
Niken mengucek matanya. Ia terkejut begitu mendapati Hans ada disampingnya. Ia menemukan dirinya tanpa sehelai pakaian.
"Ya Tuhan... Bagaimana ini? Kau sudah gila Niken." Gerutunya pada diri sendiri. Niken menarik gaunnya yang sobek. Ia menepuk jidat. Ia berinisiatif mencari kemeja milik Hans. Dan bergegas berpakaian, ia menarik sebuah kemeja milik Hans, lalu pergi meninggalkan apartemen Hans.
"Bagaimana ini? Sebentar lagi Haya pasti datang." Tiba-tiba ponselnya berdering keras, Niken segera memijit panggilan terima dengan gugup. Takut kalau-kalau Hans terbangun.
"Haya...?" Seru Niken pelan.
"Kakak sudah masak apa hari ini?" Tanya Haya.
"Kau dimana sekarang?" Niken balik bertanya. Pelan-pelan ia keluar dari kamar Hans.
"Aku sedang di lift. Bentar lagi nyampe." Jawab Haya. Niken terbelalak tak percaya. Ia gugup setengah mati. Niken segera mempercepat langkahnya. Gaun. Niken teringat, gaunnya masih dikamar Hans. Saat Niken hendak kembali ke apartemen Hans, Niken mendengar suara sepatu milik Haya. Akhirnya Niken segera masuk ke apartemennya.
"Aku tidak sempat masak. Kau saja yang masak ya." Balas Niken.
"Uhmmm, tapi nanti kak Hans bakalan curiga kalau rasanya aneh. Sementara yang kakakku tahu, rasa masakanku sekarang enak. Bagaimana kak? Kakak kesini aza ya." Imbuh Haya.
"Tidak bisa Haya. Kau masak semampumu saja ya." Niken menutup panggilannya. Kemudian ia bergegas mandi. Ini hari minggu. Ia bisa bermalas-malasan dikamarnya.
Sementara Haya masih tampak bingung saat ia masuk ke dapur. Tidak ada bahan apapun disana. Akhirnya Haya memesan makanan dari luar.
"Kalau begini, lebih baik aku tidak kesini." Gerutu Haya.
"Haya...?" Seru Hans dibalik pintu kamarnya.
"Iya kak." Balas Haya.
"Kau masak apa?" Tanya Hans. Haya gelagapan, entah apa yang harus ia katakan kepada kakaknya.
__ADS_1
"Haya tidak masak apa-apa. Tapi udah delivery koq. Haya nggak sempat beli bahan makanannya." Jawab Haya. Hans menggaruk kepalanya. Hans terkejut setengah mati ketika mendapati dirinya telanjang didalam selimut. Hans segera masuk ke kamar mandi. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Tapi ia sungguh tidak ingat apa-apa. Ia hanya ingat pada saat di bar. Melampiaskan kekesalan dan amarahnya pada 4 botol anggur.
"Kakak. Ayo sarapan." Haya mengetuk pintu kamar Hans. Setelah Hans selesai mandi, ia merasa ada yang aneh. Isi lemarinya rapi dan tertata dengan baik. Hans mencari kemeja putih santai. Tapi ia tak menemukannya.
"Kakak." Seru Haya.
"Iya sebentar Haya." Balas Hans. Ia menginjak sesuatu. Sebuah kain berwarna hitam, tampak seperti gaun. Hans mengernyitkan dahinya. Baju siapa itu? Apa aku membawa seorang gadis? Ahk tidak mungkin. Batinnya.
"Apa yang kau pesan?" Tanya Hans.
"Ini...?" Tunjuk Haya, ia memesan bubur ayam dan dua buah minuman.
"Kapan kau datang?" Tanya Hans sambil menyendok buburnya.
"Tadi jam 6." Jawab Haya.
"Apa semalam kau mengantarku pulang?" Hans selalu merasakan hal yang aneh setelah ia mabuk.
"Ada yang aneh." Pikir Hans.
"Apa yang aneh?" Tanya Haya.
"Aku selalu mabuk. Dan ketika bangun aku selalu sudah ada dikamar." Jawab Hans.
"Ohhh itu nggak aneh. Ada seseorang yang selalu mengantar kakak." Tukas Haya.
"Diantar siapa?" Hans menatap adiknya.
"Ya kak Niken lha..." Ketus Haya spontan. Hans terkejut dengan jawaban Haya.
