
Semua terasa abu-abu. Patah hatinya seorang lelaki seperti Hans membuatnya kembali menenggak lagi bir dan anggur. Pulang lagi dalam keadaan mabuk. Ia benar-benar patah hati. Runyam. Galau. Sepi. Bahkan rindu pun tak mampu mengobatinya. Sebenarnya hal itu pun sama dengan Niken. Tidak ada lagi warna pelangi dalam kehidupan mereka. Keduanya sama-sama menghindar, sama-sama membohongi diri. Sama-sama tidak mempertahankannya. Terlebih lagi Niken terlanjur mengatakan iya untuk perjodohan orangtuanya. Niken tidak ingin mengecewakan perasaan ibunya. Namun ia sering kali menangis seorang diri dikamarnya. Begitu pun dengan Hans, ia mencoba menenggak sebotol wine, namun ia selalu teringat wajah Niken. Semuanya tentang Niken yang entah bagaimana tidak mampu ia lupakan.
"Liburan kali ini, kau mau pulang, Ken?" Tanya Bella. Niken mengangguk.
"Aku sudah janji kepada ibu, untuk bertemu dengan calon suamiku." Jawab Niken.
"Kau akan menikah?" Seru Bella saat mereka duduk dibangku kantin. Semua orang melirik kearah Bella.
"Uhmmm." Niken mengangguk pelan.
"Dengan siapa?" Niken mengangkat bahu.
"Ibuku mau menjodohkan aku dengan anak temannya, Bel." Balas Niken sambil menenggak ice lemon tea-nya
"Oh begitu. Bagaimana dengan Hans?" Bella berbisik.
"Sudah kukatakan, hubungan kami sudah berakhir Bella." Jawab Niken.
"Niken, aku tahu mungkin ini berat untukmu. Hans yang sudah melukaimu. Tapi kau juga tahu sendiri bukan, kalau dia juga korban dari perempuan itu. Apa tidak sebaiknya kau memberi Hans kesempatan lagi? Kau masih mencintainya, bukan?" Imbuh Bella. Dengan yakin seyakin-yakinnya kalau diantara Niken dan Hans masih saling mencintai. Bella tidak mau Niken akan menyesal diakhirnya.
"Bella, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kau tahu apa alasanku meninggalkan Hans untuk kali pertama itu? Karena tante Dina tidak merestui hubungan kami. Dan aku juga tidak bisa menolak keinginan ibuku. Usiaku sudah 30 tahun. Aku mengerti bagaimana ibuku mengkhawatirkanku. Mungkin ini terdengar klise, aku memang mencintainya dan dia mencintaiku. Tapi bagaimana jika kita tidak berjodoh? Atau takdir mengatakan hal yang lain. Maka biarkanlah Tuhan menggariskan takdirku sendiri, untuk kebaikanku dan kebaikannya." Jelas Niken. Bella menelan ludah, menatap Niken sejenak. Lalu memeluk sahabatnya itu.
"Aku kagum padamu. Kau wanita yang tangguh." Puji Bella. Niken tersenyum getir. Sebenarnya hatinya tidak setangguh yang Bella pikirkan. Itu adalah ekspresi yang tidak ia tampilkan dimuka umum, saat dirinya memang sedang rapuh.
...***...
__ADS_1
"Namanya Raj, sahabat kecil kamu. Dia lelaki baik dan sudah menjadi Professor muda di usia 35 tahun. Kau masih ingat dia bukan?" Imbuh Ria kepada Niken.
"Uhmmm, Raj?" Niken mengernyitkan dahinya sambil menyeruput mie instan. Ria mengangguk.
"Iya, ini foto kalian berdua waktu kalian masih kecil. Usiamu 5 tahun waktu itu." Ria menyodorkan sebuah foto kepada anaknya. Sementara Niken mengingat-ingat memory tentang lelaki itu. "Dulu tante Adina dengan keluarganya pernah tinggal di disini selama setahun. Dan kalian akrab sekali. Kadang suka mandi bareng. Kadang kamu nggak mau pulang kalau udah main sama Raj. Dia pria yang baik, lho, Ken." Lanjut Ria.
