One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"

One Summer Night "Hanya Kamu Yang Aku Percaya"
Episode Empat puluh empat


__ADS_3

Pesawat Garuda Indonesia landing di Australia, Niken dan Hans sampai di Canberra dalam rangka workshop dan seminar yang ditujukan untuk mahasiswa pascasarjana tingkat akhir. Sebagai tamu undangan sekaligus pembicara tentang kepribadian ganda, perasaan Niken diliputi antara bahagia dan gugup. Pasalnya ini kali pertama ia memberikan workshop dan seminar kepada mahasiswa S2. Namun tidak dengan Hans, ia sudah terbiasa menjadi pembicara di beberapa negara. Baik sebagai tamu undangan, maupun sebagai narasumber. Jadwal workshop di Canberra berlangsung selama 3 hari. Jadwal berikutnya workshop di universitas swasta di Brisbane.


Hans dan Niken sudah tiba di Canberra, mereka menunggu Elsa dan Sam yang akan menjemput dan menyambut kedatangan mereka.


"Mereka tahu kalau kita akan kesini?" Tanya Hans. Niken mengangguk yakin.


"Ya, untuk sementara kita bisa menginap di rumah Elsa." Jawab Niken sambil menengok ke kiri dan ke kanan. Hans mengangguk setuju. "Hans, itu mereka. Elsa dan Sam." Niken menggapaikan tangan dengan riang.


"Niken...?" Seru Elsa.


"Elsa... Kangen banget." Balas Niken.


"Sama, aku juga." Elsa memeluk Niken dengan penuh rindu. "Kenalkan ini Hans. Hans ini sahabatku Elsa dan dia suaminya Sam." Niken dengan bahagia mengenalkan Hans kepada sahabatnya.


"Kalian sudah lama menikah?" Tanya Hans.


"Ya, lumayan." Jawab Sam. Elsa menyenggol lengan Sam.


"Sudah punya anak?" Pertanyaan konyol. Batin Niken. Elsa dan Sam saling memandang kikuk.


"Elsa, apakah tidak apa-apa, kalau aku menginap dirumahmu? Sebentar saja koq. Tidak lama." Imbuh Niken. Elsa tersenyum dan mengangguk dengan senang.


"Tentu saja, Niken. Tapi kamar tamu kami hanya ada satu, bagaimana?" Balas Elsa.


"Iya tidak apa-apa."


"Kalau begitu yuk kita berangkat." Ujar Sam. Elsa, Niken dan Hans mengangguk setuju.


"Ohya, aku turut berduka cita atas meninggalnya ayahmu, Niken. Maaf aku tidak bisa hadir saat itu." Lanjut Elsa.


"It's okay, Elsa. Aku tahu kau pasti sangat sibuk. Apalagi sekarang kau sudah menjadi seorang istri." Imbuh Niken.


"Ohya, bukankah Hans ini adalah kakak tingkat kita?" Tanya Elsa memastikan.


Hans tersenyum, "Ya, benar Elsa. Sam juga satu angkatan denganku. Benarkan?" Balas Hans. Sam mengangguk. "Setahuku dulu kau sangat romantis, Sam. Apa sekarang masih seperti Romeo?" Lanjut Hans sambil tertawa. Sam pun tertawa kekeh.

__ADS_1


"Kau masih ingat rupanya? Ahk, sudahlah itu masa lalu." Kata Sam.


"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Niken menunjuk Sam dan Hans.


"Kita cuma beda fakultas. Tapi satu organisasi yang sama sebagai pecinta alam." Sam yang menjawab.


"Tapi dia nggak romantis koq, Hans. Malah jarang banget dia ngasih aku hadiah." Imbuh Elsa.


"Ohya? Padahal dulu dia sangat romantis sekali. Sampai di gunung saja, dia menulis diary dan memberikan hadiah berupa batu langka yang ada digunung. Sampai dia terjatuh ke danau." Balas Hans dengan tawaan.


"Sudahlah Hans. Kau terlalu berlebihan. Ohya, kau masih sering memuji Niken?" Tanya Sam balas menggoda Hans.


"Apa menggoda?" Niken terbelalak terkejut.


"Ehhh ssst, kenapa kau sangat usil sekali." Hans mencolek punggung Sam.


"Jadi dulu itu, dia bilang, dia akan terus menggodamu sampai dia bisa mendapatkanmu, Niken. Lihat saja betapa sulitnya dia memutuskan 10 pacarnya demi untuk bersamamu. Dan kau tahu, si Hans ini sering memimpikanmu." Jelas Sam. Niken melirik Hans, dan Hans tersenyum malu.


"Sudahlah." Balas Hans. Sam dan Elsa mempersilahkan tamunya masuk. Dan sudah menyiapkan kamar tamu untuk mereka.


