
"Ada tamu." Kata asistennya. Tanu menganggukkan kepala. Niken sudah masuk ke dalam alunan relaksasi gerak frekuensi otak Niken muncul dilayar komputer. Miss Tanu meminta asistennya untuk memantau siklus pergerakan emosi pasien. Lalu ia meninggalkan ruangan untuk menemui tamunya.
Tanu melihat sesosok pria berdiri di lobi. Saat pria itu menoleh, Tanu langsung mengenalinya. Hans...? Ngapain dia kesini? Gumam Tanu di dalam hatinya.
"Hans?" Seru Tanu. Ini kali pertama Hans datang ke kantornya.
"Hai Tanu..." Sapa Hans.
"Kau? Ada angin apa kau datang ke kantorku?" Kata Tanu dengan heran.
"Aku hanya ingin bertemu kau saja. Hanya ingin melihat kantormu." Balas Hans basa basi. Tanu menyipitkan matanya dengan heran. Ia tahu kalau Hans tidak hanya berkunjung. Tanu seorang psikolog terkenal seantero Jabodetabek. Ia tidak hanya profesional dalam menindaklanjuti seluruh klien-nya. Ia juga terkenal sebagai psikolog yang anggun dan lembut.
"Kalau begitu silahkan duduk." Tanu mempersilahkan Hans.
***
Niken membuka matanya pelan-pelan, ia melihat Ismi asisten Tanu sedang menulis dibuku pasien. Ismi melempar senyum, "tunggu sebentar. Aku akan panggil Miss Tanu." Niken mengangguk. Beberapa menit kemudian, Tanu menghampiri Niken.
"Bagaimana perasaanmu?"
"Merasa lebih tenang." Jawab Niken santai.
"Frekuensimu juga lebih stabil. Pergerakan perasaanmu naik turun." Kata Tanu.
"Apa artinya itu?" Tanya Niken. Tanu langsung mengeprint gelombang frekuensi hasil relaksasi terapi Niken.
"Tidak buruk, tapi juga tidak baik." Jawab Tanu. Niken tersenyum tipis.
__ADS_1
"Well, jadi apa solusinya?" Niken mencondongkan tubuhnya.
"See, ada emosi negatif yang sedang kau pendam. Dan emosi ini menguasai perasaan yang kau sangkal." Balas Tanu. Niken menghembuskan nafasnya. Tanu benar. Niken sedang tidak ingin membahas perasaannya. Namun ia tahu kalau ia tidak bisa membohongi Tanu, psikolog pribadinya, yang sudah ia bayar dengan mahal.
"Baiklah kalau kau tidak ingin menceritakannya kepadaku. Aku selalu siap mendengar semua keluh kesahmu." Tambah Tanu.
"Aku..." Pandangan Niken tertuju ke bawah. Ia mengusap kuku-kukunya. "Aku memang sedang tidak baik." Tukasnya. Tanu menyimak. Namun kalimat Niken terhenti di sana.
"Ada saatnya kau harus melepaskan semua beban dan rasa sakitmu. Kau tahu, Niken. Kau satu-satunya klienku yang sangat hebat. Dan kau akan lebih hebat lagi jika kau mampu melepaskan semua kecemasan dan fobia yang kau alami sekarang." Ucap Tanu sambil kemudian ia mencatat beberapa bagian penting didalam catatan pribadi kliennya. Niken menghembuskan nafasnya.
"Ohya?" Kata Niken mendongak. Tanu menganggukkan kepala dengan semangat.
"Of course." Tanu meyakinkan.
"Ohya bagaimana keadaan ayahmu?" Tanya Tanu. Niken menarik nafas.
Tanu menghentikan tulisannya, lalu menatap Niken. "Aku belum bisa memaafkannya. Aku masih teringat bagaimana kejadian yang memilukan itu. Dan sahabatku meninggal karena ulahnya. Aku merasa jijik. Merasa muak melihatnya. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa memaafkannya. Aku ingin sekali mengumumkan kepada dunia. Bahwa ayahku bukanlah orang yang baik. Aku ingin ibuku membencinya, tentang bagaimana bejadnya ayahku. Tapi mulutku selalu terkunci. Seolah lakban itu masih merekat dibibirku. Kejadian itu terasa masih hangat dimataku. Dan aku tidak mampu memaafkannya begitu saja. Aku akan merasa lega jika ayahku menderita." Jelas Niken mengutarakan semua perasaannya.