"Iya bu. Gimana baiknya aza deh. Jadi mereka yang mau datang ke Bandung? Atau kita yang ke Jakarta nih? Kalau kita yang ke Jakarta. Ibu dan kakak tinggal di apartemen aku aza dulu." Balas Niken. Ria tersenyum begitu Niken memberikan saran dalam pertemuan kali ini. Ria pun sangat semangat ketika Niken memberikan respon positif.
"Katanya mereka yang ke Bandung. Sekalian nostalgia katanya." Jawab Ria. Niken mengangguk, kemudian menyeruput kuah mie instan sampai tetes terakhir.
"Ya Tuhan, kau ini kelaparan atau bagaimana sih? Sampai dituang habis gitu." Tukas Nadine.
"Apaan sih. Ribut terus deh." Ketus Niken, sambil mengusap perutnya yang kenyang.
"Aunty hp-nya bunyi nih." Kata Deandra anak sulung Nadine yang berusia 5 tahun.
"Siapa, Ken?" Tanya Nadine.
"Biasa, Alika." Jawabnya.
"Tapi kalau di Jakarta kayaknya enak juga ya, Nad. Kita bisa treatment dulu di salonnya Niken." Imbuh Ria.
"Tuh kan, gini deh labilnya ibu. Niken tuh paling males kalau ibu terus-terusan menentukan jadwal yang ujung-ujungnya kita juga yang nentuin tanggal." Balas Niken.
"Yaaa, namanya juga ibu, Chen." Tambah Nadine.
__ADS_1
"Chen, Chen, apaan tuh?"
"Dulu tuh kamu cadel. Nggak bisa bilang K. Jadi Ichen." Tukas Nadine. "Tapi kamu serius nggak ingat sama Raj, Ken?" Niken menggelengkan kepala. Siapa juga yang mau ingat sama cowok bocil yang entah sekarang kayak gimana wajahnya. Iya di foto waktu kecil ganteng. Belum tentu juga pas udah dewasa jadi ganteng. Siapa tahu malah jadi jelek. Kita kan nggak tahu.
"Siapa sih dia? Emang keturunan India ya, koq namanya Raj." Niken mengangkat kedua alisnya dan menyunggingkan bibirnya. Rasanya aneh banget ada orang Indonesia yang bernama Raj. Niken seolah menyepelekan.
"Ada, dari keluarga suaminya tante Adina. Orangtua Adina itu blasteran Palestina-Indonesia, sementara orangtua suaminya Adina blasteran India-Indonesia. Nih fotonya, ganteng kan?" Ujar Ria.
Niken melihat foto-fotonya sewaktu ia masih kecil bersama seorang bocah laki-laki yang bernama Raja itu.
"Tapi kan ini foto kita masih kecil. Ya ganteng sih. Tapi gimana kalau ternyata sekarang dia jelek. Giginya tonggos, item, dekil, terus rambutnya kribo gitu. Ihhh amit-amit deh. Atau gimana kalau sebenarnya dia juga nggak mau di jodohin sama Niken. Kemungkinan dia udah punya pilihannya sendiri gitu bu." Balas Niken.
"Apaan sih nih anak. Lebay deh." Tukas Nadine.
"Ihhh nggak gitu. Elu sih enak Nad nikah sama yang cinta banget sama lu. Nah gue. Belum tentu cowok itu juga mau sama gue. Dan gue suka sama dia. Nasib deh." Ketus Niken. Ria mendesah pelan.
"Niken kalau emang kamu nggak mau ibu jodohkan ya udah. Ibu nggak maksa koq. Cuma ibu minta kalian bertemu dulu. Masalah suka atau enggak itu belakangan. Kamu nggak usah ngerasa paling menderita deh." Tutur Ria. Niken menundukkan kepalanya. Ia tahu kalau ia sudah kelewatan bicara. Nadine menyenggol lengan Niken.
"Apaan sih." Ketus Niken.
"Besok kamu di foto ya. Katanya mereka ingin lihat wajah kamu." Ujar Ria.
"Hmmm, enggak." Sanggah Niken. "Aku mau pertemuan kita menjadi kejutan. Diterimanya lamaran dia atau tidak itu adalah keputusanku. Ibu dan kakak tidak berhak ikut campur." Lanjutnya.
"Baiklah." Seru Nadine dan Ria bersamaan.
__ADS_1
***