One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Tiga puluh sembilan


__ADS_3

Sesampainya di koridor apartemen, Hans memperhatikan raut wajah Niken yang sedih. Hans tahu Niken sedang tidak dalam keadaan baik. Ia telah merefresi emosinya, telah kehilangan kesempatan untuk memaafkan ayahnya. Telah menekan semua gejolak teurapeutiknya. Dan banyak hal lainnya yang membuat Niken merasa down. Meskipun ia membenci ayahnya, tapi Niken masih memiliki sisi hati yang lain. Yaitu rasa kasih dan cintanya untuk sang ayah. Ya, ia sangat mencintai ayahnya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Hans memastikan. Niken menganggukkan kepala dengan tak yakin.


"Hans...?" Matanya berkaca-kaca, seakan ia ingin menumpahkan air matanya lagi. "Bisakah kau menemaniku malam ini?" Pinta Niken menggenggam tangan Hans. Hati Niken sangat berat, ia merasa sedang tidak aman saat itu. Lalu Hans memeluknya, ia tahu Niken masih sangat membutuhkannya. Hans membelai lembut rambut Niken.


"Bersandarlah dibahuku, jika itu membuatmu tenang. Aku akan selalu ada untukmu." Bisik Hans 


"Iya iya, mah. Haya ngerti. Nanti Haya bicarakan hal ini kepada kakak. Ini Haya sudah sampai di apartemen kak Hans." Ujar Haya ditelepon. Mendengar suara Haya, Hans dan Niken melepaskan pelukannya. Niken menghapus air matanya.


"Kakak." Seru Haya. Hans menoleh. "Kakak, dari mana saja? Kemarin pagi mama datang ke apartemenmu. Tapi katanya kakak tidak ada. Ohya, aku menginap dulu disini ya. Soalnya nanti malam aku ada janji sama teman-teman didekat sini. Kalau pulang ke kostan, pasti malam banget. Jadi aku nginap di apartemen kakak. Boleh kan." Lanjut Haya. Hans menghembuskan nafasnya lalu mengangguk.


"Emmm. Ya, tentu saja boleh." Balas Hans, sambil memandang Niken.


"Ehhh kak Niken kenapa? Koq nangis? Kakak, kau apakan kakakku yang cantik ini?" Seru Haya.


"Kakak tidak apa-apa, Haya." Jawab Niken. Suaranya parau, ia baru saja menangis.


"Kalau ada apa-apa, hubungi aku." Tukas Hans. Niken mengangguk. Lalu mereka berpisah didepan pintu apartemen masing-masing.


Pukul 11 malam Haya baru pulang, Haya asyik dengan laptopnya sementara Hans memegang ponselnya dan mengirimkan pesan singkat kepada Niken.


Hans


Kau sudah tidur?


Niken


Belum.


Hans


Kau sedang apa?


Niken


Sedang merindukanmu.


Hans

__ADS_1


Haruskah aku ke sana sekarang?


Niken


Bagaimana dengan Haya?


Hans


Dia sedang nonton di laptopnya.


Niken


Nanti dia curiga.


Hans


Aku mengkhawatirkanmu.


Niken


I'm fine, Hans.


Hans


Niken


Aku juga.


"Ciyeeee senyum-senyum." Goda Haya.


"Apa sih anak kecil." Balas Hans.


"Smsan sama kak Niken ya... Hayo ngaku." Selidik Haya. Hans tampak acuh tak acuh, tapi ia tidak bisa menutupi ekspresinya yang sangat bahagia itu.


Pagi itu cuaca tampak mendung, Hans berangkat ke kampus bersama adiknya."Niken... Niken...?" Hans mengetuk pintu dan membunyikan bel berkali-kali. Tapi tidak ada jawaban dari Niken. Hans termenung sejenak, ia sangat mengkhawatirkan perempuan yang ia cintai itu. 


"Mungkin kak Niken sudah berangkat." Kata Haya. Hans juga berpikir seperti itu. Sehingga Hans mengirimkan pesan singkat untuk Niken.


Hans

__ADS_1


Kau sudah dikampus? Nanti kita bertemu diruang kerja.


Begitu isi pesannya. Kemudian Hans mengantarkan Haya kuliah sebelum ia berangkat menuju tempat kerjanya. Jadwal Hans hari ini sangat padat. Ia melirik ke meja kerja kekasihnya. Tapi tasnya tidak ada. Kosong. Kemana Niken? Dia tidak ada dikelas, juga tidak ada diruang kerjanya. Hans menghubungi Tanu, barangkali Niken pergi terapi, tapi Tanu memberikan kabar yang tak mengenakan untuk Hans.


