
"Haya, kau mau ke swalayan?" Kata Niken, Haya menganggukan kepala. Setelah mereka selesai sarapan, Niken mengantar Haya ke swalayan yang tidak jauh dari restoran. Niken menitipkan salad kesukaannya ke mobil Hans. Sementara Hans memilih untuk menunggu di mobil. Hans sangat bahagia ketika melihat Haya dan Niken tampak akrab. Haya juga tampak menyukai Niken.
"Aku tunggu dimobil ya." Niken dan Haya mengangguk. "Jangan lama-lama."
"Iya bos." Kata Haya dan Niken bersamaan.
"Kak Niken." Seru Haya.
"Yaaa." Jawabnya.
"Bolehkah aku bertanya." Ujar Haya.
"Boleh. Haya mau nanya apa?" Balas Niken sambil berjalan menuju swalayan.
"Tapi janji ya, kak Niken nggak bakalan marah." Tukas Haya.
"Iya enggak."
"Kakak kenal sama kak Hans sejak kapan?" Tanya Haya.
"Ohhh, dulu waktu ospek. Hans adalah kakak seniorku." Jawab Niken.
"Oohhhh. Pasti kak Hans ngegombalin kak Niken ya?"
"Ehh enggak koq. Dia baik malahan. Dia sering bantuin aku."
"Ohya? Emangnya kak Hans bantuin apa?"
__ADS_1
"Bantuin aku biar nggak dijahilin sama orang lain." Jawab Niken.
"Emangnya kak Niken nggak tahu kalau kakakku itu playboy kampus?"
"Tahu."
"Trus kakak masih mau temenan sama kak Hans?"
"Memangnya aku terlihat seperti berteman ya dengan Hans?" Niken bertanya.
"Yang aku lihat sepanjang hari ini tuh lebih dari sekedar teman. Akrab banget, lebih dari sekedar sahabat. Sepintas kayak orang pacaran." Jawab Haya. Niken menelan ludah. Tapi dengan santai ia menjawab.
"Dikampus, kami malah sering bertengkar, tidak terlihat seperti teman akrab. Dulu sih kami baik-baik saja. Hans sering ngajak jalan, dan aku juga sering meminta bantuan kepada Hans. Tapi, lambat laun semuanya berubah. Dan Hans pergi." Jelas Niken sambil mengingat-ingat kejadian 10 tahun yang lalu.
"Dulu kakakku tuh dikenal playboy. Namanya Olla, dia yang udah ninggalin kak Hans dengan lelaki lain. Video **** bebas kak Olla dengan lelaki lain, tersebar ke media sosial. Kak Hans sangat mencintai kak Olla, tapi sayangnya cintanya itu bertepuk sebelah tangan. Setelah sekian lama, kak Hans pernah bercerita kepadaku, kalau dia bertemu dengan seorang perempuan yang dia sebut Khana, dia bilang, bahwa perempuan itu yang menempatkan hatinya untuk pertama kalinya. Cinta pertama kak Hans. Sepengetahuanku, hanya dia yang bisa merubah semua sifat buruk kak Hans. Saat kak Hans kuliah di luar negeri, dia sering banget cerita, nanti kalau dia ketemu lagi dengan perempuan itu, dia akan mengenalkannya kepadaku. Kata kak Hans, perempuan yang ada dihatinya itu, cantik, cerdas, dan sempurna. Karena hanya dia satu-satunya orang yang bisa mengubah semua perspektif negatif kak Hans terhadap dunia dan lingkungan. Dia berbeda dengan kak Olla yang selalu terlibat dengan pergaulan bebas. Kata Kak Hans, dia itu memiliki banyak impian. Kak Hans sempat kecewa karena saat ia melanjutkan kuliah S2 diluar negeri. Ia tidak bertemu dulu dengan perempuan itu. Tapi kak Hans sekarang jauh lebih baik dari pada dulu. Kak Hans berharap, dia bisa bertemu dengan cinta pertamanya." Jelas Haya.
"Lalu apakah dia bertemu dengan cinta pertamanya itu?" Tanya Niken. Haya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kau tidak bertanya langsung kepada kakakmu?" Balas Niken
"Apa kak Niken tidak menyukai kakakku?" Haya dan Niken saling berpandangan. Niken tidak tahu harus menjawab apa? Dan tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya pada Haya. Dorrrr... Sebuah peluru meleset.