"Kenapa kau datang bersama Hans?" Tanya Elsa kepada Niken, saat mereka menyiapkan makanan ke meja.


"Dia rekan kerjaku. Kami ditunjuk untuk mengadakan workshop bersama." Jawab Niken. Elsa menurunkan alisnya sambil bergumam tak percaya.


"Ummmm. Hanya itu...?"


"Uhmmm, sebenarnya sih hubungan kami lebih dari itu." Lanjut Niken. Elsa terbelalak tak percaya.


"Tapi ssst, jangan beritahu Naira dan yang lainnya ya. Belum lama ini aku dan Hans resmi pacaran." Jelas Niken.


"Ya ampun Niken, ini berita bahagia yang aku dengar darimu. Pada akhirnya kita menemukan belahan jiwa kita masing-masing. Dan menemukan tujuan yang sebenarnya sebagai seorang perempuan." Balas Elsa sambil memeluk Niken.


"Thanks Elsa." Niken menyelipkan rambutnya ke telinganya. "Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau akan melupakan pengagum rahasiamu? Dan memulai jalan cerita bersama Sam?" Tanya Niken.


Elsa mengangkat bahunya, "Entahlah. Sam cukup baik, Niken. Mungkin suatu hari nanti cinta akan tumbuh dihati kita masing-masing." Jawab Elsa sambil menghela nafas. Niken menghembuskan nafasnya.

__ADS_1


"Jadi apakah sekarang kau sudah mencintai Sam?" Niken memasukkan buah anggur ke mulutnya.


"Entahlah. Aku tidak tahu. Tapi, semua yang dia lakukan terhadapku hanya karena dia menghargai aku sebagai istrinya bukan orang yang dia cintai." Balas Elsa.


"Katakan terus terang kepadaku." Niken memasukan lagi buah anggur ke mulutnya, lalu ia menghadap ke arah Elsa. Niken berbisik ke telinga sahabatnya, "apakah kalian sudah pernah melakukan hubungan ****?" Elsa terkejut bukan kepalang.


"Kau gila." Ketus Elsa sambil memukul lengan Niken dengan pelan, Sam dan Hans menoleh kearah mereka. Niken cekikikan, "tidak. Kami tidak pernah melakukan hubungan ****. Lagi pula tujuanku menikah dengannya hanya untuk kuliah S2 ke sini. Dan membuat semua mimpi-mimpiku menjadi kenyataan." Lanjut Elsa.


"Itu artinya bukan dia yang tidak mencintaimu. Masalahnya, ada didalam dirimu." Balas Niken.


"Emmm sebenarnya kami baik-baik saja. Kami bertengkar seperti kebanyakan pasangan yang lain. Aku selalu menyiapkan sarapan, menyiapkan semua keperluan dia, dan dia juga lumayan baik sih. Tapi ya memang aku belum mencintainya. Pernikahan kita dilandasi karena sebuah tujuan. Tujuan aku kuliah, tujuan dia...? Uhmmm....?" Elsa mengerutkan alisnya. Berpikir untuk beberapa menit.


"Tujuan dia membuatmu jatuh cinta kepadanya." Tukas Niken.


"Niken, dia tidak mencintaiku." Imbuh Elsa yakin.


"Siapa yang tidak mencintai siapa?" Tanya Sam tiba-tiba.


"Uhmmm, bukan siapa-siapa. Ohya, ayo kita makan malam dulu. Mari Hans." Ajak Elsa. Hans mengangguk setuju.


"Aku senang, akhirnya Hans berhasil membuatmu jatuh cinta kepadanya." Imbuh Sam kepada Niken.


"Kalian menggosipkan kami?" Tuduh Niken.


"Enggak. Cuma cerita sedikit tentang gimana aku berjuang untukmu." Balas Hans.


"Aku senang lho, Hans. Akhirnya Niken yang kami anggap apatis ini menemukan cinta sejatinya." Ujar Elsa.


"Kau juga beruntung mendapatkan Sam." Kata Hans sambil memasukkan makanan ke mulutnya. "Kami pikir dulu dia gay. Tapi ternyata dia hanya memandang ke satu wajah yang tak lain adalah...."


"Ssst Hans. Kau janji akan merahasiakannya bukan. Sekali lagi kau bicara, akan kupastikan sambal ini masuk ke mulutmu." Timpal Sam memotong kalimat Hans.


"Ahk baiklah. Kau ini, memang pengecut Sam." Ketus Hans. Sam melotot sambil memegang satu sendok sambal.


"Bisa diam tidak?" Sam mengancam. Elsa dan Niken saling berpandangan, seolah mereka bertanya, rahasia apa yang mereka sembunyikan?

__ADS_1


***


__ADS_2