One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Tiga puluh tujuh


__ADS_3

Niken menyetir dengan kecepatan maksimum. Ia melampiaskan semua perasaannya yang kacau balau.


"Aaaaaarrrrrrgggghhhhh...." Ia berteriak sekeras-kerasnya. Beban yang ada di dalam hatinya sedikit demi sedikit berkurang. Namun kali ini, ia ingin meluapkan semua emosinya. Ia bahkan tidak ingin mengontrol kecepatan mobilnya. Niken pulang ke apartemennya dengan keadaan kacau. Suara hatinya, bahkan suara tangisnya tidak dapat didengar oleh siapapun. Ia masuk ke kamar mandi, menyalakan keran dan membiarkan sekujur tubuhnya basah kuyup oleh air yang terpancur dari shower. Ingin rasanya ia melepaskan penat dihatinya. Ingin rasanya ada seseorang yang mampu mendengar semua keluh kesahnya. Namun kepada siapa ia harus bercerita? Kepada siapa ia harus sandarkan kesedihannya itu? Niken sangat lelah dengan perasaannya yang ditekan itu. Jika harus jujur pada diri sendiri, ia sangat tidak mampu melewati semua kesulitan yang terjadi saat ini. Niken menangis sejadi-jadinya. Merasakan setiap tetesan air yang membasahi kulitnya bahkan menusuk ke setiap tulang belulangnya. Niken berusaha berdiri meskipun tak sanggup. Ia melepaskan pakaiannya. Menyelimuti dirinya dengan handuk lalu berbaring di tempat tidur, meringkuk dingin. Tidak ada yang bisa ia lakukan setelah ini. Terserah. Biarkan Tuhan yang mencatat akan bagaimana keluarganya sekarang. Niken sadar bahwa mengungkapkan semua kejahatan ayahnya akan merusak hubungan ibu dan ayahnya, termasuk hubungan Nadine kakaknya dengan sang ayah yang sangat dekat sekali. Niken pun sadar bahwa saat mereka mengetahui semuanya, akan sangat tipis kemungkinan baginya untuk mempererat kembali hubungan keluarga yang aman, damai dan bahagia. Niken masih menangis, dalam tidurnya pun ia menangis. Niken mengirimkan surel kepada dekan kampus, bahwa ia tidak masuk mengajar karena sakit. Ia habiskan waktu di biro konsultan milik Tanu selama satu minggu penuh. Niken sangat depresi berat. Ia bahkan selalu menyalahkan dirinya sendiri. Selesai terapi, Niken menegakkan kembali bahunya yang rapuh, ia berusaha tegar dan menjalani semuanya seperti biasa.


***


Hari ini, Niken memandang wajah ayahnya yang sudah tak lagi muda. Wajah menyeramkan ayahnya sudah lapuk, kini tinggallah kerongkong. Pipinya tirus sekali, pucat pasi dan bibir kering.


"Niken..." Lirihnya. Niken pelan-pelan menghampiri ayahnya. Nafas ayahnya tercekat diujung lidah. Niken sedikit membungkuk untuk mendengar ucapan ayahnya. "Ma..af...kan, a..yah..." Katanya hampir tak terdengar. Hati Niken sangat terluka mendengar kalimat itu. Meski ayah adalah orang yang jahat di masa lalunya, tapi ia tetap seorang ayah.  Yang tidak pernah meninggalkan tanggungjawabnya menafkahi anak-anaknya. Yang selalu baik dan ramah kepada anak-anaknya.


"Niken, setiap orang, pasti memiliki penyimpangan. Apapun itu. Pasti ada. Tapi, tidak semua penyimpangan bersifat mutlak salah. Kita makhluk hidup yang harus bisa menerima kenyataan. Bahwa kehidupan tidak akan sempurna tanpa salah dan dosa. Kau tahu, dari kesalahan kita belajar untuk mampu memperbaiki diri. Ayahmu, adalah sebagian dari penderita pedofilia. Mungkin beliau telah sadar dengan perbuatannya. Tapi naluri seseorang yang memiliki penyimpangan, tidak akan pernah sembuh total.  Kecuali dia sendiri yang mau dan mampu mengendalikannya. Seperti kau Niken, kau yang selalu ingin sembuh dari philofobia-mu. Begitu juga dengan yang lain. Ayahmu juga." Niken teringat kalimat Tanu beberapa hari yang lalu. Niken selalu berusaha untuk memaafkan ayahnya. Namun tidak mudah, sering kali ia merasakan perasaan takut sehingga itulah yang membuat Niken menjadi sangat membenci ayahnya. Kecuali kepada kakek. Hanya almarhum kakek yang selalu senantiasa menemaninya. Hanya beliau yang selalu ia percaya. Karena beliau-lah, Niken bangkit dari kesedihan dan keterpurukannya. Lewat tangan itulah yang selalu membelai lembut rambutnya, lewat bahasa itulah yang membuatnya percaya bahwa ia adalah perempuan yang hebat dan kuat. Bahwa kelak ia akan menemukan lelaki baik yang mampu mencintainya.


