
Beberapa mahasiswa masuk ke ruang kerja Niken. Saling mendorong dan saling menyikut. Mereka mendapatkan surat keterangan bimbingan skripsi yang sudah turun kemarin sore. Bersiap untuk mendapatkan bimbingan dari dosen favoritenya. Karena menurut pengalaman kakak seniornya yang dulu. Niken termasuk dosen yang fleksibel dan paling nyaman untuk diajak diskusi. Jadi mereka sangat bersemangat saat mengetahui bahwa dosen pembimbingnya adalah Niken.
"Bu Niken, bisa minta waktunya sebentar?" Seru salah seorang diantara mereka.
"Iya silahkan."
"Bu, sk bimbingan skripsi kita udah keluar. Dan dosen pembimbing kita, bu Niken. Ibu kapan punya waktu luang untuk memberikan bimbingan kepada kami?" Imbuh Rina salah satu dari mahasiswa itu.
"Ohhh begitu. Dosen pembimbing kedua kalian siapa?" Tanya Niken.
"Pak Hans." 5 orang menjawab yang sama.
"Yang lain?"
"Pak Dicky." 3 orang menjawab yang sama.
"Pak Dicky sedang menyelesaikan penelitian di Bali selama 6 bulan. Penggantinya siapa ya?" Gumam Niken. Mengingat bahwa Pak Dicky akan melakukan riset penelitian tentang adat dan budaya di Bali. Niken berpikir sejenak.
"Aku." Jawab sebuah suara. Hans baru saja masuk ke ruangannya. Niken menelan ludah lalu menghembuskan nafasnya. Lagi-lagi harus berurusan dengan Hans. Sebenarnya Niken sangat malas sekali kalau harus bekerja sama dengan Hans. Entah kenapa, akhir-akhir ini ia sangat tidak nyaman satu ruangan dengan Hans.
"Uhmmm kalau begitu jadwal bimbinganku hari senin dan jumat." Kata Niken memutuskan.
"Kalau sama pak Hans hari apa?" Tanya Rina menoleh ke arah dosen pembimbingnya.
"Selasa dan jumat." Jawab Hans. Niken menoleh sebentar, ia merasa keberatan dengan jawaban Hans yang jadwal bimbingan mereka sama.
"Hans jadwal bimbinganku hari jumat. Kau harusnya mengganti jadwalmu." Imbuh Niken.
"Kenapa harus aku? Seharusnya kau yang mengganti jadwalmu. Kau tahu, bukan. Jadwalku padat." Balas Hans tanpa ekspresi.
"Memangnya kau pikir jadwalku tidak padat." Niken berdiri, ia tidak terima dengan kalimat Hans yang seolah-olah hanya dirinya yang sibuk.
"Ayolah, Niken. Aku dosen baru disini, pekerjaanku menyita waktu banyak. Kau bisa kan mengganti ke waktu yang lain, bukan." Ujar Hans.
__ADS_1
"Enak sekali kau bicara. Memangnya kau pikir aku tidak sibuk? Kau pikir pekerjaanku tidak penting?" Niken menyilangkan kedua tangannya ke dada.
"Ayolah, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu." Akhir-akhir ini sikap Niken memang berbeda terhadap Hans. Ia seringkali bersikap dingin dan acuh tak acuh. Hans hanya bisa memakluminya karena perempuan memang begitu.
"Kenapa? Kau tidak mampu mengubah jadwalmu untuk bertemu pacar-pacarmu?" Tukas Niken.
"Apa? Pacar?" Hans mengernyitkan dahinya.
"Aku tidak akan mengubah jadwalku. Titik. Suka atau tidak." Lanjut Niken.
"Begitu pun denganku. Suka atau tidak. Ini sudah menjadi keputusanku." Balas Hans tak mau kalah.
"Whatever." Tukasnya. Rina dan teman-temannya saling berpandangan. Mereka meninggalkan ruang kerja dosennya dengan perasaan aneh yang menyelinap ke dadanya. Pasti ada yang nggak beres dengan kedua dosen itu. Begitu pikir Rina dan teman-temannya. Begitupun dengan Niken, karena kesal ia pergi meninggalkan ruang kerjanya.
"Permisi." Seru seorang perempuan kepada Niken.
"Ya, ada apa?"
"Apa disini ada dosen yang bernama Hans?" Ujar perempuan itu.
"Ehhh bisakah Anda memanggilnya untukku." Kata perempuan itu. Niken mendengus kesal. Siapa perempuan ini? Berani sekali dia menyuruhku. Apa dia juga salah satu pacarnya Hans? Gila. Ini benar-benar gila. Niken tidak habis pikir dengan Hans. Dia masih sama seperti dulu. Dasar playboy.
"Yah, baiklah." Balas Niken. Ia melangkah menuju ruang kerjanya.
