
Angin malam menelisik perih ke dalam hati. Suara sang malam menghujam tepat ke jantungnya. Emosi panas membara menyerang ke sela-sela nafas. Niken tak sanggup menahan kepedihan ini sendirian. Ini kali pertama dalam hidupnya, merasakan kegagalan dalam sebuah hubungan asmara. Bayangan yang telah terjadi antara dirinya dengan Hans, tergambar dilangit penuh bintang. Terlukis jelas dimusim panas tahun ini. Musim kemarau yang panjang. Memberikan cerminan kehidupan yang jauh lebih bermakna untuknya. Meski seluruh emosi berkecamuk dalam dada. Meski cerita tak seindah yang diimpikan. Namun Niken tetap harus menerima semua perasaan luka yang kini menggerogoti hatinya.
Niken pulang ke kampung halamannya, ke rumah ibunya. Ia menyeret kakinya dengan paksa. Lalu mengetuk pintu dengan pelan.
"Siapa malam-malam begini yang bertamu?" Ketus Ria pada dirinya sendiri. Saat ia membuka pintu, sebuah wajah yang sangat ia rindukan itu muncul dengan pipi yang basah. Matanya sayu. Bibirnya bergetar. Niken menahan tangisnya.
"Niken..." Seru Ria.
"Ibu..." Seru Niken parau. Tangisnya pecah begitu ia memeluk ibunya. Terisak sedalam-dalamnya. Ria merangkul dengan erat putri bungsunya. Masuk ke dalam emosi Niken. Ia pun menangis sambil mengusap punggung putrinya.
Nadine dan Dimas terbangun saat mendengar isak tangis Niken dan ibunya. Mereka saling pandang. Namun tak ada yang berani bertanya. Nadine memberikan secangkir air mineral hangat untuk Niken. Setelah tangis Niken mereda secara perlahan. Ria masih merangkul putri kesayangannya. Sudah lama. Sudah sangat lama, Ria tidak merasakan hangatnya pelukan Niken. Ria tahu, bahwa putrinya sangat naif. Bahkan untuk mengatakan bahwa ia terluka pun, tidak pernah. Ria tidak pernah meminta Niken untuk memaafkan ayahnya dengan cepat. Namun hal itu malah membuat luka yang dalam. Sehingga ia berobat untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Niken harus berjuang sendirian. Melawan dendam, melawan hawa nafsu, serta melawan dampak dari perbuatan ayahnya.
Dan malam ini, Niken hanya ingin memeluk ibu. Hanya ingin tidur bersama ibu. Merasakan lagi bagaimana hangatnya sentuhan ibu. Tidak perlu bertanya ia kenapa? Ia hanya ingin ibu tetap bersamanya. Itu membuat dirinya merasa aman.
"Niken sudah tidur bu?" Tanya Nadine saat Ria menutup pelan pintu kamar Niken. Ria mengangguk.
"Kau punya nomor ponsel Hans?" Balas Ria. Nadine menggelengkan kepala.
"Ada apa bu? Apa yang terjadi antara Niken dengan Hans?" Selidik Nadine, penasaran dengan kejadian yang menimpa adiknya, hingga membuat Niken menangis dengan penuh deru dan menyayat. Itu pertama kalinya Nadine melihat Niken terasa sangat lemah dan tak berdaya.
"Niken tidak cerita apa-apa. Mungkin besok Niken akan cerita." Ujar Ria.
"Ibu yakin, Niken akan menceritakan masalahnya? Setahu kita, dia sangat naif menceritakan masalahnya." Balas Nadine.
"Kita lihat saja besok. Kamu jangan begitu." Dimas berujar.
"Iya, malam sudah larut. Biarkan adikmu istirahat malam ini." Kata Ria.
__ADS_1
***
Pemeriksaan ct scan Hans telah selesai. Dokter masih memeriksa kondisi Hans dengan berbagai macam terapi fisik. Setelah Hans dinyatakan pulih dari tidur panjangnya. Dokter membuatkan resep obat dan menyarankan Hans untuk konsultasi kepada psikolog. Karena takut mengakibatkan trauma pada kondisi psikisnya.
"Niken mana, mah?" Tanya Hans. Begitu ia ingat pasca kecelakaan itu terjadi.
"Kak Niken...." Dina melototi Haya, ketika anak perempuannya itu hendak memberitahu keadaan Niken kepada kakaknya.
"Kamu jangan mikirin Niken dulu. Nanti juga dia kesini." Jawab Dina. Hans mendongak menatap mamanya.
"Kamu harus nurut sama mama ya." Lanjutnya, Hans menurut dan menganggukkan kepala.
"Ingat! Tidak ada yang boleh mengatakan apapun tentang Niken kepada Hans." Ujar Dina kepada Haya dan suaminya.
"Mama buat perjanjian apa dengan kak Niken?" Selidik Haya.