"Niken, ini kakek. Sini sayang, kemari sama kakek." Imbuh kakek ketika Niken berada dalam tahap terapi psikis dari psikolog. Saat itu wajah kakek tampak seperti monster didalam pandangan Niken. Namun pelan-pelan Niken membalas uluran tangan kakeknya. Sentuhan hangat, senyuman menenangkan, membuat hati Niken terasa luluh lantak. "Niken, dengarkan semua kata kakek ya. Ketika semua tak lagi berpihak padamu, tangan kakek akan selalu melindungi dan membuat Niken tenang. Maka Niken harus sembuh. Kakek akan selalu bersama Niken." Tutur kakek. Niken mengangguk, sejak saat itulah, hanya kakeknya yang mampu meneduhkan hatinya dan membuatnya seolah bersamanya adalah kebahagiaan dan kedamaian. Kini Niken dalam dilema, memaafkan ayah yang tengah sakaratul maut adalah hal yang sulit. Tapi Ria terus menerus mendesaknya saat itu juga. Niken memejamkan kedua matanya. Menghembuskan nafasnya pelan-pelan. 

__ADS_1


"Memang akan sangat sulit memaafkan ayahmu. Tapi yakinlah Niken, saat kau terlahir ke dunia ini, beliau sangat bahagia. Maka satu-satunya yang terberat dalam hidupmu adalah berdamai dengan dirimu sendiri. Pejamkan matamu, hapuskan setiap kejadian yang membuatmu benci, dendam dan marah kepada ayahmu. Yakinkan dirimu, setelah ini kau akan menjadi jiwa yang baru. Jiwa yang berdamai dengan masa kelammu. Maafkanlah setiap salah dan dosa-dosamu. Dan cintailah dirimu seutuhnya." Kemudian ia menghembuskan nafasnya, mengingat masa-masa yang indah bersama sang ayah. Seperti yang ia rasakan kepada kakeknya dan kepada Hans. Perasaan dimana ia sangat bahagia, melayang ke angkasa, terbang bersama para bintang, memeluk bulan. Dan hanya ia yang mampu merasakan kebahagiaan itu.


"Ayahhh...?" Seru Niken kecil, saat ia berusia 5 tahun. Niken menyodorkan makanan kepada ayahnya. Reno mangap dan hendak makan makanan yang Niken suapi untuknya. Namun makanannya jatuh. Reno tertawa begitu pun dengan Niken. Reno bahagia sekali, menggelitik pinggang Niken. Sampai Niken tertawa terguling-guling.


"Ya, Niken memaafkan ayah." Bisik Niken ke telinga ayahnya. Reno menarik nafas untuk yang terakhir kalinya, jiwanya terlepas dari raganya. Mata Niken berkaca-kaca, seakan tak percaya ayahnya akan pergi meninggalkannya. Itu adalah kali pertama dalam hidup Niken menjatuhkan air mata untuk ayahnya.


Ria terjatuh pingsan ketika suaminya menghembuskan nafas terakhirnya, begitupun dengan Nadine. Semua orang berkumpul untuk membantu Ria, dokter dan para suster memberikan efek kejut berkali-kali. Niken melangkah mundur, dan ia merasakan getaran yang hebat didalam dadanya. Rasa sakit yang tak bisa ia tahan begitu saja. Hans merangkul pundak Niken, disaat itu pula Niken berhambur memeluk Hans. Menangis sejadi-jadinya di bahu Hans.


Prosesi pemakaman ayahnya telah selesai pukul 2 siang. Niken berangsur pulih dari kesedihannya. "Makan dulu." Bisik Hans, Niken mengangguk pelan. Nadine sibuk mengurus untuk tahlilan nanti malam. Begitu pun dengan Ria yang mencoba untuk tegar meskipun sebenarnya ia sangat rapuh.


"Tidak apa-apa. Nanti saja." Balas Hans, ia selalu merangkul pundak Niken. Menenangkannya dan memberikannya perlindungan.


"Niken sini sebentar." Nadine menggapaikan tangannya.

__ADS_1


Hans melepaskan genggamannya dan membiarkan Niken bersama keluarganya.


"Aa, sini dulu. Tolong bantuin angkat ini. Berat." Tukas seseorang. Hans celingukan. "Ehh ari s aa kunaon. Enya aa. Kadieu." Hans menunjuk dirinya. Lalu  menghampiri perempuan yang badannya gendut. Hans membawa piring dan peralatan dapur lainnya.


"Pake motor aza, Niken. Tuh kuncinya di atas meja." Tukas Nadine.


"Iya..." Niken celingukan mencari Hans. "Kemana dia?" Hans sedang memindahkan meja dan kursi ke rumah Nadine. "Hans...? Kau dari mana?" Hans malah mengembangkan senyumnya.


"Boga kabogoh teh titah gawekeun. Tong cicing wae Niken." Gerutu Dimas suaminya Nadine.


"Apaan sih kakak. Yuk antar aku sebentar." Niken menarik lengan Hans.


"Kemana?"

__ADS_1


"Ke toko kue. Ayo..." Ucap Niken.


***


__ADS_2