"Ohhh begitu. Tapi, apakah kau pernah mengingat saat kau bahagia bersama ayahmu?" Tanu berujar, seolah memberi petunjuk kepada Niken untuk merecall ingatan kebahagiaannya. Niken mengangguk. "Kau tahu, apa hal yang paling penting dalam hidupmu?" Niken memandang wajah Tanu yang teduh. "Bahagia. Kebahagiaanmu sendiri. Bebaskan hatimu. Bukalah lebar-lebar perasaanmu. Raih cinta dengan energi yang positif. Cinta itu membahagiakan. Cinta memberikan energi yang kuat untuk kita membuka hati pada kebahagiaan. Kenyamanan, kehangatan, senyuman, getaran, melayang jauh tinggi, dan dunia terasa milik berdua itu adalah nyata karena cinta membahagiakan. Tidak ada yang namanya cinta yang salah, jika kau melihat ketulusan. Tapi jika kau pikir cinta itu salah, maka tinggalkanlah. Cinta itu seperti makan dan minum, yang selalu dibutuhkan setiap saat dan setiap waktu. Tuhan tidak akan membiarkan kita menderita karena cinta. Jika ada, itu bukan cinta tapi pilihannya yang salah. Cinta itu bersyarat, syaratnya adalah bahagia. Jadi bahagiakanlah dirimu sendiri sebelum membahagiakan orang lain." Jelas Tanu kepada Niken sebagai pasien-nya.
"Bagaimana cinta itu terjadi?" Tanya Niken.
"Cinta akan terjadi kepada sebuah hati yang memiliki rasa kagum, dan kau akan merasa nyaman didekatnya, selalu bahagia melihat sosoknya, ingin diperhatikan, selalu ingin tahu tentang dirinya, selalu merindukannya dan cemburu melihat dia bersama orang lain." Jawab Tanu.
"Jadi apakah itu cinta." Gumam Niken memandang kosong ke arah lain.
"Uhmmm apa?" Tanya Tanu. Niken menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Tidak. Aku hanya bergumam." Jawabnya.
"So, have you found someone?" Tanu melempar tanya sambil tersenyum. Niken menggelengkan kepala tidak yakin.
"You know, Tanu...? Apa yang terjadi saat kita bertemu? Awalnya aku bahagia karena pada akhirnya kita bertemu kembali. Aku pikir, mungkin Tuhan akan memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Tapi, setelah aku melihat dia bersama wanita lain. Apalagi ketika dia gonta ganti pasangan, rasanya aku muak sekali. Aku rasa, aku tidak pernah salah. Dan rasanya, entah kenapa, kalau aku, ingin sekali berselisih dengan dia. Aku pikir, dan, ahh entahlah. Aku tidak yakin dengan perasaanku sendiri. Ummmm apakah itu cinta atau bukan? I don't care. I just wanna say, that I'am fed up. He's very annoying." Tutur Niken. Ia menghela nafas panjang, lalu menatap Tanu.
"Oohh, are you jealous?" Selidik Tanu.
"What? Do you mean my feeling this jealous? Yang benar saja."
"Dengar, jika kau memiliki emosi cemburu, itu artinya kondisimu semakin membaik. Kenapa...? Karena pelan-pelan kau akan menyadari bahwa kau bisa jatuh cinta." Balas Tanu meyakinkan perasaan Niken.
"Is it really love?" Tanya Niken tidak yakin. Tanu mengangguk pasti. Niken mendesah pelan. "But it seems he has a girlfriend, Tanu." Balas Niken.
"Dari mana kau tahu?" Tanya Tanu.
"Well, aku selalu melihat dia bersama beberapa perempuan, mungkin mereka kekasihnya. Dia selalu terlihat mesra kepada kekasihnya, dan dia juga selalu melakukan hal yang sama kepadaku. Mungkin baginya merangkul dan selalu bersikap baik terhadap perempuan adalah hal biasa. But for me, it's not normal. Kau tahu, bagi pengidap philophobia sepertiku, itu adalah hal yang aneh. Aku tidak tahu, kenapa harus dia? Lelaki yang sentuhan tangannya sama dengan almarhum kakekku. Sometimes, aku juga bertanya pada diriku, kenapa harus dia yang ingin aku jumpai? Aku merasa aneh dengan perasaanku. I don't know, apa yang terjadi dengan diriku sendiri. Kadang selalu ingin marah dan kesal. Kadang aku juga merasa sedih. Tapi, kadang aku ingin menjadi perhatian dia. Ahk entahlah miss Tanu. Aku bingung." Jelas Niken.
"Cinta akan memberikan jawaban atas semua keraguanmu." Balas Tanu.
"Really?"
Tanu mengangguk yakin, "Trust me, cinta akan menguatkanmu. Akan membuatmu tenang dan bahagia. Karena, Tuhan memiliki banyak cara untuk mengikatkan cinta dari satu hati kepada hati yang lain." Sambung Tanu dengan menggenggam tangan Niken.
"I also hope so." Balas Niken.
"Niken, you know. You are so pretty, you are smart, you are great and amazing. You heart is very kind. So, it's time for you to open your heart. Okay?"
__ADS_1
***