"Jangan bergerak." Teriak sebuah suara yang menggema ke seluruh penjuru swalayan mini itu. Niken dan Haya sangat terkejut saat beberapa perampok menodongkan senjata dan mengancam kasir untuk menyerahkan seluruh uang yang ada di brankas. Tiba-tiba suara ponsel Haya berdering, tanda telepon dari Hans. Haya hendak menjawab telepon namun tiba-tiba seseorang menarik lengannya dan menodongkan pistol ke arah wajahnya. Haya sangat terkejut, jantungnya berdetak sangat cepat, ia sangat ketakutan. Sebulir air mata jatuh ke pipinya.
"Haya..." Seru Niken.
"Diem lu." Todong si perampok kepada Niken.
__ADS_1
"Semua diam. Tidak ada yang menjawab telepon." Teriak si perampok.
Niken menelan ludah. Aduh gimana ini? Batinnya. Niken tidak bisa menghubungi Hans. "Cepat. Serahkan semuanya." Gertak si perampok. Jujur Niken sangat ketakutan. Jangankan untuk menolong Haya, ia juga sangat takut apabila tiba-tiba pistol itu menembus ke tubuhnya. Namun dengan segenap keberanian Niken mencoba melempar botol minuman tepat ke arah wajah si perampok yang menodongkan pistol kepada Haya.
"Haya lari..." Teriak Niken. Haya mengangguk dan segera berlari sekencang-kencangnya untuk meminta bantuan. "Tolong... Tolong... Tolong... Rampok. Rampok." Teriak Haya.
Samar-samar Hans mendengar suara Haya. Dan beberapa orang yang berlalu lalang pun bergegas menghampiri swalayan. Hans berlari ke arah sumber suara. Melihat Haya seorang diri dengan nafas yang tersenggal-senggal, dan keringat yang mengucur deras di wajahnya.
"Haya, kau kenapa?" Tanya Hans. "Kak Niken. Rampok. Di swalayan." Suara Haya tercekat, ia sangat gugup dan ketakutan.
"Maksudmu apa?" Tanya Hans.
"Kak Niken masih di swalayan. Dia... Dia... Melempar sebotol aqua ke wajah perampok yang menodongkan pistolnya ke aku. Lalu mereka marah. Aku khawatir kak Niken kenapa-napa." Tutur Haya. Hans segera berlari bersama tiga orang satpam. Terlihat Niken menjadi sandera mereka. Seluruh tubuh Niken bergetar. Sentuhan tangan si perampok membuat detak jantung Niken berdegup lebih cepat. Kepalanya mulai pusing.
"Jangan mendekat." Kata si perampok. "Kalau ada yang mendekat, perempuan ini akan aku habisi." Niken menggigit bibirnya, rasa cemas menyelimuti dirinya. Terlebih lehernya ditodong sebuah pistol. Para satpam mencari jalan keluar, begitu pun dengan Hans yang akan berusaha menyelamatkan Niken. Hans mencari sebuah ide untuk bisa menyelamatkan Niken. Dengan tenang Hans berkata, "apa yang kalian mau?"
"Minggir. Minggir semua." Hans sangat khawatir dengan kondisi Niken yang sudah pucat pasi.
"Apa yang harus aku lakukan?" Batin Hans. Tiba-tiba sebuah peluru meleset ke udara. Membuat semua orang baik yang didalam maupun diluar sangat panik, ketakutan dan menutup kedua telinga mereka.
"Tenang pak. Kita tidak akan menghalangi kalian. Jika kalian mau uang. Silahkan. Asalkan kalian lepaskan ibu itu." Kata salah satu satpam.
"Omong kosong lu. Minggir..." Kata perampok yang menyandera Niken.
Mata Niken berkaca-kaca, ia menatap Hans penuh harap. Niken sudah tidak sanggup menahan rasa takutnya.
Hans...? Tolong aku. Aku sudah tidak sanggup menahan rasa takutku. Tubuhku sudah terlalu lemah menahan semuanya. Hans...? Aku mohon tolong aku.
__ADS_1
Hans mengatur nafasnya. Ia tahu kalau Niken sudah tidak mampu mengendalikan dirinya.
***