"Mama jangan bohong. Aku tahu, mama yang membuat kak Niken menjauh dari kak Hans. Mama tega ya. Mama tahu nggak, kakak itu sayang banget sama kak Niken. 10 tahun kak Hans mencari kak Niken. Mereka bertemu lagi untuk merajut kasih yang sudah lama mereka pendam. Tapi karena mama, mereka harus berpisah lagi. Mama tega banget. Mama jahat." Tutur Haya.
"Mama menyelamatkan Hans, kamu, dan papa kamu dari sebuah kehancuran. Mama tahu tindakan mama salah. Tapi bagi mama, Hans lebih berharga dari pada hubungannya dengan Niken." Balas Dina.
"Kehancuran apa mah? Tidak ada yang mau menghancurkan keluarga kita. Justru bagi kakak, hubungannya dengan kak Niken itu lah yang membuatnya merasa berharga, mah." Imbuh Haya.
"Cukup Haya, kau tidak akan mengerti." Kata Dina, ia tidak bisa mengatakan apapun kepada putrinya mengenai ancaman mantannya Hans terhadapnya. Dina tahu kesalahannya. Hans sangat mencintai Niken. Namun Dina tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Yang ia tahu adalah memisahkan mereka berdua. Agar tidak terjadi apa-apa terhadap putranya.
"Justru Haya yang tidak mengerti dengan mama." Ujar Haya dengan hendak meninggalkan mamanya.
"Kecelakaan Hans, bukan tidak disengaja. Ada orang yang membuat semua ini, seolah-olah adalah kecelakaan." Gumam Dina. Tak sengaja Haya mendengar gumaman mamanya. Haya mengernyitkan dahinya. Apa maksud mama? Siapa yang membuat kak Hans dan kak Niken kecelakaan? Batin Haya.
__ADS_1
***
Ria menyiapkan sarapan untuk Niken pagi itu. Sementara Nadine sibuk mengurus suami dan anak-anaknya yang hendak pergi kerja dan sekolah.
"Niken sudah bangun, mah?" Tanya Nadine.
"Kamu yang bangunin gih. Kamu kan kakaknya." Jawab Ria. Nadine mengangguk menurut.
"Ken, Niken...?" Suara pintu diketuk, lalu Nadine membuka pintu kamar Niken. Niken sudah bangun, ia melihat ke arah luar jendela.
"Sudah bangun..." Kata Nadine.
"Kak Dimas sudah berangkat ya?" Tanya Niken, suaranya serak dan parau. Matanya sembap. Nadine menganggukkan kepala.
"Sarapan dulu yuk?" Ajak Nadine.
"Sudah lama ya..." Ujar Niken. Nadine memandang adiknya. "Kita nggak pernah ngobrol bareng. Kakak kangen nggak? Sama aku yang kadang suka iri sama kakak. Kadang aku bentak-bentak, kakak. Kadang, aku pukul kakak. Kita berantem. Tapi nggak lama, aku malah pergi ninggalin kakak sama ibu. Maafin aku ya." Lanjut Niken sambil menyentuh punggung tangan kakaknya.
"Kakak udah maafin Niken dari dulu koq. Kakak tahu, Niken buat keputusan terbaik untuk diri Niken. Yang nggak bisa kakak lakukan sendirian. Kakak malah bangga sama Niken. Niken mandiri, tegar, kuat, dan selalu semangat." Balas Nadine.
"Tapi Niken nggak kuat, kak. Niken nggak tegar. Niken selalu berusaha kuat dan menyimpannya sendirian. Niken egois, kan? Apa Niken terlahir menjadi pembawa sial?" Niken terisak kembali. Nadine mampu merasakan apa yang Niken rasakan.
"Koq bilang gitu sih? Niken nggak egois. Niken bukan pembawa sial. Siapa yang bilang gitu? Niken tuh adik kakak yang cantik dan baik dan tulus. Niken nggak usah menyimpan beban sendirian. Kakak sayang sama Niken. Niken bisa berbagi sama kakak." Balas Nadine. Niken memeluk Nadine lalu menangis bersama-sama. Ria mengintip dari balik pintu kamar. Menangis diam-diam.
"Cerita sama kakak, Niken kenapa?" Tanya Nadine.
"Niken sayang sama Hans, kak. Niken nggak mau berpisah dengan Hans. Dia, dia satu-satunya pria yang menyembuhkan fobia, Niken. Tapi takdir apa ini? Kenapa harus begini? Disaat aku mulai membuka hati untuknya, disaat aku mencintai seorang pria, disaat aku percaya pada cinta. Disaat itu pula aku harus menerima kenyataan bahwa jalan cinta itu tidak mudah. Aku tahu, mamanya tidak sekejam itu. Tapi aku juga tidak bisa menentangnya. Aku harus bagaimana? Rasanya sakit sekali. Sakit, kak. Aku tidak ingin meninggalkannya. Aku mencintainya. Aku sangat mencintainya." Jelas Niken menceritakan perasaannya kepada Nadine. Nadine mengerti sekarang. Hans-lah yang membuat adiknya menangis.
__ADS_1
***