__ADS_1
"Niken? Niken siapa maksudmu?" Tanya Hans, dengan menatap wajah adiknya lamat-lamat.
"Eng... Enggak. Emmm, aduh... Emmm anu kak. Emmm duh..." Haya gugup.
"Heh? Ngomong yang bener." Ujar Hans.
"Mmmm, susah ngomongnya, kak. Aku udah janji." Balas Haya.
"Janji apa? Sama siapa? Lu kalau nggak ngomong, nih bubur ayam masuk ke mulut lu semuanya." Ancam Hans.
"Jangan dong kak. Tega banget sih sama adik sendiri." Balas Haya.
"Makanya ngomong." Haya menggigit bibirnya dan merapatkan matanya. Seakan berbicara kepada dirinya, "bego".
"Uhmmm mak... Maksudku. Aduh gimana ini?" Haya menggaruk kepalanya, agak berat untuk mengatakan kejujurannya.
"Haya. Mau ngomong nggak?" Hans tampak serius menatap adiknya. Ia mencoba mencari jawaban atas keanehan yang terjadi kepadanya. Haya menghembuskan nafasnya.
"Maafin Haya ya kak. Tapi kakak janji nggak akan marah sama Haya. Semua ini Haya lakukan karena Haya sayang sama kakak. Dan mencoba menutupinya dari mama." Tutur Haya. Hans mengerjapkan matanya.
"Iya iya bawel. Ngomong aja terus terang. Apa sih susahnya." Ketus Hans.
"Jadi gini, 2 tahun yang lalu, ketika kak Niken memberikan surat untuk kakak. Aku janji nggak bakalan ngomongin kak Niken didepan kakak. Tapi, aku nggak sengaja lihat kak Niken antar kakak ke apartemen. Terus, kak Niken ngejelasin semuanya. Dan meminta aku buat menyembunyikan semuanya dari kakak. Maafin Haya kalau Haya udah bohong sama kakak." Kata Haya.
"Bohong apa? Niken ngejelasin apa? Lu kalau ngomong yang bener." Gertak Hans.
"Ihhh tunggu dulu. Ini kan mau aku jelasin, kakak. Pertama, kak Niken tidak menjual apartemennya. Kedua kak Niken tidak benar-benar pergi. Dan ketiga yang suka masak dan nyiapin sarapan tuh kak Niken. Setiap kakak mabuk baik dulu ataupun sekarang, kak Nikenlah yang membawa kakak pulang. Dia selalu membuatkan sarapan untuk kakak, lalu aku datang seolah-olah akulah yang masak semuanya. Saat kakak mendapatkan penghargaan, kak Niken hadir disana, dan kue yang aku berikan untuk kakak adalah buatan kak Niken. Saat kakak ke Inggris dan melakukan seminar ke beberapa negara, kak Niken selalu ada diantara para peserta disana. Dan terkadang, dia mengantarkan kakak pulang jika kakak mabuk berat. Saat kakak di Turki mencarinya, kak Niken pun ada disana. Jika kakak pikir bahwa kak Niken sangat jahat, kakak salah. Justru disini kak Nikenlah yang sangat menderita. Dia harus tidak terlihat oleh orang yang ia cintai. Kak Niken berpura-pura tidak memperdulikan kakak, karena kak Niken ingin menjaga kakak. Kak Niken berjanji kepada mama untuk tidak muncul lagi sebagai kekasih kakak. Kak Niken sangat baik dan sangat mencintai kakak. Kak Niken selalu bersama kakak, kemana pun kakak pergi." Jelas Haya. Hati Hans seakan runtuh. Ia tidak tahu bahwa selama ini Niken selalu ada didekatnya. Ia tidak pernah menyadari kalau apartemennya selalu bersih dan rapi. Baju-bajunya selalu tersusun rapi dan bersih. Hans berlari ke kamarnya. Ia berusaha mengingat kejadian tadi malam. Dan pelan-pelan ingatannya muncul.
"Kau cemburu? Dia Fariz. Lelaki yang pernah aku ceritakan waktu dulu. Dia sudah menikah dengan teman masa kecilku Ineu. Kau tidak perlu cemburu. Karena hatiku masih untukmu. Aku mencintaimu." Hans pun ingat bahwa ia merobek gaun Niken dengan paksa. Hans mengambil gaun itu dan bergegas menuju apartemen Niken.
__ADS_1
***