"Aku juga tidak tahu Hans. Tadi malam dia mengirimi aku pesan. Saat aku telepon, ponselnya mati." Balas Tanu. Ponsel Niken mati sehingga Hans tidak dapat menghubunginya sejak pagi. Sms dan teleponnya tidak tersambung. Perasaan Hans semakin cemas. Ia sangat takut kalau terjadi sesuatu kepada Niken.


"Hans?" Seru Bella.


"Ya..."


"Kau tahu kemana Niken pergi?" Tanya Bella. Hans menggelengkan kepala.


"Ada apa?"


"Ohhh tidak apa-apa. Aku ingin memberikan ini pada Niken." Kata Bella, menunjukannya kepada Hans.


"Seminar metode belajar pasca sarjana di Australia?" Gumam Hans. Bella mengangguk.


"Niken dijadwalkan pergi ke Australia untuk melakukan seminar dan workshop. Katanya sih berdua, tapi aku tidak tahu dengan siapa?" Jawab Bella.


"Ohhh baiklah, aku akan menunjukkan ini kepada Niken." Imbuh Hans, Bella mengangguk. Tiba-tiba Hans di panggil oleh pak rektor, Hans pun di tunjuk melakukan perjalanan bersama Niken, selama 2 minggu di Australia. Hans sangat bahagia karena bisa melakukan perjalanan ini bersama Niken. Namun ia kembali teringat dengan keadaan Niken. Kemana Niken pergi? Mobil Niken masih terparkir ditempat yang sama. Hans sangat mencemaskan Niken. Malam itu pukul 7, Hans segera berlari menuju apartemen Niken. Mendobrak pintu, itu tidak mungkin. Hans meminta petugas keamanan untuk membobol kunci apartemen Niken.


"Maaf pak, itu melanggar hak asasi." Jawab si petugas saat Hans meminta membobol password apartemen Niken.


"Saya tahu pak. Tapi orangnya ada didalam. Saya khawatir kalau terjadi sesuatu dengan pemilik apartemen. Apa bapak mau bertanggungjawab kalau ada orang mati terjebak di apartemennya sendiri. Huh?" Pungkas Hans. Akhirnya setelah dibujuk berulang kali, Hans dan kedua security membobol password apartemennya Niken. Kemudian Hans mencari Niken ke setiap sudut ruangan.


"Niken... Niken... Niken... Dimana kamu?" Begitu Hans masuk ke kamar Niken, terdengar suara air dari shower. Pintu kamar mandi terbuka, Niken tergeletak tepat dibawah shower yang menyala. Hans terkejut bukan main.


"Niken...?" Tubuhnya menggigil kedinginan. Hans segera membopong Niken lalu pergi ke rumah sakit. Suhunya sangat tidak normal, Hans membalut seluruh tubuh Niken dengan selimut agar Niken tidak menggigil kedinginan. Harusnya malam tadi ia menemani Niken, Hans menyalahkan dirinya sendiri. Kalau saja tadi malam aku menemani Niken. Mungkin Niken tidak akan melakukan hal gila macam itu. Hans tahu betul bagaimana Niken mempertahankan perasaan terancamnya saat itu. Hans mengerti dengan semua ekspresi yang terpancar dari wajah Niken. Tapi bodohnya, dia malah menghiraukan semua kesedihan perempuan yang dicintainya itu.


"Bertahanlah. Aku mohon bertahanlah sayang." Tak peduli dengan keadaan jalan yang super padat, mobil Hans ngebut sambil terus menyalakan klakson. Setibanya di rumah sakit, Hans menemui dokter  Farhan. Dia adalah teman SMA Hans. Dokter pun melakukan pemeriksaan terhadap percobaan bunuh diri yang Niken lakukan. Hans sangat takut sekali. Ia pun berdoa agar tidak terjadi apa-apa terhadap orang yang dicintainya.


"Aku mohon padamu Niken. Bangunlah." Dokter Farhan keluar dari ruangan.


"Farhan, gimana...? Gimana keadaan pacarku?" Tanya Hans.


"Tidak apa-apa, dia hanya kedinginan saja. Tidak ada luka apa-apa. Ini bukan percobaan bunuh diri Hans. Aku rasa dia depresi, karena biasanya orang-orang yang memiliki tekanan berat dia lebih cenderung mengurung diri dan bahkan menenggelamkan dirinya di dalam air. Saat ini dia butuh istirahat. Kalau kau mau menemaninya, silahkan." Jelas dokter Farhan.


"Thank you ya." Farhan mengangguk.

__ADS_1


***


__ADS_2