"Professor Hans, kekasih Anda menunggumu di lobi kantor." Kata Niken dengan menyunggingkan bibirnya, masih kesal.
"Apalagi ini? Setiap hari kau selalu mengajakku bertengkar. Kenapa sih, Ken?" Balas Hans dengan santai.
"Aku tidak mengajakmu bertengkar. Aku hanya menyampaikan, kalau kau kedatangan tamu istimewa." Katanya dengan membuka lebar-lebar kedua tangannya. Kemudian Niken berlalu meninggalkan Hans. Sementara Hans hanya menggelengkan kepala dengan sabar.
"Kenapa sih dia. Aneh." Pikirnya.
...***...
__ADS_1
Pagi itu Niken disapa oleh beberapa mahasiswa bimbingannya. Pandangannya tak sengaja beralih pada Hans yang sedang berbicara dengan seorang perempuan di kantin kampus. Ia mengernyitkan dahinya, merasa mengenali perempuan berambut sebahu itu. ia berusaha mengingatnya. Ahya, Niken ingat sekarang, dia adalah Tia. Orang yang dulu pernah menjebaknya, dan membuat dirinya dengan Hans berselisih paham. Sedang apa dia disini? Apakah Hans masih berhubungan dengan perempuan itu? Ahhh, mungkin mereka masih menjalin hubungan. Dasar playboy. Ehh kenapa aku seperti ini ya. Ahk sudahlah, itu bukan urusanku. Pikir Niken. Ia berusaha bersikap biasa saja. Meski hatinya tidak berkata demikian. Sebenarnya ada perasaan cemburu yang menyelinap masuk ke dalam lubung hatinya. Namun Niken menyangkal semua perasaannya. Ia tidak ingin tahu dan kenal dengan yang namanya cinta. Tahu sendiri kalau ia sangat benci dengan yang namanya jatuh cinta. Apaan sih, jatuh cinta? Menyita waktu banget. Nggak ada alasan apapun untuk jatuh cinta. Apalagi jatuh cinta pada lelaki aneh dan playboy seperti Hans. Ya, Niken tidak mau terlibat dengan Hans. Tidak mau lagi melibatkan hatinya untuk Hans. Kesalahpahaman yang terjadi di masa lalu itu hanya kesalahpahaman biasa. Bukan karena ia cemburu atau karena ia jatuh cinta kepada Hans. Tidak ada kata cinta dalam kamusnya.
"Niken...?" Seru Hans.
"Ada apa?" Tanya Niken jutek. Nadanya sangat tidak menyenangkan hatinya. Hans mengernyitkan dahinya, "Apa kau masih kesal dengan kemarin?" Balas Hans.
Niken menurunkan tasnya, "tidak."
"Kalau tidak, kenapa kau selalu bersikap seperti ini?" Imbuh Hans.
"Bersikap seperti apa?" Balas Niken dengan tenang. Hans mengernyitkan dahinya.
"Kau itu selalu membuat masalah denganku. Hehhhh... Aku rasa ada yang aneh denganmu." Ujar Hans. Niken menyunggingkan bibirnya. Tidak ada alasan baginya untuk mengelak. Hans memang benar.
"Aku bukan Niken yang dulu." Gumam Niken. Hans menoleh sebentar tapi tidak merespon gumamannya. Mereka duduk di kursi masing-masing.
"Enak ya, pagi-pagi udah ada yang menyemangati. Apalah dayaku yang jomblo ini." Ketus Niken sambil memandangi layar komputernya.
Hans mendesah pelan. "Apa maksudmu?" Hans berdiri, lalu mendekat ke arah meja kerja Niken.
Niken mendongak, "Apa?"
"Aku pikir kau juga berubah. Dimataku, kau masih Niken yang sama." Ujar Hans.
"Terserah." Ketusnya. Hans menarik lengan Niken sehingga membuat tubuh Niken terhuyung ke arah Hans.
"Apa maumu?" Hans menatap tajam, rahangnya mengeras. Niken menelan ludah.
"Eee... Ti-ti-tidak. A-a-aku hanya asal bicara." Jawabnya. Lalu Hans melepaskan cengkramannya.
"Hari itu kenapa kau memelukku? Meminta maaf atas kejadian 10 tahun yang lalu. Kadang aku berpikir, aku yang melakukan kesalahan. Tapi sekarang, aku tahu siapa yang salah. Kau. Lelaki playboy yang sering mempermainkan hati perempuan." Tutur Niken. Hans menatap Niken dengan tajam, lalu menarik lengannya lagi dan menyangga pinggang Niken.
"Apa yang kau mau dariku?" Kata Hans, wajahnya tepat 1 inci dari wajah Niken. Glekkk. Niken menelan ludah dan mengerjapkan matanya. Jantungnya berdebar-debar tak beraturan.
__ADS_1
***