namun pembunuhan itu disayat-sayat secara pelan-pelan sehingga membuat Niken takut melihatnya.
"Hans, kau benar-benar menyebalkan. Aku tidak mau menontonnya." Rengek Niken manja.
__ADS_1
"Ayolah ini seru." Katanya. Niken mengangkat kedua bahunya. Pada akhirnya Hans mematikan tv-nya.
"Aku lebih suka film dengan genre romantis, komedi, dan happy ending." Imbuh Niken.
"Iya itu film alay." Ujar Hans. Niken melempar bantal sofa ke wajah Hans.
Hans mengacak-acak rambut Niken, dan menggelitik pinggang Niken.
"Aku nyerah." Kata Niken sambil ngos-ngosan. Hans membopong Niken ke kamar. "Aku bisa jalan sendiri."
"Tapi aku ingin menggendongmu." Kata Hans. Hans menarik selimutnya dan memeluk mesra tubuh Niken.
"Hans...?"
"Hemmmmhh." Niken membalikkan tubuhnya. Ia menatap lurus mata Hans.
"Cium aku." Pinta Niken. Hans melotot tak percaya. Lalu ia tersenyum.
"Jangan, kau harus tidur." Ujar Hans. Niken mendesah pelan.
"Jika aku sembuh, apakah kau akan selalu disampingku?" Tanya Niken. Hans mengelus lembut pipi Niken.
"Selalu." Jawab Hans.
"Ini bukan untuk sementara, kan? Kau dan aku memeluk mesra dan saling mencintai satu sama lain." Imbuh Niken.
"Jangan asal bicara. Ayo cepat tidur." Kata Hans.
"Aku takut, suatu saat nanti akan ada orang yang memisahkan kita. Dan kita tidak lagi bersama." Niken berujar seolah kemesraan ini hanya untuk sementara.
"Apa yang bisa membuatmu percaya padaku?" Tanya Hans. Masih dengan mengelus lembut pipi Niken.
Niken menunjuk tepat ke arah jantung Hans. "Detak jantung ini." Jawabnya.
"Dalam pelukmu aku merasakan detak yang sama, seperti getaran yang terjadi pada hatiku. Dalam pelukmu, hidupku yang monoton menjadi berwarna. Dan aku tak ingin semua ini berakhir dalam kesia-siaan. Engkau satu-satunya yang memberiku warna itu. Jika aku tak bersamamu, apakah hidupku masih akan berwarna? Melayang terbang keudara, menembus langit ketujuh, hanya bersamamu. Hanya denganmu." Tutur Niken. Sebulir air mata jatuh membasahi pipinya. Hans sangat tersentuh. Kemudian menghapus air mata Niken, lalu nengecup keningnya.
"Dengar, ada atau tidak adanya aku, hidupmu akan selalu berwarna. Kau akan selalu bahagia apapun yang terjadi. Kasih sayangku untukmu tidak akan mudah sirna meski terbakar api yang menyala atau terhempas ke dalam lautan ombak. Aku mencintaimu, dulu, kini dan nanti. Aku mencintaimu apapun yang terjadi." Balas Hans. Kemudian ia mendekatkan bibirnya dan ******* bibir Niken dengan lembut.
"Aku ingin lebih dari ini." Pinta Niken, berbisik ke telinga Hans. Niken meraih tangan Hans lalu meletakkannya kedadanya.
"Seperti malam kemarin. Perasaan yang tak bisa aku definisikan. Menyatu dengan dirimu." Tukas Niken. Hans menatap mata Niken lamat-lamat, tanpa aba-aba, Hans mulai ******* bibir Niken. Cinta melebihi dari segalanya.
***
__ADS_1